
Allisya tersenyum membalas pesan Daniel. Meskipun sudah tengah malam, dengan setianya ia menemani Daniel.
^^^Anda^^^
^^^Emangnya aku gula apa sampai manis? ^^^
^^^00.00^^^
Daniel
Senyum kamu aja manis. Pingin bawa pulang, terus kenalin ke orang tuaku. Mau kan sya?
00.01
^^^Anda^^^
^^^Kalau itu, aku ragu niel. Kamu tau kan mamaku gak setuju. ^^^
^^^00.02^^^
Daniel
Tidur sya. Bulannya udah bosen ngeliatin kamu. Jangan begadang, nanti sembuh. Eh sakit maksudnya π
00.02
^^^Anda^^^
^^^Kamu juga tidur. Good malam madu π^^^
^^^00.03^^^
Daniel
Kok madu? Aku di serang lebah sya. Gak ganteng lagi gimana? Jangan cari cowok lain ah. Aku gak suka π
00.03
^^^Anda^^^
^^^Terjemahan Good Night Honey. Bener kan? ^^^
^^^00.04^^^
Daniel
Iya deh. Tidur, pakai lotion anti-mantan. Maksudku nyamuk, selimutan, pejamin mata jangan lupa bayangin aku. Biar bisa mimpiin aku. Ampuh banget sya. Coba aja. Pikrin aku terus β€
00.04
^^^Anda^^^
^^^Iya-iya. Emangnya obat apa?^^^
^^^00.04^^^
Mata Allisya terasa berat. Perlahan matanya terpejam.
Sedangkan Daniel masih membaca pesan itu.
"Udah tidur kayaknya," Daniel melihat status terakhir Allisya online.
Daniel meraih selimutnya. "Selamat pagi sayang. Biar besoknya gak perlu ngucapin pagi sayang. Lagi apa. Udah makan. Sama siapa. Dimana. Emangnya mau interview apa?"
Ada benarnya juga, terlalu banyak tanya dan mengganggu. Pdkt terlalu rumit.
...π π π...
Arif ingin ke kantin, Javas dan Aris tak bisa di ajak kerja sama.
"Kalian tega ya kalau aku ini kelaparan? Nanti sakit, di kompres, bawa ke dokter, di beliin bubur, minum obat terus tidur biar gak di suruh emak?" bujuk Arif memelas.
Javas menghela nafasnya. "Ris, ayo lah ke kantin. Biasanya juga lo paling semangat,"
"Ayo. Gak usah manja. Udah gede juga," akhirnya Aris mau. Arif bersorak girang. "Yeay, Aris paling tampan,"
Di kantin, Daniel menyuapi Allisya dengan bekal yang ia bawa dari rumah.
"Ini aku yang masak loh sya. Enak kan?"
Allisya mengangguk. "Enak banget. Kamu pinter masak? Idaman banget sih, biar nanti bisa bantu-bantu aku di dapur,"
Arif yang tadinya mencari-cari tempat duduk kosong menangkap kehadiran Allisya dan Daniel pun terkejut.
"Kok keliatan so sweet gitu ya? Makin hari tambah lengket aja tuh Allisya,"
"Mana Allisya?" tanya Aris dingin.
Javas menginjak sepatu Arif agar bungkam. "Jangan di kasih tau. Nanti ribut," bisiknya.
Arif mengangguk paham. "Gak ada. Maksud gue, kucingnya Javas so sweet. Makin hari gemesin aja," jawab Arif berbohong. Aris sangat susah mengendalikan emosinya, untungnya Javas memberitahunya untuk diam. Jika tidak, kantin sudah seperti amburadul.
"Mau ngibulin gue? Em rasain nih," Aris memiting Arif. Cowok itu memberontak. "Lepasin ris! Malu ih di liatin,"
Javas hanya tersenyum. "Tuh disana kosong,"
"Daniel. Aku udah kenyang, terus aja di suapin," Allisya menyingkirkan tangan Daniel.
Aqila dan Kaila melihat kemesraan Allisya dengan Daniel tak suka.
"Allisya kok nyia-nyian kak Aris? Mending gitu kasih ke gue aja," ucap Kaila menggerutu, lumayan tidak jomblo.
Aqila melihat Aris dan kedua temannya duduk bersebelahan dengan meja Allisya dan Daniel.
"Itu kak Aris. Duduknya deketan sama Allisya. Marah gak sih?" tanya Aqila kepo. Biasanya cowok mudah cemburu, entah marah atau diam di biarkan.
"Kayaknya sih cemburu. Tapi kak Aris diem aja. Allisya emang gak tau?"
"Nanti juga tau. Udahlah, itu urusan mereka,"
Daniel terpaku melihat Aris yang duduk dekat dengan Allisya. Meskipun hanya bersebelahan tetap saja itu mengganggunya.
"Sya, udah kenyang kan? Aku pingin ke perpus nih,"
"Daritadi kan udah aku bilang kenyang. Tumben banget mau ke perpus," Allisya tau kebiasaan Daniel saat jam istirahat biasanya ke lapangan basket.
"Disini gerah. Kalau di perpus kan sejuk. Ayo sya,"
Saat Allisya beranjak dari duduknya, Aris memanggil namanya.
"Allisya? Kamu ngapain sama Daniel? Dia kan udah mantan kamu," tanya Aris tenang.
Allisya tau Aris tengah marah. "E-aku sama Daniel cuma-"
Aris berdiri. "Cuma pdkt lagi? Mantan terindah? Yang mana sya?" tanya Aris sok baik, seperti mengintrogasi tukang selingkuh.
"Ris, bilang aja lo mau marahin Allisya kan?" tanya Daniel langsung pada intinya.
"Kalau iya kenapa?!" Aris mendekati Daniel.
Seisi kantin menoleh ke sumber suara.
"Mau berantem deh,"
"Pasti gara-gara cinta nih,"
"Kak Aris. Sebenarnya aku sama Daniel udah balikan, aku masih cinta sama dia kak," Allisya berusaha jujur, daripada terus-terusan menutupi semua ini.
__ADS_1
Aris beralih menatap Allisya tak percaya. Masih cinta katanya?
"Masih cinta? Terus cincin yang aku beliin buat pertunangan kita kamu buang ke tempat sampah? Atau kamu jual sya?" tanya Aris beruntun.
Allisya terdiam. Ia menunduk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Daniel tampak terkejut.
"Tunangan? Bener sya?"
Allisya tak menjawab.
Aqila dan Kaila menghampiri sahabatnya itu.
"Kak Aris, ngertiin Allisya ya? Dia masih cinta sama Daniel," ucap Aqila mencoba memberikan pengertian.
"Allisya. Aku mau ngomong sama kamu," Daniel berlalu pergi.
Allisya mengikuti langkah Daniel. Pasti akan berakhir lagi.
Saat sampai di rooftop sekolah, Daniel meminta penjelasan.
"Aku gak cinta sama kak Aris niel. Pertunangan itu paksaan dari orang tuaku,"
Daniel menghela nafasnya. "Kenapa kamu gak jujur bilang itu? Bagaimana kalau Aris ngadu sama orang tua kamu sya?"
"Aku gak peduli niel. Apa cinta harus di paksakan?"
Daniel menggeleng. "Jangan, kalau kamu emang gak cinta sama Aris bilang aja. Biar orang tua kamu tau,"
Sedangkan di kantin, Luna mengamuk setelah mendengar gosip sana-sini bahwa Daniel dan Allisya balikan.
Kaila menahan Luna. "Mau kemana lo? Gak usah ganggu Allisya deh,"
Luna menghempaskan tangan Kaila kasar. "Bukan urusan lo. Sekarang dimana Allisya?"
"Mana gue tau. Emang gue mamanya?" jawab Kaila santai.
"Udahlah, gak usah ngurusinΒ dia. Mending kita ke kelas aja, bentar lagi bel," Aqila menarik tangan Kaila menjauhi Luna.
Beralih ke Allisya dan Daniel, keduanya diam.
'Tapi kalau aku bilang gak cinta sama kak Aris, mama bakalan marah,' batin Allisya dilema.
'Tapi kalau kamu gak jujur, Aris tambah benci sama aku sya,' ucap Daniel dalam hati. Sebenarnya ia tak ingin bermsuhan dengan Aris, mengenai cowok itu ketua geng yang bisa kapan saja menyerang.
D
aniel menoleh menatap Allisya. "Allisya, kamu cinta sama aku? Atau Aris?" Daniel memberikan sebuah pilihan yang sangat sulit.
Mencintai Aris? Tidak, karena perjodohan ini murni dari kedua orang tuanya. Merasa terpaksa, tapi Allisya tidak bisa menolaknya.
Dengan sekali tarikan nafas Allisya menjawab. "Aku cinta kamu. Gak ada yang lain, apalagi kak Aris,"
Daniel melihat keseriusan itu di mata Allisya.
Aris yang mengikuti keduanya dan menguping di balik pintu mendengar ungkapan itu, sakit.
"J-jadi Allisya beneran masih cinta sama Daniel?" Aris bertanya-tanya. "Kenapa kamu gak bilang sama aku sya? Haruskah aku mencintai dan memperjuangkan ini sendirian?"
Pikiran Aris kacau, ia melangkah pergi dari rooftop itu.
Luna yang berpapasan dengan Aris pun heran. Cowok itu menangis? Sebenarnya ada apa?
Dengan langkah cepat Luna menuju ke rooftop setelah ia bertanya kepada beberapa siswa tentang keberadaan Daniel.
Saat sampai di rooftop, Luna melihat pemandangan tak menyenangkan. Daniel dan Allisya berpelukan.
Luna mempercepat langkahnya. Hingga...
Srett
"Dasar cewek murahan!" Luna menarik kuat rambut Allisya.
Daniel menjauhkan Luna dari Allisya.
"Luna! Cukup! Kamu nyakitin Allisya!" bentak Daniel berang.
Luna terkejut. Tangannya menjauhkan dari rambut Allisya.
"K-kamu barusan bentak aku?" tanya Luna dengan nada bergetar.
"Iya. Kenapa? Ada masalah?" Daniel tak bersalah, biarlah Luna tau batasannya.
"Daniel, Luna gak salah. Dia lagi marah aja," Allisya berusaha melindungi Luna.
"Gak usah sok ngebelain gue deh,"
"Kamu benar-benar gak tau terima kasih Luna. Allisya aja masih baik sama kamu meskipun udah di sakiti,"
"Jadi sekarang kamu pilih Allisya apa aku? Jawab!"
"Aku pilih Allisya," dengan cepat Daniel menjawabnya tanpa berpikir panjang. Di benaknya hanya Allisya.
Luna menatap Allisya penuh kebencian. 'Awas aja ya. Hidup lo gak akan pernah tenang,'
Luna pergi dengan perasaan kecewa sekaligus amarahnya.
Daniel mendekati Allisya. "Kamu gak papa kan?" Daniel membenarkan rambut Allisya yang berantakan.
Allisya menggeleng. "Gak papa. Ayo ke kelas,"
...π π π...
Bel pulang sekolah berbunyi.
Ponsel Aris bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari geng Cakrawala.
Sekarang lo dateng di arena balapan. Kalau gak dateng, berarti lo pengecut!
"Siapa yang pengecut? Gue berani," Aris memasukkan ponselnya ke dalam saku seragam. Langkahnya terburu-buru keluar kelas.
Arif yang melihat Aris pulang duluan tanpa ajak-ajak heran.
"Aris mau kemana sih? Terus tadi bilang siapa pengecut? Gue berani,"
Javas memasukkan buku tulisnya. "Aris dapat tantangan kalau gitu. Gak tau geng apa," mengenai geng besar di daerah Jakarta itu membenci Aris.
"Apa? Ayo cepet susulin Aris," Javas baru sadar. Kalau sudah begini Aris akan meladeni musuhnya apapun itu.
...π π π...
Disinilah, arena balapan geng Cakrawala. Suara deru motor dan sorakan para penonton dari berbagai geng lainnya menyemangati ketua geng Cakrawala yaitu Gavin.
"Gavin! Gavin! Gavin!"
Aris yang sudah duduk manis di atas motornya santai. Sudah sewajarnya mereka mendukung sang ketua.
Gavin menatap Aris heran. Tumben sekali Aris menerima tantangannya.
"Lo pasti kalah. Dan lo harus ke klub malam ini bareng geng gue,"
"Ok," Aris mengangguk.
Gavin tersenyum senang. Ah, Aris mudah menurut.
Seorang cewek membawa saputangan putih mengintruksikan aba-aba.
__ADS_1
"Siap? Satu..dua..tiga!"
Aris memacu kecepatan motornya. Begitu pun Gavin tak kalah mengebutnya.
Arif dan Javas baru saja datang.
"Ya ampun. Aris! Pulang! Jangan balapan! Cuci tangan! Terus tidur!" pekik Arif heboh.
Javas berdecak. Begini resikonya mengajak Arif ikut-ikutan.
Javas menarik tangan Arif membawa ke tempat duduk penonton.
Arena balapan ini bukanlah di jalanan. Geng Cakrawala memilikinya sendiri. Secara Gavin adalah juragan tanah yang bisa membelinya kapan pun.
Arif mengigit tangannya. Menyeramkan. Apa Aris tidak takut jatuh terus menangis?
"Javas. Kalau Aris kenapa-napa gimana? Kalau nangis gimana? Siapa yang bakalan gendong dia Javas?" tanya Arif beruntun dengan menarik-narik seragam Javas.
"Aris gak akan kalah. Dia lagi emosi," Javas mengusap bahu Arif memberikan ketenangan. Arif mengkhawatirkan Aris berlebihan.
"Terus gue gak punya abang lagi dong? Huhuhu Javas, cegah Aris biar gak balapan," Arif menyenderkan kepalanya di bahu Javas.
Anggota Cakrawala yang melihat kemanjaan Arif merasa gelay.
"Ih najis. Masa cowok sama cowok?"
"Geng Aris rendah banget sih? Rekrut anggota aja gak becus. Dasar G*y,"
Javas menatap tak suka. "Gak usah banyak bacot deh!"
Arif hanya diam. Biarlah Javas yang membelanya.
Sorakan senang dan teriakan kemenangan karena Gavin menjadi juaranya.
"Apa? Aris kalah?" tanya Javas terkejut. Bagaimana bisa? Biasanya Aris akan menang dengan mudah meskipun terbawa emosi.
Gavin tersenyum senang. "Jadi, ikut gue ke klub. Kalau lo coba-coba kabur. Habis!"
Klub. Tempat yang akan menjadikan pelampiasan bagi Aris. Melupakan Allisya meskipun hanya semalam.
Javas dan Arif menghampiri ketuanya itu.
Arif menggamit tangan Aris. "Ayo pulang. Nanti orang tua lo khawatir,"
Aris melepaskan tangan Arif. "Kalian ngapain kesini? Sana pulang!"
Gavin merangkul bahu Aris. "Malem ini, Aris bakalan ikut gue. Lo berdua gak usah ngelarang. Aris mau-mau aja. Iya kan ris?"
Aris mengangguk.
Javas menggeleng tak percaya. "Ris, sadar. Lo tuh di begoin sama Gavin!"
Arif meraih jemari Aris. "Aris. Jangan ikutin Gavin. Dia jahat. Mending sama gue dan Javas yang baik. Mau kan ris? Nanti gue beliin permen deh. Atau, coklat? Kalau gak suka, gue beliin es krim yang banyak?" Arif terlalu antusias membujuk Aris.
Aris menghempaskan tangan Arif. "Gue gak mau. Gak usah maksa!"
Untuk pertama kalinya Aris membentak Arif.
Arif terisak. Iya, dia memang cengeng dan manja. Tapi sebagai bentuk peduli dan khawatir.
"Udah rif. Gak usah peduliin Aris. Dia gak nganggep kita sebagai teman lagi. Ayo pulang," Javas menatap Aris tak suka. Sudah tau Arif sensitif di bentak mulut Aris keceplosan.
'Gue harap Aris kehilangan teman-temannya,' batin Gavin dengan senyum liciknya.
...π π π...
Malamnya, Gavin mengajak Aris di klub.
Gavin menawari minuman vodka. Dengan senang hati Aris meminumnya.
"Ris, gak nyangka gue," Gavin menggeleng takjub. "Lo emang the best deh," Gavin menepuk bahu Aris.
Merasa di puji seperti itu, Aris ikutan senang.
"Thanks. Tambah lagi dong, lagi haus," Aris memberikan gelas kosongnya.
Gavin menuangkannya lagi.
Sampai Aris menghabiskan 3 botol vodka.
'Gila-gila, Aris lagi hancur hatinya. Pasti mau ngelakuin itu sekarang,' batin Gavin terheran-heran.
Pandangan Aris berputar-putar. Kepanya pusing.
"Allisya," Aris mulai meracau. "Aku cinta kamu sya,"
Gavin sempat terkejut, siapa Allisya?
"Pacarnya? Kok gak pernah tau? Gosip aja gak sampai ke SMA gue,"
Sedangkan Arif baru saja sampai di sebuah klub dimana Aris dengan Gavin disana.
Ya, Arif pergi diam-diam tanpa sepengetahuan orang tuanya juga Javas.
Arif memasuki klub. Ia kebingungan mencari Aris. Badannya tersenggol oleh beberapa wanita-wanita yang menari terbuai akan musik DJ.
"Aris. Lo dimana? Aris? Aris?"
Arif terus mencari Aris. Pandangannya menelisik ke semua sudut klub. Sampai ia menemukan Aris yang duduk dengan tante-tante. Tangannya menggerayangi bagian tubuh Aris namun cowok itu menepisnya.
Arif menarik tangan Aris. "Ya ampun ris, kok mabuk sih? Bau alhkohol lagi. Nanti di marahin orang tua lo ris," Arif membopong Aris keluar dari klub.
Tapi Aris..
Bugh
Aris menonjok Arif.
"Gak usah ikut campur urusan gue! Lo siapa emang!" gara-gara pengaruh alkohol Aris menonjok Arif tanpa ada masalah apa-apa.
Arif meringis memegangi sudut bibirnya.
Arif menatap Aris nanar. "Gue temen lo ris. Gue Arif,"
Aris tertawa lepas. "Gue cuman sayang Allisya! Dan gue benci lo!"
Arif tak akan sedih. Ini hanya pengaruh alkohol, bukan murni dari hati Aris.
Sepertinya hanya Allisya yang bisa membawa Aris pulang.
Arif mengirimkan pesan ke Allisya. Tak lama Allisya membalasnya, cewek itu akan datang sebentar lagi.
Arif menyanggah tubuh Aris yang hampir jatuh. Aris lemas.
"Allisya bakalan kesini. Lo tenang ya ris?"
Allisya baru saja turun dari ojekan. Malam-malam pergi ke klub membawa Aris pulang.
Allisya menghampiri Aris. Mendekat saja aroma alkohol membuat pernafasannya sesak.
"Kak Aris. Ayo pulang, udah malem. Waktunya tidur," Allisya meraih tangan Aris mengalungkan di bahunya.
"Sya. Bawa ke mobil gue aja,"
"Oke,"
...π π π...
__ADS_1
...Pasti nyantai kan? Ide mumpung banyak terlalu ngebut nulisnya π ...