Married With The Badboy

Married With The Badboy
26. Ujian


__ADS_3

Akhirnya satu minggu itu terlewati dengan mudahnya. Saatnya ujian bukan perasaan yang tak ada kepastiannya. Curhat lagi.


Kaila nangis bohongan. Tempat duduknya terpisah jauh dari Aqila.


Kaila duduk di lantai. Membujuk Aqila agar namanya di ubah saja.


"Ya kali, udah bagus Aqila di ubah jadi apa? Karmila?"


Kaila terkekeh. "Karmila kan orang gila yang pernah ngejar lo dulu. Gimana tuh kabarnya sekarang?"


Aqila berdecak kesal. "Tanya aja sendiri sana," Aqila fokus kembali membaca mata pelajaran yang di ujikan saat ini, apalagi kalau bukan PKN.


"Jangan marah la. Becanda kok. Masa gue gak bisa nyontek sama siapa-siapa?"


Kringg...kringg


Bel masuk berbunyi. Bersamaan dengan Allisya datang dengan langkah penuh semangatnya. Allisya selisih satu bangku dengan Aqila.


Guru pengawas pun juga ikutan datang dengan langkah yang mendebarkan. Di tangannya sudah ada tiga map yang terdiri dari soal, jawaban pilihan ganda dan essay.


"Letakkan tas kalian ke depan. Soalnya akan saya bagikan," ucap sang guru pengawas. Agar tak ada yang berbuat curang seperti melihat buku.


Setelah semuanya mendapat soal dan lembar jawaban, saatnya mengerjakan.


Berbisik, melempar kertas, dan mengintip jawaban dari samping kiri dan kanan.


Kaila berusaha memanggil Aqila, tapi cewek itu beneran pura-pura fokus.


"Heh! Aqila! Nomer satu sampai empat puluh apa jawabannya? Gue gak bisa mikir," bisik Kaila lirih.


Aqila berdecak kesal. Kenapa Kaila tak bisa diam?


'Gila, masa semuanya gak bisa?' batin Aqila tak habis pikir.


1 jam 45 menit itu akhirnya berakhir, bel istirahat berbunyi.


Kesempatan istirahat atau belajar lagi.


Aqila menghampiri Allisya yang kelelahan.


"Susah banget ya sya? Gue aja tadi ada yang ngasal. Biarin aja deh kalau gak seratus," ucap Aqila pasrah. Yang penting selesai.


Kaila menangis, rewel. "Huwaaa! Kalian pelit banget gak ada yang mau berbagi. Apa susahnya sih?"


Aqila mendenegus kesal. Kenapa lagi sih Kaila?


"Makannya belajar, jangan berantem sama kak Arif terus," nasehat Aqila pintar, bahkan Kaila dan Arif yang paling heboh.


"Daripada galau, ke kantin aja yuk," ajak Allisya, ia membereskan pensil dan penghapusnya daripada menghilang secara misterius.


Selama perjalan ke kantin, Kaila terus mengeluh tiada habisnya. Aqila ingin menghilang saat itu juga.

__ADS_1


"Terus ya, masa tadi gue jawabnya ngasal pakai jari. A B C D, kebanyakan D sama A sih. Jadi unik gitu bisa zig zag," Kaila terkekeh garing, bahkan Allisya dan Aqila biasa saja.


"Iya, zig zag kayak otak lo," sahut Aqila emosi, mungkin gara-gara soal yang sesulit melupakan kamu sampai sekarang. Biarin curhat.


Di kantin, semua tempat duduk penuh.


"Terus kita duduk dimana? Gak mungkin di lantai," Kaila bingung, ia berusaha mencari tempat kosong.


"Ya udah ke perpus aja kalau gitu. Nanti pulang sekolah ke kantim beli jajan, gimana?" usul Allisya dengan idenya. Lagipula ujian tak selama sekolah pada biasanya.


Kaila berpikir. "Hm, gue gak ikhlas sya. Nasib roti-"


"Lama-lama lo kayak salju kai. Hahaha," Aqila tertawa jahat, salah sendiri makanan jadi prioritas daripada kamu lagi.


Kaila cemberut. "Tega! Huhuhu," kembali ku menangis.


"Ikut kita aja," suara Javas itu membuat ketiganya menoleh.


"Kemana?" tanya Kaila penasaran. "Si cerewet itu ikut gak? Gue gak mau ya ada dia. Yang ada ujung-ujungnya gue lagi di salahin," ucap Kaila kesal setengah.


"Ciee ada yang kangen sama kak Arif," Aqila menoel pipi Kaila. Sahabatnya itu membuang pandangan ke arah lain, ngambek lagi.


"Di warung belakang sekolah. Yuk, gue di suruh sama Aris. Ayo la," ajak Javas pada Aqila.


Aris duduk sendiri dengan buku tebal di tangannya. Biasa, tak ada Allisya pacaran dengan buku.


"Hm, yang pinter emang belajar terus ya?" sindir Kaila, andai saja Aris abangnya. Mungkin selalu juara.


Kaila menggeleng takut. Jangan sampai terjadi lagi.


"Hai Allisya!" sapa Aris, kalau ada Allisya, lebih baik bukunya ia cuekin saja.


"Hai juga kak Aris," sapa Allisya dengan senyumannya.


"Gimana tadi? Lancar?"


Allisya mengangguk. "Kak Aris belajar aja. Aku sama yang lain makan," perutnya sudah lapar gara-gara berpikir keras.


Kaila menghela nafasnya. Memandangi quotes yang menyedihkan.


"Kenapa ya cinta kok rumit?" tanyanya entah pada siapa.


Arif mengambil posisi duduk di sebelah Kaila.


"Rumit karena mencintai juga perlu keyakinan dan jujur. Apalagi komitmen sama satu hati itu gak gampang. Ya, berlaku bagi yang playboy aja sih kalau itu," jawab Arif bijak mewakili isi hatiku.


Kaila menatap Arif aneh. "Ngapain lo kesini?" Kaila menggeser duduknya hinnga berada di ujung.


"Terserah gue dong. Ini tempat tongkrongan gue sama Aris. Sana balik ke asal muasal lo!" usir Arif, setiap dekat dengan Kaila bikin naik darah.


"Sya, balik aja yuk. Bete gue disini," Kaila menarik tangan Allisya.

__ADS_1


"Tapi kan-"


"Kaila! Kita belum makan malah balik," Aqila tak mau, tangannya juga ikutan di tarik Kaila.


Aris terkekeh. "Segitu bencinya Kaila sama lo. Ada apa sih? Dendam?"


Arif menggeleng. "Gue gak suka Kaila. Masa cewek makan terus? Gue gak suka yang gendutan," entah bagaimana suatu hari jika ia kepincut dengan Kaila. Mungkin menunggu dia pergi dari punyaku. Terserah curhat.


"Gue pegang omongan lo!" tegas Aris tersenyum miring. Arif mana bisa menjanjikan ucapannya.


"Haha, rasain. Kalau suka bilang aja daripada Kaila di ambil cowok lain," tambah Javas, siapa tau hati Arif tegerak mengungkapkan perasaannya.


Arif hanya terdiam. Benarkah?


...🍒🍒🍒...


Selesai mengerjakan soal ujian terakhir, beberapa ada yang mulai mengeluh susahnya soal itu, makan, dan ketawa biar bahagia.


"Kai, lo kenapa sih daritadi cemberut terus? Senyum dong," goda Aqila, apalagi kalau bukan gara-gara Arif.


Kaila memainkan jemari Aqila, kukunya cantik. Ah paling ke salon. Dirinya? Tak beraturan.


"La, boleh gak sih kalau gue milih jomblo aja?"


Allisya terkekeh. "Yakin? Awas ya kalau suka sama cowok," ia tau kalau Kaila tak pernah dekat dengan cowok manapun.


Kringg..kringg


Akhirnya bel pulang berbunyi juga.


"Sya, gue pulangnya bareng lo aja ya?" pinta Kaila memelas, hari ini ayahnya tak bisa menjemput.


Allisya mengangguk. "Iya, gak enak kalau di mobil gak bisa ngobrol. Apalagi sama yang sefrekuensi," meskipun Aris mengajaknya bicara, tapi suasana canggung masih ada.


"Terus? Gue sama siapa?" Aqila menunjuk dirinya sedih.


Javas menepuk bahu Aqila. "Sama aku aja ya?"


Aqila gugup. "Ha? A-nu kak aku-"


"Yuk," Javas merangkul bahu Aqila.


"Aqila beruntung banget dapat kak Javas. Aku kapan?"


"Sabar kai, nanti juga ada. Yuk pulang, capek banget nih pingin tidur langsung," tak sabar ingin bergelun dengan selimut. Ujian memang melelahkan, lebih lelah lagi dia pergi tanpa pamit dan kembali untuk pulang tanpa kejelasan.


...🍒🍒🍒...


...Galau sih, makanya banyak curhat. ...


...See you next episode...

__ADS_1


...12:19 am...


__ADS_2