Martial Art Heaven Peak

Martial Art Heaven Peak
BAB 40. Paviliun Senjata


__ADS_3

Wu Sheng yang telah menjadi orang pertama yang berhasil menaiki tangga ke seribu dalam Seleksi Ujian Masuk Sekte Lagit sepanjang sejarah Sekte Langit pun merasa bangga pada dirinya sendiri.


Wu Sheng yang telah diterima di Sekte Langit pun diberikan tempat tinggal yang sama dengan Murid Luar dari Sekte Langit yang lain.


"Ini adalah gedung yang menjadi tempat tinggal kalian! Daftarkan nama kalian disana dan dapatkan kunci kamar kalian!" ucap Master Choi yang merupakan Guru yang mengajar Murid Luar.


Wu Sheng yang tak menerima keistimewaan lain meski telah memecahkan rekor selama ini ternyata tetap ikut mengantri bersama dengan yang lainnya.


Namun di saat Wu sheng sedang mengantri secara tak terduga, Wu Sheng merasakan tatapan sinis yang dituju kepadanya.


"Hah! Kenapa orang-orang itu menatapku seperti itu? Daripada menatapku begitu bukankah lebih baik bicara langsung! Hmmm, sungguh merepotkan!" gumam Wu Sheng sambil menarik nafas berulang kali.


Yan Duxing yang berdiri di depan Wu sheng pun menjadi sangat bingung dan penasaran dengan sikap Wu sheng sehingga memutuskan untuk bertanya.


"Hei! Wu Sheng! Ada apa? Kenapa kau terus menarik nafas panjang dan pendek berulang kali? Apakah kau tau jika tempat tinggal kita nanti sungguh tidak layak dihuni?" tanya Yan Duxing dengan wajah yang penasaran dan tatapan mata khawatir.


"Agh! Tidak! Aku tidak tau masalah itu dan aku menarik nafas bukan karena itu tapi karena hal lain!" jawab Wu sheng dengan suara yang tegas.


"Aku merasa sangat lelah! Aku mau pergi ke kamarku sekarang dan istirahat!" ucap Wu sheng setelah mendapatkan kunci kamarnya.


Wu Sheng yang tau jika keberhasilannya mencetak rekor baru akan membuatnya menjadi target orang lain pun memutuskan untuk segera meningkatkan kemampuannya.


Wu sheng yang telah sampai di dalam kamarnya pun melihat sebuah kantong aneh di atas mejanya dengan selembar kertas di atasnya.


*Selamat untuk keberhasilanmu! Aku bangga padamu!*


"Guru!" gumam Wu sheng dengan nada suara yang terdengar tersentuh dengan wajah yang bahagia sambil membuka isi kantong yang ada di atas kertas.


"I-ini...!"tanya Wu sheng yang melihat sebuah pil dan juga sebuah inti kristal yang ada di dalam kantong dengan wajah yang terkejut.

__ADS_1


Wu sheng yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Tetua Dong pun segera duduk bersilah dan memulai latihan tertutupnya.


Wu sheng yang menelan Pil tingkat tiga yang diberikan oleh Tetua Dong dan menyerap Inti Kristal yang ada di atas tangannya pun memulai menstabilkan Tahapannya.


Setelah dua hari berlalu, Wu sheng yang berhasil menstabilkan kekuatannya pun akhirnya keluar dari kamarnya dan menemukan bahwa Yan Duxing telah menunggu dirinya keluar dari kamar.


"Sepertinya latihanmu berhasil! Sekarang nafas dan auramu telah lebih stabil dari sebelumnya!" ucap Yan Duxing dengan semangat yang membara.


Wu Sheng yang tak tau harus bicara apa pun diam sesaat lalu bertanya soal lokasi Paviliun Senjata dan Paviliun Pengetahuan.


"Hmmm, apakah kau tau dimana letak Paviliun Senjata dan Paviliun Pengetahuan? Aku ingin mengambil hadiahku!" ucap Wu sheng dengan wajah yang bingung.


"Agh, kau sibuk dengan latihan tertutupmu jadi kau pasti belum mengambil hadiahmu!" ucap Yag Duxing dengan wajah yang seperti mengerti masalah yang dihadapi Wu sheng.


"Ayo ikuti aku! Aku akan mengantarmu kesana!" ucap Yan Duxing dengan wajah yang gembira dengan suara yang ceria sambil berjalan di depan Wu sheng.


Di dalam perjalanan, Yan Duxing yang telah mengambil hadiahnya di hari pertama pun menunjukkannya kepada Wu Sheng.


"Apakah kau ingin pendapat yang jujur atau bohong?" tanya Wu sheng dengan tatapan mata yang serius menatap Pedang panjang yang ada di tangan Yan Duxing saat ini.


"Hmmmm, aku tidak percaya padamu! Lebih baik kau tidak mengatakan apapun saja!" ucap Yan Duxing dengan wajah yang tidak senang.


"Baiklah!" jawab Wu sheng dengan singkat dan wajah tanpa ekspresi yang membuat Yan Duxing kesal tapi tak bisa melakukan apapun.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya keduanya sampai di Paviliun Senjata, Wu Sheng dan Yan Duxing pun masuk ke dalam Paviliun tapi hanya Wu sheng yang boleh masuk ke tempat penyimpanan senjata.


"Siapa namamu dan apa tujuan kedatanganmu?" tanya seorang pria yang berumur empat puluh tahun dengan wajah yang serius dan tatapan mata yang tajam.


"Namaku adalah Wu sheng dan aku ingin mengambil hadiahku!" ucap Wu sheng dengan wajah dan suara yang datar.

__ADS_1


"Masuklah ke dalam dan hanya kau yang boleh masuk! Dia tak boleh masuk ke dalam!" ucap pria tersebut dengan wajah yang dingin.


"Jangan pedulikan aku! Masuklah ke dalam! Aku akan menunggumu disini!" ucap Yan Duxing dengan senyum yang menenangkan.


Wu sheng yang masuk ke dalam Paviliun Senjata pun memasuki ruang senjata yang ada di lantai dua sendirian.


Wu Sheng yang melibat begitu banyak senjata di lantai dua pun mengeluarkan Pedang Wu yang telah berubah menjadi bilah pedang.


"Aku akan menyerahkan kepadamu pemilihan senjata yang harus aku ambil tapi aku harap kau tidak menyerap energinya langsung tunggu kita kembali ke kamarku baru kau boleh melakukan itu!" ucap Wu sheng yang merasa jika Pedang Wu akan mengerti ucapannya.


Pemikiran Wu sheng tidaklah salah, Pedang wu sungguh mengerti maksud ucapannya sehingga tepat setelah wu sheng mengatakan yang ingin dikatakannya Pedang Wu pun terbang dan melayang ke atas.


Pedang Wu yang pergi melesat dengan cepat pun meninggalkan Wu sheng sendirian sehingga membuat wu sheng terpaksa berlari mengejar.


"Hei! Pedang Wu! Tunggu aku!" teriak Wu Sheng dengan suara yag lantang dengan satu tangan mengarah ke tempat hilangnya Pedang Wu.


"Pedang yang bisa berpikir sendiri itu sangat merepotkan tapi aku tidak bisa melakukan apapun!" gumam Wu sheng dengan wajah yang kelelahan karena diajak berputar-putar di ruang senjata.


Pedang Wu yang berhenti di depan sebuah kipas yang telah berdebu dan penuh dengan lubang membuat Wu sheng menjadi bingung.


"Ada apa? Kenapa kau behenti di depan senjata ini? Apakah kau ingin aku membawa pulang kipas itu?" tanya Wu Sheng dengan wajah yang bingung.


"Kipas ini terlihat sangat buruk dengan warna yang telah pudar terlebih ada lubang besar di kipas ini!" gumam wu sheng sambil menatap kipas yang sekarang telah ada di tangannya.


Wu sheng yang hampir lupa jika Pedang Wu tak bisa bicara ataupun berkomunikasi dengannya lagi pun menarik nafas panjang lalu menyimpan kipas tersebut di sabuk celananya.


Wu Sheng yang telah menentukan senjata yang akan dipilihnya pun keluar dari ruangan dan menemui Master yang menjaga Paviliun Senjata.


"Aku akan mengambil Kipas ini sebagai milikku!" ucap Wu Sheng sambil meletakkan kipas yang telah usang itu di atas meja di hadapan Master Penjaga Paviliun Senjata.

__ADS_1


"Tu-tunggu!


__ADS_2