
Melissa mulai menyadari ada yang tak beres dengan hidupnya. Bukan hanya tentang keadaanya saja yang membuat Melissa semakin bertanya-tanya. Tapi keanehan-keanehan sering muncul seperti ia merasa pernah mengalami hal yang sering terlintas di pikirannya.
Lantas, Melissa hanya bisa memendam rasa penasaran itu karena ia tak memiliki sosok teman yang bisa ia percaya. Selama ini, orang-orang di sekitar Melissa hanya orang kepercayaan Brad yang notabenenya bukan orang yang dipercaya Melissa.
Dan Brad telah menepati janjinya, dengan mendaftarkan Melissa dalam kelas home schooling . Selama beberapa hari ini, Melissa sangat antusias dalam kelasnya.
Lembaga yang dipilih oleh Brad juga memiliki kredibilitas yang tak diragukan lagi. Selain itu, Melissa juga menjalani serangkaian terapi. Salah satunya dari dokter spesialis rehabilitasi medis, terapi ini bertujuan untuk untuk membantu pasien secara keseluruhan untuk kesehatannya dalam konteks aktivitas kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pasien yang sedang menjalani terapi ini akan mendapatkan pengarahan dan latihan dalam berbagai hal.
Beberapa kali seorang terapis datang ke kediaman Brad hanya untuk membantu Melissa dalam menjalani hidup mandiri dengan berbagai kondisi kesehatan yang telah ada.
"Kemajuan Anda cukup signifikan, Nyonya!" puji dokter tersebut sebelum menutup sesi terapinya hari ini.
Bahkan Melissa pun tak mengetahui penyakit apa yang ia derita. Ia hanya tahu jika dokter ini dibayar oleh Brad sebagai terapi jiwanya saja.
"Sebenarnya aku ini sakit apa, dok? Kenapa dokter membantuku merekam memori dan membantuku mengendalikan emosi?"
Dokter tersebut tak bisa berkata-kata, sebenarnya ia tak tega jika harus menutupi hal ini dari pasiennya. Telebih lagi, pasiennya yang satu ini sangat kooperatif.
"Saya hanya diminta menemani Anda berbicara saja, Nona!" kilah dokter tersebut. Tak ingin berlama-lama dan menyebabkan Melissa bertanya ini itu, membuat dokter tersebut pamit undur diri. Karena memang sesi terapi telah usai sejak tadi.
Selesai menjalani program terapinya, kini Melissa harus bersiap melakukan kelas home schooling-nya.
Seorang pemuda tiba di kediaman Brad dengan wajah malu-malu. Sangat ketara sekali jika anak muda itu tidak memiliki kepercayaan diri. Ia datang ke sebuah rumah mewah di kawasan Menteng ini hanya untuk menggantikan sang Tante mengajar.
"Kak Glenn?" suara Melissa memanggil pemuda yang masih tampak malu-malu itu.
Sedikit mengangkat wajahnya, Glenn tidak menyangka jika seorang gadis yang akan ia ajar adalah Melissa.
"Kakak!"
"Hei, apaan sih? Jangan panggil aku kakak dong!" Melissa menarik Glenn masuk ke rumah Brad.
Mel sangat antusias karena salah satu temannya datang berkunjung. Ia tidak menaruh curiga apapun tentang niat Glenn mengunjungi dirinya.
__ADS_1
Sesekali Melissa mencuri'pandang ke arah pemuda tampan tersebut, "Kakak tahu aku tinggal di sini?"
"A-aku hanya menggantikan Tante saja, dia berhalangan hadir." Glenn menjelaskan kehadirannya ke rumah ini hanya untuk menggantikan tentenya mengajar Melissa. Dan Glenn tidak menyangka jika siswa yang menjadi murid sang Tante adalah Melissa.
"Jadi Tante kamu, ngajar home schooling juga?"
Glenn menganggukkan kepalanya. Pemuda ini sangat berbeda dengan Ari. Jika Ari Dinata orang yang supel dalam bergaul, tapi Glenn lebih pendiam daripada sang kakak.
Seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, hari ini Melissa akan menerima pelajaran Matematika dari Glenn. Sebagai Mahasiswa Teknik Sipil. "Kita akan bahas hasil ujian Matematika kakak ya?"
**
Pertemuannya dengan Glenn sedikit mengobati rasa penasaran Melissa tentang siapa dirinya. Jika beberapa hari ini Melissa sibuk menerka-nerka dengan hidupnya, kini Melissa bisa tersenyum kembali berkat Glenn. Pemuda itu sedikit banyak telah membawa perubahan mood pada hidup Melissa.
Seusai mengajar tadi, Glenn juga sempat bertukar nomor WhatsApp dengan Melissa. Glenn ingin jadi tempat keluh kesah Melissa. Sukur-sukur Mel bisa mengingat kembali kenangan masa lalunya.
Karena sang kakak menyebut jika Melissa telah mengalami trauma yang mendalam sehingga memilih untuk melupakan ingatannya yang kelam.
Selama beberapa hari pergi kunjungan kerja di luar wilayah, Brad telah 3 hari tidak pulang ke rumahnya.
Ia hanya bisa memonitor keadaan rumah melalui kepala pelayan serta beberapa kamera pengawas yang dipasang di setiap sudut.
Politisi itu berada di dalam sebuah kamar mewah presiden suit. Tidak hanya sendiri, Brad telah setengah jam lamanya ditemani oleh seorang perempuan seksi berambut panjang yang menjuntai menutupi punggungnya yang polos.
"Tuan, berjanjilah jika datang ke kota ini panggil aku!"
"Hm ... " Brad tak banyak berbicara saat berduaan. Pria itu hanya bermain dengan uangnya. Tak peduli berapapun akan ia gelontorkan demi kepuasannya.
"Aku bisa memuaskan Anda, lebih baik dari pada istri Anda!"
Perkataan perempuan tuna susila itu membangkitkan emosi Brad. Entah mengapa ia begitu tersulut hingga tak terima jika wanita itu mengatakan bisa melakukan lebih baik dari Melissa.
"Pergi!" Prang ... Brad melempar sebotol anggur untuk menggertak si wanita tersebut.
__ADS_1
"Apa aku melakukan kesalahan, Tuan? Di mana letak kesalahanku?"
"Pergi, enyahlah dari pandanganku."
Wanita itu segera mengenakan busananya yang tergolek berserakan di lantai kamar. Dengan wajah penuh emosi Brad melempar beberapa lembar uang pada wanita persinggahan itu.
Entah mengapa akhir-akhir ini Brad menjadi lebih sensitif jika membahas masalah Melissa. Bahkan ia meminta sang sekretaris untuk mempercepat kepulangannya seusai menelepon kepala pelayan di rumah.
**
"Melissa, apa sekolahmu lancar?" tanya Brad di sela waktu makannya.
Melissa yang duduk tepat di depan sang suami tidak menaruh kecurigaan berlebih pada Brad. Ia hanya menganggap Brad sebagai orang lain dan bahkan orang asing meski pria itu mengaku teman dari ayahnya.
"Lumayan, aku menyukai kurikulumnya."
"Baguslah!"
"Tapi ada satu yang menarik, Om!"
"Apa itu?"
"Aku menyukai mentorku!" ucap Melissa dan membuat Brad spontan meletakkan garpu serta pisau yang melengkapi makan paginya.
"Apa maksudmu?"
"Sepertinya aku jatuh cinta padanya,"
...****...
Pembalasan dendam yang menyakitkan bukan karena saingan kita yang lebih unggul. Tetapi, saat kita tahu jika lawan kita yang jauh di bawah kita mengalahkan kita. - Dheselsa
Sebuah bilah dendam akan memiliki dua sisi melukai, yakni melukainya dan melukaimu, - Dheselsa
__ADS_1