Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Tiga Puluh


__ADS_3

Jika rencana Melissa menikmati Baklava dengan perasaan nyaman, pada akhirnya harus gagal. Kegiatan menyenangkan itu berubah pupus mana kala Brad ikut menikmati kudapan khas timur tengah tersebut.


Jika bukan karena ingin melanjutkan pekerjaannya, Melissa harus berpuas menemani seorang pria tua itu bersantai malam ini.


Tentu saja Melissa lebih memilih mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Melissa sedang menyusun sebuah acara yang akan dilakukan di sebuah Galeri seni miliknya. Galeri yang dibangun sebagai hadiah pernikahannya dari Brad tersebut rencananya akan diadakan sebuah acara sebagai penggalangan dana.


Dan Brad tidak keberatan dengan hal tersebut. Pria itu luluh karena Melissa masih menganggap penting galeri yang ia peruntukan pada Melissa.


"Sudah cukup malam, Melissa belum selesai dengan pekerjaannya?" gumam Brad pada dirinya sendiri seusai mengguyur tubuhnya.


Sesekali ia masih sempat memperhatikan penampilannya sebelum keluar dari kamar yang siang tadi direnovasi. Brad menyisir rambutnya ke samping tak seperti penampilan formalnya. Hal ini membuatnya lebih percaya diri karena merasa tampak lebih muda meski hanya beberapa tahun saja.


Selain gaya rambut, pria itu juga mengenakan casual t-shirt agar terlihat tak kaku daripada biasanya. Ia yakin jika Melissa akan menyukai penampilan santainya ini.


Ingin segera berjumpa dengan Melissa, membuatnya mempercepat langkah kaki agar tiba di kamar Melissa sesegera mungkin.


Namun, justru pemandangan berbeda ditemukan oleh Brad. Melissa tengah tertidur pulas di atas kasurnya dengan posisi di samping notebook yang masih menyala.


"Mel ... Mel, kamu ini ada-ada aja." Bukanya marah, Brad melainkan tak dapat menahan tawanya melihat posisi tidur Melissa dengan mulut sedikit menganga serta ditumpuki oleh beberapa buku miliknya.


Wanita itu memang membawa barang-barang dari kantornya ke kamar ini. Brad melihat sekeliling kamar Melissa yang lebih mirip gudang buku bobrok karena berserakan.


"Gimana aku bisa tidur di sini?" ucap Brad lagi.


Politikus partai itu begitu kecanduan melihat wajah Melissa yang tengah tertidur. Tak memiliki niat lain, Brad memang ingin berlama-lama menatap Melissa yang tengah tertidur pulas.


Sehingga, pria dewasa tersebut berbaring di sebelah Melissa. Brad merasa risih dengan berserakannya buku-buku milik sang istri. Mau tak mau membuatnya harus mengambil langkah ekstra yakni memindahkan Melissa ke dalam kamarnya.


Brad mengangkat tubuh Melissa hanya dengan satu sentakan saja. Cukup mudah membawa Melissa dengan keadaan tertidur seperti ini karena wanita itu tidak mungkin akan memberontak. Bahkan, Melissa semakin dalam tidurnya dengan membenamkan wajahnya ke dada bidang sang suami.


"Colin, besok ingatkan aku untuk memasang lift di rumah ini!" ucap Brad pada kepala pelayan di rumahnya.

__ADS_1


Kepala pelayan paham dengan keinginan bosnya, Colin menganggap jika Brad pasti kerepotan jika harus menaiki tangga ke lantai paling atas dengan membawa Melissa.


**


Semalaman Melissa tidak menyadari jika ia berada satu tempat tidur dengan pria yang akan ia hancurkan pagi ini.


Netranya mulai membuka pelan-pelan, Melissa tidur dengan cukup nyenyak pagi ini. Begitu juga Brad, setelah ia mengganti tempat tidur dan ditemani oleh Melissa, Brad merasa jika tidurnya lebih nyenyak dari biasanya.


Melissa mengusap sebagian wajahnya, ia merasa sempit pada pagi ini. Setelah ia pikir-pikir, mungkin tumpukan buku yang semalam ia baca membuat tempat tidurnya lebih sempit.


Tempat tidurnya? "Tidak ... ini bukan di kamarku!" Melissa mulai tersadar dari tidurnya.


Keterkejutan Melissa semakin menjadi setelah ia melihat sosok pria yang tengah tertidur dengan tangan tertindih oleh kepalanya sendiri. Melissa hendak berteriak. Namun, mampu ia gagalkan dengan buru-buru membungkam mulutnya dengan kedua tangannya sendiri.


"Ini tidak benar!" Jurnalis lepas itu pun segera beranjak dari pelukan tangan kanan Brad untuk segera menghindar darinya.


"Pagi, Sayang ... apa kini tidurmu lebih nyenyak? Kurasa semalaman ini kau tak terbangun," Secara kebetulan, Brad terbangun dari tidurnya sebelum Melissa melangkah keluar dari kamar.


"Jika kurang lama, kamu bisa beristirahat lebih lama lagi,"


"Oh tidak, hari ini aku akan pergi ke stasiun televisi." Stasiun televisi yang dimaksud adalah HTV milik ayah Melissa.


Brad mengurangkan niatnya barang bersantai sebentar begitu Mel mengatakan kesibukannya hari ini.


Pria tua itu pun mengikuti Melissa bersiap-siap menjalani aktivitasnya seperti biasa.


**


Mata Brad menatap tajam layar ponsel miliknya. Tangannya mengepal erat. Baru saja Brad mendapati sebuah laporan dari Mario tentang berita yang mengupas masa lalu Melissa.


Jika pandangan Brad masih terpaku pada layar smartphone miliknya, Mario tengah berharap-harap cemas dengan berdiri di samping Brad.

__ADS_1


"Ada apa? Apa ada masalah?" Melissa datang menyela sebelum duduk di depan sang suami seperti kegiatan paginya yang menunggu pembacaan jadwal dari Mario.


"Ada berita negatif yang ditujukan untuk Anda, Bu!" Mario memberikan tab yang ia bawa untuk diperlukan pada Melissa.


Mel membaca sembari mencerna artikel yang tertulis dengan tajuk namanya. Tak hanya itu saja, foto lamanya bersama Ari Dinata juga tak kalah eksis ingin tampil beda.


"Tenang saja, Sayang! aku akan menyelesaikan ini dengan segera." Brad meyakinkan Melissa untuk tidak mengkhawatirkan berita tersebut.


"Apa ini benar? Berita ini benar? Jika benar, berarti selama ini aku berselingkuh di belakang kamu?" Serbuan pernyataan Melissa menggema di ruang makan pagi ini.


"Tim humas telah menghandle berita ini, Bu. Official media sosial Bapak serta ibu telah mengklarifikasi. Jika perlu kita bisa gunakan jumpa pers untuk membuktikan kesalahan tersebut. Bapak juga akan menuntut media yang memberitakannya."


Wajah Melissa berubah menjadi sendu, ia tak tahu lagi harus bagaimana kali ini. "Maafkan aku, aku telah menyusahkan kalian semua."


Brad kembali menyakinkan Melissa, "Jangan seperti itu, Mel. Ini sudah menjadi tugasku untuk melindungi kamu." Sang suami yang dulu tak bisa diandalkan, kini menggenggam erat tangan Melissa.


"Aku tak pantas mendapat ini, aku istri yang kotor." Melissa bangkit dari tempat duduknya. Ia permisi meminta untuk menenangkan diri.


Dan Brad tak bisa mencegah hal itu, "Baru saja kami berbaikan, aku rasa bedebah itu ingin menjauhkan Melissa dariku."


"Syukurlah, Pak. Jika Bapak telah berbaikan. Setidaknya risiko perpisahannya bisa dicegah."


"Aku tidak akan melepaskan siapapun yang telah mengusik kehidupan kami." Sumpah Brad tersebut tak lain karena rasa tanggungjawabnya pada Melissa. Ia tak ingin Melissa kembali sakit hati lagi.


Jika Brad akan sekuat tenaga dengan mati-matian menjaga pernikahannya bersama Melissa, jauh berbeda dengan Melissa.


Wanita itu kini tersenyum licik di dalam kamarnya. Karena rencana yang telah ia susun sederhana rupa berhasil mengguncang Brad dan antek-anteknya. Jika selama ini Brad sangat menjaga nama baiknya, pagi ini Melissa bisa memporak-poranda nama baik itu hanya dengan sebuah artikel. Selain itu, Melissa juga memiliki alasan untuk mengajukan sebuah perpisahan.


Kini, Melissa dengan bangganya sambil mengipaskan sebuah laporan autopsi mobil miliknya. Hal besar yang belakangan diketahui oleh Melissa jika kecelakaannya adalah sebuah kesengajaan. Dan ada kaitannya dengan sang suami.


...****...

__ADS_1



__ADS_2