Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Tiga Puluh Dua


__ADS_3

"Kita mau ke mana?" tanya Melissa karena merasa asing dengan arah perjalan yang dituju. Sejak Mario mengemudi, Brad bahkan tak sekalipun mengatakan ke mana tujuan mereka.


Hingga mobil mulai memasuki pelataran sebuah resort di kawasan Jakarta Utara. Resort di daerah terluar dari ibu kota ini merupakan salah satu tempat menginap dengan fasilitas jetset yang dirancang untuk tempat liburan dari hiruk-pikuk suasana metropolitan.


"Kamu istirahat di sini saja, Sayang!" perintah Brad dengan santai pada Melissa yang wajahnya masih tampak melongo karena Mario membawanya ke tempat yang bukan rumahnya.


Resti membuka pintu mobil bagian samping pengemudi dan bergegas membuka pintu untuk Melissa. Begitu juga Mario yang menyusul Resti untuk melayani bosnya.


Kedatangan Brad ke resort ini, sepertinya telah dipersiapkan lebih awal. Semua itu terlihat dari kesigapan seluruh karyawan di penginapan mewah ini. Begitu, mobil Brad serta beberapa mobil pengawal tiba di resort tersebut, beberapa petugas keamanan langsung mengamankan seluruh area. Serta pihak resort juga menutup pintu akses keluar masuk.


"Kamu mau aku tinggal di sini?" Melissa mencerca Brad dengan pertanyaan yang kudu ia ketahui jawabannya segera. Pasalnya, Melissa harus menyusun rencana selanjutnya dan tak bisa berpangku tangan di sini saja.


Brad mengajak Melissa mengikuti room boy yang akan membawa mereka ke ruangan yang telah disediakan sambil berseru, "Tetap di sini sampai aku kembali!"


"Nggak, Om! aku gak bisa. Aku gak bisa diginiin." Melissa berbalik arah hendak keluar dari resort.


Namun, langkahnya terhenti dengan beberapa pria berotot yang setiap saat menunggu perintah Brad. Mereka akan menghadang pelarian Melissa di sini.


"Res, temani ibu di sini!" Brad kembali mengingatkan Resti untuk tetap berjaga menemani Melissa di resort ini.


Melissa digelandang masuk ke sebuah kamar yang super mewah. Fasilitasnya bahkan mampu melebihi luxury suite di hotel berbintang.


"Kamu lupa tempat ini?" tanya Brad sebelum ia berniat meninggalkan Melissa di kamar resort ini.


Melissa yang sejak tadi duduk membelakangi Brad, kini memutar posisinya sehingga bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah sang suami. Kemudian ia menggeleng guna menjawab pertanyaannya Brad.


"Di sini kita pertama kali bertemu, hingga aku membeli tempat ini. Karena tempat ini begitu bersejarah bagi kita, Sayang."


"Dasar munafik, sejak kapan gue kenal elu centong nasi? Jangan ngaku-ngaku deh!"


"Maaf aku melupakan hal itu," jawab Melissa seolah-olah menyesali ingatannya yang telah hilang. Tapi Melissa bisa bersumpah demi apapun, tak pernah sedetikpun mengingat Brad di resort yang katanya telah dibeli olehnya.


"Pokoknya kamu jangan macam-macam, tetap di sini dan jangan lakukan hal bodoh lagi!" Brad berdiri dari posisinya ia benar-benar berharap jika suatu saat Melissa bisa paham dengan keinginannya.


"Sepertinya yang bodoh siapa sih? Perasaan gue mulu yang dikatain bodoh? Nih orang tua lama-lama nyeselin."


"Iya-iya, bawel amat sih?" gerutu Melissa dengan menekuk wajahnya sepertiga dari keseluruhan yang menandakan jika ia sedang kesal.


Dengan melihat hal seperti itu, bukan semakin emosi, Brad bahkan semakin gemas dan iseng mengacak-acak rambut kecokelatan milik Melissa. Dan hal terduga lainnya, sebelum pergi Brad sempat mengecup pucuk kepala sang istri.


"Aku pergi dulu, tunggu aku kembali dengan tenang!"


"Najis amat, gue musti mandi air 7 sumur!"


**

__ADS_1


Selama Brad tak ada, tak sekalipun Resti melepaskan pandangannya dari Melissa. Tak sedetikpun. Pengawal wanita itu telah disumpah untuk selalu menemani Melissa sesuai SOP kerjanya.


Bahkan ketika Melissa hendak ke kamar mandi saja, Resti berniat ikut serta dan berakhir dengan perdebatan dengan Melissa. Untung saja, Resti mengalah, jika tidak bisa panjang urusannya jika cekcok dengan istri bosnya.


"Resti, kamu liat tasku, Nggak? Ada dompet dan ponsel yang penting bagi aku."


"Oh, tas dan isinya udah dibawa bapak tadi, Bu! sepertinya bapak membawanya ke Senayan."


"Eh, busyet ... itu barang-barang gue. Tuh orang sekate-kate emang." Emosi Melissa semakin berapi-api karena tak hanya sekali ini saja Brad berlaku seenaknya.


Tak mau kalah, Melissa sengaja berbuat sesuka hatinya. Bahkan ia bersikeras minta makanan ini dan itu untuk menghempaskan rasa kesalnya. Namun, semua itu justru bisa dituruti oleh pihak resort.


Selain mengingkan berbagai cemilan, Melissa juga mengajak Resti minum wine yang telah ia minta tadi.


Resti sempat meminta izin pada Brad untuk membawakan sebotol wine yang Melissa inginkan.


"Sepertinya ibu butuh pereda stress, Pak!" bujuk Resti di sambungan telepon karena Melissa mengancam akan menenggelamkan dirinya di bathtube.


"Okay, bawakan wine kualitas premium pada ibu. Tapi pastikan ibu tidak meminum terlalu banyak."


Resti lega dengan izin dari Brad. Setidaknya, hal buruk seperti tenggelam di bak mandi gagal terjadi olehnya.


"Hufft ... " Resti membuang napas lega.


Pikirannya melanglang buana jauh menembus tahun-tahun yang telah lewat. Ia mengingat kejadian beberapa tahun yang lampau.


Di mana ada seorang anak yang berusia sekitar 7 tahun menangis histeris karena kedua orangtuanya tak bisa pergi mengambil raportnya. Gadis kecil berkuncir dua itu, tak bisa membendung air matanya saat kedua orangtuanya meninggalkan dirinya dengan beberapa pengawal serta seorang perawat anak.


Pada saat itulah, seorang anak remaja SMA sedang memperhatikan dari kejauhan. Ia sungguh tak sampai hati membiarkan anak kecil yang kini masih bersimpuh di taman sebuah penginapan karena mengharap agar kedua orangtuanya tidak pergi meninggalkannya.


**


Tangisan dan kesedihan itu juga kini dirasakan oleh Melissa di dalam kamar mewahnya. Namun, mantan jurnalis itu tak mau menunjukkan kesedihannya pada Resti, sang pengawal. Ia menelan bulat-bulat kekalahannya hari ini dengan tegukan wine mahal dari Brad.


Ditemani oleh Resti yang ogah-ogahan mencicip, Melissa begitu luwes menenggak minuman fermentasi anggur tersebut.


"Bu, jangan banyak-banyak! nanti bapak marah."


"Alah biarin aja, mau banyak ataupun sedikit juga dia selalu marah. Karena aku tak pernah benar di matanya." rancau Melissa entah dia sadar atau tidak telah mengatakan hal tersebut.


**


Tepat seperti yang dikatakan oleh Resti, Brad begitu tercengang begitu tiba dari berkerja. Sejak memasuki kamar Melissa, hidungnya mencium aroma menyengat dari fermentasi anggur tersebut.


"Seberapa banyak dia minum, Res? Kau lupa tugasmu mengawasi ibu?"

__ADS_1


"Ibu bersikeras, Pak! saya sudah mengingatkan tapi ibu tetap ngotot."


Melissa yang telah jauh dari kesadaran, hanya mengacungkan jari telunjuk pada Brad, "Jangan sakiti dia! aku yang salah ayah!"


"Iya, kamu yang salah. Salah mengenali orang." Brad membenarkan posisi sang istri yang sudah tak mengenalinya.


Niatnya membawa Melissa ke sini supaya wanita itu melupakan kesedihannya malah berakhir dengan kejadian konyol seperti ini.


"Siapkan mobil, Mario!" pinta Brad sebelum ia mengangkat tubuh lemas Melissa untuk dibawanya pulang ke rumahnya sendiri.


"Kita pulang, Pak! tidak jadi menginap di sini?"


"Ibu udah gak perlu obat, udah sembuh!"


Brad dengan yakin membawa Melissa pulang kembali ke rumahnya.


**


Di dalam perjalanan, posisi ke empatnya masih sama seperti ketika mengunjungi resort tadi. Resti dengan Mario berada di kursi depan. Sedangkan Brad dengan Melissa yang sedang mabuk berada di belakang.


Keterbatasan Melissa untuk sadar, membuat wanita itu tanpa sadar menyenderkan kepalanya di pundak sang suami.


Hal seperti ini, belom pernah dirasakan oleh Brad sebelumnya. Ia bahkan sempat terlonjak ketika Melissa membenamkan wajahnya ke pundak hingga mendekati ketiaknya.


"Mario, kurangi kecepatannya. Biarkan ibu beristirahat!" pinta Brad pada si pengemudi mobilnya.


"Modus aja sih minta pelan, paling juga gak mau cepet-cepet turun dari mobil." gerutu Mario dalam hatinya.


"Besok kita ke butik Tory Burch, ya Bu?" Melissa meracau seolah-olah sedang berbicara dengan ibunya.


"Bisa-bisa dia dengan santainya berniat shopping setelah membuatku panas dingin seperti ini?"


Dua penumpang gelap yang merasa ngontrak di dunia ini telah menutup mata dan telinga mereka dari semua hal yang berada di kursi belakang. Baik Resti maupun Mario tak berani menoleh ke arah belakang.


.


"Berjanjilah padaku, ya?" ucap Melissa sebelum sebuah kejadian mengejutkan dilakukan olehnya.


"Apa??? Dia menciumku?" kedua manik kehitaman Brad seperti hendak mencuat ke depan saking tak percayanya. Seumur-umur baru kali ini seorang Melissa melakukan hal di luar batas seperti ini.


"Tambahkan kecepatan, bila perlu hingga full speed! kita pulang secepatnya, Mario!" ucap Brad sebelum benar-benar menyandarkan tubuh sang istri di kursi mobil mahalnya dan segera melakukan hal yang selanjutnya terjadi.


...****...


__ADS_1


__ADS_2