
Ari mempercepat langkah kakinya menyusuri tempat-tempat yang mungkin didatangi oleh Melissa. Mulai dari studio pilates, kantor Woman's Daily serta tempat yang biasa dikunjungi oleh Melissa.
Namun, semua tempat yang didatangi oleh Ari tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran sang cinta pertamanya.
Hingga tanpa sadar, hati Ari menuntun pengacara berwajah rupawan tersebut mendatangi kediaman sang teman lamanya.
Rumah mewah berpagar tinggi tersebut telah lama tak ia datangi. Semenjak pertemuan dengan Hans Effendi ayah Melissa, Ari seolah menjaga jarak dengan wanita 30 tahun tersebut.
Kembali hatinya begitu terusik ketika melihat kedatangan orang yang sangat Ari benci. Pria yang selalu menganggu hati serta pikirannya. Pria yang tak menganggap kehadiran Melissa di sekitarnya.
"Cuih ... kau lagi!" cibir Ari begitu Brad turun dari mobil dengan pengawalan ketat seperti biasanya.
Brad memperingati Ari agar menjaga batasannya, "Aku sedang sibuk, dan tak memiliki waktu berurusan denganmu!"
Dengan mudah Brad masuk ke dalam rumah orangtua Melissa, karena para pekerja di rumah itu sangat mengenal Brad sebagai suami nona besar di rumah ini.
Tak hanya Brad saja yang terlihat memasuki halaman rumah mewah tersebut. Ari selaku teman dekat Melissa yang sangat mengkhawatirkan keselamatan Melissa juga terlihat masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Brad.
Kedua lelaki itu mempercepat langkah kakinya memasuki rumah orangtua Melissa. Tapi ... Ada yang berbeda. Suasana yang sungguh lain dari yang lain.
Ari melihat sosok teman lamanya sedang ongkang-ongkang kaki dengan stick es krim di tangan serta lelehan makanan manis tersebut yang mengotori baju Melisa.
Melissa terlonjak dari tempat duduknya yang nyaman di dekat kolam renang karena kedatangan tamu yang gak ia kenal sama sekali, "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di rumahku?"
Ari begitu tertegun dengan sikap Melissa yang tak mengenali dirinya. Sangat tampak jelas di wajah Melissa sebuah ketakutan besar atas kedatangan mereka.
__ADS_1
"Mel, jangan bercanda ... Mel!" Ari berusaha mendekati Melissa yang kini berdiri lalu memundurkan satu langkanya ke belakang.
Melissa semakin ketakutan dengan sikap Ari serta Brad yang hendak mendekatinya "Pak Jono, Pak Sarno ... ada penysup! tolong aku!"
Naluri ingin mempertahankan diri membuat Mel memanggil para pekerja di rumahnya agar membantunya untuk mengusir orang asing yang masuk ke dalam rumahnya.
Brad memberanikan diri mendekati wanita yang mengenakan kaos longgar serta celana selutut tersebut, "Melissa, aku datang menjemput kamu!"
"Jemput? Om ngigau kali ya? Jangan mendekat!"
"Om?" Ari begitu terkejut ketika Melissa menyebut Brad dengan sebutan Om. Baginya ini sungguh lucu untuk sementara waktu. Namun, rasa kekhawatiran itu kembali muncul di benak Ari karena Melissa tiada mengenal mereka sama sekali.
Semakin Brad mendekati Melissa, gadis itu semakin menunjukkan ketidaksukaannya. Sehingga dengan kesal, Mel melarikan diri dari kedua pria asing yang datang ke rumahnya.
"Itu om-om yang di rumah sakit ngapain ngejar gue ampe sini? Gila kali tuh orang, mana ada satu lagi Mas-mas tampan yang ngaku kenal ama gue, Duh gimana ini?" Melissa masuk ke dalam tempat persembunyiannya. Karena di rumah ini adalah tempat paling aman bagi Melissa, telebih lagi di kamarnya.
Namun, Melissa tak jua membukakan pintu kamarnya karena merasa keselamatannya terancam oleh orang yang ia anggap asing.
"Aku ingin bicara!" Brad mengajak Ari untuk membicarakan masalah psikologis Melissa dan meminta untuk pengacara itu agar menjauhi sang istri untuk selamanya.
Ari juga tak keberatan karena ia merasa ada yang telah disembunyikan oleh Brad, hati Ari merasa curiga karena sejak tadi Brad tidak menunjukkan kekagetan atas perlakuan Melissa padanya. Bahkan ketika Mel menyebutnya Om-om, Brad tidak keberatan sama sekali.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Melissa?" Ari menunjukkan kekesalannya pada Brad dengan menanyakan hal tersebut tanpa basa-basi sama sekali.
Brad menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan apa yang terjadi pada Melissa, "Melissa mengalami cidera pada bagian kepalanya, hingga membuatnya kehilangan sebagian memori pada otaknya."
__ADS_1
Ari terlonjak kaget, ",Pantas saja, Melissa tidak mengenal aku,"
"Selama ini, Melissa selalu baik pada siapapun. Ia akan bersikap ramah terhadap semua orang. Namun, kenapa saat ini ia begitu ketakutan?" cecar Ari mengingat jika selama ini Melissa selalu ramah dan berbaik sangka terhadap semua orang.
"Kondisi psikis Melissa memerlukan penanganan, aku mohon kau jangan menambah beban penyakitnya!" tambah Brad mengingatkan jarak serta posisi Ari terhadap sang istri.
Ari yang telah tersulut emosi, langsung menarik kerah kemeja Brad. Untung saja, Brad menahan pengawalan anak buahnya agar tidak menghajar Ari yang main hakim sendiri.
"Jaga ucapanmu! Melissa seperti ini karena kau, dan bodohnya aku karena mengijinkan Melissa menikah dengan pria breng sek seperti kau!"
Brad tersenyum licik mencibir Ari yang ia nilai sungguh bodoh. Kenyataannya dirinya lah yang menjadi pemenangnya karena berhasil menikahi Melissa.
"Lihat dirimu! kau seperti kekurangan wanita saja. Harusnya kau berterimakasih padaku karena Melissa bisa melupakan cintanya padamu." Brad mengejek Ari yang tak bisa melabuhkan cintanya pada Melissa, karena kini dialah pemenangnya.
Braaak ... tak bisa mengontrol emosinya, membuat Ari melayangkan bogem mentah ke pipi Brad dengan sekuat-kuatnya.
Tak ingin majikannya terluka lagi, membuat para pengawal yang sejak tadi dilarang oleh Brad mendekati, mau tak mau harus menolong sang atasan dengan menyingkirkan Ari dari jangkauan Brad.
...****...
Udah mabok visual belom?
__ADS_1
🤭🤭🤭