
Brad bersedia untuk meninggalkan sang istri demi kepentingan bersama. Lebih tepatnya kepentingan partai. Sore ini juga setelah mengatur semua keperluan Melissa di rumah sakit, pemenang Pilkada Jakarta tersebut langung tancap gas dengan terbang kembali menuju tempat di mana akan diadakan pernyataan resmi dari tim pemenangan serta partai koalisi.
Meksi separuh jiwanya masih tertinggal di kota Surabaya, Brad harus merelakan jiwa yang lainnya bergentayangan jauh dari Melissa.
"Tenang saja, Pak! tanpa diminta, istri saya terbang untuk menjaga Bu Melissa." jelas Mario begitu mendapati atasannya turun dari pesawat yang baru saja membawanya kembali ke ibu kota.
Untung saja Resti dengan berbesar hati mau menemani Melissa tanpa diminta. Atas jasa Melissa selama ini padanya serta pada Mario juga, Resti dan Mario tidak keberatan mengurus semua keperluan Bi Bos Melissa yang sebentar lagi akan menjabat sebagai istri dari Gubernur.
"CCTV telah terhubung 24 jam?" Brad memastikan sistem keamanan sang istri selama ia tak bersamanya.
"Beres, Pak! dan dokter selalu terjaga secara bergantian menemani Bu Melissa."
Pada kenyataannya, Melissa sama sekali tak keberatan jika Brad meninggalkannya. Malah ia bisa lebih bersantai lagi tanpa harus menghadapi sang suami yang bisa menyerangnya kapan saja.
Di dalam kamar rawat inap naratama, layar kaca televisi tak hentinya menayangkan berita mengenai kemenangan Brad. Hasil hitung cepat yang tak jauh berbeda dengan hitungan manual telah keluar secara bergantian. Dan pasangan nomor urut satu keluar sebagai pemenangnya.
"Selamat, Nyonya! meski telat, saya juga senang bisa melayani Anda dan Pak Brad Owen." puji seorang dokter yang bertugas menjaga di ruangan Melissa.
"Terimakasih, Dok! tapi mohon jangan sungkan padaku, karena kita juga sama." Entah apa yang ada di benak Melissa. Ia sama sekali keberatan jika ada orang yang begitu menyanjung dirinya dan juga Brad. Karena menurut Melissa, semua orang pada dasarnya sama saja di hadapan Tuhan.
Dan Melissa juga sempat berkonsultasi mengenai kontraksi semuanya pada dokter. Karena penjelasan saat pemeriksaan tadi, dirasa Melissa masih kurang lengkap. Dan Melissa menyebutkan jika selama ini dirinya memang memendam masalah hingga membuatnya kurang menjaga kesehatan.
Setelah berita kemenangan Brad keluar kemarin, barulah Melissa bisa bernapas lega. Mel sapaannya begitu mengkhawatirkan nasib pernikahannya dengan Brad. Apalagi jika Brad sampai kalah di Pilkada. Harapannya untuk terus bersama sang suami pasti akan musnah mengingat sang ayah yang begitu tak menyukai Brad pada beberapa waktu yang lalu.
Namun, semua itu kini sampai titik terang di mana Hans Effendi telah kembali merestui hubungan mereka seperti semula. Melissa sungguh tak menyangka jika selama ini ayahnya hanya menguji menantu lelakinya. Sejauh mana keseriusan Brad pada sang putri? Dan jawabannya telah diperoleh.
"Kenapa lu senyam-senyum?" celetuk seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam ruangan Melissa tanpa permisi.
Rupanya wanita muda itu telah melewati personil yang ditugaskan oleh Brad untuk bersiaga di depan kamar Melissa.
"Lu kok bisa masuk, Dys?"
"Gue 'kan istri orang penting, lagipula suami elu tak berkutik dari gue. Haha ... " Istri Janaka Matila datang tanpa diundang begitu kabar Melissa masuk rumah sakit tersebar di grup arisan "Dollar".
__ADS_1
"Lu tuh, ye kaya herder aja sih idung lu?"
Gladys terbahak-bahak begitu Melissa mengejeknya. Sebenarnya saat ia mendapati kabar itu, Gladys kebetulan berada di rumah kedua orangtuanya. Oleh sebab itu, Gladys berbesar hati mengunjungi sang sahabat.
"Iye dah, yang lakinya abis menang Pilkada. Berita itu terus yang ditonton. Lu tumben akur ama Brad, Mel?"
Melissa mencibir Gladys yang ia nilai telah mengejek dirinya, "Cih ... siapa sih Brad Owen itu? Kagak kenal gue."
"Gak kenal? Serius? Buktinye lu bunting anaknya."
Obrolan sarkas itu tak dipedulikan baik Gladys maupun Melissa, meski mereka tahu keduanya bukan tak sendiri. Karena masih ada manusia lain yang berada di ruangan itu.
"Semua itu karena kesalahanku, lagipula laki lu juga diuntungkan bukan jika Brad jadi gubernur?"
Benar seperti apa yang dikatakan oleh Melissa, sebagai seorang putri pengusaha kawakan seperti Hans Effendi, sangat umum pengusaha seperti Janaka Matila akan membutuhkan bantuan dari Brad nantinya.
"Iya dong, lu kan bestie gue, Mel? Kalau proyek Naka goal, gue kan bisa ngabisin duitnye."
"Dasar, otak siluman, lu!"
Brad bergegas keluar dari gedung tempat diadakannya pertemuan. Niatnya untuk segera meninggalkan tempat acara secepatnya agar bisa menemui sang istri dan memberinya kejutan sedikit terhambat. Semua itu karena ia harus menyambut tamu undangan serta menerima ucapan selamat.
Sekitar pukul sebelas malam ini Brad baru bisa keluar dengan penjagaan ketat salah satunya ada Mario yang menemani.
"Silakan masuk, Pak!" Mario mempersilakan Brad masuk ke dalam Hyundai Renegade yang akan membawa Brad meninggalkan tempat pertemuan.
"Ini telat sekali, Mar. Melissa pasti telah lama menungguku." balas Brad dengan nada frustasinya.
Jatuh cinta rupanya bisa membuat politikus sehebat Brad bucin akut. Sejam atau bahkan sedetik saja tak melihat Melissa, bisa membuatnya kalang kabut.
"Kita ke Surabaya, Pak?" tanya Mario dengan nafa seperti meminta persetujuan. Di satu sisi, dalam hati Mario hendak terpingkal melihat Bosnya yang memiliki sisi lain yang seperti ini.
"Iya, lah. Melissa pasti merindukan aku, Mar,"
__ADS_1
Tanpa Brad sadari, selain Mario yang hampir tak bisa menahan tawa. Ada juga wanita yang juga sama.
"Kagak usah, ngapain ke Surabaya?"
"Loh, Sayang? Ngapain kamu di situ?" Sontak saja Brad mendekatkan dirinya lebih dekat lagi di bagian depan mobilnya.
Rupanya seseorang datang membawakan sebuah kejutan untuknya. Jika Melissa tak menoleh tadi, mungkin Brad menganggap wanita yang duduk di samping Mario adalah salah satu ajudannya.
"Sayang kapan kamu datang? Kenapa kabur dari perawatan?"
Melissa menghadap ke belakang dengan bersedekap kesal, "Kamu sudah memenjarakan aku, aku kabur dibantu Gladys,"
"Istri Janaka Matila itu? Hei sayang, sudah kukatakan bukan jangan dekat-dekat orang yang suka memanfaatkan kam!' Brad mendekatkan kembali tubuhnya lebih condong ke Melissa agar bisa menghirup aroma tubuh sang istri yang telah membuatnya candu.
"Sebelum bicara, ngaca dulu! apa kamu tidak memanfaatkan aku selama ini? Lagipula aku sudah berteman lama dengan Gladys, dan suaminya mengirim pesan padamu, Brad!" jelas Melissa panjang lebar.
"Aku tahu, Mel! dia sudah menghadapku beberapa waktu yang lalu. Dan memintaku menjadi backing nya untuk beberapa proyek besarnya, ah dia pasti tak melupakan jasaku dalam kasus pelanggan pajak waktu lalu," Brad kembali membanggakan dirinya. Benar apa kata Brad, Sewaktu Janaka tersandung kasus pelanggan pajak beberapa waktu yang lalu, ia menerima bantuan dari Brad yang masih menjabat sebagai anggota komisi tiga DPR RI.
"Jadi selama ini, duitmu berasal dari hasil seperti itu Brad?" Melissa menuduh sang suami yang gemar menerima gratifikasi atas bantuan yang diberikan.
"Mel ... Mel, kau ini ada-ada saja, aku hanya membantu orang yang memberikan win win solution padaku,"
Tak bisa dipungkiri, maestro politik seperti Brad yang buta masalah bisnis, bisa menjadi pandai jika memeroleh hasil dari berbagi keuntungan dengan relasinya salah satunya Janaka. Dan Janaka pula lah yang menjadi salah satu acuannya dalam memasuki dunai bisnis seperti berinvestasi ke beberapa perusahaan lokal maupun asing. Namun, kebalikan dari Brad, jika Brad mulai merambah ke dunia bisnis, Naka tak tertarik sama sekali menjajal dunia politik.
...****...
__ADS_1