Married With The Badboy

Married With The Badboy
39. Aris cemburu


__ADS_3

"Makasih ya Al?" Allisya merasa tenang, apalagi Alvian akan selalu menjaganya. Lain halnya dengan Aris yang sibuk dengan dunianya sendiri.


Alvian mengangguk. "Iya, sama-sama. Yuk pulang," Alvian menautkan jemarinya pada tangan Allisya sangat pas dan mungil.


...🍒🍒🍒...


Alvian memang serius menjaga Allisya, terbukti cowok itu menjemput Allisya untuk ke sekolah bersama.


Selena tampak terkejut dengan kehadiran Alvian. Terlihat asing.


"Kamu siapanya Allisya ya?" seperti biasa, Selena akan kepo dengan cowok yang dekat dengan Allisya padahal sudah ada Aris.


"Masa sih tante lupa saya aku? Alvian, sahabat Allisya sejak kecil yang suka main bola dan basket. Punya rumah pohon tempat dimana aku dan Allisya bermain basket disana. Memangnya Allisya belum cerita ya?"


Selena baru ingat, owalah ternyata sahabat masa kecil.


"Kamu tambah ganteng aja. Alvian ya?" Allister duduk di sebelah Alvian, sudah beres mandi dan sisir sampai rapi saatnya sarapan pagi.


"Cowok emang ganteng om masa cantik?" jawab Alvian sedikit bercanda, Allister hanya terkekeh.


"Allisya kok lama banget? Lagi ngapain sih?" tanya Allister kesal.


"Biasanya dandan dulu yah."


"Gak dandan kok," sahut Allisya yang sudah rapi dan siap dengan seragam putih abu-abunya. Rambutnya licin tak awut-awutan setelah di sisir, sebelumnya berantakan usai bangun tidur.


"Ayo sarapan bareng. Sama Alvian nih, sahabat kamu pas kecil. Kenapa gak bilang daridulu? Ayah bisa jodohin kamu sama dia."


"E-aku kan gak ingat Alvian yah. Udah lama banget, apalagi dia di luar negeri."


"Udah punya Aris, gak usah berpindah ke lain hati," tegas Selena serius, karena pada dasarnya bermain-main itu membuang waktu dan menyakiti perasaan.


Allisya hanya tersenyum geli melihat tanggapan mamanya itu.


Setelah selesai makan, Alvian dan Allisya pamit.


"Pelan aja. Gak usah kebanyakan gaya ngebut. Mau di tilang sama polisi? Sekarang kan lagi ada tuh di jalan raya. Biasa, penertiban," ujar Selena menasehati Alvian.


"Siap tante. Kita berangkat dulu ya?"


"Hati-hati. Yah, daritadi makannya gak selesai-selesai. Berangkat sana, nanti telat ke kantor," omel Selena menatap Allister yang masih mengunyah nasi mulutnya penuh.


"Iywa mwa. Inwi bentwar lagwi habwis," Allister mengunyahnya cepat.


"Kalau aja gak lagi makan, udah aku uwek-uwek pipinya yang chubby itu."


...🍒🍒🍒...

__ADS_1


Sampai di sekolah, meskipun dulunya Allisya dan Alvian menjaga jarak atau lebih tepatnya jarang bersama. Tapi sekarang, keduanya sangat dekat bahkan tertawa bersama tak mempedulikan bisik-bisik aneh dan kritikan dari para cewek yang iri.


Javas dan Arif yang baru saja mengantarkan gebetannya masing-masing mendengar Alvian dan Allisya dekat sangat heran.


"Mereka kok kayak pacaran ya?" tanya Kaila mengernyit.


"Itu tangan Alvian berani banget merangkul Alliysa. Kalau sampai kak Aris tau, parah nih," ujar Aqila asik asik di geleng-geleng.


"Kak Javas, jangan bilang-bilang ke kak Aris ya? Kasihan Alvian nanti di hajar," Aqila beralih menatap Javas yang kini pandangannya fokus pada Allisya dan Alvian, tatapan itu datar.


Javas tersenyum. "Percuma aja la, pasti ada yang ngasih tau."


"Tapi jangan pakai berantem gitu kalau lagi cemburu," Aqila menasehati lagi.


"Nanti biar aku yang jelasin. Kamu tenang aja ya?"


"Makasih kak Javas."


"Hemm! Ayo masuk ke kelas, jangan bucin disini. Gak baik," Kaila menarik tangan Aqila, cukup sudah sampai disini saja dirinya menjadi nyamuk obat.


"Tuh liat, Kaila aja gak ngomong sama lo daritadi. Kayaknya dia gak mau sama lo, gak sesuai kriteria idaman," Javas berbisik pada Arif dengan nada meledek. Memang ada benarnya, Kaila hanya sekedar mau di antarkan Arif agar cewek itu bisa berhemat.


"Gue yakin pasti bisa mendapatkan hati Kaila. Karena hati gue udah pasti dan fokus sama dia, bukan ke yang lain meskipun jauh lebih cantik. Dan penampilan bukanlah yang pertama gue cari Jav, hatinya, ketulusannya, sama kejujuran itulah idaman gue," curhat Arif, yang seperti itulah susah untuk di cari. Terlalu banyak serius di kalimat yang terucap namun hatinya justru berkata lain.


"Selamat berjuang."


"Makasih atas dukungan lo."


...🍒🍒🍒...


Di kampus, tepatnya kantin. Javas, Arif dan Aris duduk melingkar seperti biasanya.


"Allisya tambah lengket aja sama Alvian. Lo gak cemburu?" Arif menatap Aris yang kini meletakkan sendoknya kasar. Arif salah ngomong.


"Ya jelas cemburu lah. Allisya itu pacar gue, calon is-"


"Udah tau kali. Makannya, lo jangan terlalu sibuk sama kerjaan apalagi belajar. Lama-lama Allisya selingkuh di belakang lo, hm mampus makan tuh sakit hati," tekan Javas kesal dan gemas, Aris terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.


Aris menghela nafasnya. "Gue sibuk gini juga demi ayah. Karena gue harus mengejar cita-cita juga Jav."


"Sesibuk apapun lo, tapi ada waktunya lah sama Allisya. Dia itu kurang semangat ke sekolah, tapi sekarang gak sih kan ada Alvian. Malah ketawa dunia serasa milik berdua," Arif memanas-manasi, biarlah Aris semakin cemburu.


"Ok," Aris mengangguk. "Gue akan meluangkan waktu buat Allisya," ujarnya mantap dan serius.


...🍒🍒🍒...


Dan Allisya mau saja di ajak pulang bersama dengan Alvian, lagi.

__ADS_1


"Tapi makan dulu lah, biar di rumah kamu tinggal rebahan sama tidur doang. Mau?"


Allisya mengangguk antusias. "Mau banget Al! Siang gini enaknya makan di warteg."


"Pakai helm-nya nanti di tilang sama polisi," Alvian menyerahkan helm-nya.


"Aku gak bisa kunci helm-nya kayak kamu Al," keluhnya.


Alvian mengunci helm Allisya. Jarak keduanya sangat dekat, nafas Alvian saja menerpa wajah Allisya. Aroma mint itu membuat jantung Allisya deg-deg serr.


"Minggir!" Aris mendorong Alvian hingga cowok itu menjauh dari Allisya.


"Gak usah deket-deket sama Allisya. Dia itu calon istri gue. Faham gak?!" teriak Aris sedikit membentak.


Beberapa siswa menyaksikan itu diam, berbisik dan penasaran dengan merekamnya.


"Allisya pulangnya sama gue. Orang tuanya juga udah mempercayakan ke gue buat jagain Allisya. Gak kayak lo yang sok sibuk!" Alvian menunjuk Aris emosi. Alvian tak suka melihat raut kesedihan di wajah Allisya, sahabatnya itu tak pantas sedih dan patah semangat di sekolah.


"Bahkan Allisya di kelas gak bisa kosentrasi mikirin lo! Allisya selalu nulis nama lo dan sebuah puisi yang punya ungkapan rindu."


"Al, ayo pulang," Allisya meraih tangan Alvian, semua itu tak luput dari mata Aris. Dengan cepat menepis tangan Allisya.


"Jangan pegang-pegang tangan Alvian. Punya aku aja nih," Aris memberikan tangannya berharap bisa di gandeng juga.


"Kenapa kak Aris baru peduli sama aku?" tanya Allisya suaranya lirih, matanya beradu dengan lensa hitam legam yang indah itu.


"Kak Aris juga udah bohong sama aku. Jadwal kuliah hari Kamis, Jumat sama Sabtu tapi kak Aris nyuruh aku tidur. Padahal aku hanya ingin di temani kak Aris sebentar aja," suara Allisya bergetar, pandangannya menunduk menyembunyikan air mata yang sudah meluncur bebas.


"Cowok kayak Aris gak usah di pertahankan deh sya. Lepasin aja," sahut Alvian memperumit keadaan.


'Melepas? Kayaknya gak bisa Al, karena sebentar lagi aku sama kak Aris bakalan tunangan dan nikah. Entahlah, aku gak tau bagaimana nantinya rasa cinta itu udah mati dan gak ada lagi,' batin Allisya terasa pilu.


Aris mendekap Allisya. "Jangan nangis, maaf aku udah bohong sama kamu. Apapun masalah yang menguji hubungan kita, jangan pernah ada kata perpisahan."


"Aaa! Baper sumpah!"


"Itu janjinya serius gak sih?!"


"Pokoknya kak Aris cuman buat aku doang!


"Calon idaman nih."


Alvian lebih memilih pulang saja daripada melihat keromantisan dua couple itu. Hatinya juga ikut cemburu.


...🍒🍒🍒...


Ide dari kamu yang nyuruh aku tidur tes kejujuran.

__ADS_1


10:10 siang


Sampai jumpa lagi


__ADS_2