Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Dua Puluh Dua


__ADS_3

Seorang pria bertubuh tinggi dengan predikat politisi muda tertampan hendak memasuki salah satu kamar di rumahnya. Kamar tamu yang kini dihuni oleh Melissa menjadi saksi bisu betapa menderitanya wanita yang telah ia nikahi lebih dari setahun ini.


Brad membuka knop pintu kamar Melissa, sangat hampa. Kamar yang telah lama dihuni oleh putri tunggal Hans Effendi itu, kini hidup dengan berbagai bungkus makanan ringan yang berserakan di lantai.


Melissa dalam versi amnesia sangat berbeda dengan Melissa dewasa. Wanita itu kini seperti menjelma menjadi anak serampangan. Tapi, semua itu sangat disyukuri oleh Brad. Karena Melissa gagal menyingkirkan status pernikahannya.


Brad memandangi wanita yang terlelap dengan posisi membelakangi pintu keluar. "Kau begitu membenciku, Mel."


Tangan kekar itu kini berpindah menarik selimut Melissa yang telah bergeser dari posisi yang semestinya. Brad membetulkan selimut Melissa agar sang istri tidak kedinginan dalam ruangan ber-AC.


Sesekali Brad mengusap serta menyibak anak rambut Melissa yang menutupi wajah cantiknya, "Jika kita bertemu lebih awal, apa kau mau menerimaku, Mel?"


"Melissa, aku tercipta sebagai tulang punggung. Tapi aku tak seperti Adam yang selalu melindungi Hawa. Namun, aku berharap agar kau tak lelah menjadi tulang rusukku."


“Hati ini bergetar kala sepasang manik indahmu menatapku. Pandanganku terhalang keindahannya. Sekujur tubuh lemas seketika dan mulai tersadar. Kini kau memilih siapa. Apa daya diri ini? Bukan siapa-siapa yang mencintaimu.”


Pria yang telah meluapkan seluruh isi hatinya pada Melissa itu kini beranjak berdiri. Brad tak ingin kehadirannya bisa menganggu tidur indah Melissa. Biarlah raganya saja yang sakit, asal hati Melissa tak sakit lagi karenanya.


"Ada yang meleleh di ujung kedua mataku, begitu lantunan curahan dari hatimu ku dengar. Ternyata bendungan air mataku tidak terlalu kuat sehingga jebol lagi, meski baru sedikit.” (Melissa)


**


Penghuni rumah mewah Brad mulai menggeliat, baik ART maupun si empunya rumah saling berlomba menerjang waktu. Ada yang sibuk berberes pada setiap sudut, ada pula yang masih dalam suasana kantuk ketika mendengarkan jadwal harian dari sekretaris.


Melissa beberapa kali kedapatan menguap karena tak bisa menahan rasa kantuknya.


"Segera cuci mukamu, Mel! kau membuat napsu makanku hilang."


"Pak, bisa tidak kalau lagi membacakan jadwal yang lebih santai? Singkat padat jelas, jangan cepat-cepat dong! nih nyawa baru ngumpul setengah." Melissa sedikit protes pada Sekretaris Brad karena membacakan jadwal harian untuknya dengan cepat tanpa ada pengulangan.

__ADS_1


"Sudah ... sudah jangan berdebat! oya, Mel ... kepala pelayan semalam mengatakan jika kau ingin berbicara padaku?"


Melissa sedikit menaikkan salah satu alisnya. Ia mengingat kejadian semalam sebelum Melissa tidur. Sesekali jari jemarinya memainkan garpu di tangannya.


"Oh, yang itu!" Wajah Melissa antusias karena mampu mengingat apa yang akan dikatakan untuk Brad.


Brad memberi isyarat pada sekretarisnya agar meninggalkan dirinya dan Melissa, karena politisi muda itu menangkap sebuah keseriusan di mata Melissa.


"Apa ada masalah?" tegur Brad membuka percakapan agar Melissa bersedia mengatakan sesuatu.


"Om, aku ingin pulang ke rumah!"


"Ya ampun kukira ada apa, nanti katakan pada supir kita untuk mengantarkanmu pulang sebentar,"


"Tapi aku ingin pindah dari sini, Om."


Brad kembali menghentikan aktivitas di ruang makan ini. Bukan sekali ini saja Melissa ingin pergi dari rumah. Dan hal seperti ini, bukan masalah baru bagi Brad. "Kenapa?" Kedua manik hitam Brad menyoroti wajah cantik khas bangun tidur Melissa.


"Stop, Melissa! jangan bahas ini lagi karena aku tidak akan pernah mengizinkan kau keluar dari rumah ini." Brad beranjak dari tempat duduknya agar tak ada lagi perselisihan dengan sang istri.


Mau sebagai anak remaja atau sebagai wanita dewasa, Melissa sama-sama keras kepala. Brad pasti akan kesulitan berdebat dengan jurnalis satu ini. Karena berdebat adalah hal yang sangat dikuasai oleh Melissa.


Melissa bergumam sendiri ketika Brad mulai berjalan menjauhi dirinya, "Aku tidak ingin menyusahkan orang lain, dan aku juga tak ingin menjadi beban untuk orang lain."


Tanpa sadar, Brad masih mampu mendengar gumaman pelan dari Melissa. Hati pria itu seperti teriris sembilu tajam. Perasaannya hancur karena selama ini Melissa masih menganggapnya orang lain di hatinya.


Dan sialnya, Mel bahkan melupakan siapa sebenarnya Brad. Dahaga rindu sosok wanita yang sering berdebat dengannya semakin menggebu. Bahkan beberapa saat yang lalu, Brad sempat ragu jika suatu saat berniat mengatakan kebenaran pada Melissa. Brad masih ingin mempertahankan keberadaan Melissa di rumah ini, entah itu tulus ataupun hanya mengharapkan dukungan ayah Melissa.


Brad telah menjadi tulang punggung yang gagal. Segala tindakannya terangkum menjadi ingatan menyakitkan. Menyebar dalam rasa yang berbeda

__ADS_1


Hingga tersadar akan kesalahan.


Egois menjalar menjadi akar permasalahan mereka, seandainya penyesalan bersuara lantang di awa. Maka keduanya tak pernah berbuat kesalahan. Kemudian, kesalahan tersebut menjadi bukti sejarah kelam.


Tanpa memikirkan apapun lagi, Brad kembali mendekati Melissa dan menarik tangan wanita yang masih duduk di meja makan tersebut. Hal tersebut sontak membuat Melissa menghentikan waktu sarapannya dan terpaksa mengikuti ke manapun Brad membawanya.


Pria dewasa itu, mengajak Melissa naik ke lantai tiga yang merupakan kawasan privat miliknya. Tak satupun orang yang berkepentingan diperbolehkan naik ke lantai tiga.


"Kita mau ke mana, Om?"


Brad tak menjawab pertanyaan Melissa, hatinya masih sakit memikirkan semua perkataannya wanita yang menjadi istrinya.


Om-om aneh itu membawa Melissa ke ruang yang menjadi private area miliknya. Brad membuka pintu kamar tersebut agar ia bisa mengajak Melissa melihat kenyataan.


"Om, jangan aneh-aneh deh! gini-gini aku bisa bela diri loh!" Melissa semakin ketakutan karena Brad membawanya masuk ke kamar pribadi pria dewasa itu. Bulu kuduknya berdiri, bukan karena kedinginan, melainkan karena merinding.


"Lihat apa yang akan aku lakukan! Setelah ini, aku jamin kau tidak akan menganggap aku orang lain, Mel!"


Melissa membuang pandangan, ia tak sudi jika harus masuk ke dalam jeratan pria tua ini. Telebih lagi, Brad memiliki nilai minus di mata Melissa sejak Mel bertemu dengan para kekasih pria itu.


"Lihatlah baik-baik! siapa aku?"


"Ini tidak mungkin!" kedua lutut Melissa terasa lemas dan kakinya seperti kebas hingga tak bisa melakukan apa-apa.


Ulurkan tangan mu agar ku mampu berdiri. Melangkahkan kaki mengarungi harapan yg belum usai kita jalani. Jangan biarkan hati ini mati ditengah penantian yg belum menepi. Karena kisah kita belum usai.


...****...


Jangan baper ya. di episode ini

__ADS_1



__ADS_2