Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Empat Puluh Dua


__ADS_3

Melissa melihat seorang anak lelaki kecil tengah berjongkok dengan wajah ditenggelamkan ada kedua lututnya.


Melihat dan mendengar tangis haru dari bocah kecil itu, menggerakkan nurani Melissa untuk memelankan laju motornya dan mulai menepi dari jalan raya.


Meski Melissa Andriana tengah tergesa-gesa menuju sekolahnya. Namun, hal ini tak menyurutkan niat baik Mel begitu panggilan akrabnya untuk sekadar menanyai perihal penyebab kesedihan bocah kecil itu. Karen sejak kecil putri tunggal Hans Effendi serta istrinya yang merupakan sosialita kelas atas telah dididik menjadi pribadi yang memedulikan sekitar.


"Kamu kenapa, Dek?" tegur Melissa mendekati sosok bocah yang ia taksir berumur sekitar sepuluh tahun tersebut.


Bocah itu tak menjawab pertanyaan Melissa, hanya saja tangannya menunjuk ke arah sebuah sepeda yang tergeletak begitu saja. Oleh karena itu, Melissa menduga jika si bocah ini menjadi korban tabrak lari.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya gadis dengan seragam berwarna putih abu-abu tersebut pada bocah kecil yang tampak menyedihkan itu.


"Haaaa ... " suara tangisnya, "Waktu aku berangkat ke sekolah tadi ada rombongan mobil mewah, Kak dan memintaku minggir. Karena kaget, aku terhuyung ke tepi jalan dan jatuh." jelasnya pada Melissa.


"Ini tak bisa dibiarkan. Ayo ikut aku! kita cari perhitungan," Melissa mengajak anak kecil itu pergi mencari perhitungan dengan mengendarai motornya.


Selain susah diatur, Melissa juga merupakan siswa paling hits yang suka membuat onar di sekolahnya. Musuhnya berjejer hingga tak terhitung di sekolah.


Melissa Andriana membonceng bocah kecil guna mencari perhitungan. Setidaknya di penabrak harus minta maaf pada korbannya. Hanya itu saja yang Melissa inginkan.


Si bocah tadi memberi arahan ke mana harusnya Melissa pergi dan menyebutkan ciri-ciri mobil yang telah membuatnya celaka.


"Itu kak!" tunjuknya.


Menjadi murid pembuat onar bukan perkara aneh jika Melissa bisa mengemudikan motornya dengan ugal-ugalan. Selain pandai dalam hal keburukan, dewan guru juga sungkan menghukumi Melissa. Bukan lantaran anak orang kaya, tetapi Melissa juga merupakan siswa berprestasi di sekolahnya.


"Woy, berhenti!" pinta Melissa dengan menunjuk sopir sedan berwarna silver yang diduga si pelaku. Selain mobil di samping Melissa, rombongan yang dikatakan bocah tadi juga diikuti oleh dua mobil di belakangnya.


Melissa menikung mobil sedan tersebut hingga memblokir jalannya. Seorang pria berjas rapi turun dari dalam mobil dengan tampang tidak ramah sama sekali.


Dengan kesal, Melissa melepas helm yang ia kenakan sehingga menampilkan rambut indahnya yang tertarik oleh helm tadi.


"Ada apa ini?" tanya si pria pada Melissa.


"Lu liat nih!" tunjuk Melissa pada bocah yang berada di atas motornya.


"Apa, Nona? Maaf saya buru-buru."


"Enak aja, ganti rugi dong! setidaknya minta maaf."


"Maaf, Nona saya benar-benar tidak ada waktu." Pria itu kembali berbalik ke arah mobilnya karena merasa jika waktunya telah disia-siakan.


Melissa segera mengambil handphonenya dan mulai membuka kamera guna merekam momen tersebut.


Selain itu, Melissa juga mengikuti si pria tadi ke arah mobil sedan berwarna silver tersebut. Dan ... hal yang tidak pernah terlintas di pikiran pria tadi adalah, Melissa memukulkan helm miliknya ke kaca depan mobil mewah tersebut.

__ADS_1


"Minta maaf tidak?" ancam Melissa lagi dengan membawa barang bukti sebuah kamera handphone dalam keadaan on.


Karena takut disebarluaskan oleh Melissa, membuat pria tadi yang kini gemetaran berhasil meminta maaf pada bocah yang ia sakiti.


"Gue tandai muke elu, ya?" ucap Melissa dengan nada songongnya dan mengancam seakan-akan ingin mencolok kedua mata pria yang ternyata merupakan sopir si tuan muda.


Tak berselang lama, si pemilik mobil dan meraup tuan muda bos dari sopir tadi keluar dari mobil dengan wajah speechless.


"Maaf mengganggu perjalanan Anda," pinta sopir tadi.


Namun, pria berbadan tinggi tadi hanya tersenyum kecut menatap kepergian sosok gadis urakan yang baru saja ia lihat tadi.


"Ayo, Tuan muda! penerbangan Anda sebentar lagi."


Sebelum pergi, sosok tuan muda tadi sempat menginjak sesuatu. Tangannya yang dihiasi jam tangan mewah merek Audemars Piguet memungut sebuah kartu anggota club.


Nama Melissa Andriana tertulis di sebuah kartu anggota club basket di sebuah sekolah elit di Jakarta ini.


"Dasar anak nakal!" ucapnya dengan memasukkan kartu itu ke dalam kantong jasnya.


"Silakan, Tuan!"


Pemuda berjas rapi itu duduk kembali di mobilnya dan meminta agar si sopir melanjutkan perjalanan ke Airport meski dengan kaca mobil yang rusak.


Tak satupun berita atau artikel memuat nama Melissa Andriana di situs pencarian paling populer.


"Nama itu mungkin hanya seorang anak perempuan biasa saja, Tuan!"


"Aku beri kau waktu! hingga aku kembali besok, cari nama itu dan berikan padaku karena telah merusak mobilku."


Perjalanan diplomatiknya ke kota paris hingga pulang lagi bisa memakan waktu sekitar 4-5 hari. Jadi waktu segitu cukup bagi pemuda itu untuk mendapatkan informasi mengenai sosok Melissa Andriana.


"Siap, Tuan."


"Melissa, kau akan kudapatkan sebentar lagi. Jadi bersiaplah menemuiku."


...****...



ku tak mau memilih diam


apalagi rindu terpendam


lebih baik mendengar hati

__ADS_1


jangan kita abaikan hati


sampai dimana ujung rindu


bila hati selalu begitu


berteriak keras memanggil rindu


sampai akhirnya pun bertemu


sampai dimana ujung cinta


bila cerita terus ada


matahari bulan bekerjasama


menerangi kita berdua


sampai dimana ujung cinta


bila cerita terus ada


matahari bulan bekerjasama


menerangi kita berdua



ketika mataku terbuka


ketika telinga mendengar


yang kuingat hanya wajahmu


yang kudengar hanya namamu


ku tak mau memilih diam


apalagi rindu terpendam


lebih baik mendengar hati


jangan kita abaikan hati


__ADS_1


__ADS_2