
Ā Ā Daniel baru saja duduk tangannya di tarik oleh Aris.
"Maksud lo apa kemarin? Berani deketin Allisya? Kalian kan udah putus," Aris melihat itu semua kemarin, sekuat tenaga ia tak emosi.
Daniel tersenyum remeh. "Gue masih suka sama Allisya. Rencananya besok gue mau balikan sama dia,"
"Gak akan. Allisya gak pantes buat lo,"
Luna yang baru datang melihat perdebatan itu pun menjauhkan Aris.
"Ada apa sih? Pagi-pagi udah berantem aja,"
"Jagain tuh sahabat lo. Gak usah berurusan sama Allisya lagi kalau lo bisanya bikin dia sakit hati dan nangis," meskipun dirinya tidak tau bagaimana jatuh cinta seperti apa, tapi Aris belajar bagaimana menjaga perasaan Allisya.
Luna menatap Daniel meminta penjelasan. "Apa itu bener? Kamu mau balikan sama dia?"
Daniel mengangguk.
Seorang OSIS memasuki kelas. Dia Rey.
"Permisi. Saya ingin menyampaikan untuk tim basket putra berkumpul di lapangan sekarang. Terima kasih," setelahnya Rey pergi.
Di lapangan basket, semua tim putra berkumpul.
"Niel, SMA PANCASILA mau ngajak kita tanding. Dan itu pun besok. Gimana nih? Kita aja belum ada yang siap," ucap Ryan menyuarakan pendapatnya. Daniel, sang kapten basket.
Daniel menghela nafasnya. Setaunya SMA itu bermusuhan dengan geng Aris. Mungkin pertandingan ini sebagai aksi balas dendam atau yang lainnya.
"Sepulang sekolah kita latihan," Daniel memutuskan.
"Gak! Kenapa gak pas istirahat aja?" Ryan menyanggahnya. Rasanya kurang berlatih sekali.
"Kalau istirahat, lapangan basket di pakai buat pembelajaran olahraga. Mending pas pulang sekolah aja," tutur Dimas, mengikuti saran Daniel.
Ryan menghela nafasnya. "Ya udah deh. Terserah Daniel aja,"
...š š š...
Di kantin, Aris satu meja dengan Allisya seperti biasanya.
Daniel dan Luna. Daniel hanya bisa memandangi Allisya dari jauh.
"Eh, besok sekolah kita bakalan tanding loh sama SMA sebelah. Duh, gak sabar deh," ucap Kaila senang. Ia tau dari postingan Instagram official sekolahnya.
Aqila tersedak. "Ya ampun, mendadak banget,"
Reaksi Aris sungguh berbeda, rahangnya mengeras. Ia berusaha menetralkan amarahnya. SMA itu, yang bertetangga dengan sekolahnya adalah musuhnya yang suka membuat ricuh dan masalah.
Entah cara apa agar esok suasananya tetap damai.
'Sasuke nyari gara-gara rupanya. Sayangnya gue gak bisa ikut basket, mungkin besok gue sibuk mengurus semua persiapan juga konsumsi penonton,' entah pada siapa Aris akan menyuruh seseorang untuk mengawasi. Tapi ia tau, dia yang bisa di andalkan. Javas.
"Pokoknya besok gue bawa rantang dan bakul ah," ujar Kaila penuh semangat, takut kelaparan.
Aqila mencubit lengan Kaila. "Sekalian aja bawa panci sama baskom. Lo kalau makan gak nanggung ya. Kayak buto ijo tau gak," habis sudah kesabarannya. Kaila tetap kurus meskipun makannya banyak.
"Biarin lah. Mulut-mulutku sendiri! Wle," Kaila memeletlan lidahnya. Aqila memiting kepala Kaila saking gemasnya.
"Udah-udah. Kalian jangan berantem," lerai Allisya. "Mending makan, bentar lagi bel masuk,"
__ADS_1
"Samperin yuk. Bosen gue sama lo Jav," kesal Afif, tak ada obrolan sama sekali selain makan dan minum.
Javas mengangguk. "Ayo,"
Saat Javas dan Arif datang, Kaila tampak kesal dengan cowok itu. Arif.
Merasa di tatap tajam, Arif santai saja.
"Naksir ya? Ngeliatin terus daritadi," goda Arif menaik-turunkan alisnya.
"Ogah! Ngapain naksir lo! Mending makan roti salju sebulan," gengsi Kaila setinggi Everest. Saat sudah jatuh cinta keduanya mungkin malu-malu pernah berdebat seperti ini.
"Semoga kalian berdua bisa jadian," Aqila mendoakan. Mendapat senggolan dari Kaila. "Apaan sih!"
Luna merasa sendirian, Daniel hanya berfokus melihat Allisya.
"Lebih cantik aku niel, daripada Allisya! Dia gak ada apa-apanya! Kaya juga gak, pinter gak, tampilannya juga kurang menarik daripada aku yang fashionable," tutur Luna menilai dirinya dengan Allisya.
Daniel menoleh. "Gue gak bisa move on dari Allisya. Lun, pulang sekolah nanti ikut gue ya?" Daniel mengajak Luna untuk memilih barang sesuai selera para cewek, sekedar menemani saja.
"Kemana? Kamu mau ngajak aku makan bareng? Atau belanja di mall?" tanya Luna beruntun, terlalu antusias.
"Ke toko bunga. Iya ke mall, tapi main mesin capit boneka," Danil ingin berjuang mendapatkan satu boneka dengan usahanya sendiri.
Luna tidak semudah itu untuk ge'er. 'Ini pasti buat Allisya,'
...š š š...
Setelah dari toko bunga, Daniel mengajak Luna ke mall.
"Daritadi kamu kok cemberut? Kenapa?"
"Astaga! Aku lupa lagi. Lun, aku nitip bunganya ya," Daniel pergi.
Luna menatap bunga itu. "Bunga ini pantesnya di buang," Luna melemparkan bunga itu ke tong sampah.
...š š š...
Angga menatap Daniel bosan."Darimana aja lo? Baru dateng. Kita udah nungguin lama," omelnya.
Daniel tersenyum kikuk. "Tadi ada urusan bentar. Yuk latihan,"
Lima orang cowok berseragam SMA PANCASILA itu pun mengendap-endap masuk.
"Dimana sih lapangan basketnya? Daritadi muter-muter gak jelas. Pusing nih kepala gue!" protes Andre kesal. Ia paling lemot dalam berpikir.
"Makanya, di taruh dulu tuh kepala!" sungut Tara kesal.
"Hush! Kalian berdua bersisik banget sih," Rangga sampai bosan. Di sekolah, rumah, jalan, bumi, semua tempat sampai alaska sama saja.
"Itu bukannya Daniel lagi latihan basket ya?" tunjuk Andre.
"Gangguin yuk," ajak Rangga jahil.
Kelimanya itu menghampiri Daniel.
"Gak bakalan menang! Kemampuan lo kan cuman segitu. Gak kayak kita yang udah pro max!" seru Andre sebagai pembukaan menyulut emosi Daniel. Mencari keributan, mumpung Aris tidak ada.
Daniel menghentikan aktifitasnya. Ada manusia yang tak di undang.
__ADS_1
"Gak usah ngeremehin kemampuan orang. Belum tentu kemampuan lo juga baik," sahut Daniel dingin. Ia melihat gerak-gerik kelimanya, mengapa harus datang kesini?
'Apa nyari Aris ya?' tidak mungkin, Aris sudah pulang.
"Mending duel dulu sama kita," ajak Andre percaya diri. Sudah melewati Gatotkaca yang kuat tak terkalahkan.
"Gak usah berantem!" lerai Angga. "Atau-"
"Halah! Banyak bawel! Sikat!" teriak Andre semangat '45.
Terpaksa Daniel berduel dengan musuh bebuyutannya Aris itu. Angga hanya memukul beberapa saja. Sampai aksi mereka...
"Hentikan!" suara pak Fachruddin menginterupsi. Kepala sekolah.
Semuanya menoleh.
'Duh, lupa lagi kalau kepala sekolah sekarang belum pulang,' batin Daniel gugup. Semoga saja hanya teguran biasa.
"Bukannya latihan, malah berantem," Fachruddin menatap lima siswa SMA PANCASILA itu. "Kalian juga, ngapain disini? Nyari masalah?"
"Daniel yang mulai duluan pak. Nih, liat wajah saya lebam semuanya gara-gara dia," tunjuk Rangga menuduh seenaknya.
"Apa benar itu Daniel?"
Semudah itu Fachruddin mempercayai Rangga.
"Saya ti-"
"Skors satu minggu. Kalau kamu mengulangi lagi, surat panggilan orang tua juga di keluarkan dari sekolah,"
Daniel menatap Rangga tajam. "Puas?! Pembohong!" lebih baik pulang, menenangkan dirinya juga mengatakan yang sebenarnya pada ayahnya.
"Rencana kita berhasil bro!" Andre ber-tos ria dengan Rangga, Tara, Galang.
"Loh? Tristan mana?" tanya Andre baru menyadari, satu temannya itu hilang entah dimana.
"Mending kalian semua pulang deh! Bobok ganteng!" seru Angga kesal. "Nyari ribut, ujung-ujungnya Daniel yang kena,"
"Itu emang pantes buat dia," gumam Rangga tersenyum senang.
...š š š...
"Apa? Di skors?" Surya menatap Daniel tak percaya.
"Mungkin itu kamu sendiri yang berbuat ulah. Jadi terima saja resikonya," dengan mudahnya Surya berkata seperti itu.
'Percuma juga gue ngomong ke ayah. Gak ada gunanya,' batin Daniel lelah. Seharusnya Surya menasehatinya, atau tidak menanyakan lebih rinci bagaimana kejadiannya.
"Lebih baik keluar saja dari tim basketmu itu. Sampai kamu lupa sendiri dengan Luna. Dia pulang sendirian dan hampir di rampok sama preman,"
Dulu sebelum adanya Luna, hidup Daniel tenang. Dengan adanya gadis itu, semuanya harus tersingkirkan.
Daniel juga khawatir. "Apa sekarang Luna sudah sampai di rumahnya yah?"
Surya mengangguk. "Untung saja ayah melihatnya. Makanya, cepat berhenti dari ekskul basketmu itu. Lebih baik menjaga Luna saja. Dia tidak bisa apa-apa selain bergantung sama kamu niel," tuturnya, seperti perintah yang tak bisa di bantah.
Mau tidak mau Daniel masih memikirkan hal ini. Kelas 12 memang saatnya berhenti dari semua ekskul juga organisasi. Tapi berpartisipasi beberapa bulan saja masih di perbolehkan, selebihnya saat menjelang ujian berhenti.
...š š š...
__ADS_1
...[ C o m i n gĀ Ā S o o n ]...