
Ari berjanji akan selalu melindungi Melissa sekuat tenaganya. Meski dunia tak berpihak padanya. Namun, semua itu akan Ari lakukan demi rasa sayangnya pada Melissa.
"Kakak kenal Melissa?" tanya Glenn dari balik punggung Ari begitu pengacara lelaki itu menutup pintu kamar yang kini dihuni oleh Melissa.
"Dia teman kuliah kakak dulu," sahut Ari. Tak bisa dipungkiri lagi, wajah Ari begitu kusut. Sangat jelas di garis wajahnya jika pria itu sangat tertekan oleh keadaan.
"Apa yang terjadi, Kak? Sepertinya masalah kakak dengan Melissa tampak rumit dan tidak semudah yang aku kira," Glenn adik lelaki Ari juga mengkhawatirkan sang kakak lelaki. Pasalnya selama ini, hanya kakaknya lah yang begitu peduli dengannya. Terlebih lagi sejak kematian kedua orangtuanya, beban yang besar telah ditanggung oleh Ari seorang diri.
Ari mengajak Glenn berbincang sedikit dari yang ia rasakan saat ini. Pria dewasa itu tak tahu lagi harus berunding dengan siapa lagi. Pikirannya kacau. Kesal, marah serta menyesal campur aduk jadi satu.
"Dia amnesia, setelah kecelakaan itu Melissa kehilangan sebagian ingatannya. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya berharap agar Melissa segera pulih dan memulai hidup baru yang lebih bahagia," Ari Dinata tidak melanjutkan kalimatnya, hanya itu saja yang ia harapkan demi kebahagiaan Melissa. Pria yang sangat mencintai Melissa itu bahkan hanya bisa berharap dan terus mendukung Melissa.
Glenn menepuk punggung abangnya menguatkan Ari agar tetap tegar menghadapi keadaan. "Apa begitu sulit hidupmu, Kak?"
Ari hanya menggeleng, "Ini sudah menjadi risiko jalan yang kupilih, Glenn. Dan aku sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi."
Ketika dua kakak beradik tersebut sedang menguatkan satu sama lain. Di luar rumah mereka terdengar suara gaduh.
Untuk memastikan apa yang terjadi, Ari serta adiknya Glenn keluar rumah.
Betapa terkejutnya Ari ketika melihat kedatangan suami dari Melissa. Keterkejutannya itu bertambah banyak bukan lantaran tahu dari mana keberadaan Melissa. Namun, wajah serta perangainya lebih terlihat arogansi daripada yang ia lihat di rumah Melissa sebelumnya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, pria yang dibalut dengan jas Alexander Amosu Vanquish II Bespoke tersebut menerobos masuk ke dalam area rumah keluarga Dinata. Wajah Brad tampak geram karena Ari tak pernah mau menuruti perintahnya dengan tidak ikut campur urusan Melissa dengannya.
Brak ... jika kemarin Ari yang memukul Brad, maka kini Brad tak segan untuk meninju rahang Ari dengan sekuat tenaga. "Sudah kukatakan padamu, jangan dekati dia!"
Tentu saja politisi itu tidak sendiri, para pengawal yang Brad tegaskan langsung berhamburan ke dalam rumah untuk menemukan keberadaan Melissa.
Sedangkan Glenn, pemuda itu sangat cepat tanggap membantu berdiri sang kakak yang telah dijatuhkan tadi.
"Melissa ... keluarlah! jangan buat aku melakukan hal yang kasar padamu!"
"Cukup! ini rumah kami, kau tak berhak seenaknya di sini. Lagipula Melissa jadi seperti ini karena kau,"
"Kau pikir aku bodoh? Dari dulu, kau sudah mencuci otak istriku, Kau? Pria menyedihkan yang hanya bisa bersembunyi di balik zona pertemanan." maki Brad dengan nada seolah menyindir posisi Ari saat ini.
Tentu saja Brad langsung emosi, karena Ari telah lancang membawa pulang Melissa.
Tak tanggung-tanggung, Brad membawa pulang Melissa meski wanita itu harus terbangun dari tidurnya karena diangkat dengan paksa oleh orang lain.
"Lepaskan aku! aku tidak mau ikut denganmu!"
"Diam! kau tak berhak mengatakan tidak padaku! kau ini masih tanggung jawabku, Melissa!'
__ADS_1
Meski Melissa berontak dan menolak pulang. Namun, Brad tetap membawa Melissa pulang.
"Masuk!" Pria itu menarik kasar tangan Melissa agar masuk ke dalam mobilnya. Jika dulu, Brad masih membiarkan Melissa untuk duduk di depan, maka kini Brad memaksa Melissa untuk masuk dan duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Bereskan kekacauan ini, dan tutup semua mulut sampah yang melihat keributan ini. Aku tak ingin media tahu masalah ini." Perintah Brad ini seperti sebuah titah dari kaisar agung yang harus dipenuhi oleh anak buahnya. Dengan apa atau bagaimana caranya pokoknya semua harus sesuai kemauan Brad.
Bukan Melissa juga namanya jika akan berdiam diri menerima ketidakadilan ini. Meski di dalam mobil bersama om-om gila yang terus menerus melihatnya. Melissa tak kekurangan ide untuk mengecoh pria dan anak buahnya tersebut.
Melissa menoleh ke sisi kiri badannya. Ia melihat Brad membuang muka dan lebih memilih menyaksikan jalan raya.
"Pak Sopir, biasakah kamu membawaku pulang ke rumahku sendiri?" Melissa merayu sang pengendara agar diantarkan pulang ke rumah ayahnya.
"Tidak!" Bukan sopir yang menjawab, melainkan om-om gila yang berada di samping Melissa.
"Ayahku akan marah jika pulang dan tidak menemukan aku, nanti aku bayar deh?" Melissa merayu pengemudi itu lagi.
"Melissa, kau pikir ini taksi?"
"Aku gak bicara sama kamu kok!"
...****...
__ADS_1