Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Empat Puluh


__ADS_3

Melissa mencurigai adanya hal yang disengaja oleh sang suami. Oleh sebab itu, ketika keduanya telah terkapar karena aktivitas tambahannya. Melissa memikirkan sebuah ide. Sengaja ia bergeser lebih dekat tanpa jarak satu mili pun dengan Brad.


Sehingga Melissa dengan santainya menarik rambut Brad hingga, "Aduh, Mel!" keluh Brad begitu Melissa menarik rambutnya.


Tanpa rasa curiga sedikitpun, Brad menarik hidung Melissa guna membalas perlakuan sang istri padanya.


"Sakit tidak?"


"Tentu saja sakit, Mel!"


"Dasar curut!" Melissa menggerutu di dalam hatinya. Ia kesal karena Brad telah menipunya dengan berpura-pura telah dipengaruhi oleh minuman.


"Aku hanya mencabut ubanmu, lalu kenapa kamu sadar?"


Bak memakan buah simalakama, mau maju ataupun mundur Brad pasti kena. Suami Melissa itu terdiam sesaat guna mencari alasan yang tepat dan berkata, "Mungkin setelah enak-enak, akhirnya aku sadar!"


Ingin sekali Melissa mencekik leher Brad dengan kuat-kuat hingga pria itu kehabisan napas karena telah mempermainkannya. Kesal dan merasa canggung karena keduanya ternyata berada dalam tingkat kesadaran yang tinggi, membuat Melissa kini kembali menggeser tubuhnya dan berusaha bangkit dari sisi tempat pertempuran.


Wajah Mel semakin bersemu sehingga ia tak berani'menatap Brad secara langsung.


"Mau ke mana? Ini udah malam!" Brad mentahan kepergian sang istri yang mencoba meninggalkan dirinya.


"A-ku hanya ... " Brad tak ingin kehilangan momen kebersamaan itu, sehingga melarang Melissa turun dari tempat tidurnya dan menarik Melissa kemudian mendekapnya.


"Lepaskan aku! ini sesak, kau tahu?"


Namun, seorang pria seperti Brad Owen tak kehilangan kepercayaan. Ia tidak mengindahkan Melissa untuk melepaskan sang istri dan bahkan berniat tidur dengan posisi sangat intim seperti saat ini.


"Diam di sini!" Brad teringat sesuatu lalu bangkit dengan tubuh polosnya dan menapaki lantai di kamar Melissa menuju celana panjang berwarna hitam yang tergelak berserakan begitu saja.


Setelah memungut pakaian kerjanya itu, Brad kemungkinan mengambil sesuatu dari dalam kantong celana miliknya dan mengeluarkan sebuah boks kecil berwarna merah cerah.


Ingin heran tapi itu Brad Owen, meski tak mengenakan busana sama sekali. Pria itu tak punya rasa malu sedikitpun berjalan di depan sang istri. Bahkan Melissa sampai harus menutup wajahnya dengan selimut akibat ulah Brad.


"Bukalah, Sayang!"


"Tidak, nanti kamu akan macam-macam lagi," Melissa masih ngeri jika membayangkan dirinya akan menjadi sasaran empuk sang suami seperti tadi.

__ADS_1


"Untuk saat ini, aku janji tidak macam-macam. Namun untuk ke depannya aku tak bisa jamin." Suara gelak tawa Brad memenuhi seisi ruangan kamar Melissa.


Meski dalam keadaan malu-malu dan tidak berani melepas selimut dari wajahnya, Melissa merasa jika tangannya ditarik pelan oleh Brad.


Selain itu, Melissa juga merasakan ada sentuhan di jari manisnya. "Oh tidak!"


Brad Owen si Casanova kembali menyematkan cincin berlian ke jari manis Melissa. Bahkan Melissa kini mulai mencuri pandang ke arah sang suami yang baru saja melakukan hal seperti dulu.


"Apa ini?" tanya Melissa pada Brad karena melihat di jari manisnya tersemat sebuah cincin mahal bertahtakan berlian.


"Sebuah benda sakral yang kembali pada pemiliknya." jawab Brad asal karena berhasil memakaikan cincin pernikahan yang sempat dilepas oleh Melissa.


"Tidak, diamond ring ini sangat mahal. Aku tidak bisa membelinya meski dengan semua uang dari ayah."


Brad menarik napas panjangnya, alangkah terkejutnya ia mendengarkan penolakan Melissa karena sebuah alasan yang konyol seperti tadi.


"Siapa yang mau jual ke kamu, Mel? Ini milikmu! cincin pernikahan kita. Lagipula kenapa juga harus minta uang ke ayah?"


Melissa menundukkan wajahnya, jari tangan kanannya mulai memelintir cincin yang diduga berharga miliaran rupiah tersebut.


"Tapi aku ... "


Pada akhirnya, Melissa hanya bisa menerima dengan lapang dada serta pasrah ada Yang di atas. Melissa bahkan melupakan rasa canggungnya tadi pada Brad.. Dan karena cincin itupula lah, Melissa juga lupa sudah melakukan pertempuran yang menguras keringat bersama Brad.


**


Sejak kejadian tampilnya Brad secara live di program HTV. Elektabilitas Brad sebagai anggota partai semakin meroket. Walaupun berita buruk yang menyebutkan perusahaan yang telah ia danai menggelapkan pajak. Tapi nilai kepopuleran Brad semakin mencuat.


Bahkan kini, santer terdengar jika Brad digadang-gadang menjadi salah satu kandidat kuat calon Gubernur pada pemilihan mendatang.


Dipanggilnya CEO PT Sari Indrayana, tak membuat Brad gentar, Brad bahkan sama sekali tidak terpengaruh oleh isu-isu politik yang marak memberitakan perusahaannya.


Atas hubungan yang relevan antara Brad dan media lah, politikus muda itu mampu bertahan. Siapa yang tak kenal menantu Hans Effendi ini, apalagi sikap percaya diri Brad didukung penuh oleh NTV milik sang mertua.


"Beberapa hari ini aku akan sangat sibuk, Mel"


"Iya,"

__ADS_1


"Jangan tunggu aku pulang, tidurlah lebih awal di lantai tiga."


"Aku malas naik turun," sergah Melissa dengan mata tak lepas dari dua lembar roti di piringnya.


"Sesuai jadwal, hari ini perusahaan lift akan memasuki di rumah kita."


Melissa begitu tercengang ketika Brad dengan santainya menghamburkan uangnya demi memasang sebuah alat bantu angkut meski di rumah ini hanya ada 3 lantai saja.


Namun, Melissa tak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu tak berkutik jika di depan sang suami. Telebih lagi, ini merupakan rumah Brad sendiri.


**


Hari ini Brad berangkat lebih pagi dari biasanya. Karena hari ini rencana kerja Brad adalah mengunjungi kesiapan kantor hukum dan HAM yang baru. Lalu siangnya Brad akan berlanjut ke Bandung menghadiri Rakernas Partai Bersama Kita Bisa.


Brad yang rencananya akan dicalonkan sebagai calon Gubernur hari ini akan melakukan pemilihan di dalam induk partainya.


Sebelum pergi, Brad sempat meminta doa yang terbaik dari sang istri.


Dan tak lupa pula, Brad menanyakan keinginan Melissa yang sempat ia janjikan semalam.


"Aku hanya ingin hidup damai. Menjalani hari-hari yang menyenangkan tanpa harus memikirkan masalah yang berat." Itulah keinginan Melissa


Wanita itu tak pernah muluk-muluk. Karena Mel telah memiliki semua impian yang begitu diinginkan oleh setiap wanita pada usianya.


Hanya itu saja, Brad yang mengira jika Melissa menginginkan sebuah perceraian nyatanya bukan itu adanya. Brad tak menyangka jika Melissa telah menyerahkan dengan keinginannya. Dan hal baik itu akan terus Brad peliharaan dengan baik.


...****...


"Kau pikir dengan melaporkan aku lalu Melissa akan kembali padamu?"


"Kembali atau tidak, kau pantas mendekam di penjara, Brad!"


"Hai, Nak! lihat dirimu! apa yang membuat bocah sepertimu mampu menang melawan aku?"


Keduanya hendak baku hantam jika tidak ada pengawal yang melerai.


"Aku akan merebut istrimu!"

__ADS_1



"Jangan mimpi!"


__ADS_2