
Seorang pria dengan busana yang rapi didampingi oleh tim kuasa hukum berjalan dengan percaya diri datang ke Polda Jambi guna melaporkan sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit di daerah Kabupaten Sarolangun dan Merangin, Jambi. Pria yang mengaku perwakilan asosiasi warga Jambi mengecam karena perusahaan yang diduga melakukan pembakaran lahan telah merusak lingkungan.
Maka dengan dibantu oleh tim kuasa hukum dari Top Law Firm, firma hukum dari Ari Dinata, Asosiasi warga Jambi percaya diri bisa menjebloskan pemilik perkebunan ke dalam penjara.
"Lingkungan kita yang asri, hutan yang merupakan tempat tinggal makhluk hidup telah dirusak oleh kepentingan golongan. Maka saya sebagai perwakilan asosiasi warga Jambi, mengecam tindakan PT Sari Indrayana selaku penanggungjawab atas perusakan tersebut." Begitulah orasi dari ketua perkumpulan orang Jambi ketika para awak media mewawancarai seusai mereka melaporkan perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.
Berita ini telah tersebar bahkan beberapa stasiun televisi telah melakukan siaran langsung di depan Kantor Kepolisian Daerah. Karena pertarungan ini merupakan harga mati baik dari sisi manapun. Dari sisi warga Jambi, Perusahaan serta individu Ari ataupun Brad yang merupakan pria di belakang perusahaan.
PT Sari Indrayana memang tercatat di bursa efek Indonesia bukan merupakan milik pribadi dari elit politik seperti Brad. Namun, dana yang mengalir deras ke perusahaan tersebut diduga berasal dari kantong suami Melissa.
"Gila kali si Ari! tuh orang nggak mikir dulu apa?" gerutu Melissa menyayangkan jika sang sahabat bertindak grusa-grusu. Meski begitu, Melissa tetap mendoakan yang terbaik untuk Ari.
Sebenarnya, Melissa juga gampang-gampang susah melakukan balas dendamnya. Jurnalis wanita yang telah berkecimpung di dunia media ini tahu betul seperti apa sisi licin dari orang-orang seperti sang suami. Bahkan jauh sebelum ia dinikahi oleh Brad, tanpa sepengetahuan Melissa, suaminya telah menelusuri jejak Melissa baik itu di dalam maupun di luar negeri.
Brad harus bisa memastikan jika calon pendamping hidupnya harus benar-benar bisa bersanding dengannya dari segi intelektual maupun dari latar belakang. Oleh karena itu, dipilihlah Melissa dari semua kandidat yang ia kantongi.
Melissa tidak bisa tinggal diam, ia harus melakukan cara agar temannya tidak terjebak dalam pusara balas dendamnya. "Tidak boleh ada korban dari masalahku! ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Brad tidak akan diam saja." Melissa segera bergegas keluar dari kamarnya seusai berpakaian dengan rapi.
"Ibu mau ke mana?" Resti mengejar Melissa yang hendak masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Menemui Bapak, kamu gak liat Bapak dalam masalah?" Melissa berkilah seolah peduli terhadap Brad.
Resti yang mendapat mandat untuk menjaga Melissa tentu saja melarang Melissa untuk ikut campur urusan bosnya. Ia tak berani karena takut kena semprot oleh Mario yang merupakan tangan kanan Brad.
"Bapak pasti bisa menangani ini dengan segera, saya rasa Ibu tidak perlu mengkhawatirkan Beliau."
Namun, justru semakin Melissa dilarang. akan semakin mencurigakan bahwa sang suami benar tidak pernah mengharapkan Melissa selama ini.
"Baiklah, aku tahu dia bisa mengatasi hal ini. Aku tahu aku tak mampu melakukan apapun dan aku juga tahu bahwa aku sama sekali tidak bisa diharapkan untuk membantunya." Melissa memerankan peran wanita terzalimi seperti drama yang sering ditonton emak-emak agar hati Resti tergerak untuk mengizinkan dirinya.
Melihat kesungguhan Melissa, Resti tak sanggup lagi jika wanita malang itu harus bersedih hati. Hingga mau tak mau Resti menawarkan jika ia akan mengabarkan kedatangan Melissa nantinya pada Sekretaris Brad Owen.
Sebelum Resti menekan tombol panggil di handphone milik Resti, sebuah suara mengejutkan memekik di luar pagar. Seorang pria gemulai memaki petugas yang berjaga di rumah Brad dengan gaya kemayu-nya.
Sehingga Melissa terperanjat hingga mendatangi sumber keributan tersebut..
Lepasin gue neik? Gue ini temen Melissa, duh om yang gagah-gagah daripade kalian semua menahan eike, mending peluk eike aja."
"Diam, cepat pergi dari sini!"
__ADS_1
"Ada apaan?" Melissa menengok ke luar pagar karena keingintahuannya tinggi.
Dan sosok yang dijaga ketat tersebut adalah Dona, seorang fashion stylish langganannya.
"Lepasin dia, Pak!" pinta Melissa, meski samar-samar, ia masih cukup mengenali wajah Dona di ingatannya.
"Tuh, kalian liat sendiri bukan?"
Para pengawal melepaskan Dona dari penjagaan, karena Nyonya rumah mereka mengatakan agar melepaskan Pria bertulang lunak tersebut.
"Mel, gue kangen banget ama elu. Lu ke mana aja sih?" Dona hendak memeluk Melissa dari depan. Tapi buru-buru ditepis oleh Resti si ajudan.
"Eh neik, yey sapose? Larang-larang?"
Alhasil, Melissa menerima kedatangan Dona dengan tangan terbuka. Meski kedatangan Dona menghambat waktunya. Rencana Melissa untuk mengunjungi Brad bukan karena kepedulian terhadap Brad. Tapi lebih memastikan jika Brad tidak akan melakukan hal buruk pada Ari nantinya.
...****...
Sorry tepat up, dan singkat pula. Eike lagi senewen gegara PMS.
__ADS_1