
Melissa bergidik ngeri ketika membuka kado pemberian Dona. Jurnalis wanita itu menerima sebuah bingkisan yang dibungkus rapi dengan sebuah pita berwarna merah.
"Aku membelikan senjata untuk memperbaiki hubungan kalian, jangan pisah dari suamimu, Mel! nanti eike nggak bisa dapat kucuran dana segar lagi." Kata-kata Dona kembali mengingatkan kembali tujuan balas dendam Melissa.
Meski sempat terlintas untuk mengubur lukanya. Namun, Melissa masih saja memikirkan seperti apa perlakuan Brad selama ini padanya. "Bahkan dia berniat menghilangkan nyawaku," gumamnya pelan mengingat isi hasil penyidikan mobilnya.
"Mudah saja membunuhku, Brad. Tapi kenapa kini kau bersikap seolah-olah seperti suami yang menyayangi istrimu?"
Pikiran Melissa kacau, antara lanjut ataupun mundur' dari rencana lanjutannya. Ia berniat mengubur pernikahannya dengan Brad dan pergi begitu saja tanpa pamit.
Kembali Melissa membenamkan kepalanya ke dalam bathup yang berisikan busa lembut serta wewangian aromatik favoritnya. Aroma tersebut menguar hingga mampu sedikit melonggarkan syaratnya yang tegang.
**
"Ibu baru saja makan malam, Pak!" Lastri melaporkan kegiatan sang nyonya rumah pada Brad yang ternyata pulang lebih awal dari biasanya.
Tanpa memedulikan Lastri, Brad hanya mengangguk mengiyakan laporan Lastri untuknya. Pria tua itu ingin segera naik ke lantai atas untuk segera menemui Melissa, Secepatnya, karena setelah kejadian semalam, Brad benar-benar tak bisa mengenyahkan bayangan Melissa di matanya. Sikap manja dan menggoda Melissa seperti semalam mampu membuat fantasi Brad semakin menjadi.
"Bapak seperti merindukan suasana rumah akhir-akhir ini, Pak!" celetuk Lastri begitu pelayan itu berpapasan dengan Colin.
Begitu kaki Brad menapaki anak tangga terakhir, politikus muda itu segera mempercepat langkahnya untuk masuk ke kamarnya yang baru saja direnovasi tersebut.
Namun, seseorang yang menjadi tujuannya malam ini tak menampakkan batang hidungnya. Sehingga dengan berat hati Brad kembali turun ke lantai satu di rumahnya.
"Colin! sudah kau hubungi perusahaan pemasangan lift?" tanya Brad dengan sedikit menaik napas karena berhasil naik kemudian turun kembai ke lantai dasar.
"Tiga hari lagi, Perusahaan Stiltz Homelift akan datang memasang, Pak!"
"Baiklah, terimakasih."
__ADS_1
Brad segera berlalu menuju kamar yang sering ditiduri oleh Melissa. Suami mana yang tega membiarkan sang istri tidur sendiri? Nyatanya Brad selama ini tega pada Melissa. Dan kini, pria yang setahun lebih menikahi Melissa tersebut merasa menyesal terhadap tindakannya dulu.
"Sayang ... " panggil Brad pada sang istri yang ia tahu keberadaannya dengan berserakannya kamar bernuansa warna putih tersebut.
Kedua manik kehitaman milik Brad menangkap sebuah kado yang terbuka dengan sesuatu yang berwarna merah menyala. Brad menambah langkahnya mendekati boks berukuran 20x20 cm tersebut.
Senyum indah terbit di sudut bibirnya. Jantung politikus PBKB tersebut berdegup tak karuan ketika melihat benda tipis berbahan brokat tersebut.
"Dia semakin berani menggodaku? Melissa apa kau benar-benar telah mencintaiku?" Brad meletakkan kembali pakaian serba tipis itu di tempat semula dan berpura-pura tidak melihatnya demi ide Melissa.
Suami Melissa itu menduga jika sang istri sengaja ingin menggodanya malam ini karena semalam telah digempur habis-habisan olehnya. Sehingga Brad keluar dengan cengengesan dari kamar Melissa dan berdrama tidak melihat apapun.
"Bapak mau makan dulu?" tawar Colin begitu melihat Brad keluar dari kamar Melissa.
"Boleh juga, makan malam bisa mengisi tenaga." jawab Brad santai.
Bukan hanya Colin saja yang mengartikan lain dari ucapan sang bos. Bibi pelayan pun segera menyiapkan keperluan makan malam Brad dengan segera agat tak mendapat amukan dari tuan rumah.
"Lho, Mel kok pakai piyama?"
"Pakai piyama? Ya iya lah, kan aku mau tidur. Masa iya pakai mukena? Yang bener aja." Dengan gampang Melissa menjawab pertanyaan Brad masalah pakaiannya.
"Bukan begitu, Sayang. Aku melihat di atas ranjang ada .... " Belum sempat Brad melanjutkan kalimatnya, buru-buru Melissa membekap mulut sang suami dengan kedua tangannya agar tidak membahas lin g erie merah pemberian Dona.
"Sssttt ... darimana kamu tahu?"
"Aku melihatnya tadi, dan itu sangat pas untukmu."
Wajah Melissa bersemu merah begitu Brad semakin membahas masalah pakaian minim tersebut. Apalagi jika mengingat kejadian semalam, raut wajah Melissa semakin merona.
__ADS_1
Melissa lalu mengancam Brad agar tidak melanjutkan kekonyolan hal tersebut. "Semoga kamu tersedak jika bahas itu lagi."
Seusai memperingatkan Brad, Melissa berbalik arah untuk menghindari Brad dan melegakan tenggorokannya yang hampir tercekat.
Begitu Melissa selesai meneguk air minumnya, Brad bangkit dan mengekori ke manapun sang istri melangkah.
"Ada apa lagi? Bukankah kamu sedang makan?"
"Kenapa? Aku udah kenyang, sekarang saatnya memakan kamu."
"Yang benar saja, tidak akan ada khilaf untuk kali kedua."
...****...
Hai warga ples enam dua 😁
Gimana kabarnya? Semoga kita semua selalu sehat agar bisa terus mengikuti kisah ini. Jangan lupa jaga kesehatan fisik dan hati ya Bestie. Sakit fisik bisa dicover BPJS, tapi kalau sakit hati kagak yes.
So, I hope God bless us all.
Oh iya, di antara kalian ada yang udeh dapet kiriman santet kan dari eike? Dua orang di NT dan satu orang pembaca dari aplikasi tetangga sudah menerima bingkisan dari juru ketik.
Kok bisa? Bisa dong. Karena mereka selalu mengikuti setiap cerita saya dan selalu memberikan respon positif.
Lalu siapa lagi yang mau bingkisan kecil dari juru ketik?
Kalian bisa berkesempatan mendapatkannya. Cukup like, komen menarik dan gift atau vote seikhlasnya.
__ADS_1
Makasih.