
Minta like dan komennya dong, Yank ❤️
Atas desakan serta bujuk rayu dari Brad yang mengatakan jika orangtua Melissa telah menitipkan padanya, membuat wanita yang kini merasa dirinya masih muda itu bersedia untuk pulang bersama orang yang dianggapnya om-om kurang kerjaan tersebut.
Dan meskipun Ari juga ngotot melarang agar Melissa pergi bersama suaminya yang kejam, pria itu tak bisa berkutik ketika Brad menunjukkan statusnya pada Ari.
Pengacara single itu mengepal erat tangan kanannya dan meninju kosong ke udara karena tak gagal melindungi Melissa.
Selama di perjalanan pulang ke Menteng, Melissa sama sekali tidak membuka mulutnya. Bukan karena takut dengan pria tua yang duduk di kursi belakang. Namun, Melissa takut jika pria itu mengadu hal yang buruk kepada ayahnya.
"Jangan keluar dari rumah tanpa izin dariku!" Brad mulai memperingati Melissa agar tidak bertindak semaunya sendiri. Pasalnya, pria yang berusia empat puluh tahun itu takut jika suatu saat Melissa kembali menyadari kemampuan mengingatnya.
Egois, iya Brad memang egois. Semua itu dilakukan olehnya demi menjaga kehormatan dan harga dirinya.
"Aku tidak tahu jika ayah memiliki teman seperti dia!" pikir Melissa.
Wanita itu kini sedang membaringkan tubuhnya di atas sebuah ranjang berukuran sedang. Kamar tersebut merupakan kamar yang diberikan Brad untuk Melissa selama tinggal di kediamannya.
Dalam keadaan merasa seperti seorang remaja saat ini, Melissa tidak terlalu mempedulikan rumah serta suasana tempat tinggalnya. Saat ini yang ada di pikiran Melissa adalah segera mencari cara untuk menghubungi sang ayah. Karena sejak kejadian kabur dari rumah sakit, Melissa belum sama sekali menghubungi sang ayah.
Melissa keluar dari kamarnya dan mencari bantuan pada siapapun yang bersedia meminjamkan ponsel padanya.
"Permisi, bisakah aku meminjam handphone milik Anda?" tanya Melissa dengan cukup ramah pada salah satu karyawan di rumah Brad.
__ADS_1
Karyawan tersebut telah menerima kabar sakitnya Melissa. Sehingga mereka telah bersiap dengan keadaan yang mungkin akan terjadi.
"Saya tanyakan dulu pada bapak ya, Nona?"
"Bapak siapa sih? Om yang suka marah-marah gak jelas itu ya?" tanya Melissa menirukan suara Brad ketika memarahi pegawai di rumahnya.
Pelayan pun terbengong mendengar Melissa menyebut Brad dengan Om, "Benar yang dikatakan oleh Pak Brad, Nona benar-benar kehilangan ingatannya."
"Gak bakal dibolehin lah, aku jamin." Melissa mengurungkan niatnya menghubungi sanga ayah karena pasti Brad tidak akan membiarkannya menghubungkan Hans Effendi.
Wanita itu kembali ke kamarnya yang berada di lantai satu ini. Jika dipikirkan, kamar untuk Melissa di rumah ini tak lebih besar dari kamarnya dahulu. Kamar ini merupakan kamar tamu yang disediakan oleh Brad untuknya.
Hanya ada satu lemari pakaian dan meja rias di dalam kamar. Melissa kemudian duduk di depan cermin dan melihat bayangan dirinya. "Kenapa wajahku kering seperti ini? Astaga, ibu pasti akan marah karena aku sering mengabaikan merawat diri." gumam Melissa mengelus pipinya.
"Besok sepulang sekolah, aku akan mampir membeli masker dan serum wajah," Mel kembali bangkit dan berjalan menuju lemari di dekat meja rias tadi.
Betapa terkejutnya Melissa ketika melihat beberapa coat serta blazer yang tergantung di sisi kiri lemari.
Semua jenis pakaian ini sangat norak menurutnya.
"Punya siapa ini? Masa iya kaya emak-emak gini baju buat aku?"
Mata Melissa kembali dikejutkan dengan beberapa potong pakaian tanpa lengan di sebelah blazer. "Ya Tuhan, apa ini gak salah? Bisa masuk angin gue?"
__ADS_1
Melissa bergidik ngeri memikirkan jika Brad lah yang memilihkan baju untuknya. Ia telah banyak menonton drama televisi tentan CEO arogan yang menculik gadis muda untuk dipaksa menjadi istri dengan mencukupi kebutuhannya.
"Oh Gosh ... No Way!" Melissa menutupi kedua bagian depan badannya dengan kedua tangannya Karena membayangkan Brad yang mesum.
"Apa tuh orang gak punya istri ya? Kenapa sepi sekali rumahnya? Anak pun juga gak ada."
Melissa berpikir keras mencoba mencari ide untuk melarikan diri dari rumah mewah ini. Masa iya Melissa mau dijadikan istri muda? Nggak lah yau.
**
Melissa membuka kedua maniknya begitu secercah cahaya mentari menyilaukan matanya. Seorang pelayan telah masuk ke dalam kamarnya dan membuka gorden jendela Nona Melissa mereka.
"Selamat pagi, Nona!"
"Pagi juga, ini jam berapa?" tanya Mel dengan menguap dan tak lupa mengucek kedua matanya.
"Jam tujuh, Nona!"
"Apa? Jam tujuh? Kenapa kau tak membangunkan aku lebih awal? Aku sudah telat." Melissa mencampakkan selimut dan berlari ke kamar mandi di dalam kamarnya.
"Bodoh banget gue, hari ini ujian hari kedua. Mana Bu Susi lagi pengawasnya."
...*"""*...
__ADS_1