
Rencana menuntaskan pekerjaan dengan segera nyatanya hanya impian Brad semata. Dengan berat hati, Brad mengabarkan hal tersebut pada sang istri yang menunggunya demi membicarakan hal yang bersifat rahasia.
Namun, Melissa tak menaruh curiga sedikitpun atas terlambatnya Brad pulang. Sejak dulu, Mel tak pernah menyimpan keraguan sama sekali pada sang suami. Melissa juga sama sekali tidak pernah membayangkan bila Brad akan menduakan dirinya. Karena jikalau Brad mau, pasti hal seperti sudah dilakukan olehnya sejak dulu. "Lagi pula, itu tak ada hubungannya dengan aku, bukan?" gumam Melissa seusai menerima kabar dari Mario tentang gagalnya Brad pulang malam ini.
"Tenang saja, bukankah aku bebas jika tidak ada centong nasi itu?"
Tak bisa dipungkiri lagi, sempat terlintas di benak Mel untuk mengutuk keputusan Brad. Namun, semua itu kembali lagi kepada kesepakatan pernikahan mereka. Melissa tak memiliki hak melarang dan meminta sang suami menuruti kemauannya.
**
Seusai keputusan Rakernas yang mengusung Brad menjadi salah satu kandidat calon gubernur, partai yang dinaungi Brad mendadak mengadakan celebration salah satunya dengan pesta wine pada malam ini.
Hal seperti ini, sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan pesohor negeri. Termasuk kalangan politikus seperti Brad dan circle -nya.
Dan meski Brad telah berulangkali menolak dengan alasan mengurangi konsumsi alkohol. Tetapi, beberapa bapak-bapak yang merupakan rakan Brad selalu menawarinya wine. Selain itu, mereka juga menyediakan jasa wanita.
Untung saja, nasib Brad terselamatkan oleh bantuan dari Mario. Jika bukan karena Mario lah, Brad pasti sudah berakhir dengan kegilaan rekan-rekannya.
"Pak, jangan sampai hubungan baik yang baru saja Anda jalin dengan ibu rusak karena hal konyol seperti ini," keluh Mario sambil menyeret tubuh atasannya masuk ke dalam kamar hotel dengan fasilitas nomor wahid di kota kembang.
Selain menjadi sekretaris Brad, Mario juga menjaga sang bos agat tidak bersikap gila lagi seperti dulu. Jika tidak, Mario tak yakin Melissa akan mau membukakan pintunya untuk Brad.
"Bu, bapak pulang dengan selamat." tulis Mario pada percakapan dengan Melissa.
Namun, hal yang diharapkan oleh Mario tak terlaksana. Melissa sama sekali tidak membalas pesannya. Jangankan membalas, bahkan kondisi akun Melissa kini sedang off yang mengadakan jika wanita itu sedang tidak online.
"Ya sudah, setidaknya peperangan tidak jadi bergulir." gumam Mario lalu merebahkan dirinya di sofa ruang tamu kamar hotel Brad.
**
"Pak, saya akan keluar sebentar untuk merokok di smoking area!" Pagi ini, Mario meminta izin barang sebentar untuk melepaskan dahaga kecanduan nikotin-nya.
Selain Brad sendiri, keduanya memang kerap kali melakukan hal yang lumrah dilakukan oleh kaum adam seperti ini. "Jangan lama-lama, setelah mandi kita berangkat, Mar!" jawab Brad seketika memberi kelonggarannya waktu pada pegawainya.
Tak sampai hati Brad membiarkan bawahnya menderita. Setidaknya Mario bisa menghirup udara segar di sekitar area hotel.
Kepergian Mario dengan kelonggaran kewaspadaan memberikan kesempatan seorang wanita yang begitu berambisi untuk mendekati Brad.
Salah satu wanita yang pernah digunakan jasanya oleh Brad merasa kesal karena pria itu kini tak lagi memintanya untuk sekadar menemani waktunya.
Sehingga, dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Wanita sexy yang diketahui bernama Alana tersebut nyelonong masuk ke kamar yang dipesan oleh Brad.
"Apa yang kau lakukan di sini, wanita?" hardik Brad begitu keluar dari kamar mandi dan melihat seorang wanita tengah berpose dengan adegan yang begitu menggoda kaum lelaki.
__ADS_1
"Ayolah, Tuan! jangan heran, kita sering melakukannya, bukan?"
"Kau jangan mengada-ada, aku tidak mengenalmu dengan baik." Tentu saja, wanita seperti Alana bukan satu-satunya yang pernah menemani Brad. Sehingga pria tua itu tak bisa mengingat dengan baik siapa wanita yang pernah ia kencani.
"Anda kini jarang menghubungi aku, apa sudah ada yang baru?" Wanita dengan busana serba minim dan tipis itu kini mulai berjalan mendekati Brad.
"Keluar, jangan sentuh aku!"
"Anda bilang, hanya aku yang bisa melayani Anda dengan baik. Bahkan istri Anda tak sebaik aku. Lalu apa kini Anda sudah mulai melirik istri pajangan itu?"
Tepat sesudah Alana menguji kesabaran Brad, Melissa masuk ke kamar hotel sang suami. Niat ingin memberi sebuah kejutan pada hari ulang tahunnya malah Melissa mendapatkan kejutan lain dari sang suami.
"Maaf, i got the wrong time," ucapnya seraya meletakkan sebuah paper bag di atas sofa ruang tamu.
"Melissa?"
"Aku akan menemani papi di bawah dulu," Wanita yang dikatakan sebagai istri pajangan itu membalikan badannya karena merasa menjadi pengganggu dalam keadaan ini.
Sudah sejak lama, Melissa tahu kebiasaan buruk itu. Tetapi, selama ini ia bisa menerima. Namun, kata-kata Alana tadi sungguh menjelaskan posisinya saat ini.
Pria yang menjadi bulan-bulanan keadaan ini, hanya bisa melongo melihat kepergian Melissa. Karena Brad tak bisa mengejar Melissa dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya saja.
Segera saja Brad mengusir wanita murahan itu dengan ancaman akan melaporkannya pada pihak keamanan.
"Mungkin aku terlalu meletakkan hatiku dengan mudah, seharusnya aku tidak boleh goyah." Melissa turun ke lobi hotel seperti yang ia katakan tadi. Kebetulan di lobi Mel sempat berpapasan dengan Mario.
"Bu, ponsel Anda terus berbunyi!" Resti mengulurkan gawai milik Melissa dan si empunya segera membuka log panggilan terakhirnya.
Melissa segera menghubungi nomor yang tertera pada baris paling atas. Tak perlu menunggu lama, panggilan dari Melissa langsung terhubung dengan si penerima panggilan.
"Kita bicarakan secara langsung, saya akan ke sana!" ucap Melissa memutus panggilannya.
Papi terbengong melihat Melissa dengan buru-buru meminta tasnya dan mengajak Resti pergi terlebih dahulu.
"Loh, Mel? Kita mau merayakan ultah suamimu, bukan?"
"Melissa buru-buru, Pi. Katakan pada Brad, jika Mel ada hal penting yang harus Melissa kerjakan."
"Tunggu dulu, Nak! apa tidak sebaiknya kamu tunda?"
"Maaf papi, ini menyangkut kehidupan, Mel!"
Melissa tak memedulikan keberadaan sang mertua dengan tetap pergi seperti yang ia inginkan. Bahkan Resti juga sempat merasa tak enak hati dengan Papi tua yang merupakan mertua Melissa.
__ADS_1
"Bye, Pi!"
Pria berambut putih itu hanya bisa melepas kepergian sang menantu dengan berat hati karena ia bingung bagaimana menjelaskan pada Brad nantinya.
...****...
Kemarin
Kulihat awan membentuk wajahmu
Desau angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku
Semalam
Bulan sabit melengkungkan senyummu
Tabur bintang serupa kilau auramu
Aku pun sadari, ku segera berlari
Cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Firasatku ingin kau 'tuk cepat pulang
Cepat kembali, jangan pergi lagi
Akhirnya
Bagai sungai yang mendamba samudra
Ku tahu pasti ke mana 'kan ku bermuara
S'moga ada waktu, sayangku
Ku percaya alam pun berbahasa
Ada makna di balik semua pertanda
Firasat ini
__ADS_1
Rasa rindukah ataukah tanda bayang?