
NB : Agak ser-seran dikit ya?
Kedua penumpang gelap di depan benar-benar menutup kedua mata serta mata mereka dari segala hal yang terjadi di belakang punggung Mario serta Resti. Bahkan mesti guncangan itu lebih besar dari gempa saja, Mereka tak berani menengok ke belakang ataupun melirik dari kaca spion. Karena nasib pekerjaan mereka lebih penting daripada tingkat ke kepoan mereka.
Mario bahkan sampe berkeringat dingin, kaki yang ia gunakan untuk menginjak rem serta gas terasa seperti mati rasa karena kebas saking menggigilnya. Dan Resti berkali-kali mengingatnya Mario agar hati-hati.
"Pak Mar hati-hati, ya?" Resti hanya bisa berdoa supaya mereka bisa sampai di rumah Brad dengan selamat seusai atasan mereka meminta Mario menaikkan kecepatan mobil Brad.
Begitu tampak bangunan megah dari rumah berlantai tiga, Mario serta Resti bisa bernapas lega. Mereka tak henti-hentinya mengucap syukur. Syukur selama sampai tujuan dan tidak mendapatkan tilang elektronik.
Mario dan Resti buru-buru membukakan pintu untuk atasannya. Mereka tak ingin mendapatkan perlakukan tak menyenangkan jika sekali saja mengacaukan rencana indah bos mereka. Mario salah satu staf yang telah lama ikut dengan Brad mengerti seperti apa watak bosnya jika Murka.
Segera saja, Mario hendak meraih tangan Melissa untuk ia angkat masuk ke dalam rumah. Namun, "Apa yang akan kau lakukan?" tegur Brad sebelum Mario mengangkat tubuh Melissa yang terlihat tak bertenaga akibat ulahnya tadi di dalam mobil.
"Mau angkat Bu Melissa ke dalam, Pak!"
"Menyingkir darinya, aku yang akan membawanya." Brad keberatan jika Mario mengangkat badan Melissa. Karena pakaian yang yang menutupi bagian belakang Melissa sudah tak karuan bentuknya.
Dan sebelum Brad mengangkat Melissa, sempat terlebih dulu pria itu menutupi seluruh tubuh Melissa menghubungkan jas rancangan designer yang ia kenakan.
Resti dan Mario mengikuti Brad yang kini membawa sang istri masuk ke dalam rumahnya. Keduanya bertanya-tanya dalam hati kenapa hari ini bos mereka sungguh over protective pada sang istri.
Tiba ketika Brad berjalan melewati lantai satu dan hendak menaiki tangga ke lantai paling atas ia menyuruh Resti dan Mario, "Sebelum pulang kalian makanlah di sini!"
Mereka semua memang belum makan, apalagi Mario sejak siang tadi ia banyak membantu staf lain dalam berbagai pekerjaan di komisi 3 DPR RI.
"Lalu Anda sendiri? Bapak juga belum makan malam." Mario masih mengkhawatirkan jam makan Brad.
Namun, dengan enteng Brad menjawab, "Aku akan makan Ibu."
"Heh?"
"Hah?"
Kedua staf Brad saling bertatapan dengan ekspresi seperti kambing cengo. Selain itu, Colin dan salah satu pelayan yang terbiasa melayani Tuan dan Nyonya rumah untuk makan malam juga ikut ternganga ketika mendengar sang bos mengatakan hal tersebut.
"Maksud aku, aku akan makan dengan ibu nanti "
Brad segera menaiki anak tangga yang akan membawanya ke lantai tiga sebelum semua orang semakin berspekulasi dengan pernyataannya barusan.
__ADS_1
Colin serta bibi pelayan bahkan sampai menutup mulut lebar mereka dengan dua tangan mereka dengan kompak.
"Bapak dan Ibu sepertinya benar-benar sudah berbaikan, Pak!"
"Sebentar lagi, kicauan malaikat kecil akan memenuhi rumah ini, Lastri!" imbuh Colin menambahi ucapan Lastri si bibi pelayan.
Resti yang belum paham dengan kehidupan atasan barunya semakin tak mengerti dengan pembicaraan antara kepala pelayan dan bibi pelayan.
"Kan mereka memang suami istri, wajar saja dong Pak Brad dan Bu Melissa berhubungan baik?"
"Diamlah, kurasa kau harus belajar untuk tidak kepo, Nona!"
"Siap, Pak Mar!"
**
Brad membaringkan Melissa di tempat tidur. Ia pandangi wajah penuh kedamaian milik Melissa yang tengah tertidur atau lebih tepatnya tak sadar seperti ini. "Kalau diam seperti ini, kau cukup manis, Mel!"
Untuk panas dingin yang ia rasakan sejak tadi, Brad hanya bisa menahannya dengan mencumbu sang istri di dalam mobil. Tangannya yang telah terambil dalam hal seperti ini, telah bergerak bebas menjamah setiap inchi dari tubuh sang istri.
Kemudian Brad beranjak dari posisinya mengamati Melissa. Sesekali ia kembali menoleh ke arah sang istri yang sungguh berat ia tinggalkan.
Brad berjalan ke sana kemari sambil berpikir, "Aku sudah bersumpah padanya tidak akan menyentuhnya karena ini hanya pernikahan kesepakatan."
"Tapi dia istriku? Aku berhak melakukan apapun padanya, bukan?"
Dengan wajah antara menahan keinginan memiliki serta kejaimannya, Brad terombang-ambing di antara dua pilihan. Yakni tetap maju atau mundur seperti yang telah ia janjikan pada Melissa sebelumnya.
.
Dalamnya Brad berpikir, hingga ia tak menyadari jika Melissa hendak bangun dari tempat tidurnya. Brad segera menangkap tubuh Melissa yang terhuyung akibat pengaruh wine tadi.
"Kamu mau ke mana, Sayang?"
"Aku mau pulang, nanti suamiku akan marah-marah jika aku terus di resort ini."
Brad terperanjat dengan kata-kata Melissa, ia tak menyangka jika Melissa bisa patuh seperti ini padanya.
"Ini di rumah kita, Mel! lihatlah! aku siapa?"
__ADS_1
Melissa mendekatkan wajahnya ke wajah sang suami. Jarak keduanya tak lebih dari sepuluh sentimeter saja. Bahkan helaan napas mereka bisa menyatu satu sama lain. Brad telah terhipnotis dengan sikap manis Melissa yang seperti ini.
"Aku tahu, kamu suamiku! si centong nasi!"
Tak ada rasa kesal dan tersulut emosi, Brad bahkan semakin menyakinkan dirinya untuk terus maju guna memiliki Melissa seutuhnya.
Bara api yang belum padam, kini semakin berkobar begitu Melissa mendekatkan dirinya pada Brad. Harum napas itu kini menguar ke indra penciuman Brad dan memaksa pria yang telah kecanduan tubuh sang istri untuk menghujamnya.
Dengan kobaran semangat yang berapi-api, Brad memulai menyusuri setiap inci tubuh sang istri dengan bibirnya. Mulai dari sebuah kecupan manis yang berbuah ciuman penuh gelora. Brad tampak tak perlu aba-aba lagi.
"Aku suaminya, sah di mata hukum dan agama. Siapa yang akan melarangku?"
Melissa menggeliat ketika serangan demi serangan dilancarkan sang suami padanya. Hingga tanpa ba-bi-bu Brad mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Melissa. Mulai outer berupa blazer hingga menyisakan tank top putih sebagai iner nya.
Brad tak melewatkan leher jenjang sang istri yang begitu menggoda untuk segera dicicipi. Sedangkan tangannya aktif bergerilya di setiap sudut milik sang istri.
Suara ******* dan erangan yang bertaut-taut membuat semangat Brad semakin dipompa. Keringat mereka menyatu satu sama lain dengan sebuah kenikmatan yang tiada tara. Entah ini hanya awal ataukah akhir dari kisah mereka. Yang jelas Brad tidak terlalu peduli dengan esok dan seterusnya. Karena malam ini, detik ini ia hanya ingin menghabiskannya bersama Melissa.
Untuk besok, entah alasan apa yang akan ia katakan pada Melissa. Biarlah menjadi urusan Brad dan Melissa. Akankah Brad akan menyabotase ingatan Melissa ataukah Brad akan meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Melissa? Itu semua bisa dipikirkan besok. Hari ini, detik ini, serta malam ini dunia telah berpihak padanya.
Belum lagi sebuah jackpot didapatkan oleh Brad atas jasanya membuka lahan pertanian. "Ini pertama kalinya bagi Melissa? Jadi selama ini, dia ... agggrhhh ... " Pria itu semakin bertenaga melakukan olahraga malamnya.
"Maafkan aku, Mel! aku tidak tahu jika kamu masih ... !" Brad semakin dilema.
Seusai keduanya berpeluh keringat, Brad sempat mengecup kening sang istri sebelum terkapar tak bertenaga di samping Melissa.
Peluhnya bercucuran hingga ruangan yang ber-AC tidak sejuk sama sekali. Sedangkan Melissa, ia menggeliat dan membenamkan kepalanya di dekat sang suami. Brad segera menutupi tubuh polos Melissa dengan bad cover agar sang istri tak kedinginan.
"Thanks, Mel! jangan coba kabur lagi, ya? Karena kau sudah menjadi milikku." Senyum itu begitu licik serta picik. Brad kini sama sekali tidak akan tinggal diam jika ada yang berani mengusik miliknya.
...****...
Mau lanjut lagi?
Like, komen dan gift dulu dong, ya?
Salam sayang
Juru ketik.
__ADS_1