Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Pria Tua Bertenaga


__ADS_3

Melissa berjalan mondar-mandir di depan jendela kamarnya. Ragu, ia segera menepis keinginannya untuk menghubungi sang suami.


Berulangkali Melissa mencoba untuk tetap bersikap classy dengan tidak mengurusi berita tersebut. Namun, rasa gengsi Melissa nyatanya mampu terkalahkan oleh rasa perhatiannya.


Melissa membuang seluruh egonya dengan menghubungi sang suami yang baru saja berjuang demi mempertahankan rumahtangganya. Melissa ingin memberikan ucapan selamat serta reward atas kemenangan yang dicapai Brad.


Tetapi ... satu kali suara tut dari panggilan Melissa yang terabaikan. Dan menyusui beberapa suara tut berikutnya yang menandakan Brad tak mengangkat panggilan darinya.


"Mungkin dia sibuk! atau tak sempat melihat ponsel," gumam Melissa yang berniat menutup panggilannya.


"Hallo, Bu Melissa?" Sebuah suara mengejutkan Melissa bahwasanya ada orang lain yang membawa ponsel Brad.


Suara itu begitu mudah dikenal Melissa, karena suara pria yang telah lama bekerja dengan Brad tersebut mudah diketahui Melissa.


"Oh, Mario ... apa bapak ada?"


"Maaf sebelumnya, Bu! Bapak sedang bersiap melakukan konferensi pers secara live. Dan saat ini bapak sedang mempersiapkan pidato kemenangan beliau."


Meski ada getir yang menjalar. Namun, di hati Melissa timbul rasa bangga pada sang suami yang begitu memenuhi tantangannya serta serius dalam pekerjaannya.


"Ya sudah, kamu bantu bapak saja."


"Mungkin ada yang ingin Bu Melissa sampaikan pada beliau?" Mario dengan begitu bersemangat ingin menyampaikan pesan dari Melissa pada Brad yang begitu mendambakan cinta sang istri.


"Tidak, Mar! lupakan saja!" jawab Melissa dengan pelan.


"Benarkah? Ya sudah jika tidak ada!"


Sedikit lama Melissa berpikir dan terdiam seolah ingin menyampaikan sesuatu pada Brad lewat Mario. Dengan malu-malu Melissa menyampaikan bahwa, "Aku tak ingin jadi janda," ucap Melissa begitu cepat lalu memutuskan sambungan telepon internasional dengan Mario.


Mario tercengang, kedua matanya bahkan tak berkedip mendengar kejujuran dari istri bosnya. Seumur-umur Mar bekerja dengan Brad, baru kali ini Melissa membahas hal yang mengejutkan seperti tadi bersamanya.

__ADS_1


Mario segera berjalan cepat menghampiri Brad yang kini mendapatkan pelayanan guna menata penampilannya sebelum melakukan konferensi pers bersama tim pendukungnya.


"Ada apa, Mar?"


"Anu, Pak!"


"Apaan, sih?" Brad semakin kesal dengan tingkah serta kerumitan Mario.


Sedangkan Mario sendiri bingung bagaimana caranya ia memulai untuk mengatakan pesan dari Melissa.


Sehingga Mario menemukan sebuah ide, Mario berjalan mendekati Brad yang tengah berkaca di depan cermin guna memperhatikan penampilan sebelum live.


Mario mendekatkan wajahnya ke telinga Brad yang menandakan jika pria itu ingin membisikkan sesuatu yang sangat rahasia untuk Brad.


"Tadi, Bu Melissa menelepon ke ponsel Anda, Pak."


"Terus, langsung kamu angkat kan?"


Mario mengangguk dan mulai memikirkan cara kerangka kata menjadi kalimat untuk mulai menjelaskan pada Brad.


"Tidak, Pak! salah. Bu Melissa berkata tak ingin menjadi janda."


Wajah Brad yang tadinya begitu tegang seusai pengumuman sementara, kini mulai mengendur dengan santai lantaran pengakuan jujur dari Melissa.


"Siapkan penerbangan secepatnya setelah aku menyelesaikan urusan live ini!" ujar Brad memberi perintah pada Mario dan mulai membetulkan letak jas bermerek Brioni Vanquish II, setelan pria yang berlapis emas ini dipilih oleh fashion stylish Brad agak berbeda dari pagi saat kedatangan ke rumah pemenangan. Dengan barang mewah ini, penampilan Brad yang terkesan mahal akan memberikan efek penindasan pada pihak lawan yang telah kalah.


"Hari ini juga, Pak?" Mario mengkonfirmasi ucapan Brad yang masuk ke telinganya.


"Sebenarnya saat ini juga, tapi mau bagaimana lagi. Setelah live ini aku akan terbang ke New South Wales."


Brad sudah tak tahan lagi untuk segera menyeret pulang sang istri dan tak akan membiarkannya pergi lagi begitu saja.

__ADS_1


**


Sekitar pukul satu dini hari waktu Sidney setempat. Melissa yang tengah tertidur lelap merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya.


Untuk menghindari rasa tak biasa ini, wanita yang tengah mengandung tersebut segera menarik selimutnya ke atas untuk menutupi seluruh badannya.


Namun, keinginan Melissa tersebut mampu digagalkan. Indera penciuman Melissa menangkap bau body mist maskulin. Tak hanya wangi parfum saja yang menguar sehingga membuat Melissa juga menggeliat, sentuhan serta belaian yang bertubi-tubi membuat wanita itu merasa terganggu dengan tidurnya.


"Sialan!" umpatnya di dalam hati begitu ia mulai tersadar jika ada seseorang yang lancang masuk ke dalam kamarnya.


"Pergilah! jangan ganggu aku!" pinta Melissa dengan sedikit meracau meski tak jua membuka kedua maniknya.


"Katanya nggak mau jadi janda?"


"Lepaskan, Brad! kamu bisa menyakiti putramu,"


"Ouh ayolah, Sayang! putraku pasti akan mendukung papanya." ucap Brad lalu menangkup kedua tangan Melissa ke atas hingga menyentuh headboard.


"Terakhir kali kamu mabuk dan bertidak liar, Brad!"


"Kali ini aku janji tidak akan menyakiti kamu, Mel! kita melakukannya dengan perasaan saling memiliki, bukan?"


"Gombal, aku membencimu dasar pria tua!" Meski dalam keadaan terjepit, nyatanya Melissa masih bisa mengolok-olok sang suami.


"Tapi pria tua ini masih bertenaga, Sayang!"


"Singkirkan tangan dan mulutmu dari tubuhku!"


"Tidak bisa, sudah terlambat!"


...****...

__ADS_1




__ADS_2