Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Namanya Juga Bumil, Harap Tahan Emosi Anda!


__ADS_3

"Sepertinya lu lebih bahagia jauh dari suami lu deh, Mel?" sindir Gladys pada Melissa. Kedua teman lama itu tak sengaja bertemu di salah satu pusat perbelanjaan mewah di bawah Menara Sidney.


Kedua ibu dan calon ibu muda tersebut melepaskan dahaga akan naluri sebagai wanita dengan berbelanja barang mewah bersama. Bukan hanya mengoleksi barang kelas atas, dua wanita sosialita itu juga memiliki hobi yang sama, yakni cuci mata jika suami mereka tak menemani.


"Gue udah biasa, kek lu kagak pernah tau idup gue aja! bahkan semenjak meninggalkan Jakarta, bisa diitung deh berapa kali kita video call-an."


"Itu elu yang kagak mau apa laki lu yang over sibuk sih, Mel?" Gladys begitu ingin tahu seperti apa cara teman lamanya menahan rindu. Setidaknya, istri Naka itu bisa mengikuti metode Melissa jika Naka pergi bepergian jauh darinya.


"Enek gue liat muka laki gue, Dys!"


"Ya ampun ... bawan orok kali, Mel?"



Begini nih penampakan ibu muda masa kini yang tergabung dalam perkumpulan emak-emak pengeruk harta para suami.


Jika dipikir-pikir, selama ini kehamilan Melissa yang tak pernah mengalami kendala memang cukup mudah dijalani. Tetapi Melissa sedikit berpikir ulang setelah Gladys menyebutnya jika bawaan orok karena Melissa begitu keberatan melihat wajah Brad. Bahkan sering Brad menghubunginya, tetapi Melissa mengabaikannya hanya karena perbedaan waktu yang tak cukup jauh.


Selama masa kampanye seperti sekarang ini, waktu Brad benar-benar tersita. Jangankan untuk sekadar menanyakan keadaan Melissa, untuk mengisi perutnya saja ia tak sempat. Semua itu dilakukan oleh Brad demi memenangkan hati Melissa dengan membawakan berita bagus yakni menjadi orang nomor satu di provinsi tempat tinggalnya.


Berbagai cara dilakukan oleh Brad dan tim suksesnya. Jika pada awal masa pencalonannya Brad memiliki nilai elektabilitas yang tinggi, beberapa hari terakhir sempat turun lantaran pihak lawan lebih gencar melakukan kegiatan yang memicu simpati warga.


"Jangan khawatir, warga akan memilih berdasarkan hati nurani mereka." ucap Brad kala mendapatkan laporan dari tim sukses jika saingan mereka melakukan aksi turun ke rumah-rumah penduduk.


Tidak hanya itu saja, gempuran juga datang dari pihak media. Termasuk televisi milik sang mertua. Entah mengapa Hans lebih memilih menjadi pihak oposisi bagi sang menantu.


HTV menolak menjadi salah satu televisi yang meliputi secara langsung jalannya Pilkada. Ingin menjadi pihak netral, adalah alasan yang dibeberkan oleh CEO HTV.

__ADS_1


Serangan media yang bertubi-tubi, tak membuat Brad diam hanya berpangku tangan saja. Bahkan ketika identitas sang istri yang notabene putri pemilik stasiun televisi HTV terbongkar, Brad hanya mengiyakan saja. Dan meminta doa serta dukungan saja dari pemirsa.


Mendekati masa tenang seperti hari ini, dimanfaatkan oleh Brad untuk menghubungi sang istri di kediaman sang mertua.


Sejak pagi tadi, Melissa tak kunjung membalas beberapa pesan yang ia kirimkan. Hanya kemarin Melissa sempat protes padanya agar Brad tidak mengirimi wanita itu bunga mawar lagi.


"Jangan kirimi aku bunga lagi! lama-lama aku bisa membuka toko bunga."


"Kenapa, Mel? Bukankah ini romantis?"


"Aku tak suka bunga mawar, Brad!"


"Lalu sukanya bunga apa?"


"Bunga Bank! sebelum depositomu cair, jangan beri aku bunga lagi!"


Permintaan Melissa kemarin itu bersambut dengan gelak tawa dari Brad. Pria itu tak menyangka jika kehamilan membuat Melissa sedikit materialistis.


"Mel, kenapa tak membalas pesanku, sih?" Brad langsung memberondong Melissa dengan pertanyaan spontanitasnya.


"Tadi aku keluar bersama Gladys, emang kenapa?" Dan hamil tak membuat Melissa sedikit lebih lembut pada Brad.


"Kok kenapa sih, kamu gak kangen sama papa bayimu?"


Brad mengubah panggilan mereka menjadi sebuah video call secara mendadak hanya demi meredakan dahaga kerinduan dengan sang istri.


"Kenapa kangen? Kita udah terbiasa berjauhan seperti ini, bukan?" Melissa menyambut panggilan video itu.

__ADS_1


Dalam keadaan Malas-malasan di atas tempat tidurnya, Melissa menerima panggilan Brad sambil menonton serial Netflix favoritnya.


"Beda dong, Mel! aku bahkan belum memberikan nutrisi tambahan untuk anak kita,"


"Putramu tak butuh nutrisi, Brad! dia hanya perlu transfer an dari papanya saja," Dengan enteng Melissa menjawab permintaan sang suami.


"Putra? Jadi ... Mel kamu sudah tahu dia ... " Brad tak bisa berkata-kata lagi, ia sangat girang hingga tak bisa menahan rasa syukurnya.


"Iya, aku tadi mengunjunginya. Dia sehat seperti ibunya yang hobi belanja."


"Benarkah? Baiklah, Mel! kalau begitu habiskan saja uangku agar putraku sehat. Belanja lah sesuka hatimu agar putra kita sehat."


"Ya sudah, aku tutup dulu, ya? Gak enak kalau didengar ayah atau ibu. Karena kamu kembali masuk dalam masa training."


Brad tersenyum geli jika Melissa menyebutnya kembali masuk dalam masa uji coba karena kesalahpahaman beberapa bulan kemarin. Namun, semua itu ada hikmahnya. Setidaknya Brad bisa menunjukkan kesungguhannya pada orangtua Melissa.


"Baiklah, doakan aku lusa ya, Sayang?"


"Aku sih kudu netral, Brad! tapi putramu pasti mendukung papanya."


Selama tiga hari ini, jantung Melissa berpacu lebih cepat. Bahkan ketika mendekati hari H seperti ini, Melissa tak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan sang suami.


"Itu saja sudah cukup, maka tunggulah kemenanganku, Mel!"


"Jangan banyak omong, Brad! aku butuh bukti bukan janji seperti kampanyemu."


Brad mati kutu jika berurusan dengan mantan jurnalis wanita yang memiliki lidah tajam seperti Melissa. Karena golongan seperti Melissa mampu mendekati sinyal kebohongan dan juga bualan wakil rakyat pada umumnya.

__ADS_1


...****...



__ADS_2