
"Wow ini indah sekali, Nona!" seru salah seorang pelayan wanita yang sering membantu di kediaman Brad.
Bukan hanya wanita muda yang berprofesi sebagai pelayan itu saja yang bersorak kegirangan di dalam kamar Melissa, pelayan lain juga tak kalah riang dan berkali-kali mengucapkan rasa terimakasih karena bersyukur memiliki orang seperti Melissa di rumah ini.
Selain berhati hangat, Melissa juga tidak pernah sama sekali merepotkan pelayan lain. Bahkan yang lebih membuat mereka yakni pekerja di rumah Brad berdecak kagum karena Melissa mentraktir seluruh penghuni yang bekerja di rumah Brad. Bukan hanya mentraktir makanan saja, melainkan Melissa membelikan barang-barang yang ia rasa berguna bagi mereka.
Seperti sepatu, pakaian, dan mentraktir motor baru untuk para pekerja. Seumur-umur baru kali ini mereka mendapatkan hujan rejeki yang bertubi-tubi. Tak hanya barang branded saja, luapan kebahagiaan yang mereka rasakan karena Melissa tak pernah menganggapnya pekerja. Nona Melissa merasa, sangat menghargai setiap usaha yang dilakukan oleh para pelayan.
"Aku senang jika kalian menyukainya, terimakasih telah menjagaku selama ini." ucap Melissa begitu lega saat mengetahui jika barang yang ia beri sangat disukai oleh pelayan Brad.
Namun, para pekerja di rumah tersebut tidak menyadari jika Melissa melakukan semua itu atas ucapan terimakasihnya telah membantu Melissa selama ini. Ini memang bukan hal yang pantas jika dibandingkan dengan kerendahan hati mereka. Tapi, sebelum Melissa keluar dari rumah berlantai tiga ini, Melissa ingin membuat sosoknya tampak baik di mata mereka.
**
Kepala pelayan melaporkan semua yang jelas di matanya kepada Brad, "Nona baik-baik saja. Seusai pulang berbelanja, Nona Melissa terus mengulas senyum dan mentraktir semua pekerja di rumah ini."
"Baguslah! uang memang bisa membuatnya kembali waras." ujar Brad seperti tak memiliki beban jika ucapannya bisa menyajikan hati Melissa.
Kepala pelayan tersebut hanya bisa mengangguk dan segera menyisihkan tubuhnya dari hadapan sang majikan.
Mendengar serta mendapatkan laporan seperti itu dari pesuruhnya, membuat hati Brad sedikit lebih tenang. Pasalnya jika benar Melissa ingin mengakhiri pernikahan ini, kariernya sebagai anggota legislatif pasti akan tercoreng dengan adanya pemberitaan. Tentu saja hal itu sangat tidak diharapkan oleh pria bertubuh tegap tersebut
Dengan uang dan kekuasaan itulah yang digunakan sebagai alat perang bagi seorang Brad Owen. Tanpa uang dan kekuasaan, Brad tak mungkin akan sampai di posisi sekarang ini.
Sebelum Brad kembali melakukan aktivitasnya di dalam ruang kerjanya, pria maskulin tersebut masih sempat bercengkrama dengan salah satu wanita penghiburnya lewat sambungan telepon.
Sedangkan Melissa, wanita kuat itu masih berkutat dengan berbagai pekerjaan serta rencananya untuk terbebas dari pernikahan toxic ini. Entah apa yang akan ia jelaskan pada sang ayah jika kabar perceraian itu telah bergulir. Yang penting bagi Melissa adalah keluar dari rumah ini sesegera mungkin.
**
"Nona, jadwal Anda hari ini pada pukul 10.00 WIB nanti akan menghadiri pembukaan galeri seni di daerah BSD!" jelas seorang pria yang merupakan pegawai yang mengatur jadwal bagi pasangan suami istri yang kini saling berhadapan di ruang makan pagi ini.
__ADS_1
Melissa menunggu agar pegawai itu selesai melakukan tugasnya, sebelum Brad memarahinya jika melakukan kesalahan. Tak peduli siapapun yang salah, Brad tak segan untuk memarahi siapapun.
Melissa menarik napas dan meletakkan sendok dan garpunya, "Siangnya aku free, bukan? Aku ada wawancara eksklusif dengan narasumber, selepas dari acara pembukaan aku langsung ke suatu tempat."
Selesai mengatakan hal tersebut, Melissa kemudian mengambil tissue yang jaraknya tak jauh dari jangkauannya serta menyeka mulut manisnya dengan selembar tissue tersebut.
"Baik, Nona. Kami akan mengantarkan Anda."
Jika Melissa telah selesai menyantap makan paginya, Brad masih sibuk dengan gawai di tangan yang sejak tadi tak mengubah posisinya.
Bahkan hingga kepergian Melissa, pria itu masih belum rela melepas perhatiannya dari benda pintar tersebut.
**
Tepat pukul setengah satu siang, Melissa keluar dari daerah BSD dengan mobil yang telah menjemputnya. Melissa meminta sang supir untuk tidak mengikuti wanita karier tersebut. Dengan dalih mobil kantir telah menunggunya, alhasil Melissa bisa lepas dari pengawalan pegawai Brad.
"Tenang saja, Bu Melissa aman bersama kami." jelas salah satu kameraman Woman Daily untuk meyakinkan pegawai Brad tersebut.
Melissa akan mewawancarai seorang penggerak pasar modal. Sosok wanita yang telah lama berkecimpung di dunia investasi tersebut juga merupakan ibu dari dua orang anak.
Lamanya waktu wawancara tak terasa karena perbincangan dengan narasumber begitu menarik bagi Melissa sehingga ia sampai lupa waktu. Dan segera mengakhiri pertemuan tersebut karena Melissa memiliki jadwal lanjutan.
Lagi-lagi Melissa menyelinap tanpa sepengetahuan anak buah Brad dengan bantuan teman Ari yang merupakan pengacara muda yang ditugaskan oleh Ari Dinata untuk mengantar berkas perceraiannya.
Melissa akan menandatangani berkas tersebut sebelum dilayangkan ke pengadilan oleh dirinya sendiri. Tanpa perlu bantuan dari pengacara atau ahli hukum perdata, Melissa akan melakukan hal tersebut dengan kedua tangannya.
Mimpinya untuk segera bebas dari hubungan toxic ini akan segera terwujud, Melissa membawa mobilnya melenggang ke jalanan ibukota.
**
Hilangnya Melissa dari pengawasan anak buahnya telah sampai ke telinga Brad. Anggota legislatif tersebut bahkan langsung meninggalkan ruang kerjanya di Senayan guna mencari keberadaan Melissa.
__ADS_1
Hingga sampailah Brad di kediamannya. Begitu memasuki ruang tengah dalam rumahnya, Pandangan mata Brad tertuju pada sebuah dinding kosong bekas tempat pajangan salah satu foto pernikahan mereka.
"Siapa yang meminta kalian melepaskan ini?" tanya Brad dengan wajah memerah.
"Ma-maafkan kami, Pak! Bu Melissa mengatakan akan mengganti frame foto tersebut." jawab pelayan yang kebetulan berada tak jauh dari Brad dengan nada bergetar.
"Sial!" umpat Brad tanpa pikir panjang dengan langung berhambur ke kamar Melissa di lantai yang sama.
Mudah saja bagi Brad untuk masuk ke dalam kamar Mel karena wanita itu tidak menguncinya. Mata besar itu segera menyapu ke seluruh ruangan yang berukuran 4x5 dengan nuansa putih bersih tersebut.
Kedua bola mata Brad hampir mencuat karena melihat sebuah cincin di atas meja rias Melissa. Cincin mahal bertahtakan berlian tersebut merupakan cincin pernikahan mereka. Dan cincin ini menandakan jika Mel tak main-main dengan ucapkan.
"Cari dia sampai dapat, lakukan sesuatu apapun yang terjadi. Cegah jangan sampai dia pergi jauh!" perintah Brad dengan sikap arogansi. Jika dituruti, mungkin Brad pasti akan membandingkan ponselnya jika benda itu tak lagi penting.
Brad langung menyambar sebuah kunci mobil dan berangkat untuk menyeret pulang kembali Melissa. Karena ia tidak akan pernah mungkin akan membiarkan Melissa memutuskan pernikahan ini.
**
Di dalam mobil, Brad mendapati sebuah laporan dari anak buahnya, "Pak, kami menemukan Nona Melissa. Mobilnya menuju ke pengadilan Agama."
"Hentikan, apapun yang terjadi jangan biarkan Melissa ke sana."
"Apa yang Anda inginkan?"
"Lakukan apapun meski itu dengan nyawa kalian!"
Ciiiiitttt ... suara gesekan antara ban dengan kerasnya aspal memenuhi jalanan sebelum sebuah tabrakan terjadi.
Mobil Melissa oleng ke kiri hingga membuatnya kehilangan kendali atas mobilnya..
...****...
__ADS_1