
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Mel? Pria itu benar-benar telah mencuci otakmu!" bentak Ari dengan gusar sambil berkacak pinggang ketika Melissa menyuruhnya berhenti dari laporan yang dibuat olehnya.
"Jangan libatkan dirimu dari masalah ini! aku tahu meski tak ingat sepenuhnya. Kamu adalah orang yang baik, Ari. Dan aku tak ingin kamu terluka dengan semua ini."
Berulang kali Melissa memohon agar Ari melepaskan balas dendamnya dengan mencabut laporan yang akan membuatnya semakin berseteru dengan Brad. Karena Melissa yakin, akan ada pertumpahan darah jika ia tak segera mengingatkan Ari akan hal ini.
Ari semakin tak mengerti dengan wanita yang selama ini ia cintai. Seperti inikah Melissa melihatnya? Melissa menganggapnya tak mumpuni dari Brad.
Sebuah ruang tunggu VIP pada salah satu bengkel di kawasan Tendean menjadi saksi dua orang teman yang saling mempertahankan asumsi mereka.
"Apa kau sudah jatuh cinta padanya? Sehingga kamu membelanya?"
Melissa tidak menyangka jika Ari akan menanyakan hal seperti ini padanya? Kedua manik Melissa hampir-hampir tak bisa menahan jatuhnya si bulir bening. Namun, Melissa mencoba agat tetap terlihat kuat dan elegan.
Ia berdiri dan menatap wajah Ari dalam-dalam, "Apa kamu mengenal aku dengan baik, Ari? Jika benar, seharusnya kamu tak perlu mengajukan pertanyaan seperti itu!" Melissa kemudian berbalik pergi dengan niat meninggalkan sang sahabat yang ia nilai sungguh keterlaluan.
"Tunggu, Mel ... Aku minta maaf! tidak seharusnya aku seperti itu padamu," Ari menahan kepergian Melissa dengan menangkap tangannya serta menggenggam erat agar Melissa tak bisa pergi lagi.
Untung saja, Resti segera berlari mendekati istri bosnya karena merasa jika kini Melissa berada dalam bahaya.
"Bu, waktu kita tidak banyak. Bapak bisa curiga jika kita terlalu lama di bengkel!"
Benar sekali apa kata Resti. Seperti jadwalnya pagi ini. Melissa ditemani oleh Resti melakukan perawatan bulanan di bengkel langganannya. Kesempatan kali ini, ia gunakan untuk bertemu dengan Ari yang datang terlebih dahulu sebelum Melissa dan anak buah Brad tiba di bengkel servis mobil.
Untung saja, pengawal Melissa tak menyadari jika di dalam ruang tunggu VIP telah terjadi pertemuan antara Melissa dan Ari, temannya.
"Mel, aku minta maaf!"
"Aku harus pergi secepatnya, maaf!" Melissa menghempaskan tangan Ari dan pergi seperti yang dikehendaki oleh Resti.
**
Dalam perjalanan, Melissa masih terngiang-ngiang pertanyaan dari Ari untuknya. Mel tak menyangka jika Ari akan mengungkit masalahnya. Apalagi mengatasi jika ia mencintai Brad sehingga melupakan rencanakan untuk meninggalkan sang suami seperti yang dituduhkan oleh Ari.
"Kenapa dia harus menanyakan hal yang jawabannya sangat mustahil?" gumam Melissa di kursi belakang pengemudi.
__ADS_1
"Apa, Bu?" Resti menimpali Melissa dan merasa jika Melissa bertanya padanya.
"Tidak apa-apa, Res. Aku hanya merasa resah saja."
"Bu Melissa banyak pikiran. Aku tahu, Ibu orang baik. Dan Bapak juga baik pada kami, bahkan Ibu berniat membantu Bapak secara diam-diam."
"Ibu istirahat saja, nanti malam kita harus menemani Bapak, bukan?"
"He'em." Melissa mengangguk membenarkan ucapan Resti. Karena malam nanti ia akan mengikuti jalannya siaran live guna memastikan jika anak buahnya bekerja dengan baik.
**
MC : "Selamat malam, Bapak Brad Owen Rifaldi anggota fraksi PBKB dan anggota komisi tiga DPR RI."
Suara gemuruh dari penonton di studio yang telah menyambut kedatangan Brad di acara mereka.
Brad : "Selamat malam, Mbak Renita Lestari."
MC : "Talk With pada malam hari ini merasa tersanjung atas kedatangan Anda, selain sibuk menjadi wakil rakyat, kesibukan Anda di partai membuat beberapa wawancara baik itu live ataupun siaran ulang sangat kesulitan mendatangkan Anda."
Pujian dari presenter tadi membuat tepuk tangan penonton semakin riuh, karena selain dikenal sebagai seorang politikus, Brad juga telah mem-branding dirinya sebagai ahli politik yang akrab blusukan ke kalangan bawah untuk menarik simpati.
Pada kesempatan malam ini, selain ingin menyapa para pemirsa. Brad juga ingin menyudahi kesalahpahaman mengenai dugaan penyucian uang yang ditujukan padanya.
Brad memang menjadi salah satu investor paling banyak memiliki saham pada perusahaan tersebut. Namun, ia tidak mengatakan jika modal yang ia tanam berupa uang panas yang ia peroleh dari mengeruk uang negara.
Selain berprofesi sebagai seorang politisi, Brad juga gemar bermain saham dan menginvestasikan hartanya pada beberapa perusahaan besar di negara ini. Tak ingin berkecimpung di dunia bisnis, adalah alasan Brad enggan memimpin perusahaan tersebut dan menunjuk seorang direktur untuk mengawasi serta menjalankan bisnisnya.
Di akhir acara, Brad menyampaikan maaf karena terlambat membuka identitas dan membuat warga menduga-duga. Dan ia mengucap banyak terimakasih karena rakyat telah mempercayakan dirinya sebagai wakil rakyat. Dan yang paling utama adalah, "Terimakasih kepada istriku, dialah yang memberikan semangat padaku serta bersedia bersama dalam suka maupun duka."
Ucapan Brad di akir acara mendapatkan pujian dari presenter dan juga penonton di studio. Hingga mereka semua memberikan tepuk tangan yang riuh pada salah satu wakil rakyat tersebut.
"Bu l sh it! semua itu bohong, nyatanya kau ... "
__ADS_1
Melissa melihat pria yang begitu dielu-elukannya oleh penonton tersebut dari dekat sutradara yang bertugas pada malam ini.
Begitu acara dinyatakan selesai, Brad dipersilakan meninggalkan studio HTV. Kepergian Brad diikuti oleh Melissa yang sejak tadi terdiam di sampingnya.
"Kenapa diam saja? Apa kamu begitu bangga dengan suamimu, Mel?" Pertanyaan Brad ini menyentak lamunan Melissa.
"Em ... aku lega, masalah ini bisa teratasi." jawab Melissa dengan singkat.
"Semua ini berkat istriku, mau hadiah apa?" Atas bantuan ini, Brad ingin mengapresiasi Melissa dengan memilih hadiahnya sendiri.
"Apa aku boleh meminta apapun? Meski itu sangat sulit kudapatkan?"
"Apapun? Aku akan berusaha memberikannya untukmu, Sayang."
"Bagaimana jika aku ingin ... " Melissa memotong pembicaraannya karena, ia sangat sulit meminta hal yang ia impikan dari Brad.
"Apapun akan aku berikan! Selain perpisahan." Brad menempelkan tangannya di bingkai pintu mobilnya sebelum Melissa masuk agar kepala sang istri tidak terbentur pintu mobil.
Melissa semakin sinis menatap pria tua itu dan bertanya, "Kenapa kamu berpikirlah jika aku ingin berpisah? Apa kamu ingin menikah lagi?"
"Hahahaha ... Melissa, Melissa! kamu ini lucu sekali."
"Bagaimana jika aku minta nyawamu, Brad?"
"Kenapa kamu tak ingin semua uangku? Tapi jika kamu mau nyawaku, maka aku akan memberikanmu?" jawab Brad diiringi gelak tawa dan duduk di sebelah sang istri yang kini mulai memanyunkan bibir merahnya.
Melissa kesal karena sejak tadi Brad menggodanya.
...****...
Pisah atau terus nih gengs?
__ADS_1