
Datangnya hujan merupakan rahmat. Hujan merupakan salah satu perkara terpenting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Ia merupakan sebuah prasyarat bagi kelanjutan aktivitas di suatu tempat, tidak hanya manusia, tapi hampir semua makhluk.
Kenangan hujan telah memanggil, pada setiap jiwa-jiwa yang merindu. Dan tetap memanggil namanya meski luka mencoba menjauhkan kita dari putaran waktu masa lalu. Bulan telah berganti, masa telah terlewati, dan di sana masih merindu. Untuk kembali tanpa ragu. Tanpa menghapus tangisan hujan di wajah itu.
Melissa masih merenung dalam susana gerimis yang manis. Ia masih menyendiri di dalam kamarnya sembari menatap gelapnya malam dari balkon kamarnya. Sesekali ia mengembuskan napas dengan kesal semabarang.
Hingga demi mendapatkan jawabannya, Mel begitu panggilan akrabnya keluar dari kamar untuk menelusuri informasi yang ia dapatkan nantinya. Iya Melissa berniat menanyai pelayan di rumah Brad ini
"Nona makan dulu, biar bibi siapin!" Secara kebetulan, salah satu bibi pelayan menghampiri Melissa yang tampak celingukan di depan kamarnya.
Pelayan itu memang secara bergantian mengawasi kamar Melissa atas perintah Brad. Mereka semua yakni pelayan serta pegawai di rumah Brad tak ingin mendapatkan risiko atas kelalaian jika Melissa melakukan hal di luar batas.
"Bi, boleh nggak kalau aku makan mie instan? Yang pedas, Ya?"
"Tap-tapi, Non? Bapak ... "
Belum sempat bibi pelayan yang berumur kurang lebih lima puluh tahun itu melanjutkan bicaranya, Melissa terlebih dahulu menahannya. "Ssstttt ... aku pengen, jangan beritahu Om."
Bibi pelayan tersebut tak menaruh curiga sama sekali pada Melissa. Apalagi mengingat jika sejak pagi tadi Melissa tak keluar kamar sehingga melewatkan makan siang serta hampir mendekati makan malam. Dan sesuai pesan Brad yang menyuruh mereka menyiapkan keperluan Melissa, membuat bibi pelayan menuruti permintaan Melissa.
Tak sampai tiga puluh menit, semangkuk mie instan pedas dengan irisan cabai serta telur mata sapi setelah matang ditambah potongan sosis sebagai pelengkapnya menggugah napsu makan Melissa.
Manik Melissa berpijar dan ... "Hmm ... sepertinya enak, Bi!"
Melissa mulai menyantap mie yang dibuat dengan cinta oleh salah satu bibi pelayan. Selain menyantap makanannya, Melissa juga berniat mengorek informasi dari bibi tersebut.
"Bi, bibi sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Bibi sudah bekerja sejak lama, mulai dari ikut orangtua bapak. hingga bapak pindah ke sini dengan Anda." jelas bibi yang berdiri di samping Melissa.
"Bibi duduklah bersamaku! temani aku makan. Bukankah aku tak memiliki teman di rumah ini."
Degh .. hati bibi terasa sangat sakit mendengar Melissa mengatur jika tak memiliki teman di rumah ini. Tak salah jika Melissa merasa sepi, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk sekadar mengobrol, bercanda dengan Brad suaminya. Selama bibi bekerja di rumah ini, Brad tak pernah memberikan perhatiannya pada Melissa.
__ADS_1
Jika orang menyebutkan istri pajangan, mungkin itu gambaran yang pas untuk menyebut siapa Melissa. Karena Brad hanya akan menggunakan Melissa sebagai alatnya untuk mencari popularitas. Melissa digunakan dan dibawa ke ranah publik jika Brad memiliki acara yang harus dihadiri oleh Mel. Hanya itu saja.
"Nona tidak sendiri, jangan anggap bibi orang lain. Bibi selalu ada untuk Nona." Bibi pelayan berjongkok menatap wanita yang sibuk menyeruput kuah mie instan yang paling digemari oleh warga plus enam dua.
Mel, menelan mie yang telah ia kunyah lalu bertanya pada bibi, "Jadi benar, aku ini istri om itu?"
"Benar, Nona! Anda adalah istri dari bapak."
Melissa telah siap apapun berita yang akan ia dapatkan. "Lalu mengapa aku tidak mengingat semuanya?"
Kepala pelayan datang menghampiri keduanya karena takut jika bibi pelayan salah mengucapkan sesuatu. Pria tua itu telah mengetahui dari kamera pengawas yang dikirim oleh Brad. Dan hal ini menunjukkan jika saat ini juga Brad telah mengawasi pembicaraan mereka.
"Anda mengalami amnesia, Nona. Akibat peristiwa kecelakaan yang menimpa Anda." sahut kepala pelayan pada Melissa.
"Amnesia? Aku tak mengingat apapun," cicit Melissa dengan wajah yang murung. Ia tak menyangka jika Tuhan telah menghukumnya.
"Kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga aku menerima balasan karma menyakitkan seperti ini, Tuhan?"
"Nona, perlu apa lagi? Bibi akan siapkan!"
"Aku ingin coklat hangat, Bi! apa boleh?"
"Tentu saja, apapun yang Nona inginkan, akan bibi siapkan."
"Nanti bawakan ke kamarku, ya?" Melissa beranjak seusai meminum air di gelasnya.
Kepala pelayan meminta Melissa segera beristirahat agar kesehatan semakin membaik dan tak perlu menunggu bapak pulang. "Anda istirahat saja! Bapak pulang malam lagi."
.
"Lagi? Apa selalu seperti ini sebelumnya? Apa aku selalu menunggu dia pulang?"
Kepala pelayan bingung ingin menjawab apa pada pertanyaan Melissa sehingga ia terpaksa menjawab, "Anda sangat perhatian pada Bapak, dan selalu menemani Bapak dalam segala suasana."
__ADS_1
"Oh begitu, berarti hubungan kami sangat harmonis ya, Pak?"
Tak terasa ada hati yang tersakiti oleh hal ini. Hingga membuat tak sampai hati melihat momen haru ini.
**
Pagi ini padangan Brad dikejutkan oleh Melissa dengan gaya biasanya. Melissa telah mendapatkan ciri khasnya seperti biasanya hanya bedanya, ia masih belum mendapatkan ingatannya.
"Kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Brad begitu terpaku melihat penampilan wanita yang mengenakan dress selutut asimetris dengan coat panjang melebihi dress tersebut.
"Aku mau ke tempat ini!" Melissa menunjukkan id card miliknya yang sempat tertinggal di laci meja kamarnya.
Id Card tersebut merupakan indentitas pekerjaannya sebagai jurnalis senior. Dan Melissa akan memulai memunguti ingatannya mulai dari kantor Woman's Daily.
"Gak usah, kamu belum sembuh. Istirahat saja di rumah. Setelah kamu mengingat semuanya, aku berjanji akan memperbolehkan kamu berkerja lagi."
Melissa melirik ke arah Brad yang tepat berada di depannya. "Kenapa? Apa Om takut jika aku mengingat semuanya?"
Pertanyaan dari Melissa bak sambaran petir tanpa hujan bagi Brad. Penghakiman itu sepertinya telah sedikit membuat lobang kepercayaan diri Brad.
"Apa maksudmu, Sayang? Aku hanya tak bisa melihatmu menderita saja."
Melissa tertawa melihat perubahan reaksi mimik wajah Brad. "Aku hanya bercanda saja, Om! aku malah lebih menderita jika diam saja di rumah."
"Mel, apa tidak ada sebutan yang pas untukku selain om?"
"Kakek maybe?"
"Tenang saja, ini baru permulaan! aku bersumpah akan membawa neraka untukkmu, Sayang. Kita lihat saja, siapa yang akan berdiri sebagai pemenangnya."
...****...
__ADS_1