Married With The Badboy

Married With The Badboy
37. Kebohongan palsu


__ADS_3

Ting!


Satu pesan lagi. Luna membacanya dengan teliti.


"Daniel nyuruh orang buat kunci duplikatnya kafe? Lagi otw?" Luna mengetikkan dengan cepat agar anak buahnya itu segera mencegah orang suruhan Daniel sebelum sampai di kafe.


"Tapi sayangnya Dewi Fortuna berpihak sama aku. Tunggu saja kabar baiknya besok, Allisya. Kamu pasti akan di keluarkan dari sekolah tanpa ada rasa hormat, hahaha," Luna tertawa jahat, biarkan saja Allisya menderita menerima pembalasan dendamnya.


...🍒🍒🍒...


Beni memacu motornya dengan mengebut, ia harus sampai secepatnya. Daniel, pasti sudah menunggu di kafe itu.


Tapi di tengah perjalanan, sekelompok pria menghadangnya. Dengan jumlah 8 orang membuat Beni bingung harus melawannya atau kabur.


"Lo mau kemana? Gak izin dulu nih sama bos kita? Ini wilayah kami."


"Maaf," Beni turun dari motornya. "Jalanan ini itu bebas siapa aja mau lewat. Jalan umum, memangnya kalian berhak apa? Gue yakin kalian pasti setiap harinya malak orang dan mengambil uang dan motor kan?"


Pertanyaan Beni itu tentu memancing amarah 8 pria yang mulai menghajar Beni dari segala arah.


BUGH.


Beni kewalahan melawan 8 pria itu, tenaganya terlalu lemah.


'Maaf niel, kali ini gue harus terlambat. Atau gak akan sampai kesana,' batin Beni tersenyum pilu.


Satu pukulan keras itu mengenai kepala Beni sampai ia pingsan tak sadarkan diri.


"Lapor sama bos, semuanya udah beres."


"Ok."


Di kafe, Daniel berkali-kali menghubungi Beni. Hanya jawaban operator tentang panggilan di alihkan.


"Hp-nya aktif tapi kenapa gak angkat?" Daniel juga mengirimkan pesan menanyakan dimana sekarang Beni, apakah masih dalam perjalanan atau sudah dekat dengan kafe?


"Kamu telepon siapa?" tanya Allisya penasaran.


"Beni, teman aku sya. Aku nyuruh dia kesini buat bebasin kita."


"Sabar aja niel, mungkin Beni masih ada di jalan," Allisya menenangkan Daniel yang sangat gelisah itu.


...🍒🍒🍒...


Sampai 3 jam lamanya, Beni tak kunjung datang.


Daniel menghela nafasnya, ia menatap Allisya yang duduk memainkan ponselnya bosan.


"Daniel?" panggil Allisya, Daniel menghampiri mantannya itu.


"Kenapa sya? Kamu pingin pulang ya?"


Allisya mengangguk. Tentu saja.


"Teman kamu kok gak datang sih? Nyasar atau gimana? Ini udah jam 10 niel, pasti mama sama ayah nyariin aku. Mereka khawatir," perasaan Allisya sama gelisahnya dengan Daniel, dirinya tak ingin kedua orang tuanya mencari-cari keberadaannya. Apalagi malam-malam begini, pasti mereka sangat lelah.


"Mungkin malam ini kita terjebak disini. Maafin aku ya sya gak bisa berbuat apa-apa," tapi di lubuk hatinya Daniel senang karena bisa berdua dengan Allisya tanpa ada yang mengganggu.


"Aku tidur dulu ya? Besok sekolah. Kamu tidur juga," Allisya memejamkan matanya, kedua tangannya menjadi bantal untuk tidur. Pasti akan sangat lelah tidur dengan posisi duduk seperti ini. Tak apalah, hanya semalam saja. Esok sudah pasti pulang.


Cekrek.


Seseorang berhasil mengabadikannya, dan besok Allisya pasti akan malu.


...🍒🍒🍒...


Mading sekolah sudah ramai di penuhi para siswa kepo. Allisya dan Daniel yang terkunci di dalam kafe itu menjadi perbincangan hangat di pagi hari. Apalagi captionnya sungguh menarik perhatian.


Allisya itu manis, aku menyuakinya. Rasa itulah yang aku ingat setelah melakukannya. Aku masih mencintainya, begitu pula dengan Allisya yang masih belum bisa melupakan aku.

__ADS_1


Kaila yang baru saja dari kantin membeli jajan sebagai menu sarapan pun heran kenapa mading se-ramai pasar Senin? Tidak, sekarang hari Rabu.


"Wah parah nih, gimana perasaan kak Aris kalau Allisya udah di cium sama mantannya itu?"


"Gue jadi kasihan sama kak Aris, dia itu cowok tulus. Meskipun dulunya mantan geng motor, tapi kan dia baik sekarang."


"Allisya tega banget ya?"


Bisik-bisik itu membuat jiwa kekepoan Kaila meronta-ronta. Langkah kakinya membelah kerumunan itu, matanya menyipit mengamati dua objek yang duduk satu meja dengan mata terpejam.


"Ini gak bener! Kalian itu salah liat! Pasti cuman editan doang!" Kaila membantah, tak setuju kalau Allisya menjadi pandangan buruk semua orang.


"Bener kai, kalau editan gak mungkin lah. Itu aja kafenya di kunci kok, terus kenapa Daniel pegang tangan Allisya? Itu yang lo namain editan?" tanya salah sau cewek telak membalikkan bantahan Kaila.


"Teman kayak gitu gak usah di bela deh. Ayo lah laporin kepsek sekarang, masa iya di sekolah kita ada cewek yang blablabla-"


Kaila tak peduli, telinganya seolah tuli dengan itu semua.


Di ruang kepala sekolah, Jihan dan Maudy pun menjelaskan semuanya. Tak lupa pula membawa bukti foto itu agar kepsek percaya.


"Keluarin aja deh pak Allisya. Dia gak niat sekolah, malah pacaran terus," protes Jihan dengan emosi menggebu.


"Sejak kelas 11 juga pacaran sama Daniel. Saya gak yakin kalau Allisya itu masih suci pak."


Kaila hanya memejamkan matanya menguping pembicaraan dua mulut yang sama-sama mengadu tentang Allisya.


"Segitu bencinya sama Allisya?"


Kaila menggeleng. "Maafin gue sya, gue gak bisa berbuat apa-apa."


Langkah sepatu yang berlari itu berhasil memasuki gerbang sekolah meskipun ia hampir telat 1 menit.


Allisya berjalan santai, akhirnya ia terbebas dari kafe itu. Meskipun baru buka sekitar jam 5 pagi.


Flashback on


Suara pintu yang terbuka itu membuat Allisya dan Daniel terbangun dari tidurnya.


Allisya menggeleng. "Bukan nginep pak, tapi kami terkunci disini semalaman."


"Oh, tapi kalian baik-baik aja kan? Apa orang tua kalian gak khawatir?"


"Sya, ayo pulang. Kamu kan sekolah, pak makasih ya udah mau bukain pintunya," Daniel melempar senyum pada si pemilik kafe.


Flashback off


Saat Allisya akan memasuki kelasnya, bisik-bisik nyinyir dan tatapan aneh itu untuk Allisya.


'Kenapa mereka melihatku kayak gitu ya?' tanya Allisya dalam hati, padahal penampilannya tidak terlalu mencolok, bahkan hari ini Allisya tidak berdandan sama sekali.


"Untuk siswi yang bernama Allisya Lesham Shaenette ke kantor sekarang. Terima kasih."


"Wah-wah ada yang mau di keluarkan dari sekolah nih."


"Good bye Allisya!"


"Jauh-jauh sono jangan sekolah disini lagi males gue liat wajah lo!"


Allisya semakin heran. Di keluarkan dari sekolah? Memang dirinya salah apa? Selama ini tak ada pelanggaran apapun yang pernah ia lakukan.


Disinilah, Allisya menghadap kepala sekolah.


Baru saja duduk Allisya sudah di tunjukkan dengan foto-foto itu. Di kafe dengan Daniel. Apakah? Sekarang Allisya mengerti, pasti ada seseorang yang berusaha menjebaknya.


"Maksudnya apa pak? Memang saya kemarin terkunci di kafe dengan Daniel. Tapi arti dari foto-foto ini apa?" Allisya masih bingung, mungkinkah ini termasuk melanggar? Lalu dimana letak kesalahannya?


"Kamu telah melanggar aturan berat dengan ancaman poin 40 dan di keluarkan dari sekolah. Silahkan pergi Allisya."


"T-tapi pak itu kan belum tentu benar. Saya-"

__ADS_1


"Tidak ada tapi-tapian. Pergi, atau saya panggilkan security?"


Allisya melangkah keluar dengan perasaan kecewa. Kenapa ini bisa terjadi padanya? Siapa yang berani menuduhnya?


"Allisya?" suara Aqila dan Kaila bersamaan itu membuat Allisya mendongak.


"Apa? Kalian udah tau kan? Mau benci sama aku?"


Kaila menggeleng. "Gue tau itu gak bener sya. Percaya, pasti ada orang yang benci sama lo. Makannya melakukan fitnah ini biar lo di keluarkan dari sekolah."


"Lo gak salah sya. Kebenaran pasti akan terungkap," sahut Aqila memberikan semangat untuk Allisya.


"Maaf, aku harus pergi dari sekolah ini. Makasih ya udah menjadi sahabat aku yang mau menemani dalam keadaan susah dan senang. Bye," Allisya pergi, Kaila terus memanggil Allisya tapi cewek itu pura-pura tak mendengarnya.


Di tempat lain, Beni mengerjapkan matanya. Sinar matahari itu membuat Beni segera bangkit dan menghubungi Daniel.


Sebanyak 10 panggilan tak terjawab dan 5 pesan yang belum di baca. Beni khawatir Daniel kenapa-napa.


Saat panggilan tersambung, Beni menjelaskan kejadian semalam yang menimpa dirinya di keroyok oleh 8 pria.


Beni semakin syok ketika Daniel mengatakan bahwa Allisya terancam di keluarkan dari sekolah tanpa ada bukti yang jelas.


"Tenang aja niel, gue gak akan biarkan Allisya di keluarin dari sekolah gitu aja. Gue akan dapatkan buktinya secepat mungkin," Beni menaiki motornya, saatnya beraksi kembali. Menyelamatkan Allisya, gadis pujaan Daniel.


...🍒🍒🍒...


Beni sampai di sekolah, ia sangat ngebut mengendarai motornya agar Allisya tak di keluarkan dengan tuduhan salah.


Beni menyerahkan sebuah flashdisk rekaman CCTV yang dekat dengan kafe. Semuanya pasti sudah terekam.


"Maaf pak, saya ingin membuktikan bahwa Allisya tidak melakukan itu. Ini flashdisknya, bapak bisa liat detail rekaman CCTV yang memantau aktifitas kafe setiap harinya. Bapak akan tau penyebabnya kenapa Allisya dan Daniel terkunci di dalam kafe," Beni menyerahkan flashdisk itu.


"Baiklah, saya akan melihatnya," sang kepala sekolah mengamati video rekaman dimana Allisya dan Daniel masih duduk. Keduanya sibuk dengan ponselnya, lalu datanglah seseorang berbaju hitam dengan masker yang menutupi wajahnya. Sangat misterius memang. Kemudian orang itu mengunci Allisya dan Daniel.


"Saya merasa sangat bersalah telah menuduh Allisya dan mudah percaya. Apakah kamu temannya?"


Beni menggeleng. "Saya temannya Daniel pak."


"Tolong bilang sama Allisya, semua kesalahpahaman ini selesai. Dan untuk poin 40 itu hilang."


Beni mengembangkan senyumnya. "Serius pak?"


"Iya, kabari Allisya sekarang."


...🍒🍒🍒...


Allisya duduk di kamarnya dengan tatapan sedih. Semuanya berlalu begitu cepat.


Ponsenya berdering, nama Daniel membuat lamunan Allisya buyar.


"Iya? Kenapa kamu telepon aku niel? Apa mau ketawa dan seneng kalau aku keluar dari sekolah?"


"Ha?" Allisya terkejut.


"J-jadi aku boleh sekolah lagi disana?" Allisya mengembangkan senyumnya.


Allister dan Selena yang sengaja menguping sejak tadi di balik pintu pun ikut bahagia.


"Karena aku yakin Allisya benar," ucap Allister.


"Allisya memang sabar ya yah?"


Allister mengangguk. "Sama kayak kamu."


...🍒🍒🍒...


Mencoba kuat meskipun lemah.


2:49 siang

__ADS_1


See u.


__ADS_2