
Daniel menatap ponselnya dimana sebuah foto di Instagram menampilkan senyum indah milik Allisya.
"Maaf ya sya aku gak bisa hadir di pensi itu," gumamnya.
Tapi pendengaran Luna sangat tajam.
"Niel kamu liat fotonya Allisya? Kok masih di simpen sih?" tanya Luna setengah kesal, ia merampas ponsel Daniel. "Gak usah follow dia! Lupain Allisya!"
"Lun, gak baik membenci seseorang. Mau bagaimana pun Allisya pernah bikin aku bahagia Lun," pungkas Daniel membela Allisya, lagi-lagi mantannya itu selalu di agungkan daripada Luna pacarnya sendiri.
"Belain aja terus! Aku gak laper!" Luna beranjak pergi, Daniel mengejar langkahnya. Satu tangannya di cekal.
Luna berbalik. "Apa lagi?! Urus aja Allisya. Aku udah gak penting lagi buat kamu!"
Suara Luna yang tinggi itu menarik perhatian kantin, semua orang menatap Luna aneh.
"Kenapa sih kalau ada dia ribut terus?"
"Lagi rebutan atau gimana?"
"Kamu udah gak sayang lagi kan sama aku?" tanya Luna to the point, selama ini ia bertahan karena hatinya benar-benar mencintai Daniel.
"Aku sayang sama kamu Luna," jawab Daniel cepat.
Luna menggeleng. "Kalau kamu emang sayang sama aku, hapus nomer Allisya dan fotonya. Semua tentang cewek itu kamu hapus niel. Sekarang prioritas kamu itu aku."
"Dih, ceweknya maksa banget. Kalau gak bisa move on dari mantan, suruh balikan aja lah."
"Hooh, daripada tiap hari ribut disini. Panas lama-lama kuping gue!"
Luna menggeram kesal. "Diem lo berdua!" bentaknya dengan tatapan nyalang.
Dua cewek yang berbisik tadi pun beranjak pergi.
"Lun, jangan marahin mereka gak salah apa-apa," Daniel memegang kedua bahu Luna, menatap cewek itu lekat. "Coba kamu berubah jadi penyabar, mungkin aku akan lebih nyaman lagi sama kamu."
Luna mengangguk, demi Daniel ia akan melakukannya.
"Asalkan kamu selalu sama aku aja itu udah cukup niel," Luna memeluk Daniel, rasa rindu yang tak pernah kurang dan lebih itu untuk Daniel. Berpisah sebentar rasanya berabad-abad.
"Iya Luna, pasti."
...🍒🍒🍒...
Luna tak akan tinggal diam, Allisya harus di singkirkan sampai cewek itu benar-benar jauh dari Daniel. Atau perlu memusnahkan Allisya. Ah, Luna terlalu gila. Tapi itulah dirinya, hatinya sudah tertutup kabut cinta dari Daniel.
Luna menatap foto Allisya yang berhasil ia dapatkan dari laci lemari Daniel, meja belajar, hingga di dalam tas sekalipun.
Luna membakar 20 foto itu ke dalam keranjang sampahnya.
"Selamat tinggal Allisya, untuk selama-lamanya," Luna tersenyum licik, saatnya permainan ini di mulai.
...🍒🍒🍒...
Di hari Sabtu ini, Luna akan ke sekolah Allisya. Menemuinya secara langsung adalah rencana utamanya.
__ADS_1
Luna menunggu dengan sabar, kurang 15 menit lagi bel pulang akan berbunyi.
"Lama banget sih. Kalau aja gue belum lulus dari sekolah ini, huh udah gue labrak. Bodoamat lah masih pelajaran," gerutunya kesal.
Beberapa pedagang kaki lima itu menatapnya aneh.
"Mbak masih waras ngomong sendiri?" tanyanya menyindir.
"Apa sih pak? Masih waras lah. Masa keliatan gila?"
Bapak penjual cilok itu terkekeh. "Nungguin siapa sih? Pacarnya ya? Kenapa gak pakai seragam sekolah?"
Luna mendengus kesal, banyak sekali pertanyaannya.
"Saya udah lulus darisini pak. Kepo aja," jawabnya malas.
Kriingg..kriingg
Langkahnya segera menuju kelas Allisya, Luna tak sabar ingin memberikan pelajaran pada gadis bermuka polos itu.
Di kelas, Kaila dan Aqila tetap menunggu Allisya yang sedang piket.
"Kalian pulang aja, aku masih lama berisihin kelasnya. Belum lagi harus di pel, udah kotor banget tuh."
Kaila menggeleng. "Kita ini setia kawan sama lo sya. Mau lama, bentar atau selamanya pun kita ijabanin sya. "
Aqila mengangguk setuju. "Bener tuh apa yang di bilang Kaila. Mau di bantuin gak sya? Kasihan tiap hari lo piketnya sendirian terus. Emang dasar ya para cowok-cowok di kelas kita langsung pulang. Kai, besok denda mereka aja deh sekalian seratus ribu biar kapok gak ngulangin lagi," ucap Aqila menggebu.
"Siap bu bos! Laksanakan perintahmu!"
Sedangkan Luna menuju kelas 12, ia masih belum tau kelas Allisya.
"Kelas 12 Ips 3 tuh disana."
"Makasih banyak," Luna mempercepat langkahnya, semoga saja cewek polos itu belum pulang.
Luna berhenti di ambang pintu, ternyata masih ada dua pawangnya Allisya. Harus di singkirkan lebih dulu. Pengganggu.
Luna mengirimkan pesan kepada seseorang meminta Javas dan Arif agar datang ke sekolah menjemput Kaila dan Aqila. Meskipun tiba-tiba, cara ini menurutnya paling ampuh untuk mengangkut dua penjaga Allisya itu pergi.
Selesai.
Sebentar lagi.
Luna memilih bersembunyi di balik koridor kelas 12 paling ujung.
Tak lama kemudian Javas dan Arif datang. Keduanya menuju kelas 12 ips 3.
"Kaila? Yuk pulang bareng, kapan lagi kan Jav?" tawar Arif dengan senyum menggodanya.
"Aqila, aku mau ajak kamu makan siang boleh?" tanya Javas dengan binar matanya, ia memohon.
Kalau begini, Aqila tak akan menolak pesona Javas begitu saja. Makan siang dengan gebetan ganteng? Boleh banget!
"Mau banget kak ayo!" bahkan tangan Aqila menggamit tanpa sungkan tangan Javas.
__ADS_1
Tinggal Kaila yang susah di ajak. Arif menggendong Kaila jika cewek itu tak bisa menjawabnya.
Kaila meronta meminta di turunkan, cewek itu juga berteriak kalau Arif nakal dan seenaknya gendong.
"Biarin! Lagian daritadi diam. Cuman jawab iya kak Arif aku mau banget pulang sama kakak gitu aja susahnya minta ampun," Arif menggeleng heran.
Allisya sendirian.
Dan Luna melihat itu semua dengan senyum cerianya. Sudah beres. Saatnya menjalankan misi.
"Allisya!" bisik Luna membuat Allisya menoleh dan terkejut.
"L-luna? Kamu ngapain disini?" tanya Allisya gugup, sangat heran dan mustahil Luna mau ke sekolah. Pasti ada maunya.
"Ajak kamu jalan-jalan ke tempat yang indahh banget. Kamu bakalan tenang disana, ayo ikut aku," Luna menarik tangan Allisya dengan kuat, jangan sampai cewek itu lolos apalagi lari dan mengadu pada Aris.
Sekolah sudah sepi, semua ekskul di liburkan karena beberapa pembina sedang ada kepentingan lain.
Suasana sangat mendukung rencana Luna agar lancar.
Luna membawa Allisya ke rooftop sekolah.
Allisya takut ketinggian.
"Luna? Kamu mau ngapain ngajak aku ke rooftop?"
Luna mendorong Allisya agar lebih condong ke depan, hanya kurang 2 langkah lagi Allisya akan jatuh.
"Gue ngajak lo ke neraka lah. Kalau gak mau, hahaha gue dorong darisini. Cepetan!" perintah Luna setengah berteriak.
Allisya menggeleng. "Kamu gila Luna! Aku gak mau bunuh diri! Itu dos-"
"LUNAAA!" teriak Allisya ketakutan, dirinya hampir jatuh jika tak berpegangan pada pembatas pagar.
"Jadi gini kelakuan lo? Jangan bawa Allisya! Urursan lo urusan gue juga!"
Suara itu, membuat hati Allisya sedikit tenang. Aris datang dengan waktu yang tepat.
Luna menoleh. "Datang juga pahlawannya. Kalau lo maju selangkah lagi. Allisya tinggal nama. Mau?! Pilih mana? Kehilangan, atau ikut ke nerak-Arghhh!"
Allisya mendorong Luna hingga cewek itu tersungkur. Allisya gunakan kesempatan itu menghampiri Aris.
"Kak, aku takut," Allisya memeluk Aris.
"Ayo pulang. Gak usah di ladenin cewek gak waras kayak Luna," Aris menggenggam tangan Allisya yang begitu dingin dan gemetar.
Allisya sangat berterima kasih pada sang maha kuasa telah mengirimkan seorang penyelamat, Aris.
Luna benar-benar gila.
Allisya tak akan berurusan lagi dengan cewek itu.
...🍒🍒🍒...
Terlalu ngebut sampai tangan pegel.
__ADS_1
10:13 siang
See you episode selanjutnya