Married With The Badboy

Married With The Badboy
30. Happy time


__ADS_3

Allisya menghela nafasnya. Ia melirik jam wekernya. Pukul 11:00 pm. Sudah larut malam matanya sulit untuk tidur.


"Amnesia ya aku? Eh insomnia?" Allisya menggaruk rambutnya yang memang gatal.


Ting!


Allisya menatap ponselnya, sebuah notifikasi dari Aris.


Aris


Allisya? Udah tdur belum? Tidur sya, ini udah malem. Mikirin siapa sih? Aku ya hehe, duh terlalu percaya diri aku.


11:20 pm


Allisya tersenyum membaca pesan itu.


^^^Anda^^^


^^^Bentar lagi tidur kok. Kak Aris kenapa begadang? Gak baik loh buat kesehatan?^^^


^^^11:21 pm^^^


Aris video call..


"Kenapa kak? Mau curhat ya?" tebak Allisya.


Aris terkekeh. "Gak, cuman kangen aja. Bentar kok, aku juga udah mulai ngantuk. Gak lama-lama hehe."


"Sya?"


"Iya kak Aris?"


"Besok mau gak jalan-jalan? Quality time sebelum aku sibuk sama bisnis di perusahaan ayah."


Allisya mengangguk. "Mau banget. Sebelum kuliah, kan aku bakal di suruh sama mama buat belajar terus biar nanti kalau lulus nilai IPK-nya bagus."


"Iya sya. Sekarang tidur ya? Gak baik begadang lama-lama nanti sakit. Good night Allisya," Aris tersenyum manis, Allisya jika melihat begini bisa diabetes kayak ada manis-manisnya.


"Iya. Aku tidur," Allisya mematikan video call-nya.


...🍒🍒🍒...


Allisya pagi-pagi sudah siap, wangi dan cantik. Entahlah Aris mengajalnya jalan-jalan kemana asal jangan nyasar alamat palsu.


"Lupain Daniel, sekarang ada kak Aris. Lagian Daniel juga udah punya Luna, huh emang jatuh cinta harus siap-siap sakit hati gitu. Sabar sya, semua pasti akan indah pada waktunya," Allisya mengembangkan senyumnya, saatnya membuka lembaran baru dan melupakan masa lalu tentang Daniel yang jika di ingat hanya membuat sakit hati saja.


Aris menatap kagum Allisya, cewek itu dandan? Biasanya selalu natural. Tapi Aris suka.


"Mama mana? Tumben kok gak bangunin aku. Biasanya pagi-pagi udah kena omel," Allisya juga kangen suara omelan mamanya, jangan bangun kesiangan.


"Lagi nyiram tanaman di depan sya. Aku udah bilang mau ngajak kamu jalan-jalan. Kamu tau bilang apa?"


Allisya menggeleng. Pasti mamanya mengatakan aneh-aneh, lihat saja.


"Sekalian aja bawa Allisya pulang. Kan bentar lagi kalian nikah. Gitu sya, emang mau?"


Allisya gelagapan, kenapa Aris malah balik bertanya? Duh, kalau begini ia bingung mau jawab apa.


"E-aku a..anu-" Allisya kehabisan kata-kata, ia salah tingkah.

__ADS_1


Aris terkekeh, Allisya lucu juga. "Yuk sekarang aja. Mumpung ada waktu, kalau gak cuman lewat telepon. Kan rindunya jadi gak terobati."


Gombal lagi.


Allisya ingin menghilang saat itu juga. Kenapa Aris lebih romantis daripada Daniel?


...🍒🍒🍒...


Pertama, Aris mengajaknya makan di warung lesehan pecel lele seperti biasa. Allisya makan dengan lahap, Aris sangat telaten menyuapi Allisya meskipun cewek itu menolaknya karena malu di liatin banyak orang.


"Biarin aja mereka liat. Bilang aja iri kalau aku sama kamu ini pasangan so sweet so romantis so manis so-"


"Kak Aris! Udah ah, aku kan jadi baper," Allisya menutupi wajahnya menyembunyikan semburat merah muda di pipinya.


Aris memotret Allisya diam-diam. Lumayan untuk pengantar tidur sebelum memimpikan Allisya.


Kedua, Aris mengajak Allisya membeli aksesoris biasa yang ada di pinggir jalan. Allisya masih bingung dengan pilihannya antara jepit merah muda dan purple.


"Kalau kamu suka dua-duanya ambil aja sya. Itu juga bagus. Sini biar aku taruh di rambut kamu," Aris mengambil alih jepit merah muda itu, ia selipkan di pinggir rambut Allisya. Terlihat manis seperti anak SMP.


"Emang kalau cewek pakai jepit rambut itu tambah cantik ya kak?" tanya Allisya dengan lugunya.


Aris memejamkan matanya. "Iya sya, tambah cantik apalagi di gerai rambutnya. Kayak putri raja."


"Kak Aris gak beli jepit rambut juga? Biar tambah ganteng. Aku pilihin warna-"


Aris mencubit pipi Allisya. "Aku cowok sya, gak pantes pakai jepit rambut. Yang ada tambah cucok meong dong."


Allisya terkekeh. "Haha, iya gak lah kak. Hm, gimana kalau gelang aja? Tenang, bukan gelang cewek kok. Nah, yang ini. Bagus kan kak?" Allisya mengambil gelang hitam dengan huruf A kecil di tengah-tengah.


Aris mengangguk. "Iya bagus. Itu aja sya. Kenang-kenangan dari kamu."


Lagi-lagi bukan gombal tapi kata-kata manis. Allisya sebisa mungkin tak menjerit dan gigit bantal. Kalau tau yang di jodohkan seperti Aris ia tak akan pernah menolak atau melepasnya begitu saja. Pilihan mamanya memang best of the best.


"Gak mau kak. Nanti aku pusing. Mending tangga itu aja," dengan mimik sedih Allisya memohon pada Aris.


Beberapa orang memperhatikannya aneh. Naik eskalator pusing?


"Tenang sya. Sini tangannya," Aris menggenggam tangan Allisya. Menuntunnya berpijak pada eskalator. Allisya mencengkram jaketnya kuat.


"Lucu banget sih. Aku aja gak pusing kok sya. Gimana kalau lift? Udah pingsan tuh," Aris terkekeh, wajah Allisya pucat.


Selesai menaiki eskalator, Aris mengajak Allisya makan.


"Ya daripada belanja disini kan mahal-mahal kak. Mending makan bisa kenyang. Oh ya, bisa di bungkus bawa pulang gak kak? Ini enak semuanya!" Allisya menatap penuh binar pada buku menu. Semua yang ada di buku itu adalah favoritnya.


"Bisa sya. Kalau buat kamu mah apa yang gak?" apapun demi kebahgiaan Allisya, Aris lakukan. Asalkan jangan sampai senyum itu luntur di ganti dengan kesedihan dan marah.


Alvian menyipitkan matanya, setelah membeli sabun wajah dan parfum ia tak sengaja melihat Aris dan Allisya yang makan berdua.


"Haduh, jadi aku kayak di lupain. Hm, nasib jomblo emang gini ya? Kapan aku bisa punya pasangan?"


"Halo kakak ganteng. Minta nomornya dong."


Empat cewek cantik-cantik ala selebgram menghampiri Alvian. Mungkin pesonanya tak bisa di tolak.


Alvian sadar. Ia lupa pakai masker.


Langkahnya berlari menjauhi cewek-cewek kurang asupan cogan itu.

__ADS_1


"Aku gak bakal ngulangi lagi deh. Mending pakai masker lebih aman," Alvian mengatur nafasnya yang tersengal. Ia berada di halte bus duduk sendirian.


...🍒🍒🍒...


Terakhir, Aris mengajak Allisya ke pasar malam. Hanya membeli permen kapas atau di sapa cotton candy.


"Dingin juga ya kak?" ya, Allisya hanya memakai baju berkain sedang. Badannya menggigil.


Seperti kepekaan di drama romantis biasanya, Aris memberikan jaketnya pada Allisya.


"Udah gak dingin?"


Allisya mengangguk. "Makasih ya kak? Kalau kedinginan emang suka masuk angin. Aku gak mau kena omelan mama."


"Ya, makannya tadi kamu pakai jaket juga."


"Lupa hehe," Allisya tersenyum kikuk. Aris sangat perhatian, sedangkan Daniel hanya bermodal gombalan dan larangannya yang tak bisa memberikan celah bebas sedikitpun. Allisya kurang nyaman.


"Kak Aris?"


Aris menoleh. "Iya sya?"


"Aku beruntung bisa di pertemukan kak Aris, apalagi sampai mau ke jenjang pernikahan. Aku bersyukur banget."


"Makasih sya, kamu udah bikin hidup aku banyak berubah. Dari yang ikutan geng motor sampai tawuran gak jelas, sekarang gak lagi," Aris merasa senang, perhatian Allisya begitu besar.


"Sama-sama kak."


"Sya?"


"Iya kak?"


"Love you evrytime and more."


"I will always love you."


"Oh gombal."


"Serius sya."


"Masa?"


"Tau lah terang."


"Iya deh. Aku juga serius," Allisya senang bisa membuat Aris sedikit ngambek.


Aris mengacak-acak rambut Allisya, cewek itu balas mencubit tangannya.


"Sakit sya. Aduh, aw sakit sekali eperibadeh," Aris terkekeh, Allisya berusaha mengejarnya.


"Kak Aris dasar tukang gombal!"


"Biarin!"


Hari ini, Allisya sangat bahagia. Ternyata Aris tak seburuk yang ia pikirkan. Ia kira Aris akan menjauhinya karena tiba-tiba di jodohkan. Justru sebaliknya, Aris tambah dekat dan memberikannya kenyamanan.


...🍒🍒🍒...


Penulis duduk sendiri melamunkan ide cerita.

__ADS_1


5:30 pm


See you next episode~


__ADS_2