Married With The Badboy

Married With The Badboy
51. Aris penakut


__ADS_3

Setiap Allisya pulang, Aris selalu menjemputnya tepat waktu. Terbukti ketika Aris sudah berdiri dengan cool-nya di sebelah mobilnya itu. Sampai para siswi yang akan pulang pun mengurungkan niatnya lebih baik melihat pemandangan objek indah ciptaan Tuhan.


"Kak Aris tambah ganteng deh."


"Sama aku aja kak. Putusin Allisya, aku lebih cantik kok daripada dia."


Aris tak mempedulikan godaan dari siswi-siswi itu.


"Ciee udah di tungguin sama pangerannya tuh," goda Kaila membuat Allisya menunduk malu-malu.


"Apa sih kai, kak Aris bukan pangeran. Ini kan dunia nyata bukan dongeng," elak Allisya meskipun hatinya membenarkan kata-kata Kaila, Aris pangerannya maka ia adalah seorang putri raja.


"Pasti lo bakal di spesialin sama kak Aris, di bukain pintunya terus pas lo gak bisa pasang sabuk pengaman jadi kak Aris bisa bantuin pasangin. Pas jaraknya deket banget lo gak nafas sama sekali karena deg-degan," ujar Aqila dengan bijaknya.


"Gak la, aku bisa sendiri kok. Ya kalau kamu pasti gak bisa."


"Ayo sya, aku mau makan bareng. Laper banget nih habis ada kelas sama praktek," Aris hanya ingin makan berdua dengan Allisya di siang cerah ini. Pasti akan lebih romantis dan menyenangkan menggoda Allisya yang lahap makan.


"Laper banget ya kak?" tanya Allisya. Apalagi wajah Aris yang menahan lapar itu sangat lucu di matanya. Memang yang di sayang pasti apa aja gemesin hm.


Aris mengangguk. "Banget sya. Mau makan dimana aja sama kamu aku kenyang dan seneng. Karena memandang wajahmu yang cantik duhai adik yang manis," gombalnya sedikit mengambil sebuah lirik lagu entah judulnya apa.


"Eheemm!" Kaila berdeham keras, seketika hatinya iri melihat kebucinan Aris dan Allisya dirinya saja tak pernah begitu dengan Arif.


Allisya menoleh dengan wajah masamnya. Kalau Kaila belum juga pulang, cewek itu akan mengganggu keromantisannya dengan Aris.


"Sampai lupa masih ada sahabatnya disini. Ya gak apa-apa, kak Aris kan calon suami kamu," tekan Kaila di akhir kata membuat beberapa siswa yang masih menyaksikan pun kaget dan tak percaya.


"Loh? Bukannya masih pacaran? Kok udah calon suami gitu aja sih?"


"Ihh adek gak rela abang Aris dengan Allisya!"


"Tau kan sakit tak berdarah itu apa? Ya ini markonah!"


Seruan tak terima dari cewek-cewek fans Aris itu memprotes.


"Kita duluan ya? Bye, semoga lancar kencan makan siangnya," Kaila melambaikan tangannya, saatnya berbelanja dengan Aqila.


'Padahal aku pingin juga ikut. Tapi udah ada kak Aris, aku harus menghargai perasaannya bukan justru mengecewakannya,' batinnya tiba-tiba sedih. Perasaan takut kehilangan muncul, ia harap Aris selalu ada dan tak pernah meninggalkannya keadaan apapun itu.


"Allisya?" Aris menoel hidung Allisya, melamun. "Ayo, sayangg."


Jika sudah di panggil sayang seperti itu hati Allisya salah tingkah dan jedag-jedug.


"Iya kak. Ayo."


"Sayang? Kenapa ya mereka kok bisa langgeng gitu?"

__ADS_1


"Ah sakit hati adik kak!"


"Nyebelin!"


"Biarin!"


"Apa sih? Nyaut aja!"


Di dalam mobil, Aris menyalakan radio untuk mengisi kesunyian hati yang sepi.


'Padahal aku udah pingin banget tidur siang. Kak Aris ngajak aku makan bareng. Lebih bagus kayak gini sih, daripada kak Aris sibuk terus akunya di cuekin,' batin Allisya.


"Kak, kita kapan tunangannya?" tanya Allisya ragu-ragu, tak ada salahnya menanyakan hal ini pada Aris. Meskipun ia masih sekolah dan Aris kuliah, mungkin kedua orang tuanya akan menyuruhnya tunangan setelah lulus.


Aris menoleh. "Kamu masih sekolah. Jangan mikir itu dulu ya? Belajar yang rajin biar dapet nilai bagus."


Bukan jawaban seperti itu yang Allisya inginkan.


Disinilah, Aris mengajaknya ke restoran. Ah padahal Allisya maunya ke warung favoritnya.


Selama makan juga, Aris lebih banyak diam. Mungkin cowok itu sangat lapar.


"Emangnya kak Aris gak makan di kantin?"


Aris menatap Allisya. "Beda, kalau makan sama kamu hati aku tenang dan tentram."


"Ha? Apa?" Allisya masih pura-pura tak mendengarnya. Biasanya cowok akan bilang gak apa-apa setelah menggombal.


Tadinya Allisya sudah sangat senang, tapi ternyata ini hanyalah waktu luang terakhir. Dan Aris kembali sibuk sampai melupakan dirinya. Lalu Alvian marah dan keduanya beradu debat. Salah lagi.


"Oh gitu," respon Allisya malas. Apakah nanti setelah menikah Aris akan sama sibuknya?


Selesai makan, Aris mengantarkan pulang untuk memakai baju biasa.


Aris duduk di ruang tamu, sambil membalas chat dari Javas dan Arif.


Arif


Aris mana sih? Katanya mau nongkrong di warung deket kampus. Basi ah janjimu iku.


Javas


Lagi sama Allisya kayaknya @arif.


Anda


Mau quality time. Biar rindu gue terobati. Hari besok udah mulai sibuk banget bantuin ayah.

__ADS_1


Arif


Gombalmu mas. Gak bisa bikin aku kenyang.


Javas


Biasanya juga lo gitu sama Kaila.


"Kak Aris?" Allisya sudah selesai memakai baju biasa, rambut di gerai dan jepit merah muda.


"Yuk. Tumben gak kamu kuncir. Emang gak gerah?"


Allisya menggeleng, kalau semilir angin meniup rambutnya akan terasa sejuk dan dingin. Allisya suka itu.


"Yuk. Daripada nanti pulangnya kemaleman," Aris meraih jemari Allisya.


'Aduh kenapa aku deg-degan ya? Kak Aris mau ngajak aku kemana?' batinnya ingin tau.


***


Allisya mengernyit heran. Kenapa Aris mengajaknya ke tempat horor? Ya, rumah hantu.


"Aku daridulu gak pernah kesini sya. Selalu aja dilarang sama orang tuaku, takutnya nanti mimpi buruk dan gak bisa tidur," Aris memandang rumah hantu itu dengan jiwa menantang. Pasti beranilah masa takut.


"Ya udah. Ayo kita masuk. Kalau emang kak Aris berani sih," Allisya meragukannya, genggaman tangan Aris saja terasa berkeringat mungkin gugup.


Saat sudah memasuki ke dalam wahana rumah hantu, pandangan Aris selalu waspada di sekitarnya. Jika nanti ada yang tiba-tiba mengejutkannya lalu wajah seram ah-tak boleh berpikiran aneh. Di sampingnya sudah ada Allisya yang menemani.


"Hihihihi," tawa misterius tanpa ada wujud nampak dan sosok itu membuat Aris merinding, tangannya semakin kuat menggenggam Allisya. Bukan takut, hanya merinding.


Allisya yang merasakan genggaman Aris semakin kuat pun menoleh.


"Kak Aris? Kenapa? Kok wajahnya pucet gitu? Kalaua kak Aris gak kuat ke rumah hantu mending keluar aja ya kak?"


Aris menggeleng. Inilah moment yang ia tunggu setelah sekian lama tak di perbolehkan.


"Hai! Namanya Aris ya? Salam kenal. Mau sate gak?" itu suara mbak sundelbolong yang posisinya tepat di hadapan Aris.


"S-sate?" Aris menatap ke depan dengan keringat bercucuran, benar saja ada hantu wanita penyuka sate 200 tusuk!


Aris berlari sendirian meninggalkan Allisya.


"Duh, kok di tinggal sih kak. Mbak maaf ya saya udah kenyang tadi habis makan di restoran. Satenya buat mbak aja biar gak laper," Allisya menyusul Aris, hanya hantu bohongan tak perlu takut. Tapi entah jika nyata mungkin dirinya sama dengan Aris yang lebih memilih melarikan diri.


***


Soto ayam dan ngetik novel.

__ADS_1


5:33 sore.


Bye honey-,


__ADS_2