Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Empat Puluh Lima


__ADS_3

Melissa dilarikan ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Tetapi ada hal lain yang begitu mencengangkan Brad.


Sejak sadarnya Melissa dari pingsan-nya, wanita itu terus-menerus histeris ketika melihat sang suami. Dan yang lebih parah lagi, Melissa tak bersedia sama sekali menjumpai Brad. Bahkan ketika pria itu masuk ke kamar rawat inapnya, Melissa menyembunyikan wajahnya dengan alasan ketakutan.


Tak bisa dianggap sepele, selama Resti bekerja dengan Melissa baru kali ini wanita muda itu melihat ketakutan dari istri Brad yang begitu hebatnya.


"Selamatkan aku! kumohon ... " Permintaan Melissa pada Resti seperti itu membuat dara berusia 25 tahun itu terenyuh hingga tak kuasa menahan kesedihannya. Resti tak sampai hati melihat Melissa menderita.


Sehingga ajudan wanita itu mengajak Brad keluar dari kamar Melissa agar tak membuat Melissa semakin ketakutan.


"Maaf, Pak! saya tidak mengerti dengan masalah kalian berdua. Tapi saya mohon bapak jangan dulu temui ibu. Biarkan ibu tenang, saya tak bisa melihat ibu seperti ini." Resti mencoba menenangkan Brad sebelum ia memaksa menemui Melissa dengan dalih mengunjungi sang istri.


"Kenapa ibu bisa seperti ini, Res?"


"Saya kurang tahu, tiba-tiba ibu membahas ada orang yang ingin membunuh ibu. Dan meminta saya melindunginya."


"Temani ibu, aku akan bayar berapapun yang kau mau. Sekiranya aku salah padamu, aku minta maaf, Res. Aku berutang budi padamu karena menemani ibu selama ini."


"Jangan katakan seperti itu, Pak! saya senang bekerja dengan Anda dan Bu Melissa."


Meski dengan berat hati, Brad luluh dengan penjelasan Resti dan bersedia meninggalkan ruang rawat Melissa.


Kepergian Brad sedikit mampu menenangkan keadaan Melissa. Ia teringat sebelum mengajukan gugatan cerai, sebuah mobil mengejarnya dan menabrak bagian belakang mobilnya. Sehingga Melissa dihinggapi rasa ketakutan yang luar biasa. Dan Mel tahu jika semua ini adalah ulah sang suami


Bukan hanya itu saja, Melissa juga mengingat semua kejadian selama ia mengalami amnesia. Melissa dan Brad menjadi semakin dekat dan sampai pada tahap yang lebih jauh lagi.


Hal tersebut membuat Melissa semakin tak bisa menerima keadaan. Tak terasa air matanya menetes tiada henti. Melissa menyalahkan dirinya sendiri yang tak mampu menahan perasaannya.


"Kenapa semua ini bisa terjadi? Aku bodoh! aku telah memberikan kelemahanku padanya." Melissa merenungi serta meratapi kebodohannya yang telah bertekuk lutut di depan Brad.


"Ini tidak bisa dibiarkan lagi, aku harus segera meninggalkannya!"


**

__ADS_1


Selain Melissa yang diliputi penyesalan, Brad juga merasakan hal yang sama. Karena kebodohannya lah yang membuat Melissa semakin jauh darinya.


Hal yang paling ia takuti semakin menjadi momok di masa depannya. Brad menyesal tak bisa menjaga Melissa dengan baik, padahal keduanya sempat mengibarkan benda putih pertanda gencatan senjata.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Brad yang kini berada di ruangan dokter untuk mendengarkan sekaligus berkonsultasi mengenai keadaan Melissa.


"Bu Melissa hanya kelelahan saja. Jika ia merasa asing, saya rasa ingatannya mulai berangsur kembali. Dan yang paling penting, Bu Melissa harus menjaga kesehatannya serta bayi yang beliau kandung."


Penjelasan dari dokter barusan seperti sambaran petir di siang bolong yang kering kerontang. Brad sontak tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengarkan. "Melissa hamil? Benarkah?"


Dari pemeriksaan yang menyeluruh, hormon hCG Bu Melissa tinggi. Human chorionic gonadotropin (hCG) merupakan hormon pendeteksi awal kehamilan. Meski masih cukup awal, saya bisa menyayangi jika Bu Melissa sedang mengandung.


"Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Di saat seperti ini, kau mengirimkan anugrah." Hal yang diharapkan oleh Brad menjadi kenyataan. Kini tak ada lagi alasan Melissa untuk meninggalkan dirinya.


"Dok, jangan katakan apapun pada Melissa mengenal kehamilannya. Aku takut ia shock dan berbuat di luar batas."


Brad sangat tidak mengharapkan hal buruk terjadi pada Melissa. Ia takut sekali jika Melissa mengetahui dari awal, akan membuat wanita itu bersikeras menggugurkan kandungannya.


"Baik, Pak! demi psikologis Bu Melissa. Kami tidak akan mengatakan pada beliau. Biar Anda saja uang pelan-pelan menjelaskan pada Bu Melissa."


"Mel, aku sungguh bahagia mendengar kabar ini. Cepatlah pilih agar kita bisa kembali seperti dulu." Brad berdoa pada Tuhan agar kesehatan Melissa sehingga pulih. Dan masalah yang lalu bisa teratasi dengan hadirnya buah hati yang akan menjembatani perselisihan antara dirinya dan Melissa.


Sebelum pulang, Brad berpesan pada Resti agar selalu menjaga Melissa dalam keadaan apapun. Dan untuk nutrisi yang dikonsumsi oleh Melissa, Brad telah berdiskusi dengan pihak rumah sakit untuk menyiapkan makanan yang penuh vitamin dan bernutrisi. Tak hanya itu saja, demi keselamatan Melissa. Brad menurunkan beberapa pengawal Seba bentuk pertahanan lapis pertama.


Karena kabar baik ini menjadi kado terindah untuk ulang tahun politikus muda tersebut. Sehingga Brad akan menjaga pemberian ini dengan baik.


**


Keadaan Melissa berangsur membaik, apapun yang ia inginkan, selalu Mel dapatkan. Selain itu juga, Melissa tak bisa dikunjungi oleh sembarang orang.


"Res, kok aku pengen ya makan kerak telor. Tapi yang dijual bapak tua di Lapangan Banteng," pinta Melissa sesaat sebelum ia dan Resti bersiap-siap keluar dari rumah sakit.


"Coba nanti Resti tanyakan dulu sama dokter, ya? Tapi Resti tak yakin jika Pak Mario mau mampir dulu ke Lapangan Banteng." jawab Resti dengan enteng karena tak menyangka jika permintaan nyeleneh ini bersumber dari benih yang dikandung oleh Melissa.

__ADS_1


Dan seperti yang telah diatur oleh sang suami, Melissa akan pulang dengan dijemput oleh Mario.


"Kok Mario segala, sih? Kita pulang ke apartemen gue di Kemayoran."


"Loh, kata Bapak kita ke Menteng, Bu!"


"Ogah, ah gue kagak mau mati sia-sia. Masih untung kemarin bisa selamat."


Resti heran sekali, "Yakali bapak mau nyelakain, Ibu? Malah dari kemarin bapak bolak-balik nanyain ibu."


"Res, kamu ini kerja sama siapa, sih? Aku bisa loh bayar kamu dua kali lipat dari dia."


Perdebatan Melissa dan Resti berakhir ketika Mario masuk ke dalam kamar Melissa dan mengajak serta keduanya pulang segera setelah menyelesaikan admistrasi.


"Ibu gimana, sih? Pasific place di SCBD sudah laku terjual."


"Ha? Yang benar saja, siapa yang jual unitku?" Melissa ternganga mendengar penuturan Mario yang mengatakan jika Apartemen Pasific place miliknya telah terjual dengan mudah.


"Ya iyalah, Bapak yang jual dan aku yang beli. Udah dikasih diskon malah bisa dicicil." imbuh Mario dengan pede tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Mario ..." teriak Melissa dengan diikuti memukul kepala Mario dengan tas yang berada di atas ranjang rumah sakitnya.


"Terus gue tinggal di mana?" Melissa menutup wajahnya dengan satu tangan karena bingung harus ke mana.


Bahkan tas yang ia bawa ketika pulang dari Bandung tak ada batang idungnya. "Masa iya gue jadi gembel, Res?"


"Kan ibu ada rumah di Menteng? Atau mau ikut Resti pulang?"


Mario memotong pembicaraan Resti karena kesal wanita itu terus saja bersikap bodoh. "Udah bosen kamu kerja dengan bapak?"


Mario mengajak dua wanita itu masuk ke dalam mobil dan segera membawa pulang Bu Melissa sesuai instruksi dari atasannya.


"Gue harus cari cara! harus!" Melissa memacu otaknya agar berjalan lebih cepat.

__ADS_1


...****...



__ADS_2