
Sebelum bertolak ke Bandung, Brad masih menyempatkan diri untuk menelepon sang istri. Meski menahan kesal yang luar biasa karena mobil yang ia tumpangi dihadang dan oleh saingan rendahnya.
Sesekali pria yang berpakaian rapi itu memerhatikan wajahnya sebelum melakukan video call pada sang istri. Brad memastikan bahwa tak ada jejak perkelahian dengan Ari tadi.
Entah berapa kali dirinya dan Ari melakukan baku hantam hanya karena dirasuki emosi. "Pria mana yang diam saja jika ada orang gila mengancam akan merebut istrinya?" gumam Brad dengan berkaca pada ponselnya.
Mario tak berani menjawab sang atasan seperti biasanya, karena sekretaris Brad itu tahu kapan dan di mana Brad akan melampiaskan emosinya. Baru kali ini Mario melihat Brad benar-benar tidak mampu menahan sikap dan menghajar orang lain dengan membabi buta.
"Hei, Mario? Kau dengar aku? Budek ya?"
"Nah loh, kok jadi aku yang kena marah?"
"Heh ... iya, Pak. Maaf apa ya?" jawab Mario dengan suara tergagap takut jika orang yang berada di sampingnya lebih cendrung memaki dirinya lagi.
"Menurutmu, apa Melissa akan meninggalkan aku?" tanya Brad seolah kehilangan kepercayaan diri ketika ancaman dari pria yang pernah singgah dj hati sang istri.
"Kalau menurut saya tidak, Pak! alasan apa yang membuat ibu meninggalkan Bapak?" Bukan sebatas mencari muka. Tapi semua ini dilakukan oleh Mario atas dasar tak ingin kehilangan pekerjaannya. Ia rasa jika suatu saat Melissa telah mendapatkan kembali ingatannya, tak perlu menunggu lama pasti akan meninggalkan Brad begitu saja.
Brad tersenyum puas karena Mario berada di pihaknya. Ia kini memiliki kepercayaan diri kembali sehingga mampu memberanikan diri untuk menghubungi Melissa.
**
__ADS_1
Di dalam kamarnya, Melissa melihat sebuah email yang masuk ke dalam kotak suratnya. Melissa membuka email resmi dari salah satu pengelolaan sebuah hunian vertikal tersebut. Dalam email tersebut mengatakan jika Melissa mengajukan penjualan dengan pihak ketiga sebagai agen properti untuk menjual salah satu unit di apartemen tersebut.
Selain pemberitahuan kepemilikan, pihak pengelola juga melaporkan beberapa biaya bulanan rutin yang diambil melalui autodebit seperti biaya parkir dan lain-lain.
Sontak saja hal tersebut membuat Melissa terkejut, pasalnya yang ia tahu selama ini Melissa tinggal di rumah sang suami seperti informasi yang ia peroleh dari Brad sendiri maupun dari pekerja di rumah Menteng ini.
Pandangan mata Melissa masih tertuju pada layar laptopnya, sehingga suara bunyi ponsel mampu mengalihkan pandangan Melissa.
Melissa segera mengangkat panggilan video dari suami. Selain itu, Melissa juga berniat menanyakan perihal apartemen tersebut pada Brad.
"Apa ada masalah? Kenapa wajahmu cemberut, Sayang?" Tak bisa dipungkiri, Melissa memendam kegelisahan setelah membaca email yang masuk ke inbox-nya.
Tapi, kembali lagi. Semua itu mampu ia tahan. Mengingat selama ini Brad selalu membodohi dirinya membuat Melissa mengurungkan niatnya untuk menanyakan perihal rencana penjualan apartemen sesuai isi email tersebut.
"Hei, kenapa dengan lengan bajumu? Apa Mario tidak memperhatikan penampilanmu?" imbuh Melissa kemudian karena melihat sekelebat tampilan pergelangan jas Brad sedikit terkoyak dengan kancing yang lepas.
Sontak, hal tersebut membuat Mario menggeser tempat duduknya lebih dekat dengan Brad sehingga membuatnya menatap bagian yang naru saja diucapkan oleh Melissa.
"Oh sial, pasti Bapak akan memarahi aku."
"Ini karena perkelahian Anda tadi, Pak! sebelum tiba di Rakernas, saya akan mencarikan pakaian ganti untuk Anda."
__ADS_1
Tanpa sadar ucapan Mario tadi memancing kekepoan Melissa. "Sejak kapan Brad berkelahi?"
"Berkelahi? Apa aku tak salah dengar?"
"Ah, Mel. Jangan dengarkan omongan Mario yang melantur. Berkelahi dari mana pula?" sahut Brad sedikit memberi kode Mario dengan mengikut pinggang sekretarisnya agar tidak lagi kelepasan bicara.
"Udah tua juga berkelahi? Sadar umur napa?"
"Suer, Mel tidak. Jangan khawatir! aku baik-baik saja."
Brad lalu memutus panggilan video pada Melissa seusai mengatakan akan segera menghadiri Rapat Kerja Nasional.
Namun, ada hal yang membuat senyum Brad tak sudah-sudah di wajah kakunya. Begitu ia mendapatkan sebuah pesan dari Melissa, pria empat puluh tahun tersebut tak berhenti mengulas senyum.
"Cepat pulang, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Empat mata!" Senyum yang tadinya manis kini semakin berkembang menjadi gelak tawa.
"Lihatlah! kaya gini mau ninggalin aku? Udah pindah kali otak Melissa jika dia lebih memilih anak ingusan itu?" Brad menertawakan kebodohan Ari karena mencari saingan seperti dirinya.
Brad merasa jika beberapa hari terakhir ini, Melissa telah banyak berubah. Dan bahkan mulai jatuh hati padanya. "Buktinya? Belum sehari ditinggal udah nyariin, kan?" imbuh Mario menimpali.
"Minta dialiri, Mario!" Brad sangat percaya diri jika Melissa sudah melupakan perasaannya pada Ari dan lebih memilih hidup bersama dirinya.
__ADS_1
Kini pria maskulin itu bisa bernapas lega dengan menyandarkan tubuh tegapnya di kursi penumpang. Brad memikirkan pertemuan demi pertemuan dengan Melissa hingga saat di mana Brad tak bisa lagi mematahkan perasaannya.
...**...