Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Empat Puluh Enam


__ADS_3

Tepat ketika Melissa keluar dari rumah sakit, Brad dan pasangan pencalonannya mengukuhkan diri mereka ke hadapan publik. Sehingga hari ini Brad sangat sibuk dan tak bisa menjemput Melissa. Oleh karena itulah, Brad meminta Mario untuk menjemput keluarnya sang istri dari rumah sakit.


Selain itu, ada masalah lagi yang menghampiri sepasang suami istri tersebut. Yakni, papi yang merupakan ayah dari Brad merasa curiga dengan hubungan yang tak harmonis antara anak dan menantunya. Sehingga papi menjabarkan hal tersebut pada ayah Melissa.


Sontak hal tersebut membuat Hans Effendi begitu murka dan segera datang dari negeri kanguru hanya untuk menemui sang putri satu-satunya.


Hans meluncur menjemput sang putri dan mengajaknya pulang ke rumah mereka tempo dulu. Dan Mario tak kuasa menolak keinginan mertua dari bosnya.


"Sebenarnya kalian menyimpan masalah apa? Ayah dengar kalian saling menyakiti, Mel?" tegur ayah Melissa pada anak kesayangannya.


Melissa tak mampu membohongi hatinya, meski bersusah payah ia menutupi masalah ini dari ayah serta papi. Namun, dua orang tua itu mampu menemukan celah kenyataan yang terjadi.


"Tidak ada, Ayah! Mel dan Brad baik-baik saja."


Melissa begitu ketakutan jika ayahnya sampai tahu masalahnya. Hans pasti akan memarahi Melissa yang tak becus mempertahankan rumah tangganya.


"Kau ingin bercerai dari, Brad?"


"Heh?" Melissa gelagapan hingga lidahnya kelu dan tak mampu menjawab pertanyaan ayahnya.


Hans tahu seperti apa putri dan menantunya. Hingga dengan mudah bisa menebak apa yang terjadi. Selain itu, Hans juga telah mengantongi kenyataan jika hubungan Melissa dan Brad lebih intim dalam beberapa hari terakhir.


"Maafkan Melissa, Ayah! Melissa tidak bermaksud seperti itu pada, ayah."


"Sekarang kau bisa melihat sendiri! sudah berapa lama kau dan ayah di sini? Apa suamimu peduli dengan kita?" Hans Effendi mengejek sang menantu yang begitu tak tahu diri karena lebih memilih mendaftarkan dirinya daripada menjemput sang istri.


"Tapi, Ayah!"


Hans begitu murka dengan Brad, sehingga tanpa basa-basi lagi. Ayah Melissa tersebut menarik sang putri untuk pulang ke negri kanguru bersama dengannya.


Melissa sendiri tak mampu melawan keinginan sang ayah. Apalagi keinginannya meninggalkan Brad telah terlaksana. Seharusnya ia berpuas hati, bukan?


Mario dan Resti berulangkali mengubungi Brad dengan keadaan ini. Namun, politikus muda itu benar-benar sibuk dengan pencalonannya.


"Mungkin ini akhir hubungan kami," gumam Melissa di dalam perjalanan menuju parkir pesawat pribadi milik sang ayah.


"Jika tahu seperti ini, ayah tidak akan menerima lamaran Brad padamu dulu." Hans menyayangkan sikap semena-mena dahulu. Bapak satu anak tersebut menyesali keputusannya.


Lebih dari setengah jam lamanya, Melissa dan ayahnya tiba di tempat yang mereka tuju. Mario serta Resti terus mengikuti istri bos mereka dan tak ingin sedetikpun melewatkan hal yang terjangkau.


"Mario, aku nitip Resti, ya? Kalian bisa tinggal di Pasific place tanpa menggantinya padaku. Aku menghadiahkan apartemen itu dengan satu syarat, yaitu kamu mau mempersunting Resti." Melissa mengatakan permintaan terakhirnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Indonesia dan khususnya Brad.


"Menikah? Yang benar saja, Bu?" Resti merasa hal ini agak rancau. Ia tak mengerti apa yang diinginkan oleh Melissa.


"Aku hanya ingin kalian bahagia, ingat permintaanku!"

__ADS_1


Mario begitu tersentuh mendengar sebuah keong Melissa sebelum pergi jauh. "Lalu bagaimanakah dengan bapak, Bu?" Mario ingin memastikan seperti apa lanjutan hubungan mereka berdua.


"Aku tidak tahu, mungkin dia bukan takdirku!" jawab Melissa dengan menahan air matanya agar tak berlinang.


Ayah Melissa kembali meminta sang putri agar segera menaiki pesawat yang akan membawanya pergi.


"Baik, Ayah!"


Melissa membalikan badannya dan bersiap menaiki pesawat khusus yang akan membawanya ke Sidney.


Sebelum langkah Melissa lebih jauh meninggalkan Indonesia, sebuah tangan menyentaknya sehingga membuat Melissa berbalik dan menahan kepergiannya.


"Kamu benar-benar ingin pergi, Mel?"


"Iya!"


Pandangan keduanya bertemu. Meski telah bersusah payah menahan air matanya. Namun, kedua manik Melissa telah basah dialiri tangis.


"Kamu memberi mereka kebahagian, lalu mana kebahagian untukku?" Tak hanya Melissa saja yang merasa sesak di dada. Semakin penolakan Melissa di rumah sakit dan berakhirnya amnesia Melissa, Brad benar-benar diliputi kesedihan yang mendalam.


"Bukankah, aku telah memberikanmu kado istimewa?"


Brad terperanjat hingga nyaris tak percaya jika Melissa telah mengetahui hal yang telah ia sembunyikan dari sang istri.


"Jadi kamu sudah tahu, Sayang?"


"Mel, kumohon jangan pergi! Jangan tinggalkan ku! aku bersumpua akan membahagiakan kalian berdua!"


Melissa menggeleng, semua ini telah berulang kali ia pikirkan. Setiap apa yang menjadi pilihannya pasti memiliki risiko masing-masing.


"Aku akan pergi, dan akan menjaga anak ini dengan baik! jadi jangan khawatirkan kami!"


"Mel, aku minta maaf atas semua ini, sungguh aku tak ingin kehilangan kalian berdua,"


"Mari bertaruh! Menangkan Pilkada dan aku akan memberi satu kesempatan padamu, karena aku ingin menjadi seorang istri gubernur." pinta Melissa dengan penuh canda seolah membuatnya tampak tegar di mata Brad.


"Jangan bercanda! aku tidak mau mempertaruhkan istriku!'


Sebelum benar-benar pergi meninggalkan Brad, Melissa memberanikan diri menatap dalam-dalam mata sang suami. Selanjutnya Melissa dengan kesadaran penuh memberikan sebuah ciuman perpisahan dengan manis.


Brad menolaknya? Tentu saja tidak. Kecupan manis itu bersambut dan ditambah oleh sang suami dengan penuh kasih..


Brad memeluk pinggang sang istri dan menariknya lebih dekat lagi. Sedangkan tangan Melissa yang tadinya bebas, kini berpindah dengan mengalungi leher sang suami.


Ciuman perpisahan yang manis itu menjadi saksi akhir dari peperangan yang selama ini mereka lakukan.

__ADS_1


Bahkan Resti yang biasanya sangat profesional pun tak mampu membendung tangisnya. Ajudan Melissa itu menangis tersedu melihat perjuangan sang atasan. Terlebih lagi, Melissa juga sangat hangat padanya. Bahkan memberikan sebuah apartemen mewah untuknya dan Mario.


"Semoga bapak dan ibu senangi dilindungi," ucap Resti tak kuasa menahan haru melihat dua orang yang saling menyayangi tapi gengsi.


"Aku akan membawa pulang kalian! tunggu aku, Mel,"


"Tentu saja, jika kamu kalah! aku akan mengirimkan surat cerai dari Sidney, Brad!" Melissa masih sempat menggoda Brad agar suaminya itu bersemangat dalam memenangkan Pilkada mendatang.


"Aku mencintaimu, Mel!"


"Aku juga,"


"Katakan sekali lagi! aku tak mendengarnya dengan jelas, Sayang."


Niat ingin menggoda sang suami, malah membuat Melissa tersipu di depan Brad.


"Iya ... aku mencintaimu, Centong nasi!"


**


Orang yang baru saja ditinggalkan cintanya pasti akan murung. Namun, tidak dengan Brad. Sepanjang perjalanan pulang seusai melepas kepergian Melissa, Brad berhenti mengulas senyum.


"Bapak gak sedih, ya?" tegur Resti merasa aneh melihat sejak tadi Brad senyam-senyum sendiri. Bahkan Resti dan Mario mengira jika Brad mulai gila setelah ditinggal sang istri.


"Kenapa harus sedih? Aku akan menjadi seorang ayah dan satu lagi yang paling penting, Melissa mencintai aku, Res!"


Spontan, Mario menginjak rem karena jawaban Brad.


"Bu Melissa hamil, Pak?"


"Iya, sekarang gak ada waktu lagi Mario. Kita harus berusaha sekuat tenaga dengan tim sukses serta partai koalisi agar menang. Karena Melissa ingin jadi ibu gubernur."


"Benarkah, Pak? Berarti Bu Melissa tidak jadi menceraikan Bapak?" tanya Mario dengan muka polosnya dan berakhir mendapatkan jitakan keras dari Brad Owen.


"Sialan! Melissa tidak akan menceraikan aku,"


"Syukurlah!"


"Syukurlah!" jawab Resti dan Mario secara serentak.


...****...



__ADS_1



TAMAT


__ADS_2