
Melissa berhasil mengelabuhi pengawal di rumah Brad. Karena semua pegawai di rumah dalam gertakan Brad sehingga mempersulit ruang gerak Melissa.
Dengan alasan ingin berangkat ke sekolah, Melissa belum bisa menerobos keluar rumah. Telebih lagi seluruh pegawai rumah telah diberi mandat untuk tidak membiarkan wanita itu pergi begitu saja.
Bukan Melissa namanya jika diam berpangku tangan, akal serta pikirannya tetap jalan meski kehilangan ingatan. Melalui sebuah ide gila, Melissa mampu keluar rumah serta mencegat sebuah taksi dengan iming-iming berupa jam tangan mewah sebagai imbalan supir taksi tersebut.
Meski begitu, Brad tidak akan membiarkan Melissa kabur begitu saja. Pria itu selalu memiliki segudang cara untuk terus mengikuti Melissa ke manapun. Dan walaupun raganya tak bisa hadir ke manapun Melissa berada, Brad selalu bisa menempatkan beberapa pengawal dalam jarak aman ke manapun Melissa pergi.
Wanita itu bergegas berlari menuju pintu gerbang sekolah. Melissa marasa sangat takut jika dimarahi oleh Bu Susi. Mesti tanpa mengenakan seragam SMA Al-Akbar, Melissa tetap kekeuh ingin masuk ke sekolah.
"Hei, bukain pintunya! Pak Lubis ... aku mau ujian!" Melissa berteriak dengan kedua kaki sempat menaiki satu geruji pintu pagar sekolah.
Berkali-kali Melissa berteriak memanggil Pak Lubis, si Satpam sekolah. Namun, bukannya Pak Lubis yang menemuinya. Melainkan satpam sekolah yang lain.
"Kenapa teriak-teriak sih? Pelajaran udah masuk. Kamu mau apa, Neng?" tegur salah satu satpam yang tidak dikenal oleh Melissa.
"Bapak orang baru ya? Aku Melissa, cewek paling populer di SMA Al-Akbar. Ayahku bernama Hans Effendi," sebut Melissa mengingatkan agar satpam tersebut membukakan pintu untuknya.
"Bodoh amat, mau neng anak Pak Jokowi kek, Pak Ahok kek, Neng itu udah salah. Lagian ke sekolah kagak pakai seragam,"
"Ya elah, Pak! ini darurat, Aku baru aja kabur dari rumah. Bapak bukain deh, nanti aku dimarahin loh ama Bu Susi."
"Neng, neng salah sekolahan kali Neng. Bapak kagak pernah liat eneng di sekolah ini."
Melissa masih tak terima jika Satpam tersebut melarangnya masuk dengan berat hati untuk membukakan pintu masuk.
Tak berselang lama, seorang pemuda dengan mengendari motor kesayangannya hendak masuk ke dalam area sekolah.
Melihat pemuda itu, terbit lah akal Melissa untuk memaksimalkan kesempatan masuk ke sekolah. Apalagi, ia sudah kenal dengan pemuda yang tampangnya begitu tampan tersebut.
"Kak Glenn. ... "
"Melissa?"
__ADS_1
"Nah, ini kakak senior aku!" Melissa memanfaatkan kedatangan Glenn agar bisa masuk ke dalam area sekolah.
Bahkan Melissa harus menggandeng mesra Glenn agar si satpam tersebut bersedia meloloskan dirinya.
"Kok Kak Glenn ada di sekolah Melissa?"
"Aku kebetulan ke sini, Mel! tante aku mengajar di sini. Dan tante aku meminta aku membawakan kertas ujian untuknya."
"Wah kebetulan sekali, siapa nama tante kamu? Siapa tahu aku kenal?"
"Bu Arista," jawab Glenn singkat.
Melissa mengingat-ingat nama guru yang bernama Arista tersebut. Tak pernah seingatnya memiliki guru yang bernama Arista. Apakah dia guru baru? Masa iya Melissa tidak kenal.
Semakin Melissa dan Glenn memasuki area sekolah. Ada sebuah perasaan yang lain dari pada yang lain, Melissa seperti asing dengan area sekolah ini.
Dilihatnya setiap bangunan serta sudut -sudut SMA Al-Akbar ini, sangat asing bagi Melissa. Bahkan lapangan basket yang sering ia gunakan untuk berlatih serta bertanding sangat jauh berbeda dari yang sering ia lihat sebelumnya.
"Apa selama aku sakit ini, dilakukan renovasi besar-besaran?" gumamnya pelan.
"Mel, kamu tidak apa-apa?"
"Kepalaku sakit, Kak!"
Glenn sangat mengkhawatirkan Melissa. Takut terjadi sesuatu pada gadis yang ia kenal, membuat Glenn segera bertindak. Glenn ingat jika Melissa adalah teman yang ingin dikirimi bunga oleh sang kakak. Sehingga Glenn dengan segera menghubungi Ari Dinata, kakak lelakinya.
Ketika Glenn sedang menghubungi sang kakak, tubuh Mel sempoyongan hingga jatuh tak berdaya.
Sedangkan pengawal yang ditugaskan oleh Brad masih berada dalam jarak aman dan memastikan Melissa masuk ke dalam sekolah tersebut. Selain selalu mengawasi Melissa, penjaga tersebut juga memberi laporan monitor pada bosnya.
Pengawal tersebut tidak menduga jika istri dari bosnya kini tak sadarkan diri.
Hingga mereka baru menyadari ketika sebuah mobil masuk dan keluar dengan diikuti oleh pemuda yang menaiki motor yang masuk bersama Melissa.
__ADS_1
Pengawal tersebut mengikuti mobil serta motor yang keluar dari sekolah SMA Al-Akbar. Mereka curiga jika Melissa dibawa kabur oleh pengendara tersebut. Dan tanpa dikomando, pengawal tersebut langsung mengabari Brad.
"Bapak masih sidang paripurna, nanti saya sampaikan!" ucap sekretaris Brad pada laporan dua anak buah Brad padanya. Karena handphone si atasan berada dalam genggamannya.
Sekretaris tersebut hanya bertugas menjaga dan mengangkat panggilan jika mendesak. Hanya saja, ia tidak tahu jika Brad akan murka jika melewatkan panggilan ini.
**
"Kamu sudah bangun, Mel?" Ari membelai lembut anak rambut Melissa yang sempat menutup wajah bagian atasnya.
Melissa merasa pandangan matanya berputar-putar, "Aku di mana?'
"Tenang, kamu aman bersamaku!"
Kemudian Ari meraih kedua tangan Melissa dengan penuh kesedihan.
"Kamu yang membawa aku, Kak?"
Pria itu hanya mengangguk, "Adikku yang memberitahu."
"Glenn?"
"Apa kau kenal, Mel?"
"Iya, Kak. Kak Glenn yang membantuku keluar dari rumah sakit. Kak, bisa bantu aku?"
Bergetar rasanya hari Ari ketika Melissa meminta bantuannya. Masih pantaskah ia menerima kebaikan hari Melissa?
"Apa itu? Aku akan membantumu sepenuh hatiku."
"Kak, aku tak ingin kembali lagi ke rumah orang itu, Kak. Biasakah Kakak membawaku pulang ke rumahku sendiri?"
...****...
__ADS_1