Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Empat Puluh Empat


__ADS_3

Tak mudah bagi Melissa untuk menundukkan ego serta sikap dinginnya. Namun, apa yang ia dapatkan? Berulangkali disakiti, apa lantas membuat Melissa menerima begitu saja?


"Gantian aku yang mengemudi, Res!" pinta Melissa dengan ragu-ragu agar Resti mau berganti posisi dengannya. Melissa tahu jika Resti tak bisa menolak ataupun melawan Brad sebagai bosnya.


Tetapi, setidaknya Melissa bisa mempercayai Resti. Mel percaya jika Resti pasti tak sampai hati dengan senang'hati membantunya.


Meski Resti sempat menolak, detik selanjutnya wanita muda itu bersedia bertukar posisi dengan istri bosnya.


"Tapi kalau bapak marah gimana, Bu?"


"Tidak akan, dia tidak akan memarahi kamu. Pasti ku dulu yang ditegurnya." Melissa meyakinkan Resto bahwa ia tidak akan disalahkan dengan permainan nyeleneh ini.


Mereka berdua pun bertukar posisi dengan kini Melissa duduk di belakang kemudi.


Melissa membelokkan mobil yang ia kendarai untuk masuk ke dalam toll yang akan membawa mereka keluar dari kota kembang. Melissa mempercepat laju mobil agar segera tiba di Jakarta secepatnya guna bertemu dengan tamunya.


**


Di luar dugaan, jika Mario beranggapan Brad akan murka dan berapi-api padanya. Semua itu salah, Brad lebih tampak penuh penyesalan. Hingga papinya tak mampu menenangkan sang putra.


"Kenapa papi memperbolehkan Melissa pergi?"


"Istrimu bilang ada sesuatu yang harus diurus, demi kehidupan kalian. Mungkin dia akan memberi sebuah kado ulangtahun." Papi yang tak begitu tahu akar permasalahan itu hanya menebak dengan dugaannya.


"Saya sempat mendengar Bu Melissa menyebut pihak ketiga dan real estate, Pak!" Mario menambahkan.


Pikirkan Brad langsung terkoneksi ke arah sebuah apartemen yang telah ia daftarkan pada sebuah agen penjualan properti. "Sepertinya, Melissa telah mengetahui hal ini." Brad segera berlari menuju parking lot di basement hotel.

__ADS_1


Pria itu tak ingin kejadian yang pernah terjadi terulang kembali. Terutama keinginan Melissa untuk meninggalkan dirinya.


Berkali-kali Brad menghubungi Melissa. Namun, tak satupun panggilannya diangka oleh Mel. Karena Melissa mengabaikan ponselnya agar bisa mengemudi lebih cepat sampai.


"Bu ... kita mau kemana, sih? Kenapa buru-buru kaya dikejar setan?'


"Aku akan melihat biro penjualan properti. Sepertinya ada yang salah? Dan aku juga mau tahu milik siapa itu."


Benar saja, Melissa ingin memastikan siapa pemilik apartemen yang dijual dan laporan bulannya dikirimkan ke emailnya.


Perjalanan melelahkan ditempuh Melissa dalam waktu yang singkat. Kini, mantan jurnalis yang menyambi kerja serabutan di televisi milik sang ayah sudah sampai di sekitar jalan menuju apartemen yang sempat ia tinggali.


Tak hanya Melissa saja yang memacu kendaraannya meninggalkan kota kembang dengan kecepatan penuh. Brad juga kepalang tanggung, demi mengejar sang istri guna menjelaskan duduk permasalahan agar tidak terjadi kesalahpahaman, pria itu rela meninggalkan pipinya demi mengejar Melissa.


Dalam susana genting seperti ini, sekilas Melissa mengingat kejadian beberapa waktu lalu yang hampir merenggut nyawanya.


Pikiran Melissa kacau sehingga, napasnya memburu lebih cepat. Resti menawarkan agar Melissa bersedia tukar posisi karena tak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan.


Kembali kepala Melissa berdenyut kencang hingga membuatnya tak bisa menahan rasa sakit yang mendera. "Ibu kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Resti begitu ketakutan jika terjadi sesuatu pada Melissa.


"Tidak ... ini tidak mungkin!" Melissa menundukkan kepalanya dan memegangi dengan erat pusat rasa sakit itu.


Bayangan mengerikan itu kembali terlintas hingga tak mau enyah dari benaknya. Kejadian kejar-kejaran dengan anak buah Brad kini menghantui dirinya.


"Selamatkan aku, kumohon!" ucapnya dengan nada getir yang menyayat hati.


"Bu, mari kita telepon bapak!"

__ADS_1


"Tolong selamatkan aku, kumohon! jangan bunuh aku,"


Melissa menangis pilu hingga menjerit tak mampu mengatur emosinya.


Resti segera merogoh kantong tasnya guna mencari ponsel yang akan ia gunakan untuk menghubungi suami Melissa. "Ayolah, Pak! angkatlah," Resti semakin ketakutan karena keadaan Melissa yang semakin tak bisa dikendalikan.


Untung saja, mobil dalam keadaan berhenti. Dan Melissa sempat menepikan mobilnya.


Brad tak kunjung mengangkat panggilan dari Resti sehingga wanita muda itu semakin ketakutan terjadi sesuatu pada bosnya. Resti segera memeluk erat Melissa guna memberikan sebuah keamanan bagi Melissa yang kini sedang tidak baik-baik saja.


Hal yang ditakutkan oleh Resti muncul, tubuh Melissa lemas tak bertenaga hingga membuatnya pingsan. Untung saja, Resti sedari tadi memegangi Melissa. Dan tepat pada saat itu, panggilan untuk Brad terhubung.


"Ada apa, Res?"


"Pak, Gawat! Ibu pingsan setelah menjerit histeris."


"Apa? Kalian di mana? Sudah panggilan ambulans?"


"Kami di daerah Kebayoran,"


Dugaan Brad benar, Melissa berniat pergi ke apartemennya. Entah darimana wanita itu memiliki ide untuk kembali ke tempat yang telah Brad ajukan pada agen properti.


"Aku di dekat sana, Res! terus awasi Ibu!"


...****...


Hal yang paling aku takutkan di dunia ini bukanlah kematian. Tetapi hal yang sangat aku takutkan adalah kehilanganmu.

__ADS_1


Hal yang paling menyedihkan di dunia ini bukanlah kekalahan, Tetapi hal yang menyedihkan bagiku adalah dukamu.


Hal yang paling kuhindari di dunia ini bukanlah dosa, melainkan menyakitimu.


__ADS_2