Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Dua Puluh Enam


__ADS_3

"Melissa .... "


Melissa menoleh ke arah suara yang memanggil namanya.


Rupanya sosok yang memanggil Melissa adalah teman lamanya. Secara kebetulan, Ari datang ke kantor Melissa sebagai kuasa hukum rekanan Woman's Daily.


"Hai ... " sahut Melissa melambaikan tangan ke arah Ari dengan wajah yang berseri-seri. Ia lupa jika selama ini Ari masih menganggapnya kehilangan ingatan.


"Kamu mau ke mana? Kenapa bawa barang-barang tempat kerja, Mel?" Ari menemukan kecurigaan ketika Melissa hendak memasukkan barang di dalam boksnya ke bagasi mobil.


Melissa membuang pandangan seraya berkata, "Aku keluar dari kantor ini!" Jawaban itu cukup mengejutkan bagi Ari Dinata. Pasalnya yang selama ini ia tahu, Melissa sangat bertanggung jawab atas keputusan yang ia pilih. Wanita itu tidak pernah bermain-main dengan pekerjaannya.


Sehingga membuat Ari, menahan kepergian Melissa dengan menggenggam tangannya, "Katakan ini hanya bohong. Kamu berbohong 'kan, Mel? Kamu tidak mungkin keluar dari apa yang selama ini kamu perjuangankan."


Melihat istri dari atasannya berpotensi mengalami kekerasan baik itu verbal ataupun non verbal, membuat Resti keluar dari mobil guna segera mengamankan Melissa dari pria asing. Selain itu, Resti juga ditugaskan untuk melindungi Melissa dalam keadaan apapun.


Resti maju mendekati Ari yang tengah menahan kepergian Melissa. "Lepaskan tangan, Anda dari Bu Melissa!"


Ari tak menghiraukan apapun, baginya keselamatan dan keamanan Melissa adalah hal yang utama. Dan kepergian Melissa dari kantor ini, ingin ia konfirmasi langsung dari mulut wanita pujaannya.


Melissa menatap Ari dengan sendu, "Maaf, saya wanita yang telah bersuami."


Mel menahan agar bulir di matanya tak jatuh. Derai yang hendak menghilir segera ia tahan agar tak sampai diketahui oleh orang lain.

__ADS_1


Tertegun hingga nyaris tak bisa berdetak jantung Ari. Selama ini Melissa yang ia kenal tak pernah sekalipun bersikap dingin seperti ini padanya, "Kamu kenapa, Mel? Aku tahu ingatkan kamu belum kembali, tapi jangan seperti ini padaku. Apa dia telah mempengaruhi kamu?"


"Maafkan aku, Kak! aku harua menjaga batasanku. Jika dulu aku bersikap tak dingin dan mengabaikan batasan, mungkin aku telah khilaf. Karena aku seorang wanita yang telah menikah, maka jangan sentuh aku." Melissa melepaskan genggaman tangannya Ari.


Resti segera membawa serta istri bosnya masuk ke dalam mobil berplat nomor B 88 RAD tersebut. Ingin sekali rasanya Ari menahan kepergian Melissa. Namun, ia tak kuasa karena tak memiliki hak pada wanita pujaannya itu. Hanya sebuah doa yang mampu ia lantunkan agar Melissa segera diberi kesembuhan agar bisa mengingat semua yang telah terjadi.


Karena Ari yakin jika Brad telah mencuci otak Melissa selama wanita itu tatap tinggal di rumahnya. "Aku harus segera mencari cara untuk menyelamatkannya Melissa." Ari takut jika Brad akan memanfaatkan kesempatan dengan mencuci otak Melissa.


Ari hanya bisa menatap kepergian Melissa dengan hampa. Pria yang selama ini tulus membantu teman baiknya itu tak sampai hati jika harus melihat Melissa hanyut dengan masalah yang mendera.


Pun sama halnya dengan Melissa, meski ia mengenakan kembali kacamata hitamnya. Benda berkaca itu tak mampu menyembunyikan kesedihan yang ia miliki. Hati Mel sangat sakit seusai menyakiti pria itu. Tapi apapun yang akan terjadi, ia tak boleh menyeret Ari dalam pembalasan dendamnya.


"Tak bisa, ini tak boleh tejadi." ungkapnya pelan di kursi belakang.


Dan Melissa telah mengumpulkan segala upaya agar bisa membalikkan keadaan.


"Bu, apa Anda perlu sesuatu?" tanya Resti sedikit mengkhawatirkan keadaan bosnya.


"Tidak, aku baik-baik saja. Kita pulang saja! karena urusanku telah selesai. Tinggal menunggu suamiku pulang kerja saja, aku akan menyiapkan kejutan untuknya." jawab Melissa tanpa terbata sedikitpun.


Melissa sedikit mengatur posisi duduknya agar lebih santai dengan bersandar di jok belakang. Wanita itu membelai jendela di sisi kanannya seraya menatap jalanan ibukota.


Pandangan kosong, Melissa hanya bisa menahan kesedihan di dalam basirahnya saja. "Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Biarlah aku saja yang menghadapi semua ini."

__ADS_1


Matanya kembali berkaca-kaca, untung saja kaca mata bermerek Givenchy bisa menutupi dalamnya kesedihan yang mendera Melissa.


"Resti, pernahkah kau merasa kecewa pada dirimu sendiri?" Tiba-tiba Melissa membuka percaya dengan sang ajudannya.


"Tentu saja, Bu! hidup adalah pilihan. Seperti saat ini, saya lebih memilih keluar dari instansi dan bekerja seperti ini,"


Rupanya tidak hanya Melissa saja yang tiada bermasalah hidupnya. Semua orang memiliki masalahnya masing-masing sesuai kapasitas kemampuannya.


Tak tahu sampai kapan jalan yang ditempuh ini sampai di ujung. Lelah .... meski merasa lelah. Namun, harus tetap dengan jalan yang dipilih. Mungkin memang harus dikemudikan dengan baik. Agar sampai di tujuan sesuai keinginan.


Tapi, bisakah kita berdiri?


Bisakah kemudi itu berkolaborasi dengan pikiran yang ada selama ini? Ataukah kemudi itu yang bisa membawa ke jalan yang benar?


Sejenak, Melissa berpikir bahwa memang setiap manusia telah diciptakan dengan permasalahan yang telah dihadapi.


"Off course, life is choice. So you must be serious about your choice."


Untung saja, percakapan tak berarti antara Resti dan Melissa tak diambil pusing oleh orang yang sejak tadi meretasnya. Brad tidak menanggapi serius omongan Melissa. Pria itu begitu girang mengetahui jika Melissa masih belum mengingat Ari. Terlebih lagi, Melissa mengabaikan pria yang pernah singgah di hatinya.


...****...


__ADS_1


__ADS_2