
" Dik..nanti habis TPA mampir sebentar kerumahku ya..buku pesananmu sudah ada..gak sempat kebawa karena aku buru buru tadi" ujar Sito sore itu ketika Agnes sedang mengajar TPA.Nampaknya dia baru pulang kerja, terlihat masih memakai seragam kerjanya.
" eh, iya mas..InsyaAllah." jawab Agnes kembali melanjutkan menyimak bacaan anak anak TPA nya.
Sementara Sito memilih menunggu dan memperhatika Agnes yang sedang mengajar itu.Senyumnya mengembang melihat Agnes yang telaten mengajari anak anak itu membaca iqro.
" Gadis ini tidak hanya manis, tapi dia juga dekat dengan murid muridnya.Pasti akan sangat menyenangkan jika setiap hari melihatnya mengajari anak anak kami" Sito mulai menghayal memiliki keluarga dan anak anak dengan Agnes.Hingga tak terasa dia pun tersenyum sendiri.
Agnes yang merasa diperhatikan menoleh ke arah Sito, dan didapatinya pemuda itu tersenyum manis menatapnya.
Deg..
Agnes segera memalingkan wajahnya ketika pandangan mereka bertemu.Wajahnya seketika merona.
" ih..apa apaan sih mas Sito. ngliatin aku kayak gitu..bukannya bantuin biar cepat selesai, malah ngliatin." gerutunya
" mass....daripada nganggur, sini bantuin napa? tuh, yang iqro enam belum ada yang nyimak" ucap Agnes setengah berteriak.Hingga membuat Sito menghentikan hayalannya.Memang pengajar TPA itu kekurangan tenaga karena mereka menjadi pengajar sukarela,jadi banyak yang tidak mau membantu.
Sito tersenyum dan kemudian bangkit mendekati anak anak iqro 6 yang sebagian terpaksa harus belajar sendiri menunggu pengajar lain yang free.
__ADS_1
" ayo semuanya..hari ini sama mas Sito ya." sapanya ramah dan tersenyum
Anak anak itupun patuh dan duduk melingkar dengan tertib.Rumor tentang Sito yang arogan di kampung mereka,membuat anak anak itupun patuh dengan sendirinya.
Agnes tersenyum melihatnya.Dia senang Sito mau berbagi senyum dengan anak kecil, entah dia terpaksa atau tidak.Setidaknya dia sudah tidak sekaku sebelumnya.
" makasih ya mas sudah bantuin.Anak anak kok tadi kayaknya langsung nurut sama mas ya" ujar Agnes ketika mereka sudah selesai dengan TPA nya sore itu.
Sito hanya mengangguk dan tersenyum " sama sama Dik".
" mas duluan saja.Agnes masih mau rapat sebentar dengan adik adik pengajar yang lain..nanti Agnes mampir kalo sudah selesai." ucap Agnes.Dia merasa tidak nyaman harus berjalan berdampingan dengan Sito.
Sepeninggal Sito, Agnes melanjutkan membereskan beberapa buku dan adminitrasi TPA.
" Pri, nanti pulangnya bareng ya..mau ambil buku pesanan di kakakmu" pinta Agnes pada Pretty, adik bungsu Sito yang juga membantunya mengajar TPA.
" oh..buku sirah nabawi ya mbak?" tebaknya.karena tadi dia melihat buku itu di meja tamu sebelum berangkat TPA.
" iya..aku minta dipesankan sama Ayub, teman kakakmu ngaji.Tadi kakakmu bilang sudah ada barangnya." jelas Agnes.
__ADS_1
Kini mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah Pretty setelah berpisah dengan teman teman yang lain.
" kayaknya baru tadi malam dibawanya mbak..kan semalam jadwal ngajinya."
" oh..kakakmu sudah ikut ngaji? ikut grupnya siapa?" tanya Agnes penasaran sekaligus senang.Jika Sito sudah mau ikut ngaji, dia akan lebih mudah berubah karena berteman dengan orang orang baik yang akan mengingatkannya.
" aku gak begitu paham sih mbak..yang jelas sama Ayub dan Om Bari mu" jawabnya
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Pretty.
" Assalamualaikum" Pretty mengucapkan salam dan mempersilahkan Agnes masuk
" masuk dulu mbak..aku panggilkan si arogan dulu" ucapnya sebelum meninggalkan Agnes masuk ke ruang tengah
Agnes hanya tertawa kecil dengan panggilan kesayangan Pretty buat kakaknya itu.Si Arogan, karena menurutnya, kakaknya itu hanya suka mengatur dan keras kepala.
Agnes duduk di sofa ruang tamu itu dan menunggu.
***(
__ADS_1