Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Melissa benar-benar telah mulai menjalankan rencananya. Jika ia tak bisa secara terbuka membalaskan dendamnya pada Brad, maka ia akan mulai melakukannya dengan hal kecil yang akan membuat pria itu merasa tersiksa.


Jangan sebut namanya Melissa jika tidak bisa membalikkan keadaan. Lalu mengapa Melissa merencanakan aksi balas dendamnya pada Brad?


Semua yang telah direncanakan oleh Melissa tidak mungkin akan terjadi jika ia tidak mendapatkan dukungan.


Sebelum pergi meninggalkan ruang kerjanya di Woman's Daily, Melissa sempat mengamankan beberapa barang penting dalam laci yang password-nya hanya diketahui olehnya.


Melissa berhasil membuka sistem keamanannya, "Aku tidak menyangka jika terlalu mudah menebak sandiku ini, lain kali harus lebih hati-hati lagi." ujarnya begitu tempat penyimpanannya telah ia ketahui sandinya.


Wanita itu telah mengamankan beberapa hasil kerjanya, seperti beberapa hasil wawancara dari beberapa sumber yang pernah ia tanyai. Tak hanya itu saja, Melissa juga mendapatkan sebuah kenyataan pahit jika selama ini ia telah merencanakan untuk menggugat Brad Owen.


Dalam perjalanan menuju kediaman Brad lah, Melissa mulai menimang serta memperkirakan risiko jalan yang akan ia pilih nantinya.


Salinan gugatan itu ada di tangannya, dan Melissa sempat mempelajari rencana perceraiannya.


"Berarti selama ini dia membohongiku? Hubungan kami tak baik-baik saja,"


Resti tidak mencurigai istri bosnya karena Melissa tidak menunjukkan sikap yang aneh ataupun mencurigakan.


"Pulanglah, aku tidak memiliki jadwal apapun. Aku hanya ingin beristirahat!" suruh Melissa pada asisten yang ditugaskan Brad untuk mengawasi dirinya.


"Jika ibu memerlukan bantuan, Anda bisa memanggil saya. Karena saya akan standby di depan rumah seperti yang Bapak inginkan."


Melissa menatap nanar Resti dengan sikap kedisiplinannya. Alangkah menderitanya wanita muda ini dalam menjalani pekerjaannya.


"Terserah kamu, toh mau aku katakan kaya apapun hasilnya pasti akan tetap sama." ucap Melissa dan keluar dari mobil menuju rumah mewah di bilangan Menteng Jakarta Pusat tersebut.


Kaki Melissa mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Namun, ia merasa jijik dengan rumah ini. Entah mengapa rasa itu kini menggerogoti hatinya.


Sejenak, Melissa menarik napasnya dalam dan berusaha sekuat tenaga untuk menepis hal ini agar tak menganggu rencananya.


Ia akan melakukan tugasnya seperti yang dituduhkan oleh Brad padanya. Jangan panggil dia Melissa jika tak bisa mengalahkan pria tua itu.


**


Tepat pukul setengah sebelas malam Brad pulang ke kediaman mewahnya. Matanya mendapati sepasang sandal rumahan yang disusun rapi seperti sedang menunggu tuannya untuk segera dikenakan. Tepat di sebelah lemari susun alas kaki, sepasang sandal dengan ukuran kakinya diletakkan dengan rapi.

__ADS_1


Entah ada angin apa yang merasuki pria itu, tiba-tiba Brad mengganti alas kakinya dengan sandal rumahan yang telah disediakan.


Seorang pelayan datang membantu membawakan barang kerjanya. Brad mulai mengadili pelayan tersebut, "Semuanya aman?"


"Sangat aman, dan terkondisi. Nona sangat antusias menyiapkan kebutuhan."


Benar seperti yang dilaporkan oleh pelayan, selain hal kecil seperti sendal rumahan. Melissa juga menyiapkan makan malam untuk Brad meskipun pria itu menolaknya dengan alasan telah makan di luar.


Keterkejutan Brad juga semakin menjadi ketika melihat seorang wanita tidur meringkuk di dalam kamarnya.


Kedua mata Brad terbelalak dan nyaris tidak percaya melihat penampakan Melissa yang tengah tertidur di ranjangnya. "Apa ini nyata?"


Politikus muda itu berjalan mengendap memastikan pandangan matanya. Benar adanya, Melissa terlelap dengan posisi meringkuk seperti seorang anak kecil yang tengah tertidur.


"Untuk apa dia tidur di kamar ini? Melissa, kamu salah mengenali kamar!" ucap Brad pelan seusai memastikan apa yang baru saja ditangkap oleh indra penglihatannya.


Tubuh Melissa bergerak, menggeliat. Mungkin wanita itu merasa terganggu dengan kehadiran Brad di dalam kamar.


"Kamu sudah pulang?" tanya Melissa dengan mengucek kedua maniknya.


"I-iya, apa aku mengganggumu?" Kata-kata Brad sedikit terbata karena tak terbiasa dengan suasana seperti ini.


"Benarkah Melissa mengatakan hal ini?" Sepanjang ia menjalin rumah tangga bersama Melissa, Brad sama sekali tidak pernah mendengar pembicaraan seperti ini. Jangankan bersedia menghidupkan water heater tersenyum dengannya saja sama sekali tidak pernah.


"Iya," jawabnya seraya pergi meninggalkan Melissa yang masih berada pada posisinya.


Melissa benar-benar menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri seperti yang telah dikatakan oleh Brad dan kepala pelayan jika selama ini hubungan rumah tangganya baik-baik saja.


Brad mulai membasahi kepalanya agar ia mampu membedakan mana yang ilusi dan juga kenyataan. Rasa segar dan hangat dari air yang keluar seperti yang dikatakan oleh Melissa membuatnya tersadar jika semua itu nyata. Nyata jika Melissa telah melakukan hal sebagaimana mestinya.


Namun, semua itu malah membuat Brad merasa canggung. Entah apa yang ada di benak pria dewasa itu. Brad merasa menyesal telah membohonginya Melissa. Tapi, Brad juga bersyukurlah dengan hal ini. Setidaknya dengan begini, Melissa bisa terus di sisinya.


Setengah jam kemudian, Brad keluar dari kamar mandi karena lebih lama sedikit dari waktu mandi biasanya. Brad semakin tertegun ketika melihat Melissa yang tidak beranjak dari tempat tidurnya.


"Kenapa? Apa kamu ada masalah?" tanya wanita yang mengenakan piyama dan masih menunggu Brad di ranjangnya.


"Tidak, Mel. Kamu belum tidur?"

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi," jawab Melissa lalu beranjak dari ranjang berukuran king size tersebut.


Melissa berjalan mendekati sebuah meja yang berlaci. Tangannya secara kilat mengambil sebuah hair dryer dan membantu Brad mengeringkan rambutnya.


Brad shock dan jantungnya nyaris tak berdetak. Pria itu benar-benar tak percaya jika Melissa melakukan hal ini padanya.


"Mel, aku bisa sendiri! kamu tidurlah,"


Untuk mengurangi rasa canggungnya, Brad segera mengenakan pakaian berupa kaos longgar dan keluar dari kamar guna menghindari Melissa yang terus melakukan hal layaknya seorang istri.


Anggota DPR RI fraksi PBKB itu masuk ke dalam ruang kerja yang terletak di sebelah kamarnya guna menghindari Melissa. Seusai menutup pintu, Brad mengelus jantungnya yang hampir tak berdetak.


Ia berjalan lunglai di sebuah kursi yang menghadap ke jendela dan segera menuang whiskey ke dalam gelasnya. Pria itu butuh sebuah minuman beralkohol untuk menenangkan pikirannya.


"Ini salah, dia tidak seperti biasanya."


**


Sejam sudah Brad menyendiri di ruang kerjanya. Ia berniat kembali ke kamar untuk memastikan jika Melissa telah tertidur atau belum, jika belum Brad berniat memberi tahu Melissa yang sebenarnya agar hatinya tidak was-was seperti ini.


Namun, Brad tak mendapati wanita yang tadi menjadi penghuni baru kamarnya.


"Melissa?" Brad memanggil namanya.


Pria itu tak mendapati sang istri di dalam kamarnya. Langkah kaki Brad menuntun politikus muda itu masuk ke dalam kamar mandi. Tetap, keberadaan Melissa tak ia temukan.


Brad kembali ke ranjang berukuran besar yang tadi ditiduri oleh Melissa dengan tangan kosong. Kemudian ia beranjak keluar dari kamar dan menuruni anak tangga ke lantai di bawahnya.


"Melissa ke mana?" tanya Brad pada salah satu pelayan yang kebetulan lewat di depannya.


"Maaf, Pak. Saya tidak melihat nona sejak naik ke lantai tiga." Lantai tiga merupakan kamar Brad, dan salah satu pelayan tersebut mengatakan jika belum melihat Melissa.


Lalu ke mana Melissa?


...****...


__ADS_1



__ADS_2