Married With The Badboy

Married With The Badboy
53. Inez kecelakaan


__ADS_3

Jamkos, lagi. Sangat beruntung sekali 12 Ipa 1 apalagi ini adalah jam pertama sampai istirahat karena matematika tiga jam. Bisa terbayangkan bagaimana mengebulnya otak mereka.


Kaila, asyik bertelponan dengan Arif. Sangat beruntung Arif bisa meluangkan waktunya untuk Kaila.


"Aku masih inget deh pas awal mula kita kenal saling berantem terus benci sekarang jadi cinta deh. Aku gak nyangka aja kak Arif bisa meluluhkan hati aku, meskipun gak percaya dengan namanya cinta yang pasti sakit hati, tapi kak Arif selalu memberikan aku kebahagiaan," celoteh Kaila panjang lebar, dirinya ini seperti ABG yang memang cinta monyet.


Aqila yang mendengarnya pun jengah. Sampai kapan Kaila selesai teleponnnya? Meskipun baru berjalan 30 menit tapi itu membuat telinganya panas mendengarkan Kaila berbucin dengan Arif.


"Aku dapat pesan dari mantan kamu kai."


Karena panggilannya di loudspeaker, Aqila dan Allisya atau Alvian pun sama-sama menyimak. Zahra? Entahlah cewek itu tidak masuk tanpa keterangan, mungkin sakit hati karena terlalu di campak kan oleh Alvian.


"Pesan? Apa? Mantan aku itu udah lama kak. Masih zaman SD dulu," Kaila panik, jika sudah menyangkut masa lalu orang yang di cintainya dulu hatinya takut Arif cemburu atau marah.


"Aku gak bisa bacanya kai. Kepalaku pusing banget. Nih dengerin ya bbbb&&&%%%AAAAb7b6 sampe tugas kuliah aku aja belum selesai. Aku gak kosentrasi kai. Pesannya banyak banget dan itu sama. Gila atau gimana sih mantan kamu itu?" nada Arif mulai meninggi, emosi.


Aqila menatap Allisya meminta penjelasan. "Maksudnya? Itu kode atau apa sih? Aneh banget."


Allisya mengedikkan bahunya. Tubuhnya masih lemas, hanya tidur dengan tas sebagai bantalannya. Matanya dengan sekuat tenaga terbuka agar tak tidur saat jamkos. Sengaja ia berbohong tak meminum obat.


"Biar kak Arif ikutan gila mungkin la. Lagian sih kamu kai pacaran kok sama cowok gak jelas kayak dia. Kayak kak Arif dong," Allisya menyuarakan hatinya.


Kaila menoleh. "Sstt diem. Aku lagi teleponan sama kak Arif," Kaila menjauhkan ponselnya agar Arif tak mendengar suaranya yang berbisik lirih.


"Kenapa kamu masih inget sama mantan? Mau balikan lagi? Aku capek kai di teror terus. Lama-lama aku jual aja hp-ku daripada dapat pesan gak jelas dari mantan kamu," Arif benar-benar kesal, baru kali ini ia mendapatkan gangguan setelah resmi berpacaran dengan Kaila.


Seisi kelas mendadak hening, tapi ada juga yang masih bicara agar tak ketauan tengah menguping. Inilah drama percintaan kolosal sinteron yang sedih.


"Gak! Aku cuman cinta sama kak Arif. Aku sayang kak Arif. Selalu setia dan jujur kak," mata Kaila berkaca-kaca, jangan sampai Arif pergi. Dialah cowok baik yang mencintai apa adanya tak perlu ada alasan kenapa cinta itu datang dengan sendirinya kalau bukan dari lubuk hati yang mendalam dan tulus.


Aqila mencibir. "Dih, kayak anak alay aja bilang gitu. Ngapain sih kai nangisin mantan lo."


"La, diem. Biarin Kaila bicara sama kak Arif," ucap Allisya, yang ada keadaan semakin runyam karena suara Aqila yang keras dan terdengar oleh Arif.


"Oh, jadi kamu nangisin mantan? Bukan aku?" tanya Arif yang terpancing omongan Aqila.


"Kak, aku cinta kamu. Bahkan kak Arif gak tau, tiap sore aku chat duluan dan nungguin balesan dari kamu kak. Tapi setelah sholat maghrib, aku cek hp-ku lagi ternyata kak Arif udah bales. Aku seneng banget, terus kak Arif off lagi karena sholat isya. Aku belajar dulu ngerjain PR dan baca materi sekolah. Dan jam 8 kak Arif on lagi, aku udah hafal banget kak. Sebelumnya aku udah cas hp sampai seratus persen biar apa? Biar aku bisa telepon kak Arif lebih lama," curhat Kaila mengeluarkan segala uneg-uneg hatinya. Agar Arif tau, begitulah pengorbanan kecilnya yang setiap malam di lakukan. Cas hp dulu, dan menelepon Arif berbincang apa saja sesekali tertawa meskipun tak ada yang lucu.


"Kaila, kamu beneran cinta ya sama aku? Sampai segitunya? Maaf aku lagi gak ada pulsa buat telepon kamu. Bukan berarti aku gak kangen sama kamu," nada bicara Arif mulai melunak, hatinya tersentuh mendengar isi hati Kaila yang sudah berani mau jujur.


"Hiks hiks kok gue nangis ya?"


"Ini drakor bukan sih?"


"Nih ya, kalau cewek udah bilang aku cinta kamu sama cowoknya jangan ragu. Percaya aja, tiga kata aku cinta kamu itu mendalam banget. Cewek gak peduli apapun yang terjadi yang penting mencintai cowoknya dengan benar," Alvian menasehati, menyampaikan isi hati para perempuan yang ada dalam fase fall in love.


"Dih! Sok ceramah lo wuuu!" Aqila menyoraki Alvian.


"Aku matiin dulu ya? Bentar lagi dosennya datang. Kamu yang semangat sekolahnya. See you Kaila," Arif memutuskan panggilannya.

__ADS_1


"Gimana? Apa lo baikan sama kak Arif? Atau masih berantem?" tanya Aqila penasaran.


Kaila menoleh. "Baikan. Biar aku beliin nomor yang baru biar kak Arif gak di gangguin mantan ku lagi."


"Allisya? Kamu ngantuk ya? Tidur aja, kalau bel istirahat nanti aku bangunin kamu," Alvian memperhatikan Allisya, cewek itu lebih banyak diam dengan pandangan kosongnya.


Allisya menggeleng. "Gak usah Al, males aja tidur."


"Kai, pertahankan hubungan lo sama kak Arif," ujar Aqila memberikan saran.


Kaila mengangguk, benar. Apalagi Arif itu jauh berbeda dengan mantan pertamanya dulu.


"Kak Arif gak sama kayak dia. Kak Arif perhatian banget sama aku. Bukan sekedar tanya lagi apa dan ucapan pagi dan malam."


"Oh, jadi mantan lo itu sama sekali gak perhatian?"


Allisya tak mau gabung, tapi matanya berat. Akhirnya ia memilih tidur toh Alvian akan membangunkannya jika bel istirahat tiba.


...🍒🍒🍒...


Hari ini, Inez harus pergi ke rumah tuan rumah arisan ibu-ibu sosialita. Hanya seminggu sekali, alasan Inez ikut arisan ini karena uangnya yang lumayan banyak dan bisa di gunakan membayar 6 karyawan dengan gaji UMR.


Tapi, masalahnya Andre memakai mobil pribadinya ke kantor. Inez bingung mau naik apa.


"Masa iya bus? Kalau angkot kan gerah, yang ada aku gak bakal wangi lagi," Inez menghela nafasnya, kakinya terus berjalan menyusuri pinggir jalan raya.


Lima preman pasaran itu menatap Inez dengan pandangan tergiur, apalagi tas selempang Inez yang ber-merk Gucci keemasan.


Inez menoleh ke samping kanan-nya. Para pria berpenampilan preman itu menatapnya genit.


Inez tetap melangkah dan tenang, lagipula ada beberapa pedagang kaki lima. Ia tak perlu khawatir akan di celakai oleh pria menyeramkan itu.


"Hei! Jangan lari!"


"Kejar!"


Inez mempercepat larinya, pandangannya sesekali menoleh ke belakang memastikan jaraknya dengan para preman itu jauh.


Tin tin!


Inez terkejut, kakinya terpaku di tempat. Sampai mobil hitam itu menabrak tubuhnya hingga terpental beberapa kilometer dari lokasi kejadian.


Tubuh Inez di penuhi darah, baju putihnya menjadi merah. Para warga setempat pun mengintruksikan agar segera menelepon ambulance.


...🍒🍒🍒...


Di kampus, Aris fokus mengetik proposal di laptopnya. Ia berada di kantin bersama Arif dan Javas.


"Lo tadi kenapa marah-marah sama Kaila? Kalian lagi ada masalah?" tanya Javas penasaran.

__ADS_1


Wajah Arif tampak lesu, hatinya juga merasa bersalah memarahi Kaila.


"Gue di ganggu sama mantannya yang gak waras itu," jawab Arif malas.


"Mantan? Namanya siapa? Berarti itu cinta pertamanya Kaila dong," goda Javas dan mendapat pelototan tajam dari Arif.


Arif berdecak. "Nama WhatsApp-nya 123. Gak tau siapa. Bodoamat males ngurusin orang gak jelas."


"Eh, lo tau gak sih? Ada kecelakaan yang gak jauh darisini loh."


Dua cewek mahasiswi itu duduk di sebelah meja Aris. Tentu saja mengundang rasa penasaran Arif dan Javas, Aris tetap fokus dengan laptopnya.


"Kecelakaan? Korbannya cowok atau cewek?"


"Ibu-ibu sih. Pakai tas Gucci, dia korban tabrak lari gara-gara di kejar preman."


"Kasihan banget ya ibu itu," Arif bersedih.


"Semoga anak dan seluruh keluarganya di berikan ketabahan," Javas mulai mendoakan yang terbaik. "Ris, udah dulu dong sama laptopnya. Lo belum makan baksonya tuh, udah dingin. Kalau gak mau biar Arif aja yang makan sekalian bayarin juga."


Arif memukul bahu Javas kesal. "Enak aja kalau ngomong! Uang gue lagi goceng nih buat nanti beli bensin, tapi tambahin ya?"


Javas mengangguk. "Iya. Makannya kalau gak ada uang buat bensin gak usah bawa motor ke kampus. Bareng gue aja."


Ponsel Aris berdering, telepon dari ayah.


"Halo?"


"Sekarang juga kamu ke rumah sakit. Mama kecelakaan."


Sambungan di tutup begitu saja. Aris mempercepat langkahnya, mama kecelakaan. Tidak, mamanya akan baik-baik saja.


"Ris! Lo mau kemana! Bentar lagi ada kelas!" teriak Arif tapi Aris tak menggubrisnya.


"Yang gue denger mamanya kecelakaan," Javas tak sengaja menguping, ia masih tak percaya.


"Mamanya Aris kecelakaan?" Arif terheran-heran.


"Oh jadi yang kecelakaan itu mamanya Aris?" sahut cewek yang tadi menggosipkan berita kecelakaan.


Javas menoleh. "Lo tau? Jelasin dan ulangi lagi," Javas ingin tau kronologinya.


"Oke, jadi gini..."


...🍒🍒🍒...


I'm hungry ( Aku lapar ).


10:08

__ADS_1


Sampai jumpa di lain hari.


__ADS_2