Melissa, Ingatan Yang Hilang

Melissa, Ingatan Yang Hilang
Bab Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Brad meninggalkan Melissa yang masih terlelap dalam buaian mimpi indahnya. Sebelum keluar dari kamar, tak lupa Brad masih menyempatkan memandangi wajah polos Melissa ketika terlelap seperti ini. Sangat jauh dari kesan Melissa yang jutek dan angkuh. "Wanita ini banyak menyimpan masalah yang dipendam sendiri. Andai kau mau membaginya, Mel. Aku tak keberatan membantumu."


Brad juga telah berpesan pada pelayan di rumahnya. "Nanti jika Ibu sudah bangun, jangan lupa antar sarapan ke kamar."


"Baik, Pak!"


Begitu Brad tiba di lantai bawah, Mario serta Resti telah siap untuk bertugas hari ini. Keduanya tiba lebih lambat setelah Brad meminta mereka supaya tidak perlu buru-buru datang ke rumahnya.


Namun, ada yang begitu menarik perhatian Resti dan Mario. Sebuah tanda kemerahan tepat di leger bagian kiri Brad. Sehingga mau tidak mau, Resti dan Mario memendam rasa ingin tahu mereka.


"Maaf, Pak! Apa Bapak akan pergi bekerja dengan itu?" Resti menahan rasa malunya dengan bertanya masalah keanehan itu pada Brad sambil menunjuk ke arah leher sang bos.


"Kenapa? Apa bajuku tak cocok, Res?"


Mario juga gemetaran membuka kamera ponselnya serta menunjukkan pada Brad agar politikus lelaki itu bisa berkaca dengan ponsel Mario.


Tak ada perasaan aneh pada wajah Brad. Mario dan Resti tak menduga jika Brad akan benar-benar mengabaikan masalah ini.


"Makanya, Res! lain kali awasi ibu. Jangan sampai minum hingga seperti semalam. Karena efeknya bisa seperti ini."


Resti serta Mario saling pandang satu sama lain. "Bapak ada foundation?" Resti memberanikan diri membantu sang bos mengatasi masalah yang ia anggap hal sepele ini.


"Apa itu? Aku tak paham bedak-bedak wanita, Resti. Coba kamu tunjukkan seperti apa!"


Resti lalu membuka ponselnya untuk menjelajahi gambar foundation. Karena selama ini ia tidak pernah bersolek di waktu bekerja. Hasilnya? Resti cukup profesional dengan job description-nya.


Barulah ketika Brad melihat gambar benda yang diingkan oleh Resti, suami Melissa itu langsung mencari di meja rias sang istri dan akhirnya mendapatkannya meski nampak berbeda dari gambar yang ditunjukkan oleh Resti.


"Ini Foundation juga? Aku membaca di balik kemasannya." Brad mengulurkan sebuah benda berbentuk menyerupai lipstik tapi, bertuliskan foundation.


Sebelum Resti melakukan aksinya, ia sempat mengangguk dan mengacungkan jempol pada bosnya.

__ADS_1


Politikus lelaki itu kini bisa mengatasi masalah kecil itu dengan bantuan Resti. Dan bisa berangkat ke Senayan dengan hati yang berbunga. Kembang-kembang itu bermekaran sepanjang jalan. Bahkan Brad tak segan tersenyum pada Mario meski Mario harus panas dingin dibuatnya.


**


Jika Brad dalam keadaan full charge, Bagaimana dengan Melissa?


Wanita itu mulai membuka matanya, ia merasa jika tubuhnya terasa sakit semua. Dalam keadaan setengah sadar, Melissa mengucek kedua matanya dan berkata, "Apa aku terlalu banyak minum ya kemarin?"


Kepalanya juga masih terasa berat hingga, Melissa kesulitan bangun dari tempatnya pembaringannya. Tapi, ada yang terasa aneh pada diri Melissa. Ia merasa jika selimut yang ia kenakan untuk menutupi tubuhnya terasa menyentuh kulit tanpa penghalang berupa kain atau semacamnya. Melissa menurunkan pandangannya ke arah badannya dan ....


"Tidak? Kenapa aku tidak pakai apapun? Mana di kamar pria tua ini."


Melissa mulai menelusuri seluruh tubuhnya, dan keterkejutannya semakin menjadi karena melihat sekujur tubuhnya dipenuhi ruam kemerahan.


"Astaga, apa yang terjadi? Ibu .... apa yang terjadi? Apa aku sudah gila?"


Sebagai seorang wanita dewasa tentunya Melissa sangatlah paham dengan keadaan ini. Hal yang selama ini ia jaga nyatanya diserahterimakan dengan suka rela tanpa ada negosiasi sama sekali.


"Dasar pria bang sat! ia memanfaatkan keadaan dengan seenaknya." Namun, lagi-lagi Melissa mengingat kejadian malam tadi bahwa dirinya lah yang dengan senang hati menyerahkan hal tersebut pada sang suami. Bahkan Melissa sangat berambisi dan menggebu dalam menggoda suaminya.


Buru-buru Melissa bangkit dari tidurnya dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut dan berjalan 'dengan tertatih menuju kamar mandi. Rasa nyeri dan pegal-pegal mulai mendera Melissa akibat pertempuran semalam.


Seusai membersihkan tubuhnya, Melissa menatap dirinya yang tampak kusut di depan cermin."Kalau gue hamil gimana? Bisa gawat dong gugatan itu nantinya?"


Untung saja, suara ketukan dari luar pintu membuyarkan lamunannya jeleknya. "Ibu, apa sudah bangun?'


Melissa bersusah payah membuka pintu kamar Brad dan melihat seorang bibi pelayan datang membawa nampan berisi dua lembar roti gandum dengan selai strawberry serta segelas susu low fat favoritnya.


"Bapak berpesan jika ibu sudah bangun, harus segera mengabiskan sarapan."


"Tunggu, kini kudengar kalian tak pernah memanggil aku Nona? Kenapa manggil ibu? Apa aku udah kaya ibu-ibu ya?"

__ADS_1


"Maaf, Bu ... Bapak bilang harus menghormati ibu."


Kesal, Melissa segera merebut nampan berisi sarapan untuknya dan meminta bibi meninggalkan Melissa. Selain sangat lapar karena semua energinya terkuras, semalam Melissa juga belum sempat makan.


**


Kini di Gedung Nusantara 1 sedang gempar. Kasak-kusuk di kalangan para staf serta OB menggosipkan jika salah satu anggota komisi 3 yakni Brad datang dengan tersenyum pada semua orang tak terkecuali. Bahkan sempat menyapa dan berbincang pada petugas valet.


Brad dan anggota tim Legislatif lainnya memang jarang mendekatkan diri dengan pegawainya. Paling komunikasinya hanya melalui ajudan atau sekretarisnya saja.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, Brad juga memesan sebuah food truck dari salah satu kedai kopi kekinian untuk mentraktir staf. Tak hanya staf yang bekerja dengannya saja. Bahkan Brad mentraktir staf lain yang bekerja di Gedung Nusantara 1.


Tak tanggung-tanggung, selain kopi gratis. Staf yang bekerja dengan Brad juga mendapatkan rejeki nomplok yakni traktiran makan siang dari anggota legislatif tersebut.


"Pak Brad seperti baru saja menerima gift dari salah satu perusahan?" Salah satu staf lain menggunjingkan Brad karena kebaikan sang legislatif.


Namun, staf Brad menyanggahnya, "Eh jangan sembarangan, ya! Pak Brad Owen bukan tipe yang suka menerima gratifikasi. Kudengar Bapak baru saja dapat jackpot."


Kesenangan hari ini, ditutup oleh sebuah berita yang membuat Mario berlari tergopoh-gopoh menyusul Brad yang sedang menghadiri sidang anggaran.


"Pak, lihatlah!"


Brad membaca berita salah satu media yang berjudul Perusahaan Eksportir Kepala Sawit Telah Menggelapkan Pajak dan Diduga Menjadi Money Laundry Salah Satu Pejabat.


Brad menaikkan satu alisnya, ia tak menyangka jika ada cecunguk yang berani menyentuh daerah kekuasaannya.


"Ada gugatan juga, Pak!" Mario menambahkan sebuah berita lain.


"Dari firma hukum mana?" tanya Brad masih dengan setenang mungkin.


"Top Law Firm,"

__ADS_1


"Ari Dinata?" Brad tersenyum separo seakan sedang mengejek pengacara payah tersebut yang tak mungkin bisa mengalahkan dirinya.


__ADS_2