Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Tujuh


__ADS_3

Menjalani hidup seperti sebuah boneka pajangan bukanlah hal yang diinginkan oleh Melissa. sejak kecil Melissa tidak memiliki keberanian untuk menolak sang ayah.


Ketidakmampuan Melissa melawan perkataan Hans Effendi bisa dilihat dari bersedianya Melissa menggadaikan kebebasannya dengan menikahi Brad. Pria yang tak pernah mencintai ataupun dicintai oleh Melissa.


Rahasia kesepakatan pernikahan itu juga hanya diketahui oleh Mel dan Brad saja. Selama ini, Melissa harus puas merelakan status singlenya dan ditukar sebagai istri di atas kertas.


Angan serta impian Melissa menjadi sosok yang bebas kini sebenar lagi akan terlaksana. Wanita itu begitu girang hingga bersenandung di dalam mobil rekan dari Ari Dinata. Sembari mengemudi mobil menuju Pengadilan Agama, Melissa tak berhenti mengucap syukur karena Tuhan telah membantunya melewati ujian hidup selama ini.


"Jika kamu keberatan dengan pernikahan ini, ibu bisa membantumu pergi jauh, Mel!" Ucapan sang ibu ini selalu memenuhi relung hati Melissa.


Hanya ibunya lah yang bisa memahami gundah di hati Melissa. "Tidak, Ibu! Mel akan menjalani keinginan ayah, Mel tidak ingin Ayah menyakiti hati ibu lagi." Dan Melissa pun akhirnya menerima permintaan sang ayah tepat sebelum prosesi pernikahan dilaksanakan.


"Ibu tahu kau menderita, Mel. Putri ibu telah banyak berkorban demi Ayahnya."


"Jangan katakan hal itu, Ibu! Meski Melissa tidak pernah menginginkan hal ini, tapi Melissa akan melakukan apapun sebagai rasa bakti Melissa."


Secara sepihak, Melissa telah tidak adil pada hari dan raganya sendiri. Ia benar-benar egois karena lebih mementingkan nama baik sang ayah.


Kini, semua rasa sakit serta penderitaan Melissa akan segera usai dengan datangnya Melissa melayangkan gugatan cerai untuk sang suami. Suami? Memikirkan kata itu saja Melissa tak sanggup. Selama ini Brad hanya mementingkan hidupnya sendiri.


"Pelan-pelan, Mel! you deserve happy." Melissa bermonolog dalam hatinya.

__ADS_1


Kegirangan Melissa yang ia rasakan, sedikit mengendur ketika dari spion mobil Mel melihat satu buah mobil berjenis SUV yang ia yakini sebagai anak buah dari sang suami.


Melissa mempercepat laju mobilnya. Tak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang ada membuat Melissa ingin sampai di tempat yang ia tuju dengan sesegera mungkin.


Naluri menyelamatkan dirinya kembali diuji dengan bagaimana caranya agar bisa terbebas dari mobil di belakangnya.


**


Di dalam mobil, Brad mendapati sebuah laporan dari anak buahnya, "Pak, kami menemukan Nona Melissa. Mobilnya menuju ke pengadilan Agama."


"Hentikan, apapun yang terjadi jangan biarkan Melissa ke sana."


"Apa yang Anda inginkan?"


Ciiiiitttt ... suara gesekan antara ban dengan kerasnya aspal memenuhi jalanan sebelum sebuah tabrakan terjadi.


Mobil Melissa oleng ke kiri hingga membuatnya kehilangan kendali atas mobilnya..


Kecelakaan pun tak dapat terhindari, mobil yang dikemudikan oleh Melissa menabrak beton pembatasan jalan di sisi kiri.


Sang pengemudi masih berada di dalam mobil sebelum petugas medis serta pihak kepolisian datang.

__ADS_1


Bangkai mobil masih tergeletak di posisi semua, dengan beberapa petugas Polisi yang menyelidiki. Sedangkan tubuh berlumuran darah Melissa dibawa oleh Ambulance untuk mendapatkan pertolongan darurat.


Kabar kecelakaan Melissa lebih cepat berembus daripada sebuah angin. Peristiwa ini menjadi pukulan berat baik itu bagi keluarga Melissa ataupun rekan-rekannya.


Bahkan Brad sendiri hingga tak mempedulikan apalagi dengan secepatnya ke rumah sakit tempat Melissa dibawa.


...****...


Dalam keriuhan aliran sungai aku terdiam. Secercah buih air membasahi hati yang beku. Langkahku terhenti dalam dunia yang kelam. Setitik harapan keinginan hati yang terpaku


Dasar jiwa bagai lubang dalam hati, keinginan terkalahkan dengan rasa malu. Rangkaian kata terpatri dalam hati yang mati. Beriring alunan bait-bait cinta yang aku pun tak mampu.


Dengarkan syair hatiku, hati seorang pujangga. Terkalahkan dengan rasa yang tak lagi ada. Dengarkan bait-baitku bait seseorang yang hina. Hyati dan dengarkan suara hati yang tak lagi ada


Kosongnya hati kekosongan dalam penantian. Mimpi dan anganku terdiam tanpa arah tujuan. Hitam kelam bagai kegelapan malam yang. Termakan bulan. Sehitam syair-syair yang ku lantunkan..


Di saat hati ini mulai menutup mata, angan serta pikiran. Dari datangnya cinta seorang pangeran yang kuharapkan.


Kemarin, telah kuukir egoku di batu cadas. Menyeduh kopi disaat langit menangis. Dan mengalirkan liuk genangan air membentuk bendungan.


Sumpah serapahkan menanggalkan semua tanpa bekas. Lunglai termakan tanah sebelum melewati sudut-sudut. Sisa-sisa debu beranjak digiring air

__ADS_1


Aku Telah Mati Rasa


__ADS_2