
Setelah kemarin mengejar Aris dan cuaca hujan deras mengguyur kota Jakarta membuat Allisya kini di malam harinya sakit, demam, pilek dan pusing. Sampai Allisya tak bisa bermain ponsel, badannya terasa lemas apalagi matanya yang ingin tidur. Tapi Allisya hanya duduk dan bersandar dengan bantal.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Lidahnya terasa pahit, perut yang keroncongan ingin makan.
"Mama dan ayah gak boleh tau kalau aku sakit. Besok, aku masuk ke sekolah. Pura-pura sehar aja deh," ucapnya, daripada nantinya harus di ketauhi kedua orang tuanya dan berakhir dengan dokter lalu obat yang berukuran besar rasa pahit.
...🍒🍒🍒...
Allisya sudah siap dengan seragamnya, tapi sebagian bukunya ia bawa dengan tangan bukan hati. Karena 3 buku itu akan membebani punggungnya. Allisya tidak ingin semakin sakit.
"Sarapan gak ya? Kalau aku lagi sakit kan gak boleh makan yang ada buah-buahannya. Di meja makan selainya rasa stroberi. Udah manis, rasa buah, sakit gigi ujung-ujungnya," keluh Allisya setelah menutup pintu kamarnya. Langkahnya perlahan menuruni tangga dengan hati-hati, sangat berbahaya jika terjatuh.
"Sarapan aja deh daripada nanti mama sama ayah bawelin aku. Bisa pingsan di sekolah, gak kosentrasi, nanti sakit. Hm, perhatian banget," Allisya menuju meja makan, mama dan ayahnya sudah duduk dan mulai sarapan roti seperti biasanya.
Allisya duduk dengan tak bersemangat. Semalam ia kelaparan, mau makan nanti ketauan mama jika berpapasan malam-malam di dapur mengambil minum.
Selena tersenyum, menyiapkan roti lalu akan mengoleskan selai tapi Allisya menolaknya. Selena mengernyit.
"Kenapa? Biasanya kamu suka banget pake selai. Sakit gigi ya?"
Allisya menggeleng. "Piket ma. Aku gak mau lama-lama. Biar nanti bisa tidur lagi hehe. Masih ngantuk nih."
Selena ber'oh'ria. "Tumben pake lipstik. Emang gak di hukum sama guru yang jaga gerbang sekolah?"
Allisya menggeleng. "Gak ada ma. Mau dandan biasa sampe menor kayak badut pun gak ada yang ngomelin."
"Tapi kan ke sekolah belajar sayang, bukan mau ke kondangan," ujar Selena kalem, Allisya selalu natural hanya modal bedak saja.
Allisya terkekeh. "Aku cuman pakai liptint aja kok ma. Gak lebih. Sama tambahan pelembab. Kalau bedak nanti luntur pas olahraga," ya, hari Kamis ini adalah jadwal olahraga di kelasnya. Inilah yang harus Allisya hndari, terutama lari mengelilingi lapangan yang luasnya ampun minta. Mungkin dirinya akan pingsan. Tapi sudahlah, yang terpenting masuk sekolah dan tak di ketauhi dirinya saat ini sedang sakit.
"Ma, yah. Aku berangkat dulu ya? Takut telat nih piketnya," Allisya berpamitan pada mama dan ayahnya.
"Bareng sama ayah aja ya? Masa iya naik angkot, gerah loh kamu gak bakal nyaman," Allister meneguk air putih di hadapannya. "Haduh seger banget, lebih pas di tambahin es," komentarnya, di tunjukkan pada Selana.
"Apa? Minum es? Yah, nanti kamu pilek lagi mau? Demam mau? Gimana sih, bersyukur di kasih sehat jangan sampai sakit. Mama gak mau ya ngingetin buat minum obat sama suapin bubur buat makan tapi akhirnya di tolak alesan gak ada rasanya," Selena berceloteh tanpa jeda, mengomeli Allister mati-matian. Salah sendiri berani meminum es.
Allisya gunakan kesempatan ini untuk kabur. Lebih baik berangkat tanpa ayah daripada nanti di tanya aneh-aneh.
Berhasil.
Allisya lolos dan sampai di jalan raya. Saatnya mencari angkot, entah sudah lewat atau masih lama mengenai baru jam 6 tepat.
"Mana ya? Nanti keburu mobil ayah lewat. Aku gak mau berangkat sama ayah," Allisya bergumam, menunggu saja melelahkan apalagi memilih pergi tanpa kejelasan dan janji kenangan.
Tin tin!
Allisya menoleh. "Alvian? Bareng! Ayo cepetan! Ngebut Al!" dengan lincahnya Allisya langsung naik di motor ninja Alvian.
"Ada apa sih sya? Kok buru-buru banget?" tanya Alvian santai, masih belum menjalankan motornya. Padahal Allisya sudah mati-matian ingin sampai ke sekolah.
"Ayo Al! Cepet! Atau aku turun aja deh nyari angkot," Allisya berniat turun tapi Alvian menahanya. "Jangan sya, iya nih aku ngebut kok. Pegangan ya?"
Allisya berpegangan pada tas Alvian, jangan geer dulu. Memangnya harus memeluk Alvian? Dia pasti akan baper.
Selama Alvian mengebut dan menyalip benerapa kendaraan, Allisya memejamkan matanya. Takut kalau hari ini hari terakhirnya. Alvian ngebutnya no main-main.
"Alvian! Aku takut. Jangan ngebut, lagian kita mau sampai ke sekolah kok."
"Nanggung sya! Biar cepet sekalian. Aku laper pingin makan ke kantin."
Kalau alasannya makan, Allisya tak bisa berkata-kata lagi. Ah, kebiasaan Alvian tak mau sarapan di rumah karena kurang asik daripada candaan teman-temannya.
Sampai di sekolah, Allisya masih menyesuaikan pandangannya yang berputar-putar. Hampir saja jatuh kalau Alvian tak menahan tangannya.
"Kamu pusing? Gara-gara aku ngebut tadi ya?"
Allisya mengangguk. 'Tambah parah Al! Kamu ah gak peka!' batinnya, mungkin sembuhnya akan lama. Dasar Alvian nyebelin, batinnya lagi.
"Mau ke UKS? Kamu istirahat bentar, nanti kalau bel masuk ke kelas lagi," Alvian merangkul bahu Allisya, sahabatnya ini kalau sudah pusing jalannya sempoyongan.
Allisya menggeleng. "Aku sehat kok Al. Baik-baik aja, aku ke kelas duluan," Allisya berlari kecil, perhatian Alvian membuat hatinya baper. Rasa itu masih ada meskipun Allisya sudah membuangnya jauh-jauh.
Di kelas yang masih sepi tak ada makhluk apapun. Allisya duduk menjadikan tas sebagai bantalnya. Kepalanya semakin pening setelah Alvian mengebut tadi.
__ADS_1
"Pelajaran olahraga, ck harus gimana nih? Masa iya aku langsung ke UKS dan bilang sakit? Alvian pasti ngomelin aku karena nolak kesana tadi," pikirannya berkelana entah kemana, apa yang harus di lakukannya?
"Allisya? Kamu masih pusing?" Alvian memasuki kelas, ia duduk di sebelah Allisya. Kursi yang di tempati Aqila biasanya.
"Gak kok. Malah ngantuk nih hehe," kilahnya. Daripada jujur bilang pusing? Alvian akan mengatakan dirinya sakit pada mama dan ayah lalu Aris.
"Tumben gak piket?" Alvian sudah hafal jadwal piket Allisya, tapi biasanya cewek itu hanya menghapus papan tulis dan menata meja guru.
"Kamu aja yang hapus papannya ya? Nanti kalau kamu piket, aku gantiin," Allisya bernegoisasi perpiketan.
Alvian mengangguk. "Siap laksanakan!"
Allisya memilih tidur, mungkin bisa menghilangan rasa pusingnya entah manjur atau gak.
...🍒🍒🍒...
Jam olahraga, Aqila dan Kaila menunggu Allisya yang tak kunjung mengeluarkan kaos olahraga dari dalam tas.
"Ayolah sya! Nanti kalau telat ke lapangan bakal di hukum lari lima kali. Gue gak mau ya larinya jadi sepuluh kali, apalagi sebelum pemanasan. Dih bisa pingsan gue," ucap Kaila menggerutu.
"Gue gak mau gosong!" tolak Aqila mentah-mentah. "Udah capek-capek luluran malah jadi item. Kalau kak Javas gak cinta lagi sama gue gimana dong?"
Saat ini Aqila atau Kaila mengadu nasib pada Allisya, tanpa cewek itu mungkin olahraganya kurang seru. Apagi saat berlari mengelilingi lapangan sambil mengobrol dengan segala topik ngalor-ngidulnya.
Allisya menghela nafasnya. "Kalian olahraga aja. Aku di kelas ngantuk," dengan mudahnya bibirnya mengucapkan itu padahal sama sekali matanya masih fresh.
"Allisya!" seru Aqila dan Kaila gemas, keduanya menampilkan wajah marah ingin memakan Allisya saat itu juga saking gemasnya.
Allisya terkekeh. Kalau begini tak bisa menolak.
"Iya deh. Ayo lah. Jangan pake parfum, nanti aja kalau olahraganya selesai," nasehat Allisya, percuma juga yang wangi bau asem nantinya.
"Siap sya!" sahut Kaila bersemangat, kalau begini kan komplit.
...🍒🍒🍒...
Di lapangan, Allisya dan kedua sahabatnya itu duduk melingkar. Guru olahraga menjelaskan materi tentang bola basket.
"Aduh, kenapa harus ini sih? Gue gak bisa nih!" keluh Kaila kesal, meskipun kesempatan tiga kali tapi bola basket itu tak pernah mau masuk ke dalam ring.
'Basket ya? Apa aku bisa? Setelah lari dan liat ring? Apa semuanya akan baik-baik saja?' batin Allisya bertanya-tanya
"Sekarang, kalian lari mengelilingi lapangan. Inget! Lari ya bukan jalan kaki kayak jogging! Saya pantau darisini. Buat perempuan lima kali dan laki-laki delapan kali," lalu peluit di tiup.
Semuanya berlari, ada yang semangat dan biasa saja takut capek dan kelelahan kakinya.
Aqila dan Kaila paling di depan. Keduanya asyik mengobrol tentang tas keluaran terbaru. Sampai mereka tak menyadari Allisya tertinggal di belakang dengan berlari tanpa semangat.
Alvian yang melihat Allisya larinya lambat pun berada di sampingnya.
"Sya? Kok lemes banget. Kamu sakit?"
Bruk.
Belum mendapat jawaban dari Allisya, gadis itu sudah pingsan. Semuanya menatap Allisya.
Alvian menggendong Allisya. "Pak! Allisya pingsan! Saya ke UKS dulu pak!" teriak Alvian di angguki guru olahraga yang tampak ikut khawatir juga.
"Loh Allisya! Kok pingsan sih? Eh ketinggalan gak sama kita larinya. Lo gimana sih kai?" Aqila menyalahkan Kaila, keasyikan ngobrol sampai melupakan Allisya.
Kaila cemberut. "Lo sih, daritadi tas aja yang di bahas. Cat kuku kek atau makanan gitu. Emang tas bikin gue kenyang?" Kaila tak mau kalah.
"Makan terus pikiran lo!" Aqila lama-lama kesal. "Ya udah, kita nyusul Alvian ke UKS aja."
"Yuk."
Di UKS, Allisya tak kunjung sadar. Petugas PMR sudah memeriksanya.
"Dia demam, panas banget. Kenapa masuk sekolah? Kan bisa bikin surat sakit. Kasihan jadi pingsan kayak gini," ujar sang PMR perempuan dengan dandanan yang natural. Cantik. Tapi Alvian sama sekali tak meliriknya, hanya berpusat pada satu titik yaitu Allisya seorang.
"Di pulangkan saja," celetuk bu Ani, yang selalu mengurus UKS sekaligus bidan khusus dari sekolah untuk memeriksa kesehatan para siswa.
"Saya setuju. Allisya di pulangkan saja," ucap Alvian, ia tak mau Allisya tambah sakit dan parah.
__ADS_1
"Baik, ikut saya ya. Nanti kamu mengarahkan dimana tempat tinggalnya."
"Aduh, Aqila! Biasa aja dong! Gak usah nabrak gue!" Kaila mengatur nafasnya yang tersengal, berlari-lari karena jarak UKS yang lumayan jauh.
Aqila berdecak kesal. "Udah masuk. Gak usah marah-marah mulu!"
"Loh kok tas Allisya sama lo Al?" tanya Kaila kaget, apalagi Alvian yang membawanya. Pasti pulang.
"Ini mau nganterin Allisya pulang?" tanya Aqila.
Alvian mengangguk. "Kalian balik aja. Masih praktek, jangan sampai gak dapet nilai. Gue bisa susul minggu depan daripada remidial."
"Ya deh," Kaila tak rela. "Kita ke kelas ya Al? Jagain Allisya, bilangin kalau sakit gak usah masuk sekolah kalau gak mau gue sled-emm," mulutnya di bekap oleh Aqila, tangannya juga di tarik keluar.
...🍒🍒🍒...
Setelah sampai di rumah Allisya, Alvian berbicara pada Selena dan Allister.
"Awalnya Allisya bilang pusing. Tapi alasannya ngantuk gitu tante. Terus pas olahraga juga larinya lemes gak bersemangat. Aku jadi khawatir," jelas Alvian.
Selena masih tak percaya Allisya sakit. Kenapa dirinya tidak menyadari hal itu?
"Oh! Pantesan aja tadi pagi Allisya gak mau selai stroberi. Ternyata dia sakit, ya ampun mama macam apa aku ini yang gak tau anaknya lagi sakit," Selena menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu pulang aja ya Alvian. Ikuti pelajarannya, jangan bolos. Terima kasih sudah mengantarkan Allisya dan menghubungi saya."
Alvian merasa sungkan, pasti pekerjaan Allister terbengkalai setelah ia telepon dengan suara panik tadi.
"Maaf ya om, kalau aku telepon om lagi kerja."
"Gak apa-apa, ya sudah cepat balik ke sekolah. Awas kalau bolos, nanti Allisya yang jewer kamu."
"Gak lah om."
Setelah Alvian pergi, barulah Selena dan Allister memasuki kamar Allisya. Putri kecilnya itu masih pingsan, wajahnya pucat meskipun sudah di olesi liptint katanya.
Allister mengambil kursi belajar Allisya, ia duduk memperhatikan anaknya itu.
"Kenapa Allisya gak bilang ya ma kalau lagi sakit? Apa takut mama makan jadi diam?"
Selena mendelik tajam. "Jangan ngarang ya kamu! Aku gak pernah marahin Allisya meskipun dia sakit. Beda jauh kalau kamu yang sakit, aku makan kamu lama-lama ya. Ihh tau ah."
"Kok kamu ngambek sih sayang? Mau beli apa? Nanti aku beliin deh," bujuk Allister, Selena pasti akan luluh jika di belikan apa saja sampai dompetnya musim kemarau.
"Beneran? Wah! Makasih banyak yah!" Selena memeluk Allister. "Aris di kasih tau gak? Kalau dia nanti jemput Allisya sekolah tapi gak ada? Malah nyariin lagi."
"Kasih tau aja. Biar Aris langsung kesini. Siapa tau setelah Allisya ketemu Aris jadi sembuh deh."
"Gak bisa gitu, ya harus minum obat, makan, istirahat yang cukup, gak boleh makan sem-"
"Iya mama bawel," sela Allister cepat, sekali tarikan nafas Selena tak akan berhenti mengoceh.
...🍒🍒🍒...
Setelah mendapatkan telepon dari Selena, Aris langsung keluar kelas. Biarlah untuk hari ini saja ia bolos kuliah. Yang terpenting ia tau kondisi Allisya sekarang.
Aris melajukan mobilnya dengan tenang, daripada mengebut dan terkena tilang. Ah, memang jalanan yang dekat kampusnya banyak polisi.
Akhirnya selama 15 menit sampai di rumah Allisya. Aris sudah tau pasti calon istrinya itu di kamar dan masih tidur.
Selena dan Allister memberikan ruang untuk Aris.
"Allisya, maafin aku. Ini semua salahku yang ninggalin kamu pas lagi hujan kemarin. Hukum aku sya," Aris menangis, rasanya dari semalaman ia sulit untuk tidur. Pikirannya terus tertuju pada Allisya yang terguyur hujan mengejar langkahnya, meskipun Aris balik lagi dan mengantarkan Allisya pulang.
Allisya tak kunjung sadar. Aris khawatir.
"Allisya? Kamu tidur ya? Hm, ya udah deh. Aku nungguin kamu bangun aja," Aris memandangi wajah Allisya yang tertidur pulas, ia tak tau gadis itu masih pingsan.
Sampai mata Aris terasa berat. Matanya terpejam karena mengantuk, alasan begadang semalaman memikirkan Allisya.
...🍒🍒🍒...
Melepaskan sebuah uneg-uneg dengan memperbanyak tulisan. Lega banget, terasa seperti curhat.
__ADS_1
7:06 AM
Gimana bacanya? Puas bgt karena banyak atau deg-degan?