Martial Art Heaven Peak

Martial Art Heaven Peak
BAB 77. Pil Mutiara Kaca Pelangi


__ADS_3

Tetua Ming yang datang untuk mengucapkan selamat kepada Wu Sheng pun mendengar bahwa Wu Sheng datang menantang Mo Sanlang.


Tetua Ming yang khawatir dengan cepat pergi ke halaman Mo Sanlang dan melihat Wu Sheng dalam kesulitan.


“Bagaimana jika aku menambahkan taruhannya?” ucap Tetua Ming dengan senyum yang lembut dan wajah yang bersahabat.


Tetua Ming yang percaya akan kekuatan Wu Sheng bukan karena dirinya adalah Murid dari tetua Dong tapi karena Tetua Ming melihat potensi yang besar pada Wu Sheng pun memutuskan untuk membantu.


“Ini adalah Pil Mutiara Kaca Pelangi yang dapat menawarkan berbagai macam racun dan menambah nyawa sepuluh tahun kepada siapapun yang meminumnya!” ucap Tetua Ming yang menunjukkan Pil Mutiara Kaca Pelangi kepada semua orang.


Mo Sanlang yang tidak ingin mengambil resiko masuk ke dalam perangkap Wu Sheng pun menjadi tertarik saat Tetua Ming mengeluarkan Harta Karun yang berharga sebagai hadiah taruhan.


“Itu sungguh Pil yang sangat mengesankan tapi apakah Tetua Ming sungguh akan menjadikan Pil tersebut sebagai taruhannya?” ucap Mo Sanlang dengan tatapan mata yang tajam dan ekspresi wajah yang curiga.


“Tentu saja! Aku sangat tertarik dengan Pertandingan ini jadi aku akan menambahkan taruhannya dan aku rasa yang lain pun sama!” ucap Tetua Ming yang mengalihkan perhatiannya ke orang-orang yang telah berkumpul.


Orang-orang yang mendengar perkataan Tetua Ming pun ikut membuat taruhan dengan meletakkan beberapa Inti Kristal sebagai taruhannya.


Mo Sanlang yang rakus pun mulai menghitung keuntungan yang akan didapatkannya jika menang bertanding melawan Wu Sheng pun menjadi bahagia.


“Aku sebenarnya tak ingin melayani tantanganmu tapi karena semua orang memaksaku maka aku putuskan untuk menerima tantanganmu!” ucap Mo Sanlang dengan kepala terangkat dan sikap yang sombong.


“Jadi sampai bertemu di atas Arena Pertandingan tiga bulan lagi!” ucap Mo Sanlang dengan tatapan mata yang tajam lalu pergi meninggalkan Wu Sheng dengan diikuti oleh Mo Guo dari belakang.


Tetua Ming yang tidak bisa bicara dengan Wu Sheng di hadapan banyak orang dan membocorkan isi pembicaraan mereka pun meminta Wu Sheng mengikutinya.


“Apakah kau telah kehilangan akalmu?” tanya Tetua Ming dengan nada suara dan kata-kata yang terdengar menghina tapi bagi Wu Sheng itu adalah sebuah perhatian.


“Apakah kau tidak tau jika jarak perbedaan Kekuatan kalian itu satu tingkat?” ucap Tetua Ming lagi dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


“Meskipun begitu aku yakin kau punya alasan tersendiri untuk menantangnya bertanding dan memiliki cara untuk bisa menang selama tiga bulan terakhir ini!” ucap Tetua Ming sambil menarik nafas panjang.


Wu Sheng yang mendengar perkataan Tetua Ming pun mengangkat kepalanya dan mengatakan yang seharusnya dikatakannya sebelumnya.


“Terima kasih Tetua telah membantuku! Percayalah! Aku pasti akan menang dan mengalahkannya!” ucap Wu Sheng dengan suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.


“Tentu saja kau harus menang karena aku telah membuat Pil berharga yang baru saja aku buat menjadi taruhannya!” ucap Tetua Ming dengan nada yang terdengar marah tapi sebenarnya bercanda dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


“Aku pasti akan menang dan membawakan Pil itu kembali untuk Tetua!” ucap Wu Sheng dengan tekad yang kuat.


“Tidak perlu! Jika kau menang maka Pil itu menjadi milikmu maka ambillah saja dan simpanlah dengan baik! Gunakan saat kau benar-benar dalam keadaan darurat! Itu adalah hadiahku untukmu!” ucap Tetua Ming sambil berdehem keras karena malu.


Wu Sheng yang menerima hadiah selain orang terdekatnya pun merasa sangat senang dan mengucapkan terima kasih dengan tulus.


Sementara itu, Mo Sanlang yang pergi menemui Tetua Hu untuk memberikan berita tentang Pertandingannya ternyata mendapatkan dukungan penuh dari Tetua Hu.


“Jangan khawatir Guru! Aku pasti akan menyerahkan Pil tersebut untuk Guru dan menjadikannya cacat sehingga tak akan ada seorangpun yang akan berpikir untuk menantangku lagi!” ucap Mo Sanlang dengan wajah yang bahagia.


“Kau harus melakukannya! Jangan biarkan dia bebas! Kau harus menjadikannya orang yang cacat dan tidak berguna!” ucap Tetua Hu dengan ekspresi wajah yang jahat.


Keduanya yang telah berpikir akan menang pun dengan cepat memikirkan hal buruk yang akan dilakukan kepada Wu Sheng dengan wajah yang bahagia.


Di saat bersamaan, Wu Sheng yang telah selesai bicara dengan Tetua Ming pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena merasa sangat lelah mengalami banyak kejadian dalam satu hari.


Namun Wu Sheng yang membuka pintu kamarnya menjadi sangat terkejut saat melihat Tetua Dong ternyata telah duduk dan menunggunya.


“Gu-Guru! Guru? Kenapa kau ada di sini Guru?” tanya Wu Sheng dengan suara yang lantang dengan mata yang terbuka lebar karena terkejut.


Tetua Dong yang mendengar yang dilakukan Wu Sheng pun menjadi sangat kesal dan memukul kepala Wu Sheng dengan sangat keras.

__ADS_1


“Dasar bodoh! Apa yang telah kau lakukan? Kenapa kau menantangnya di saat perbedaan Kekuatanmu begitu jauh?” tanya Tetua Dong dengan wajah yang marah.


Wu Sheng yang mengakui kesalahannya yang terbawa suasana dan emosi sehingga tanpa pikir panjang menantang Mo Sanlang pun terduduk di lantang di hadapan Tetua Dong.


“Ma-maafkan aku Guru! Aku tidak bermaksud membuat Guru marah!” ucap Wu Sheng dengan ekspresi wajah yang menyesal.


“Apa kau pikir Gurumu ini sangat picik sehingga akan marah hanya karena hal ini?” sindir Tetua Dong dengan tatapan mata yang dingin.


“Saat ini aku sangat cemas akan keselamatanmu. Jika kau hanya akan kalah dalam Pertandingan itu maka itu tidak masalah tapi bagaimana jika Mo Sanlang berniat menjadikanmu orang yang cacat?” ucap Tetua Dong dengan wajah yang penuh emosi.


“Jika seperti itu maka aku harus menang!” ucap Wu Sheng dengan percaya diri dengan senyum yang lebar.


Tetua Dong yang melihat Wu Sheng seperti orang yang tanpa rasa cemas, khawatir ataupun takut pun menjadi putus asa.


“Tidak ada gunanya aku mengatakan apapun padamu karena semuanya telah terjadi dan sebagai Gurumu. Aku tidak bisa diam saja melihat Muridnya babak belur di hajar musuh yang jauh lebih kuat!” ucap Tetua Dong sambil menarik nafas panjang.


“Mulai besok aku akan membantumu berlatih! Aku akan melatihmu dengan sangat ketat! Kau akan menjalani latihan bagaikan di Neraka! Maka bersiaplah!” ucap Tetua Dong dengan suara yang tegas dan ekspresi wajah yang serius.


Wu Sheng yang sudah sangat merindukan cara Tetua Dong mengajarinya di masa lalu pun dengan cepat menganggukkan kepalanya menyatakan kebersediaannya.


“Jangan khawatir Guru! Latihan apapun yang kau siapkan, aku pasti akan menjalaninya dengan baik tanpa mengeluh!” ucap Wu Sheng dengan senyum yang lebar.


Tetua Dong yang mendengarnya pun tersenyum puas sambil menepuk pundak Wu Sheng lalu pergi meninggalkan Wu Sheng untuk istirahat.


“Istirahatlah malam ini dan temui aku sebelum matahari terbit di luar Sekte Langit!” ucap Tetua Dong yang memberikan pesan terakhir sebelum benar-benar kembali ke tempatnya.


#Bersambung#


Latihan maut apa yang telah menanti Wu Sheng? Akankah Wu Sheng berhasil melewatinya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya..

__ADS_1


__ADS_2