Married With The Badboy

Married With The Badboy
20. Bukan pelarian


__ADS_3

Sepulang sekolah, Luna ingin berkunjung ke rumah Daniel. Sudah lama sekali ia tak pernah kesana.


"Niel, pasti mama kamu kangen kan sama aku?" tanya Luna dengan riang gembira.


Daniel fokus melajukan motornya. Tak menggubris pertanyaan Luna. Di hatinya, tidak ada perasaan dan tempat untuk Luna. Hanya Allisya.


"Daniel, kok diem sih? Jawab dong," Luna memukul bahu Daniel pelan. Saat hanya berdua begini, Daniel cuek. Sangat berbeda saat ada Allisya, Daniel berubah menjadi romantis dan so sweet.


"Hm," hanya di balas gumaman. Luna berdecak kesal.


'Berarti kamu cuman jadiin aku pelampiasan aja niel,' batin Luna sedih. Ia kira Daniel mulai ada perasaan dengannya. Tapi salah, Allisya-lah yang mengisi ruang hati Daniel.


...🍒🍒🍒...


Aris mengajak Allisya ke rumahnya. Selain agar lebih dekat dengan orang tuanya, juga mengenal orang terdekatnya. Entah itu tetangga, atau para ibu-ibu yang suka gosip.


"Kak Aris. Kenapa kesini?" tanya Allisya ragu. Rumah itu juga akan menjadi tempatnya pulang suatu saat nanti.


Aris tersenyum. "Biar mama bisa kenal lebih deket lagi sama kamu. Ayo masuk,"


Allisya mengernyit, bukannya berada di luar kota?


Di ruang tamu, Inez berbincang dengan teman masa SMA-nya. Lala.


"Ma. Ini Allisya, katanya mama kangen," suaranya membuat sang mama menoleh.


Inez tersenyum. "Allisya. Sini, mama kangen banget,"


Lala merasa tak enak. "Nez, aku pulang dulu ya? Udah sore nih," pamit Lala, Inez mengangguk. "Hati-hati,"


"Ayo makan bareng. Mama masak banyak loh. Bentar lagi ayahmu akan pulang ris, kamu siapkan saja dulu air hangatnya buat mandi nanti," Inez beralih menatap Allisya. "Kamu cinta kan sama Aris?"


Allisya mengangguk. Hatinya sudah mantap memilih Aris. Mengapa baru sekarang ia menyadari ketulusan cinta Aris?


"Aku cinta sama kak Aris. Gak akan pernah berkurang sekali pun," Allisya sengaja menggoda Aris.


"Kok masih disini? Sana, siapain air hangat buat ayahmu. Mau uang jajan di potong? Atau motormu yang di sita?" ancam Inez, Aris jika di suruh sedikit lambat tidak gerak cepat dan laksanakan.


"Iya ma," sahut Aris lesu.


"Ayo. Pasti kamu suka, bakalan di bawa pulang deh makanannya," Inez tau Allisya tukang makan, informasi ini ia ketahui dari Selena.


Di meja makan, Allisya sangat terpukau dengan segala masakan yang ada. Kalau begini ia ingin bungkus semuanya dan di makan sendirian.


"Emang boleh di bungkus ya tante?" tanya Allisya ragu.


Inez mengangguk. "Boleh banget sya. Emangnya mama kamu gak masak hari ini?"


"Masak. Tapi aku gak boleh makan banyak-banyak. Nanti gendut gitu tante, gak cantik lagi deh," jawab Allisya jujur. Selena memang mengatakan itu, cukup pipinya saja yang gembul.


"Kamu tinggal pilih aja mana yang mau di bawa pulang,"


Allisya mengucapkan terima kasih, wanita itu sangat baik. Apalagi kalau sudah menjadi mantu.


...🍒🍒🍒...


Jam 7 malam, Allisya baru saja pulang. Saat sampai di rumah, Selena berkacak pinggang dengan wajah marahnya. Untungnya ada Aris yang menjelaskan bahwa Allisya mampir ke rumahnya tadi. Selena jadi kalem seketika.

__ADS_1


"Itu apa sya?" tanya Selena penasaran, tumben saja Allisya pulang bawa rantang.


"Oh, ini makanan dari mamanya Aris ma. Cuman buat aku aja katanya," Allisya tersenyum kikuk mendapati tatapan maut dari mamanya.


"Alesan aja. Bilang kalau pingin di makan sendirian,"


"Saya pulang dulu ya tante. Udah malem," Aris berpamitan.


"Hati-hati,"


Selena mengajak Allisya masuk, ke maja makan. Selena terus saja melirik rantang itu, Allisya melindungi makanannya.


"Ma, ini punyaku. Masa mama mau ambil semua?" tanya Allisya dengan wajah sedihnya.


"Sana ganti baju, mandi. Bau asem kok mau makan," omel Selena sekaligus mencari alasan, Allisya pergi saatnya mencicipi.


Saat Allisya selesai mandi dan sudah wangi, wajahnya menjadi sedih saat makanan di rantang pemberian Inez habis sekejap kedipan mata. Mamanya hanya tersenyum, merasa tak bersalah.


"Mama! Ish, itu punyaku ma. Kok di habisin," ucap Allisya mencak-mencak.


"Habisan enak banget sih. Jadi mama kebablasan deh, hehe. Maaf ya Allisya," Selena beranjak pergi.


Allisya mengusap dadanya sabar. Ikhlaskan saja, ku lepas dengan ikhlas. Ya, Allisya jadi ingat sebuah film dimana dirinya melepaskan Daniel untuk Luna. Eh? Kenapa Allisya jadi berkhayal.


"Apaan sih?" Allisya menggeleng mengenyahkan pikiran itu.


Esoknya, Allisya ngambek tidak mau sarapan. Bahkan ia sudah duduk di gazebo rumah menunggu jemputan, Aris.


Sampai Selena membawa piring ke halaman rumah.


"Ayo sarapan. Nanti gak kuat loh mikirnya. Ayo sya," bujuk Selena. Sudah berkali-kali ia mengatakan itu, tapi Allisya tidak mau.


"Ya udah. Nanti mama beliin makanan apa aja deh. Allisya tinggal bilang," ucap Selena, Allisya menoleh dengan tatapan berbinar.


Benarkah?


Allisya memeluk mamanya terharu. Akhirnya bisa makan apa saja.


"Makasih ma,"


Suara klakson motor membuat Allisya menoleh ke depan. Aris sudah datang.


"Ma, aku berangkat dulu ya?"


"Eits! Tunggu bentar. Kamu bawa bekal aja," Selena masuk ke dalam, membawakan bekal roti sandwich untuk Allisya.


Selena memberikan bekal itu.


"Hati-hati,"


Allisya mengangguk. Hari ini ia sangat senang, bisa makan sepuasnya. Semoga saja di perbolehkan makan pedas.


Selama perjalanan, Aris melempar gombalan yang membuat Allisya baper dan malu-malu kucing.


"Kamu cantik banget sya. Melebihi cantiknya senja lagi," pujinya. Aris melirik wajah Allisya melalui kaca spion.


"Kak Aris jangan gombal. Aku baper!" kesal Allisya. Tapi terlanjur jujur.

__ADS_1


"Biarin aja baper. Lagian aku tanggung jawab sya bakalan nikahin kamu," ucap Aris pasti, bukan yang tidak pasti.


'Iya juga ya? Aku sama kak Aris kan bakalan tunangan dalam waktu dekat ini. Tapi kalau kak Aris emang mau nikah dulu juga gak papa,' batin Allisya senyum-senyum sendiri.


"Kok senyum? Mikirin aku ya?"


Allisya menggeleng cepat. "Gak! Siapa juga yang mikirin kak Aris. Percaya diri banget," kilahnya.


Akhirnya sampai di sekolah. Tapi anehnya, Daniel dan Luna berada di parkiran menatap Allisya tajam.


Allisya pura-pura tidak melihat itu.


"Kak Aris, ayo ke kelas. Aku mau piket," ujar Allisya tak sabaran.


"Iya sya. Ayo," Aris meraih jemari Allisya.


Saat akan melangkah, Daniel dan Luna dengan sigap menghadang.


"Pamer kemesraan di sekolah? Hebat ya!" Luna sedikit berteriak, beberapa siswa yang akan ke kelas menoleh.


"Cewek gak punya hati!" Luna menentil dahi Allisya.


"Daniel masih sakit hati sya. Dan lo bermesraan sama Aris? Apa gak ada perasaan bersalah sedikit pun huh?" tanya Luna menantang. Apalagi ia lebih tinggi, jadi terlihat berkuasa disini.


"Luna. Allisya gak gitu. Dia gak salah," Aris membela.


Allisya hanya bisa menunduk tak berani menatap mata Luna.


"Biarin aja Lun, Allisya cuman nyari pelarian," sahut Daniel acuh tak acuh.


Aris menatap Daniel tajam. Apa katanya? Pelarian?


"Allisya gak nyari pelarian. Dia emang udah cinta sama gue," ucap Aris menegaskan.


"Oh ya?" Daniel tak percaya.


"Iya," Aris mengangguk. "Minggu depan kita tunangan," tambahnya lagi.


Daniel terkejut. Tunangan? Apa ia tidak salah dengar?


Aris tersenyum remeh. "Kenapa? Gak rela?"


"Kak Aris. Ayo, aku mau piket," rasanya sudah bosan melihat Daniel yang mempermainkannya lagi.


Aris mengangguk. "Ayo,"


"Daniel? Kok diem?" tanya Luna. Pasti terkejut karena Allisya akan bertunangan dengan Aris.


"Kamu gak rela Allisya sama Aris? Bukannya kamu sendiri udah bilang mau melupakan Allisya?" tanya Luna dengan suara paraunya. Ia tidak boleh menangis. Ternyata Daniel sendiri yang menjadikannya pelarian.


Daniel mengangguk pelan. "Iya, aku gak rela Allisya sama Aris. Aku masih cinta sama dia," tanpa merasa bersalah sedikit pun, Daniel mengatakan itu jujur.


Air mata Luna tak bisa di tahan lagi. Ia menangis. Rasana begini, mencintai sendirian tanpa ada balasan.


Luna berlari pergi meninggalkan Daniel. Ia ingin seharian ini tidak mengikuti pelajaran. Satu kata ada di pikirannya sekarang adalah, bolos.


...🍒🍒🍒...

__ADS_1


...Pernah gak sih? Mencintai sendirian? Atau perasaannya tak terbalaskan? ...


...See you......


__ADS_2