
Jika pada hari kemarin Brad sempat shock dengan perubahan sikap Melissa, maka hari ini Brad bisa memastikan jantungnya akan aman saat menerima ketulusan dari pelayanan Melissa.
Malam ini juga ia sempatkan untuk pulang lebih awal dari biasanya dengan angan-angan bisa lebih banyak melihat perubahan besar pada Melissa.
Es itu telah mencair, dingin serta tingginya tembok di benteng rumah ini berangsur-angsur terkikis oleh kehangatan sikap Melissa yang berubah seratus delapan puluh derajat.
"Nona baru saja makan malam, Pak! jika Bapak belum makan, saya akan memanaskan makanan Anda." Seorang pelayan memasukkan beberapa potong paha ayam goreng ke dalam microwave agar lebih hangat.
"Seharian ibu tidak melakukan hal yang aneh-aneh bukan?"
Pelayan tersebut sedikit tersentak kala Brad menempatkan status Melissa dengan sebutan ibu yang ia rasa sudah sepantasnya dimiliki oleh Melissa.
"Tidak, Pak. Ibu banyak melakukan aktivitas di rumah sepulang dari kegiatan beliau."
Brad berpuas hati mendengar jawaban salah satu pelayanan di rumahnya. Setidaknya ia tak mendengar kabar Melissa melakukan hal bodoh lagi. "Ada untungnya juga aku menyabotase ingatannya, dia lebih tenang daripada sebelumnya."
Seusai menyantap makan malamnya, Brad berniat naik ke lantai paling atas di rumahnya yang merupakan daerah privasinya. Pria dewasa itu berharap jika Melissa akan berkesan setelah melihat hasil renovasi kamarnya.
Namun ... Kosong. Brad tak mendapati Melissa di dalam kamarnya seperti malam sebelumnya. Padahal nuansa kamar serta ranjang telah diganti dengan bahan berkualitas premium agar Melissa merasa nyaman berada di dalam kamar setelah sebelumnya Melissa mengeluh tak tidur nyenyak.
Brad lalu beranjak menuju kamar mandi yang terletak dalam kamarnya dan beranggapan jika Melissa berada di sana. Namun, anggapan Brad rupanya salah. Melissa benar-benar tak berada di dalam kamarnya.
Bahkan tanda-tanda kehadiran Melissa tak terendus oleh Brad sama sekali. Sehingga membuat suami Melissa itu kembali keluar guna menemui Melissa.
Brad mendapati wanita itu tengah berkutat dengan sebuah notebook miliknya. Jari jemarinya berita terampil menekan bahkan menggeser kursor sebagai pengganti mouse.
"Ehem ... " Brad mengagetkan wanita berkacamata itu hingga Melissa menoleh ke arah suara deheman tersebut.
__ADS_1
"Oh kamu udah pulang, Om!"
Sang suami kini mendekati Melissa dan berinisiatif duduk di tepian ranjang kamar Melissa melihat aktivitas apa yang dikerjakan oleh wanita tiga tahun tahun tersebut.
"Sibuk ngapain?"
"Aku mulai menulis blog dan artikel yang akan kukirim ke media online milik ayah, kamu tahu sekarang aku jobless bukan?"
"Butuh banget uang, ya?"
"Bukan begitu, hanya saja aku suntuk jika tak memiliki kegiatan."
Brad tidak menyalahkan semuanya pada Melissa. Pasalnya ia tahu seperti apa wanita yang telah ia nikahi selama setahun lebih ini. Melissa bukan tipe wanita rumahan yang berpangku tangan dengan mudah.
"Anyway, kamu ganti parfum, ya?"
"Sial! aku lupa mengganti pakaianku."
Sebelum pulang ke rumah, Brad sempat bertemu dengan salah satu wanita yang berprofesi sebagai penyanyi di kota ini. Jenifer, wanita itu begitu teguh dan gencar mengejar Brad sejak ia melayani politisi itu.
"I-iya, Sayang."
"Kurasa parfum itu tak cocok dengan kamu, Om. Terkesan feminim."
Tentu saja feminim seperti yang Melissa katakan, karena bau parfum itu milik Jenifer salah satu wanita malam yang pernah melayani Brad.
Melissa kemudian bangkit dari duduknya, sebelum jauh Brad sempat menanyainya karena merasa Melissa mengabaikan dirinya. "Kamu mau ke mana, Sayang?"
__ADS_1
"Kurasa cemilanku datang sebentar lagi, aku memesan Baklava."
"Kenap tidak memintaku membelikan sepulang bekerja, Mel?" Brad mengikuti Melissa dari belakang.
"Yang ini gratis, Om!" Melissa menoleh ke belakang di mana Brad mengikutinya dan berjalan dengan posisi menghadap ke belakang serta tersenyum penuh pada Brad.
"Rupanya belum, ya? Hatimu masih beku."
Baklava itu datang dengan seorang pengantar tampan. Cemilan khas timur tengah tersebut dibawakan oleh Glenn atas kemauan Melissa. Karena ia tahu jika Glenn pasti akan membelikan favoritnya seperti kata Ari.
"Pesan kakak, makanlah selagi hangat, Kak!"
Melissa telah menduga jika Ari masih turut ikut serta dalam hidup Melissa. Wanita itu bahkan bingung bagaimana caranya agar Ari segera melupakan dirinya. Karena jika Ari menderita, hati Melissa juga akan sakit melihat teman dekatnya tersakiti.
"Kita makan bersama, Sayang. Dan makasih ya, Nak!" Brad mengeluarkan pecahan seratus ribuan sebanyak isi di dompetnya dan merebut kue dalam kotaknya itu dari tangan Glenn, dan mengajak Melissa masuk ke dalam rumah.
"Kamu doyan?" tanya Melissa yang berjalan dengan tangan digandeng di belakang Brad.
"Apapun yang kamu makan, aku doyan."
"Kalau kue itu ada Arsenik-nya?"
"Maka, kita akan mati berdua."
...****...
__ADS_1