
Allisya mengerjapkan matanya karena silau matahari menembus celah jendela.
"Jam berapa ya?" Allisya meraih ponselnya di atas nakas.
Tok tok tok
"Allisya? Udah bangun? Allisya?" suara Aris dari balik pintu itu membuat Allisya bergegas membukanya.
"Kak Aris?"
"Siap-siap dulu sya. Beresin baju-baju kamu. 2 jam lagi kita pulang. Sana basuh wajah kamu, tuh masih ada ilernya," Aris terkekeh mendapat pelototan tajam dari Allisya.
"Gak ada! Kak Aris mah," Allisya mengecek pipinya di cermin rias, masih bersih.
Karena suara Allisya yang cerewet itu membangunkan Aqila, Kaila, Ria dan Dia.
"Ha? Siapa yang gak ada?" dengan setengah nyawa yang baru terkumpul, Kaila masih setengah mengantuk.
"Ada apa sih berisik banget?" Aqila merasa terusik, salah sendiri membangunkan putri salju yang tidur nyenyak.
"Pulang. Beres-beres aja dulu baju kalian. Masih 2 jam lagi. Allisya, jangan lupa makan dulu ya?" setelahnya Aris pergi dengan santai, tanpa tau kalau hati Allisya sudah jungkir-balik karena senangnya dalam hati.
"Ciee Allisya! Gue kapan ya di ingatkan makan kayak gitu?" tanya Kaila bersedih hati.
"Di ingatkan makan bangga? Minumnya juga bos!" Aqila melempar bantalnya tapi Kaila menangkapnya sigap.
"Lo iri kan?" tanya Kaila sengit. Aqila selalu sewot masalah cinta.
"Apa sih? Ya gak lah!" jawab Aqila ketus.
"Kalian beres-beres dulu. Biar nanti gak ada yang ketinggalan," ucap Allisya melerai perdebatan Kaila dan Aqila.
...🍒🍒🍒...
Selesai mengemasi barang-barang. Saatnya bersiap untuk pulang.
Kaila memandangi langit yang sedikit mendung itu.
"Padahal pingin lama disini," ujarnya sedih.
"Kalau lo mau lama disini ya udah gak usah pulang sekalian!" seru Aqila gemas. Kaila terbawa suasana pantai, makannya jadi betah.
Aris yang selesai memasukkan koper dalam mobil pun menghampiri Allisya.
"Yuk pulang," Aris meraih tangan Allisya membuat iri para single girl yang ada.
"Terus gue di gandeng sama siapa?" tanya Kaila pilu.
"Sama kak Arif aja. Kak Arif! Kak A-"
Kaila membungkam mulut Aqila.
"Bisa diem gak? Gue gak akan pernah jatuh cinta sama Arif. Titik! Gak usah koma, tanda tanya dan seru!"
"Hahaha gue pegang ucapan lo ya?" Aqila harap Kaila bisa taken dengan Arif. Semoga.
...🍒🍒🍒...
__ADS_1
Allisya duduk di depan dengan Aris. Musik pop kesukaan Allisya, sesekali ia ikut bernyanyi dan Aris ikutan duet.
"Kak Aris, kok aku gak liat Alvian ya? Di mobil belakang?" bahkan ketemu saja kemarin, Allisya masih merindukan Alvian.
"Iya," Aris mengangguk. "Biar mobil belakang gak sepi. Cukup Arif aja disini," alasan Alvian pindah di mobil bekakang karena ia tak ingin Allisya di ganggu terus oleh cowok itu. Cemburu? Iya.
Kruyuk.
Aqila menatap Kaila horor.
"Lo laper?"
Kaila mengangguk lemah. "Sakittt banget la," Kaila meremas tangan Aqila untuk menyalurkan rasa sakitnya.
Allisya menoleh. "Kaila? Maag kamu kambuh lagi?"
"Kita makan dulu aja. Tuh ada warteg," Aris juga tak tega melihat Kaila kesakitan.
Warteng mang sholeh.
Aris memesankan makanan apa saja, yang penting Kaila maag-nya membaik.
"Tolong lebih cepat ya? Teman saya maag-nya kambuh," pinta Aris.
Mang sholeh mengangguk. "Baik. Pesanan segera datang," ia berlalu.
Arif bahkan tak tega melihat wajah pucat Kaila. Cewek itu menahan sakit.
Arif menggenggam tangan Kaila yang dingin.
Tak lama pesanan mereka datang. Arif langsung menyuapi Kaila dengan semangat sampai cewek itu mengomel karena kesusahan mengunyah.
"Ya gak gitu juga! Gak liat apa mulut gue masih penuh?" sungut Kaila marah.
Arif terkekeh. "Haha, makannya jangan sampai telat makan. Jadi maag kan?"
"Ciee!" seru Allisya dan Aqila kompak.
"Bakalan ada yang jadian nih," sahut Ria, sangat setuju kalau Arif dan Kaila akur.
"Eh foto dulu yuk?" ajak Dia siap dengan kamera berkualitasnya. Biasa, hp baru tapi mantan gak baru juga atuh.
Javas berpindah posisi duduknya di sebelah Aqila, Arif dan Aris pun juga sama.
"Sya, liat aku lima detik aja deh," pinta Aris.
Allisya bingung. "Kenapa?"
Aris mengusap sudut bibir Allisya yang ada sisa nasinya.
Cekrek!
Allisya menoleh. "Ulang! Aku belum siap! Tadi kak Aris ambil sisa nasi di bibirku. Ulang aja ya Dia?"
Dia menggeleng. "Ini udah bagus sya. Gak papa, lo romantis banget tau. Gue aja iri!"
"Upload di instagram dong Dia, jangan lupa tag kak Aris biar banyak yang like dan follow. Eh, gue juga loh ya!" cerocos Kaila cerewet, sudah kenyang kembali bersemangat.
__ADS_1
"Siap!" Dia mengunggah foto itu di Instagram.
"Padahal masih pingin nginep lebih lama lagi. Ternyata seru juga ya cerita pas mau tidur," celetuk Ria antusias.
"Jangan begadang. Apalagi kamu sya, gampang sakit. Jam 9 langsung tidur," nasehat Aris, ia khawatir dengan kesehatan Allisya entah pola makan yang salah atau tidurnya.
Allisya tersenyum. "Iya deh. Aku kan tidur, yang lain aja tuh lanjut cerita," Allisya tak akan memaksa dirinya untuk begadang, kalau memang sudah ingin istirahat tak perlu memaksa untuk melek
"Kamu juga, begadang terus sampai lupa makan. Nakal banget sih," Arif mencubit hidung pesek Kaila.
"Apa sih! Gak usah sok perhatian deh!" Kaila menyingkirkan tangan Arif.
"Jangan marah-marah kai, cepet muda loh!" goda Ria, Kaila meliriknya sinis. Gara-gara Arif, Kaila tak berselera makan.
"Tua!" koreksi Kaila sengit.
Semuanya tertawa, Kaila saat marah menggemaskan.
Di tempat lain, Daniel menggebrak meja hingga pengunjung restorant mengalihkan atensi padanya dengan aneh.
Luna meraih tangan Daniel. "Jangan marah-marah gitu niel. Kamu kenapa sih? Tadi aja seneng tiba-tiba emosi gak jelas," omel Luna tak suka.
"Gak," Daniel menggeleng.
Luna semakin tak mengerti. "Niel, kamu kenapa? Sini aku liat," Luna menambil alih ponsel Daniel.
Luna menghela nafasnya. Ternyata alasannya adalah Allisya lagi.
"Emangnya apa sih niel? Allisya kan udah milik Aris. Kalau kamu cemburu ya gak ada haknya. Kamu kan pacarku niel, coba pengertian sama perasaanku sedikit aja niel. Please," pinta Luna memohon.
Daniel tesenyum miris. "Gak akan pernah bisa Lun. Cuman Allisya yang ada di hati aku," ucap Daniel tak mau tau. Lagipula berpacaran dengan Luna hanya pelampiasan saja.
Hanya diam, itu yang di lakukan Luna. Hati Daniel sulit melupakan Allisya.
'Padahal kamu sendiri yang ambil keputusan itu Daniel,' batinnya.
Tanpa mengatakan apa-apa, Daniel melangkah pergi.
"Daniel! Tunggu!" Luna mengejar langkah Daniel yang begitu cepat.
Bahkan pikiran Daniel kacau, sampai pandangannya tak fokus dengan jalan raya.
"Daniel! Awas!" Luna menarik tangan Daniel yang hampir celaka dengan truk muatan kayu.
"Luna?" Daniel tersadar. "Kenapa?" ia masih tak tau kejadian baru saja, pikirannya kacau karena Allisya.
"Aku sayang sama kamu niel," Luna hanya bisa memeluk Daniel.
"Tapi aku masih sayang Allisya," ucapnya pilu.
Sakit. Sayang tapi tak terbalaskan. Berjuang sendirian, yang selalu ada belum tentu ada di hati juga. Luna merasakan itu sendiri. Biarlah ia bodoh soal cinta, mau bagaimana lagi perasannya sudah jatuh sedalam-dalamnya hanya pada Daniel.
...🍒🍒🍒...
...Penulis yang kenyang makan sate~...
...See you next episode...
__ADS_1