
Disinilah, Allisya dan Aris duduk di bawah pohon rindang sebagai tempat yang teduh dari sinar matahari di siang hari yang sangat terik.
Bahkan sengaja Aris mengajak Allisya kesini daripada di kantin justru menjadi pusat pandangan oleh Zidan, Aris jelas tak rela gadisnya di lirik oleh cowok lain. Cemburu, iya.
Allisya cemberut, sama sekali tak ada ukiran senyuman di bibir mungilnya itu.
"Kak Aris kenapa sih ajak aku kesini? Padahal baksonya tadi tinggal setengah belum habis. Masih laper tau!" sungut Allisya kesal, bagaimana tidak? Perutnya masih keroncongan ingin makan lebih banyak lagi.
Aris menoleh, menatap Allisya yang pandangannya enggan beralih sedikit pun dari objek lalu-lalang mahasiswa.
"Aku cemburu sya. Tatapan Zidan tadi itu suka sama kamu. Dan aku gak mau berbagi milikku dengan yang lain. Kamu cuman punyaku sya. Jangan pernah terlalu dekat dengan Zidan, dia terlalu baik. Aku takut kamu berpindah ke lain hati," dengan sangat lesu Aris mengucapkan itu, matanya sayu memandang Allisya seperti berharap lebih pada gadisnya itu.
Allisya mengangguk. "Gak kak. Hati aku cuman buat kak Aris. Kita kan sebentar lagi tunangan kak."
Aris mengacak surai Allisya. "Pinter. Promise with me?" Aris mengulurkan jari kelingkingnya.
"Yes of course, i will promise with you to be loyal," Allisya menautkan jari kelingkingnya dengan Aris, senyumannya tak bisa luntur karena sangat bahagia bisa merasakan cinta setulus Aris.
"Eh, itu cewek yang lo tabrak tadi kan?" Gibran menepuk pundak Zidan, pandangannya langsung beralih pada dua objek yang Gibran tunjuk.
Zidan mengangguk, benar itu Allisya dengan pacarnya?
"Emang kenapa? Aku emang tertarik sama dia. Wajahnya persis dengan almarhumah ibu aku Gib," ujar Zidan, itulah kenapa dirinya langsung menyukai Allisya.
"Mau lo tikung?" Gibran menarik senyuman nakalnya.
"Iya, lagipula kan masih pacaran. Jadi gak apa-apa kan aku tikung dia dari Aris?" tentu saja Zidan berani, dan ia jamin Allisya akan luluh dengan mudahnya karena selama ini dirinya selalu menjadi bintang kampus yang di idolakan semua perempuan.
Gibran menggeleng heran. "Baru kali ini seorang Zidan Bramasta tertarik dengan perempuan dan terjadi insiden menabrak di kantin lalu kuah baksonya mengenai baju sang presma," jelas Gibran dramatis, namun Zidan malah tersenyum merasa terhibur.
"Gak nyari cewek juga Gib?" tanya Zidan iseng, sahabat karibnya itu selalu sibuk dengan game-nya sampai lupa apa itu cinta.
Gibran menggeleng. "Ogah, gue gak mau nyakitin perasaan cewek apalagi sampe nangis. Zid, mending ceweknya itu datang sendiri terus nikah deh."
"Kebelet nikah?" Zidan mengernyit, selalu saja itu yang menjadi jawaban Gibran setiap kali ia tanya tentang perempuan.
"Bukan, karena setiap kali melhat air mata mama, gue gak tega Zid. Mama selalu nangis tiap malem, dan bilang kangen sama Ayah. Dan sebelum Ayah meninggal, berpesan sama gue selalu bahagian mama jangan sampai ada air mata," Zidan menunduk, relung hatinya merasakan sesak. Sedih. .
Zidan mengerti, mungkin ini alasan Gibran tak ingin menyakiti hati perempuan karena teringat dengan sosok mamanya.
...🍒🍒🍒...
Kaila menghela nafasnya beberapa kali, tentu saja mengganggu Aqila yang fokus mencari buku Akuntansi.
__ADS_1
"Lo kenapa? Laper? Ya ampun Kai, padahal tadi pagi habis tiga mangkok bakso masih kurang?" Aqila menatap Kaila tak percaya, sahabatnya ini memang tukang mangan.
Kaila mengangguk. "Masih laper la. Allisya juga ngapain ajak kita ke perpustakaan? Bosen, gak ada makanan. Masa iya gue makan buku?"
Aqila terkekeh. Dan Kaila mencubit lengannya.
"Apa sih Kai? Bagus biar makin pinter."
Sedangkan Allisya kesulitan mengambil buku Biologi yang menempati rak paling tinggi. Dengan susah payah tangan Allisya berusaha menggapainya namun hasilnya nihil tetap saja tidak sampai.
Sebuah tangan membantu Allisya mengambil buku itu dengan mudahnya.
Allisya menatap wajah itu. Ternyata Zidan.
"M-makasih kak Zidan," Allisya gugup, ia sedikit menjaga jarak dari Zidan. Jangan sampai terlalu dekat sesuai perintah dari kekasihnya.
"Jangan takut," Zidan merasakan Allisya yang sedikit menghindar darinya. "Boleh gabung?"
"Gak!" suara bentakan yang meninggi itu membuat semuanya beralih menatap Aris yang berdiri di belakang Allisya. "Lo gak usah modus. Kalau mau baca, sendirian aja. Gak usah ajak Allisya juga," sorot mata Aris begitu tajam.
Zidan tersenyum. "Tapi kan cuman baca aja. Lagipula disini perpustakaan, pastinya aku dan Allisya jarang ngobrol. Gak keberatan kan?" tanya Zidan lagi, sejujurnya ia ingin mengatakan perasaannya sekarang namun kedatangan Aris yang tiba-tiba itu mengurungkan niatnya.
"Gak," jawab Aris penuh penekanan. "Kita duduk disana aja sya. Jangan sama dia," Aris melirik Zidan sinis. Tatapan cowok itu tak lepas dari Allisya, ini yang membuat hatinya tidak tenang selama Zidan berusaha mendekati Allisya.
Kaila berbisik-bisik pada Aqila. "Kak Aris marah banget tuh. Kayaknya cemburu."
Aqila mengangguk, memang benar. "Lagian sih kenapa presma ganteng itu gangguin Allisya. Emangnya mau nasibnya kayak Alvian? Kok jadi kangen tuh bocah ya?" Aqila baru ingat akan sosok Alvian, cowok itu telah lama tak terlihat bahkan saat ujian sekolah sampai hari kelulusan.
Kaila mengusap dagunya, tampak berpikir. "Mungkin dia sakit. Jadinya ujian di rumah. Allisya aja gak pernah tanya kabar tentang Alvian," ia juga merindukan teman miringnya itu meskipun kadang berdebat.
"Alvian gak ada Zahra juga gak ada. Aneh banget ya?"
Terlalu banyak teka-teki yang sulit di tebak. Kedua orang itu secara bersamaan hilang tak ada kabar secuil pun.
...🍒🍒🍒...
Allisya menunggu Aris di parkiran bersama Kaila dan Aqila.
"Iya la, gue lupa hari ini kan waktunya belanja ke mall. Lo temenin gue ya? Gak mau sendirian," Kaila memohon, ada rasa takut tersendiri ketika pergi sendirian.
Aqila mengangguk. "Gue ikut. Tapi Allisya kayaknya gak. Dia kan pulangnya bareng-"
"Hahaha kak Aris lucu bangt sih," suara seorang cewek yang tertawa lepas itu mengalihkan perhatian Aqila dan Kaila, termasuk Allisya yang fokus menyipitkan matanya ingin tau siapa cewek itu.
__ADS_1
Kaila dan Aqila mendekat menghalangi pandangan Allisya. Pasti pemandangan itu sangat menyakitkan bagi Allisya.
"Eh sya, ayo pulang bareng kita," ajak Kaila dengan antusiasnya.
Tapi Allisya diam. Hatinya merasa sesak sekaligus kecewa bersamaan, Aris tak menepati janjinya. Ternyata cowok itu sekedar mempermainkan perasaannya.
Awan yang tiba-tiba mendung dan hujan deras mengguyur kota Jakarta itu membuat ketiga cewek yang masih di parkiran selamat dari hujan deras karena masih berteduh.
"Yah hujan. Gagal deh ke mall. Gak apa-apa," Kaila kembali ceria. "Kita kan pulang bareng. Tunggu aja hujan reda," ujarnya bijak.
Tapi Zidan datang menghampiri Allisya dengan membawa payung.
"Kok kamu belum pulang? Ini udah sore. Pacar kamu kemana?" tanya Zidan sedikit mengeraskan suaranya karena terkalahkan oleh hujan.
Allisya masih setia untuk diam.
"Duh, lo pulang aja deh. Gak usah kesini," usir Kaila tak suka dengan kehadiran Zidan.
"Ayo kak. Aku mau," jawab Allisya santai.
Kaila dan Aqila menatap Allisya kaget. Mau? Apa ini tidak ada yang salah?
"Heh! Sya, nanti kalau kak Aris marah lo-" ucapan Kaila tersela karena Allisya sudah satu payung dengan Zidan.
Aqila menepuk bahu Kaila. "Biarin aja dulu. Mungkin Allisya ada maksud lain bareng sama presma itu."
"Allisya mana?" Aris menghampiri Kaila dan Aqila, badannya basah kuyup terguyur hujan. Benar-benar dingin.
Kaila menatap Aris sinis. "Apa? Kemana Allisya?" tanya Kaila pura-pura tuli. Bibirnya menarik senyuman remeh.
"Mana?!" bentak Aris tak sabaran. Karena tak ada jawaban sama sekali dari Kaila dan Aqila.
"Bareng sama presma. Makannya gak usah ngobrol sama cewek. Kak Aris gak liat hah? Allisya nangis kak!" nada intonasi suara Aqila meninggi, ia memang menyadari Allisya menangis saat satu payung dengan Zidan.
Aris terdiam. Sungguh bodohnya dirinya ini.
🍒🍒🍒
Padahal aku nulis ini gak ada ide loh. Mungkin ke bawa mood kali ya? Hehe.
18:39 malam.
Selamat malam dan semoga selalu bahagia dalam keadaan apapun
__ADS_1