Married With The Badboy

Married With The Badboy
42. Tentang Javas


__ADS_3

Akhirnya Aris sampai di restoran yang Allisya tunjukkan. Matanya menyapu sekeliling, mencari sosok kecil dengan rambut yang tergerai seperti biasanya.


Matanya menangkap sosok Allisya yang duduk sendirian. Aris menghampiri Allisya, entah bagaimana ia membuka obrolan. Apalagi kalau sudah lupa dengan janji.


"Allisya? Kamu disini udah lama ya nungguin aku?"


Allisya beralih menatap Aris, matanya terlalu fokus dengan lalu-lalang kendaraan yang melintas.


Allisya menyipitkan matanya, memandangi wajah Aris lekat. Ada beberapa lebam dan darah yang mengering disana. Apa Aris tawuran lagi?


"Kak?" panggil Allisya serius. Rasanya sudah lelah memberikan nasehat berkali-kali pada Aris masalah tawuran.


"Iya sya? Kangen? Tau kok, tiap hari kamu juga bilang gitu di chat," Aris hanya menanggapi seadanya. Ia tak tau Allisya tengah khawatir sekarang.


"Kak Aris tawuran lagi? Kenapa? Memangnya itu gak sakit? Aku aja yang ngeliatnya ngeri dan ngilu kak," Allisya khawatir, suaranya melemah.


Aris menunduk. "Aku gak tawuran sya. Geng Cakrawala yang cari gara-gara duluan. Mereka nyerang markas ku. Semuanya juga melawan sya, apa harus diam dan mati di tangan Cakrawala? Geng aku gak akan menyerah semudah itu," sanggah Aris keukuh.


"Sama aja. Kak Aris udah ingkar janji sama aku. Kecewa," Allisya beranjak dari duduknya.


"Tunggu. Aku di suruh sama Javas buat nambah pasukan sya. Kalau aku gak mau, berarti keselamatan teman-temanku terancam. Please sya, jangan egois," Aris memohon, tanganya mencekal pergelangan tangan Allisya menahan cewek itu tetap disini.


Allisya mengangguk. "Ok, kali ini aku maafin kak Aris. Gak apa-apa aku nunggu lama. Asalkan kak Aris datang kesini daripada gak sama sekali," Allisya kembali duduk, mau bagaimana pun sifat Aris ia akan hidup bersama dengan cowok itu nanti. Allisya akan berusaha memahami setiap karakternya.


"Makasih sya," Aris tersenyum tipis.


...🍒🍒🍒...


Di rumah sakit, Aqila menangis tak bisa berhenti. Matanya membengkak, Kaila sudah menenangkan dan menghibur Aqila.


Javas hanya di balut perban di kepalnya dan infus saja.


"Kak Javas bangun, aku kangen. Kak Javas cepat sembuh. Bangun kak hiks hiks," Aqila menangis tersedu-sedu.


Kaila menggeleng heran. "Terus aja lo nangis darah sekalian. Telinga gue budek tau dengerin tangisan lo. Jangan cengeng ah," Kaila sudah lelah menghibur Aqila, mulutnya kini beralih mengomeli cewek berkuncir kuda dan bando pink-nya itu.


Aqila menghembuskan nafasnya kasar. "Gimana gak sedih? Orang yang kita cintai terbaring lemah di rumah sakit?"

__ADS_1


Kaila mengangguk. "I know it. Kalau kak Javas tau lo sedih, dia bakalan ikutan sedih. Nangis boleh, tapi jangan terlalu larut," ujar Kaila menasehati.


"La, ayo pulang. Udah malem nih, nanti orang tua lo khawatir nyariin," Kaila menarik tangan Aqila. "Ayo la, masih ada kak Arif dan yang lainnya jagain kak Javas. Tenang aja."


Akhirnya Aqila pasrah dan mau pulang dengan Kaila.


...🍒🍒🍒...


Di sekolah, Aqila sama sekali tak mempunyai semangat mengikuti pelajaran. Bahkan kosentrasi Kaila terganggu.


"Sampai disini semuanya faham?"


"Faham bu!"


Kaila berdecak kesal, ia menatap Aqila malas. Lihatlah, kertas itu kosong suci bersih tak ada coretan sama sekali. Pandangan Aqila pun kosong, entah dimana mengapa dan bagaimana raganya itu pergi.


"La, lo kalau gak niat sekolah bolos aja deh," Kaila memberikan saran buruk pada Aqila.


"Kai, kok malah nyuruh Aqila bolos sih? Ngajarin jadi nakal?" tanya Allisya dengan nada tidak suka.


"Cuman kak Javas sakit doang gak semangat sekolah. Gimana sih, gak usah terlalu di pikirin lah," omel Kaila tiada henti, bahkan suaranya lebih mendominasi di kelas. Untungnya guru yang mengajar sedang keluar sebentar ada keperluan penting.


"Gue? Kak Arif itu sama sekali gak perasaan buat gue. Kapan nembaknya? Dia cuman anggap gue sebatas teman doang," sanggah Kaila tegas, perasannya juga ragu pada Arif yang entah serius atau main-main.


"Jangan gitu kai, siapa tau apa yang di ucapin Aqila itu ada benarnya dan kenyataan," sahut Allisya, tangannya masih setia menulis catatan di papan hingga selesai.


"Terserah kalian lah. Gue mau ke kantin dulu. Gak ada yang nitip kan?"


"Nasi bungkus aja deh sama Aqila, terus es teh yang botol ya? Itu aja," Allisya menyerahkan uang biru laut. Kaila mengangguk. "Ok."


"La?" Allisya berpindah tempat duduk di kursi Kaila. "Kenapa kak Javas bisa gitu? Apa ta-"


"Iya," Aqila mengangguk. "Kak Javas tawuran sama geng musuhnya itu. Kak Javas nolongin kak Aris dari pukulan balok kayu," jawab Aqila cepat, menjelaskannya saja hatinya terasa pedih.


"Gue benci Gavin. Benci dan benci," gumam Aqila penuh penekanan.


Allisya mengernyit, apaka Aqila mengenal Gavin?

__ADS_1


"Iya, kan Gavin ketuanya. Pasti dia yang udah merencanakan buat nyerang markasnya kak Aris."


Sedangkan di kantin, Kaila dongkol dan kesal, para siswi-siswi yang kepo dan ketinggalan berita itu banyak melontarkan pertanyaan tentang geng-nya Aris dan Javas.


"Kak Aris ku masih sehat kan kai?"


"Gimana sama kak Javas? Gantengnya masih utuh kan?"


"Kaila! Kenapa bisa gelud gitu? Ada masalah apa si kawan?"


"Duh! Minggir kalian! Gue gak bisa lewat!" Kaila menyingkirkan cewek-cewek yang menghalangi jalannya, ingin beli makanan di kantin ada saja hambatannya dengan para kepobers.


Mereka menyingkir sebelum Kaila mengamuk dan melayangkan tangannya.


...🍒🍒🍒...


...Aris, Arif dan Gibran serta hanya beberapa anggota Death Night menjenguk Javas. ...


...Berbagai macam makanan pun ada entah buah atau junkfood, tapi itu untuk dirinya sendiri bukan Javas. ...


..."Lo sadar dong Jav. Gak tau? Aqila sekarang sedih banget, tiap haru kesini jenguk lo dalam keadaan nangis. Aqila jadi cengeng gara-gara lo," Arif mengomeli Javas, kakaknya itu. Siapa tau Javas beraksi dan sadar. ...


..."Lo udah bikin anak orang nangis Jav. Wah parah ni anak, belum pernah gue hajar kayaknya. Bangun Jav," Gibran juga ikut menyemangati Arif, sudah memasuki 3 hari semenjak kejadian penyerangan Cakrawala yang secara tiba-tiba. ...


..."Kata dokter gimana sih perkembangan Javas?" tanya Arif kesal, ia menoleh menatap Aris. ...


..."Javas lagi ada di bawah alam sadarnya. Dia punya dunia sendiri yang lebih indah daripada nyatanya," jawab Aris. ...


..."Kenapa? Apa lo lebih memilih alam indah itu daripada kita Jav?" Arif kembali menatap Javas penuh luka, tanpa kehadiran Javas seolah sebagia hidupnya hilang tak tentu arah. Javas adalah kakaknya. ...


..."Kita berdoa aja, serahkan sama Allah. Semoga cepat sadar dan kembali bareng-bareng lagi sama kita," ucap Aris, kata-katanya itu membungkam Arif yang sedari tadi terus-terusan mengomeli Javas. ...


...🍒🍒🍒...


Habis ngepel langsung ngetik lagi. Maaf bu jangan di ganggu aku gak kosen lagi nulis novel.


2:44 siang

__ADS_1


Sampai jumpa lagi-,


__ADS_2