Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Ada Apa Dengan Melissa?


__ADS_3

Melissa mulai membuka kedua maniknya kala mentari sudah mulai meninggi, tenaganya telah terkuras habis hingga tak bersisa seusai kegiatan olahraga tadi malam. Bagaimana tidak? Selama tiga bulan lebih ini Brad berpuasa dan semalam hanya menginginkan lagi dan lagi.


Bahkan untuk bangkit dari peraduannya saja, Melissa harus berpegangan pada tepian ranjang. Rasa pegal di sekujur tubuhnya pagi ini telah mengingatkan pada kenikmatan yang tiada tara. "Kenikmatan? Pria sialan itu yang menikmati,"


Melissa meraih pakaiannya yang masih berserakan di lantai. Karena sepertinya housekeeper di rumahnya belum masuk ke kamar Melissa untuk merapihkan ruangan tersebut.


"Jika keluar dengan baju tidur ini, Ibu pasti salah sangka," Melissa mengurungkan niatnya mengenakan kembali pakaiannya.


Cepat ia berpikir untuk segera mengganti pakaian yang akan ia kenakan agar bisa menutup seluruh tanda yang diciptakan oleh sang suami busuknya.


**


"Minum susumu, Mel!" Nyonya Efendi memerintahkan Melissa untuk segera meminum susu hamilnya.


"Kok pada sepi aja, Bu? Mana mereka?" Mereka yang Melissa maksud adalah Brad dan ayahnya.


Karena sejak keluar dari kamarnya, sama sekali Melissa tidak mendapatkan tanda-tanda kehadiran dua pria yang ada di rumah ayahnya tersebut.


Nyonya Efendi mulai menggoda sang anak yang sudah kehilangan suaminya padahal baru ditinggal beberapa saat saja, "Yang udah baikan, baru aja ditinggal bentar udah kangen-kangenan,"


"Ibu apaan, sih? Soalnya Melissa khawatir kalau dua orang itu ketemu, bisa baku hantam," celoteh Melissa seusai menenggak hingga tak tersisa susu di gelasnya.


Ibunya Melissa sedikit berbisik ke telinga sang putri, "Ibu rasa Brad tidak berani pada ayahmu, jika dia berani macam-macam, ayahmu akan membawamu kabur lagi,"


"Tapi mereka masih bersitegang, loh! Mel aja berulangkali tahu jika ayah menyerang Brad dengan berita negatif,"


"Itu semua hanya ujian saja, ayahmu ingin menguji sejauh mana menantunya bisa mengatasi masalah yang datang," Nyonya Efendi memuji kebolehan Brad selama ini. Karena ia juga tahu jika sang suami membombardir Brad dengan serangan berita negatif hanya untuk menurunkan elektabilitas paslon nomor urut satu.


"Dan hasilnya? Brad lolos?" Melissa begitu antusias ingin mendengar jawaban dari ibunya. Semua itu sangat jelas di wajahnya. Apalagi kedua manik Melissa begitu berbinar-binar menunggu jawaban yang bisa melegakan rasa khawatirnya.


"Tanya saja pada ayahmu!"


"Ih ... Ibu. Pasti Ibu tahu dong? Iya kan?"

__ADS_1


Tak berselang lama, Brad masuk ke ruang makan di mana istri dan mertuanya sedang terlibat dalam perdebatan. Brad melongo melihat tak satupun dari mereka mau mengalah.


"Ada apaan, Sayang?" Brad yang baru saja datang langsung disambut dengan sikap masam keduanya seolah ia merupakan santapan empuk dari dua singa betina yang kelaparan.


"Ada kamu, kamu sumber masalahnya!" sahut Melissa dengan mata yang tajam seolah ingin menerkam hidup-hidup sang suami yang telah membuatnya terjaga dari dini hari hingga sebelum subuh tadi.


"Silakan kalian lanjutkan saja, maafkan Brad, Ibu!" Pria yang merasa berada di tengah-tengah situasi genting, lebih memilih membuat jarak agar tak hanyut terbawa peperangan antara ibu dan anak itu.


"Brad, kamu ini datang ke sini mau bawa aku pulang nggak, sih?" bentak Melissa karena semakin kesal melihat sikap menyebalkan sang suami.


"Iya-iya dong, Mel! ayah udah minjemin pesawatnya untuk kita loh."


"Benarkah? Kalian tidak berdebat, kan?" Tatapan Melissa menyelidik menangkap jika ada hal yang disembunyikan oleh Brad seperti biasa darinya.


Nyonya Efendi lebih memilih menghindari kedua anaknya agar memiliki waktu untuk bersama.


"Iya, Sayang! kita harus bergegas pulang dan bersiap-siap pindah ke rumah dinas."


"Ibu, ayah langsung ke tempat golf seusai joging dengan Brad," jelas sang menantu sebelum Nyonya Efendi hilang di balik pintu ruang makan.


"Iya, ayah kalian tadi sudah bilang sama ibu, jadi kalian pulang saja nggak perlu nunggu ayah."


Brad dan ayahnya tadi pagi keluar untuk berolahraga bersama. Selain telah lama tak berjumpa, Hans ingin mengucapkan selamat pada Brad atas kemenangannya. Tak hanya itu saja, Hans juga memperingatkan Brad agat tidak menyakiti hati sang putri kembali. Jika tidak? "Kau akan mendapatkan akibatnya, Brad!" ancam Hans pada sang menantu.


"Siap ayah, Brad akan selalu mengingat nasehat ayah. Dan Brad berjanji akan menjaga Melissa seperti janji Brad dulu,"


**


Di masa kehamilan seperti saat ini, Melissa menjadi lebih lelah dari aktivitasnya. Untung saja, ayahnya meminjami pesawat pribadi untuk anak dan calon cucunya.


"Doakan saja semoga suamimu ini bisa membeli pesawat seperti ini, Mel!"


"Hm ... " Hanya itu saja yang keluar dari mulut wanita dengan satu cone es krim red Velvet favoritnya.

__ADS_1


"Kok hm .. doang? Kamu kecewa karena aku tidak sekaya ayahmu?"


"Mending diem deh! kalau aku kecewa dan bosen, udeh aku buang kamu," jawab Melissa dengan entengnya.


Berkali-kali Melissa menahan untuk tidak menghujat Brad. Tetapi ia tak bisa melawan keinginan itu, seperti telah memiliki senjata balasan atas kejahatan Brad dulu padanya, kini Melissa tak kalah kejam terhadap sang suami.


"Mel, apa putraku ingin sesuatu, Sayang?"


"Berhari-hari ini aku lelah belanja, aku ingin bermalas-malasan di rumah saja, atau bisa juga spa untuk ibu hamil," Melissa mulai memikirkan bagaimana caranya menguras harta Brad yang selama ini tak adil dengannya.


Jarak tempat belanja cukup jauh dari rumah mereka, sehingga Brad berniat membeli sebuah unit di Penthouse atau super block yang berada satu lingkungan dengan pusat perbelanjaan hanya demi Melissa.


"Atau kamu mau kita tinggal di Keraton at The Plaza?"


Keraton at The Plaza atau bisa disebut Keraton Residence menempati posisi teratas dari lima daftar apartemen dengan harga tertinggi karena lokasinya tepat di depan Bunderan Hotel Indonesia yang diklaim sebagai alamat nomor satu di Jakarta.


Tempat paling diminati oleh konglomerat untuk dijadikan hunian karena letaknya yang berada di pusat jantung kota.


Menurut hasil riset Leads Property Indonesia, harga apartemen ini sudah menyentuh angka Rp 138 juta per meter persegi.


Melissa langsung menoleh ke samping kanan yakni Brad yang duduk di sofa panjang di dalam pesawat pribadi milik sang ayah.


"Apa Brad masih waras? Beli penthouse seperti beli krupuk,"


Jika tinggal di sana, Melissa hanya cukup turun ke lantai bawah jika ingin berbelanja serta menghabiskan waktu untuk kongkow atau sebagainya.


"Aduuuuhhh ... " Melissa mengaduh sambil memegangi perutnya yang sudah sedikit membuncit. Mungkin kaget hingga berpikir terlalu tegang, membuat Melissa merasa sakit pada perutnya.


"Sayang, mana yang salah? Di mana sakitnya?" Sangat jelas Brad mengkhawatirkan sang istri. Pikirannya sudah ke mana-mana dan tak ingin Mel dan sang putra kenapa-kenapa.


"Perutku keram, Brad! ini sungguh sakit,"


...****...

__ADS_1


__ADS_2