
"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" tegur Brad begitu pria gagah itu masuk ke kamar Melissa dan mendapati sang istri sedang sibuk menghadap ke personal computer-nya.
Jika boleh jujur, sebenarnya Melissa lelah. Harus menjalani hari-harinya yang kembali memuakkan. Seiring berjalannya waktu, ingatan itu sedikit demi sedikit mulai membias di benaknya. Hanya saja, Melissa harus terus berpura-pura sakit di depan Brad untuk membodohi pria jahat itu.
Melissa mendongakkan kepalanya melihat sosok pria tinggi yang datang menghampirinya. "Ada yang kurang? Aku minta bibi yang menyiapkan keperluan kamu malam ini."
Brad meraih sebuah buku yang berada tak jauh di meja Melissa. Dan duduk di tepian ranjang menghadap sang istri yang sejak tadi telah mengabaikan dirinya.
"Bukankah kamu sudah keluar dari pekerjaanmu, Mel?"
Lagi-lagi ucapan Brad kembali mengingatkan Melissa tentang pekerjaannya di dunia showbiz . "Menurut kamu? Apa aku harus diam saja melihat beberapa media mengkritik kamu?" tanya Melissa balik.
Entah lah apa yang ada di benak Melissa? Kini putri tunggal Hans Effendi itu berniat mengundang Brad pada program acara yang baru-baru ini ia gagas di stasiun televisi milik sang ayah. Meski tidak terjun langsung menangani progam tersebut, Melissa telah menjadi penanggungjawab program satu jam bersama tokoh penting.
"Mel, ini semua sudah menjadi konsekuensi seorang tokoh politik seperti aku. Lagi pula, aku tidak mau melibatkan kamu dalam hal seperti ini." nasehat Brad saat Melissa menawarinya sebagai bintang tamu acara di televisi milik ayahnya.
Padahal kesempatan kali ini bisa digunakan oleh Brad untuk membersihkan namanya.
Perdebatan mereka terjeda dengan sebuah panggilan di ponsel Brad. Dan Brad Owen pun meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut dari Melissa.
Brad bergeser lebih jauh dari Melissa agar sang istri tidak mendengar pembicaraan di antara dirinya dan si penelepon. Namun, dari perubahan raut wajah Brad yang berubah dari santai ke tegang, membuat Melissa sedikit lebih mengkhawatirkan sang suami.
"Lakukan yang terbaik!" pungkas Brad menutup panggilan dari si penelepon.
"Benar 'kan? Lebih baik ikuti saran dariku!" Melissa kembali menawarkan sebuah kesepakatan dengan Brad agar pria itu mampu membereskan permasalahan yang beredar di media.
Sebuah gosip yang belum tahu kebenarannya menuduh serta menyudutkan Brad sebagai pihak yang melakukan tindak penyucian uang. Meksi tidak membahas nama Brad Owen secara langsung. Namun, reporter yang membuat berita telah memberikan ciri-ciri yang mengarah padanya
"Aku tidak mau dianggap sebagai suami yang berlindung di ketek istri, lagipula aku yakin bisa melewati hal ini."
"Kamu tuh, ya? Udah dibilangin juga. Aku tahu kamu bisa bisa melewati ini dengan baik. Tapi, aku juga ingin berjuang karena janji yang kau ikrar kan menyangkut susah dan senang bersama."
__ADS_1
"Alamak ... ngomong apa sih gue? Ngapa bawa-bawa janji pernikahan segala, kan tengsin gue." Melissa menyayangkan dirinya yang terlanjur jauh memedulikan Brad.
"Benarkah kamu berpikir seperti itu, Sayang?" Bahkan kini, Brad tak sungkan untuk memeluk sang istri yang ternyata sangat peduli padanya.
Selama ini Brad telah mengira jika Melissa mengabaikannya dirinya dan selalu angkuh serta cuek padanya. Nyatanya semua itu hanya bohong semata. Bahkan demi suaminya, Melissa rela menjadikan dirinya sebagai bintang tamu program besutannya.
"Aku bersyukur memiliki istri seperti dirimu, Sayang! Sungguh apa jadinya jika istriku bukan kamu."
Tanpa diduga, air mata Melissa mengalir tak terbendung. Meski semua ini hanya drama semata, alangkah baiknya jika ia tidak perlu ikut campur dengan masalah Brad. Namun, semua itu menjadi momok di kepala Melissa karena bukan hanya Brad saja yang terseret dengan kasus ini, melainkan Ari juga bisa tersakiti jika dirinya tidak segera melakukan sesuatu.
"Tidurlah lebih awal, aku akan mengirimkan portofolio-mu pada tim kreatif." Melissa kembali meraih pekerjaan yang sempat ia tinggalkan karena membujuk Brad barusan.
"Aku akan menemanimu di sini!"
"Tidak perlu, pergilah ke atas!"
"Aku mau di sini, Mel!"
"Tapi ini rumahku!" Brad memutus pertikaian keduanya dengan sebuah kalimat pamungkas miliknya.
Hasilnya? Melissa terpaksa harus menuruti kemauannya Brad yang berkacak pinggang dengan kekeuh ingin berada di kamar Melissa.
**
Seperti yang telah dijadwalkan oleh Melissa sebelumnya, malam nanti Brad akan menjadi bintang tamu secara live di program acara Talk With (Bintang Tamu). Progam yang membahas bincang bersama tokoh publik seperti orang penting dalam berbagai kalangan memang baru beberapa kali tayang di televisi.
Dan hari ini pulalah, Direktur PT Sari Indrayana dipanggil oleh Polda. Brad dan tim humasnya akan mengikuti jalannya pemerikasaan dengan laporan yang akan mereka peroleh dari kuasa hukum perkebunan kelapa sawit tersebut.
Meski tak ikut andil dalam pemeriksaan di Polda Jambi nantinya, Brad selaku investor terbanyak mau tidak mau harus mengikuti perkembangan kasus ini karena menyangkut nama baiknya yang menuduh telah melakukan penyucian uang di perusahaan tersebut.
"Semangat, ya! aku yakin kamu bisa." Melissa kembali menyemangati Brad agar bisa lebih bersemangat menghadapi kasus ini.
__ADS_1
"Ini semua berkat kamu, Sayang."
Selain menguatkan, Melissa juga membenarkan letak dasi sang suami sebelum berangkat bekerja. "Setelah kasus ini clear, berjanjilah satu hal padaku?"
"Apa itu?" Wajah kusut itu kini kembali bersemi karena sang istri sangat memperhatikan dirinya apalagi seperti pagi ini.
"Nanti aku katakan ketika selesai live, berangkatlah ini sudah siang."
"Baiklah, aku tunggu." Sebelum pergi, pria itu kini mempunyai kebiasaan baru, yakin membelai lembut rambut Melissa dan mengecup kening wanitanya.
Meski tampak belum terbiasa, tapi Melissa bisa memahami seperti apa yang diinginkan oleh Brad. Karena Melissa tahu jika Brad pasti tidak mau melepaskan dirinya yang menjadi tameng untuk politikus tersebut.
"Hati-hati!"
"Kami pergi dulu, Bu." Mario yang menemani Brad juga berpamitan pada Melissa yang masih berdiri menunggu kepergian Brad bekerja.
...****...
"Res, ayo ikut aku!" ajak Melissa pada Resti seusai mengantar kepergian Brad bekerja.
"Kita akan ke mana, Bu?" Resti sedikit curiga karena sang bos meminta secara mendadak ke suatu tempat pagi ini.
"Membereskan kekacauan ini, aku harus menemui dua pria kekanak-kanakan itu. Kalau tidak, mereka berdua pasti akan baku hantam."
Benar saja, di balik perkiraan Melissa. Baik Brad ataupun Ari saling memiliki rencana untuk menjatuhkan satu sama lain.
Dan tugas Melissa adalah memastikan jika Ari tidak melakukan hal konyol dengan terus mengusik Brad. Karena Melissa tahu seperti apa sang suami jika sudah di luar batas kendali. Melissa akan meminta Ari untuk tetap berada di tempatnya dan jangan ikut campur masalahnya. Karena Melissa tak ingin sang sahabat terluka nantinya.
__ADS_1