
Pesta pemilihan kepala daerah telah sampai di pelupuk mata. Selama manfaat waktu tenang dalam 3 hari ini, Brad tak banyak melakukan hal yang berhutang dengan politik. Pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah itu hanya mempersiapkan kepulangan sang istri dan sengaja merenovasi rumah mereka.
Tepat pada pukul 07.00 waktu setempat, Brad tampak keluar dari rumah mewah berlantai tiga tersebut dengan penjagaan ketat menuju tempat pemungutan suara. Sedangkan Melissa, meniru kabar dari penjaga yang ditugaskan oleh Brad, Ibu Melissa meraka telah menjalankan kewajibannya sebagai warga negara dengan melakukan pemilihan via online.
"Tunggu papa ya, Nak! papa akan menjemput kalian." ucap Brad dengan percaya diri sebelum masuk ke bilik suara di TPS dekat rumahnya.
TPS 098 menjadi saksi di mana Brad memberikan suara untuk dirinya sendiri. Setelah melakukan tugasnya, Brad dikawal dengan ketat menuju rumah yang menjadi posko pemenangan dirinya serta wakilnya.
Jantung politikus PBKB tersebut terus berdegup kencang karena hari penting ini juga merupakan hari penentuan hidup dan mati pernikahannya dengan Melissa.
Melissa mengancam ingin mengakhiri hubungan mereka jika Brad sampai kalah di Pilkada ini. Dan tentu saja Brad tak ingin itu terjadi.
"Tenang saja, Pak! elektabilitas Anda masih di atas. Hasil prediksi beberapa lembaga survei tidak mungkin meleset." ucap Mario menyemangati.
Semenjak keluarnya Brad dari wakil rakyat karena pencalonannya di kursi gubernur, Mario masih setia mengikuti suami Melissa tersebut.
Apalagi, jasa Melissa yang begitu besar untuk sekretaris Brad tersebut dengan memberikan apartemen secara cuma-cuma demi menghadiahi pernikahannya dengan Resti.
"Bukan itu, Mar! aku kepikiran jika kalah dan Melissa ... " Brad tak melanjutkan kalimatnya karena hal tersebut terasa sesak di dada.
"Pak, jangan katakan lagi! Anda pasti meneng. Lagipula cinta Bu Melissa kepada Anda begitu tulus, tak mungkin Bu Melissa akan meninggalkan Anda hanya karena ini."
__ADS_1
Jika melihat dari perubahan sikap Melissa pada Brad kini, calon gubernur nomor urut satu itu percaya diri. Karena Melissa benar-benar mencintainya seperti yang wanita itu katakan pada Brad.
Selain serius memikirkan bagaimana nasib rumahtangganya ke depan, Brad juga dihadapkan persoalan tentang pilkada.
Tak hanya atasan Mario saja yang diliputi perasaan cemas, Melissa di kediaman Efendi juga tampak was-was. Berulangkali wanita yang tengah mengandung 3 bulan itu kedapatan meremas tangannya sendiri.
Nyonya Efendi pun juga tampak mengkhawatirkan sang putri. "Kamu serius sekai, anakku?"
"Tidak, Ibu! Melissa kurang tidur saja." jawabnya ketika semua anggota sedang mengikuti jalannya proses pemilihan suara.
"Iya kurang tidur karena memikirkan suamimu?" selidik Hans karena menangkap rasa resah di balik mata sang putri.
"Ah .. udah, deh!" Melissa bersikukuh dengan menentang sindiran kedua orangtuanya.
"Iya, kan?" Nyonya Efendi lagi-lagi mempertanyakan kebenaran perasaan sang putri semata wayangnya.
"Iya ... iya, tapi dikit!"
"Ya ampun, Mel! kek gitu masih juga gak ngaku," Kesal dengan sikap gengsi sang anak, membuat Nyonya Efendi bangkit meninggalkan tempat pertemuan keluarganya.
Seirama dengan sang ibu, ayah Melissa juga meninggalkan sang putri. "Kalian ini kenapa sih? Kan aku udah ninggalin pria tua itu? Lalu apa lagi?"
__ADS_1
"Kalau dia pria baik-baik, temui ayah secara jantan!"
Kenapa jadi seperti ini sih? Ayah Melissa yang awalnya begitu setuju dengan pernikahan sang putri, kini berubah membenci rumahtangga Melissa. Hans menilai jika Brad hanya pria pengecut yang tak berani berhadapan dengannya.
"Kan ayah yang minta juga?"
Melissa dirundung duka, bagaimana bisa ia kini mulai membela Brad di depan ayahnya. Padahal dulu Melissa begitu menolak perjodohan dengan Brad. Tapi kini? Kenapa semua bisa berubah semudah itu?
**
"Apa? Benarkah?" gumam Melissa dengan suara nyaris tercekat tak percaya dengan apa yang diberitakan oleh siaran live.
Suaranya nyaris tercekat, hingga membuat sang ibu memeluk Melissa guna memenangkan sang putri. "Tuh kan, ibu bilang apa? Kaya gitu bilang gak cinta?"
"Baguslah jika dia melakukan segala cara untuk memenuhi tantangan darimu!" puji Hans begitu presenter acara streaming menyiarkan hasil poling salah satu lembaga survei.
Kedudukan sementara ini, pasangan nomor urut satu mendapatkan hasil 38,9% suara dengan disusul oleh pasangan calon nomor urut tiga dengan perolehan 28,6% suara dan 19% untuk pasangan nomor urut dua.
"Paslon nomor satu yang awalnya sempat diragukan, elektabilitasnya terus menanjak hingga melewati petahana. Ketika Pilgub dilaksanakan hari ini, Paslon satu unggul 38.9% dari posisi dua dengan nomor urut tiga 28,6 %. Sisanya 13.5% sebagian belum masuk hitungan karena masih terkendala jarak," kata pembawa berita dalam acara live-nya.
"Tunggu apalagi, Mel? Cepat hubungi suamimu! dan ucapan selamat untuknya."
__ADS_1