Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Dua Puluh Tiga


__ADS_3

"Lihatlah baik-baik! siapa aku?"


"Ini tidak mungkin!" kedua lutut Melissa terasa lemas dan kakinya seperti kebas hingga tak bisa melakukan apa-apa.


Brad menatap tajam Melissa yang tengah terguncang jiwanya, "Apa yang tidak mungkin? Kau bilang tidak ingin menjadi beban orang lain? Apa aku masih orang lain bagimu, Mel?"


Melissa memundurkan tubuhnya selangkah ke belakang sebagai bentuk perlindungan. Naluri melindungi dirinya dari Brad, membuat Melissa ingin menjauhi pria yang ia anggap om-om asing itu.


"Ini tidak mungkin, Om pasti bercanda 'kan? Semua ini tak benar 'kan?" Melissa mulai meracau, wanita berumur tiga puluh tahun itu secara tak percaya mengatakan jika semua ini hanya kebohongan saja.


Brad membawa Melissa ke dalam kamar mewahnya dan menunjukkan salah satu bukti status pernikahan mereka.


Sebuah foto besar yang berbingkai emas menjadi saksi bisu dalam bukti sebuah peristiwa penting bagi keduanya. Foto yang dulunya diturunkan oleh pelayan, kini telah diperbaiki oleh Brad dan sengaja diletakkan di dalam kamarnya.


Ide gila ini sengaja Brad lakukan demi keutuhan rumah tangganya bersama Melissa. Tak hanya itu saja, demi menguatkan bukti hubungan mereka, Brad juga telah mengisi salah satu lemari di ruang gantinya dengan beberapa barang yang mungkin akan digunakan oleh Melissa.


Tak hanya sampai di situ saja, Brad juga sengaja membuat seolah-olah kamarnya menjadi sebuah kamar suami istri untuk menguatkan argumennya jika suatu saat Melissa mulai menyadari atau pun mulai mengingat memorinya.


Brad akan mengecoh ingatan Melissa serta merusak kenangan buruk itu dengan sebuah kenangan baru hasil sabotase olehnya.


Melissa mulai menyadari semua keanehan yang telah terjadi. Kejadian aneh dari sikap para pelayan di rumah ini serta wanita minim susila yang mengaku tidak mendapatkan perhatian Brad karena dirinya.


Syaraf otak Melissa yang mulai tak bisa dikendalikan terus menerus memberontak dari tubuhnya. Hingga membuat Melissa menutup kedua telinganya dari semua suara yang saling bersautan seperti hendak mencemoohnya.


"Sayang, kamu tidak apa?" Brad mulai mendekati wanita yang kini berjongkok karena lututnya melemas.


"Maaf, bisakah kamu tinggalkan aku," Melissa menguatkan dirinya sendiri dan mencoba berdiri dengan sekuat tenaga.


Selain merasa seperti dipermainkan oleh keadaan, Melissa juga merasa muak dengan dirinya sendiri.


"Mel ... " Brad memanggil wanita yang baru saja menerima sebuah kenyataan besar atas hidupnya,


Jangankan menjawab panggilan Brad, Melissa berlari keluar kamar tersebut tanpa menoleh sedikitpun. Hatinya berkecamuk, angannya terasa remuk. Bagaimana bisa, ia yang merasa masih tujuh belas tahun dan kini secara mendadak Brad mengatakan jika ia merupakan istrinya.


Terlebih lagi, Brad juga menunjukkan bukti hubungan mereka yang serius. Sah di mata Tuhan dan Negara.


Melissa terus berlari hingga menuruni anak tangga lantai liga ke lantai dasar. Bahkan beberapa pelayan yang sempat menyaksikan kesedihannya tak mampu mendapatkan perhatian Melissa.

__ADS_1


Brak ... Melissa menutup pintunya dengan rapat dan tak lupa menguncinya dari dalam. Semua itu ia lakukan dengan alasan tak ingin ada seorangpun yang bisa menganggu waktunya.


Dan Brad sendiri? Jika hari ini tak ada jadwal penting seperti pertemuan partai, ia pasti akan mengurungkan niatnya keluar rumah dan lebih memilih mendoktrin Melissa.


Pertemuan Parpol Koalisi merupakan rapat penting bagi Brad. Pasalnya Brad menjadi salah satu orang penting dalam Partai Bersama Kita Bisa yang saat ini menjadi Partai Koalisi pemenang Pilpres beberapa tahun yang lalu.


Brad dan Partainya telah memenangkan Pemilihan Umum yang telah mengantarkan Presiden yang terpilih. Karena suara yang dikantongi PBKB cukup banyak, maka anggota legislatif yang kini menduduki kantor Dewan merupakan orang-orang PBKB termasuk Brad Owen.


Politik menang keras, banyak persaingan antar anggotanya. Oleh karena itu, Brad memerlukan dukungan dari ayah Melissa yang saat itu ia dekati dan mengabulkan keinginannya.


Telebih lagi, nama baik Melissa dan keluarganya yang tanpa cela, mampu melambungkan tingkat kepopuleran Brad. Bahkan dalam salah satu survei, Brad digadang-gadang menjadi salah satu calon kepala daerah.


Muda, memiliki karismatik serta mahir berpolitik tak membuat Brad berpuas diri dalam kariernya. Selain berpolitik, sisi lain suami Melissa tak ada yang bisa menyibak tabir tersebut.


"Awasi, Nona! jangan sampai aku mendapati laporan sampah dari kalian!"


"Baik, Pak!" Semua ART serta penjaga menjawab serentak perintah Brad tanpa ada satupun yang berani membantah perkataan Brad Owen.


**


Sudah seharian ini, Melissa tak berkeinginan keluar dari tempat nyamannya. Sejak pagi tadi jurnalis itu, memikirkan seperti apa nasibnya. Bahkan Melissa juga memberanikan diri membuka situs pencarian populer.


Melissa membaca salah satu artikel online yang terbaru, tajuk artikel tersebut adalah Istri Dari Salah Satu Anggota DPR RI Menjadi Salah Satu Donatur Tetap Sebuah Yayasan Kanker.


Selain membaca artikel tersebut, Melissa juga melihat potret dewasa dirinya yang tengah mengenakan kaos turtleneck dipadukan dengan blazer coklat mocca dari Givenchy.


Gaya elegan ini membuat kepala Melissa semakin berdenyut kencang. "Jadi gue beneran bini om-om kurang waras itu?" Melissa menutup mulutnya karena tercekat.


Belum puas Melissa memeriksa berita di internet, kembali pelayan rumah memanggil Melissa untuk makan siang.


"Nona, keluarlah! nanti bapak bisa memarahi kami semua."


Namun, Melissa tak terpengaruh. Ia masih berniat mengorek informasi dari ponselnya.


Jika tadi Melissa mencari jati dirinya, kini giliran wanita cantik itu menjelajahi portal berita untuk mencari wujud cecunguk yang mengaku suaminya.


Bila Melissa hanya beberapa menemukan berita tentangnya, sangat berbeda dengan Brad. Pria arogan itu sangat dikenal masyarakat. Puluhan berita dan artikel politik menyoroti namanya. Hanya saja ...

__ADS_1


"Kok beritanya yang bagus-bagus aja sih? Masa dia gak punya musuh. Apa dia membayar buzzer untuk mengangkat namanya?" Melissa menduga jika Brad memiliki jasa roboot untuk menaikkan kepopulerannya.


Selain panggilan dari pelayan, Melissa juga menerima banyak telepon masuk di ponsel yang diberikan oleh Brad Owen.


"Kenapa baru diangkat?" Pria tersebut terdengar menahan emosi karena Melissa baru sudi mengangkat panggilan darinya.


"Aku ke kamar mandi, haruskah aku mengangkatnya juga?"


"Orang rumah mengatakan jika sejak tadi pagi kau belum keluar, Sayang!"


"Emang kenapa, Om?"


Brad masih bisa menahan emosinya ketika Melissa kembali memanggilnya Om. Setidaknya Melissa masih bersedia menjawab teleponnya serta masih sudi berbicara padanya.


"Cepat makan! ini sudah sangat telat, jaga kesehatanmu, Mel!"


"Iya, Om. Makasih."


Seusai menutup telepon dari Brad, Melissa membuka jendela di kamarnya. Rupanya hujan menyapa wanita yang memiliki hati rupawan tersebut.


"Hujan ya? Kenapa hatiku terasa hampa? Sangat sakit hingga ingin ku berharap hujan akan menutupi tangisku."


...****...


Hujan adalah tangisan langit. Yang tak kuat.


menahan beratnya awan yang menjepit.


Hujan adalah tangisan sepi, akibat mega rindu yang menebal di atap hati


Hujan akan reda oleh lama.


Akan berhenti jika langit tak dicekam mega lagi.


Namun hujan di jiwaku akan turun selalu..


Tak akan reda kecuali engkau yang menghentikannya.

__ADS_1


Hanya engkau. Hanya engkaulah yang mampu menghilangkan mega rindu di atap hatiku.


__ADS_2